Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 20

DARKER THAN BLACK​

Beberapa Hari Sebelumnya…..

Arci masuk ke sebuah ruangan khusus. Ruangan itu adalah ruangan kamar tempat di mana Araline berada. Johan menunggu di luar. Arci melihat seorang wanita paruh baya, wajahnya sudah ada keriput, rambutnya tergerai tak terawat. Matanya mirip sekali dengan mata Archer.

“Archer?” sapa Araline.

“Aku Arczre, anaknya,” jawab Arci.

“Ah, bagaimana kabar ayahmu?” tanya Araline.

“Dia sudah meninggal.”

Mata Araline berkaca-kaca. Tangannya gemetar. Ia memberi aba-aba agar Arci mendekat. Arci pun mendekat. Tubuh tua Araline gemetar ketika meraba wajah pemuda itu. Araline meraba seolah-olah ia tak bisa melihat. Wajah Arci diusapnya hingga seluruh panca indera perabanya bisa merasakan wajahnya.

“Penglihatanku sudah tak berfungsi,” ujar Araline. “Aku terlalu banyak menangis. Aku selama ini menghancurkan hati Johan yang selalu setia mendampingiku.”

“Apa yang ingin kamu sampaikan?”

“Aku ingin menceritakan semuanya. Sudah saatnya aku bicara banyak. Semua yang kamu harus ketahui tentang keluarga Zenedine. Kalau ada orang yang ingin menguasai harta kekayaan ayahmu, maka cuma satu orang. Dia adalah Tommy Zenedine.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Ceritanya cukup panjang. Tapi aku akan ceritakan dengan detail, agar kamu paham seberapa bencinya Tommy kepada ayahmu. Dan agar kamu tahu, apa yang Archer perjuangkan untuk keluarga ini. Kamu mau tak mau harus menerimanya, kamu bisa mengubah semuanya, kamu bisa dan kamu satu-satunya yang bisa. Aku berada di sini, karena takut. Aku pura-pura gila, agar aku tak mau dihancurkan oleh Tommy. Dia orang yang sangat berbahaya.”

“Bukankah dia tidak tertarik dengan harta keluarga ini?”

“Siapa bilang? Dia berkata hanya akan mencintai seni, itu bohong semuanya. Dia yang pertama kali memperkenalkanku kepada narkoba. Dia yang pertama kali. Dia juga yang menyeludupkan narkoba ke luar negeri dengan perantara perusahaan ini. Kamu tahu pengaruhnya di keluarga ini melebihi pengaruh Archer. Hampir semua tukang pukul, bodyguard, pembunuh bayaran, semuanya dikuasai oleh dia dan anaknya, Alfred. Alfred adalah kepanjangan tangan Tommy. Mereka ayah dan anak sama saja.

“Sejak kecil Tommy selalu bersaing dengan Archer. Dalam banyak hal. Tapi Tommy selalu kalah. Dia selalu iri dengan semua yang selalu diraih Archer. Archer selalu sempurna, Archer sederhana, Archer membuat semua orang suka kepadanya. Aku juga suka kepada Archer. Dia selalu melindungiku, tapi aku melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan terbesarku adalah karena aku mencintai dia.

“Aku ingat ketika kami masih sekolah, dia sangat berbeda dari yang lain. Sangat mempesona. Sikapnya yang dewasa membuat setiap cewek ingin mendekatinya. Aku sangat protektif. Dan selalu aku manja kepadanya. Dia tetap menganggap aku sebagai adiknya, tapi aku tidak. Aku merasa ingin memilikinya, aku merasa akulah yang lebih tahu Archer, aku ingin menjadikan dia sebagai kekasihku, dan akhirnya aku bisa mendapatkannya. Ya, aku bisa mendapatkannya. Suatu malam di saat ulang tahunku aku meminta hadiah berupa kecupan di bibir. Dan aku mendapatkannya dari Archer. Ah, indahnya saat itu. Itu ciuman pertamaku.

“Namun, Archer tidak pernah menganggap aku sebagai kekasihnya. Tidak, kami tidak pernah melakukan seks. Aku mencintainya tulus, mengorbankan apapun untuk dia. Aku menyayangi dia sebagai keluarga, juga sebagai kekasih. Hanya saja kecintaanku kepada Archer mengakibatkan aku selalu sakit hati. Ya, sakit hati. Dia bisa bebas memiliki kekasih, ia gonta-ganti pacar, tapi aku? Aku hanya menelan pil pahit.

“Tommy menyadari bahwa aku sedang galau. Dia pun menawariku serbuk jahanam itu. Untuk pertama kalinya aku memakai kokain. Dan makin lama aku ketagihan. Archer marah kepadaku, dan ketika marah itulah aku bisa jujur kepadanya kalau aku sangat mencintainya. Tapi, kami kakak beradik, aku tak bisa mencintai dia dan dia juga tak bisa mencintaiku.

Akhirnya, aku pun mengurung diri di kamar karenanya, sebulan, dua bulan, tiga bulan. Selama itu, aku selalu diberi narkoba oleh Tommy. Darinyalah aku bisa mengerti ambisi Tommy yang sebenarnya. Darinya aku tahu masa lalunya bagaimana dia sangat membenci Archer. Darinya aku bisa tahu berbagai bisnis yang dia kelola, dari narkoba hingga jual beli barang antik curian. Aku pura-pura fly ketika ia bicara.

“Suatu hari, aku lagi-lagi pura-pura fly ketika dia datang. Tapi dia bersimbah darah. Dia bercerita bahwa baru saja menggorok leher orang. Dan ia ingin bisa menggorok ayahnya sendiri suatu saat nanti karena tidak berniat memberikan perusahaan itu kepada dirinya. Akhirnya Archer bertemu dengan Lian, mereka makin dekat, dan Archer mengunjungiku lagi. Ia bilang kalau dia dekat dan sangat sayang kepada Lian. Ah, aku tak tahu bagaimana wajahnya. Tapi aku tak peduli, bagiku kalau Archer bahagia aku juga ikut bahagia. Walaupun sakit sebenarnya.

“Setelah ayahku mengancamnya dan menghancurkan hidup Lian, aku tak tahu lagi kabar Lian. Archer menjadi dingin. Dia tak peduli lagi kepadaku, bahkan terhadap keluarganya juga. Suatu saat entah bagaimana aku histeris, aku sedang kolaps, aku gila, aku tak ingat bagaimana dan apa yang terjadi. Antara aku sedang sakaw, gila atau aku begitu karena Archer. Setelah itu aku direhabilitasi. Di sini aku bertemu dengan Johan. Mungkin karena sering bertemu akhirnya aku dan Johan menikah. Pernikahan kami sederhana, berada di bawah pohon beringin, pondok rehabilitasi memberikan kami kamar khusus untuk itu. Ah, itu hari terindah. Aku mendapatkan cinta Johan. Kamu pasti masih melihat sorot matanya yang mencintaiku bukan?

“Berita mengejutkan terjadi setelah itu. Archer meninggal karena sakit jantung. Tapi aku tak percaya. Memang Archer punya kelainan pada jantungnya, tapi aku tak percaya dia mati begitu saja. Ketika telah lama berita kematiannya kudengar aku mendapatkan sepucuk surat. AKu bisa membaca surat itu,tentu saja. Itu adalah tulisan Archer, katanya aku harus menunggu. Menunggu siapa? Ketika aku tahu kamu datang aku yakin sekarang yang dimaksud menunggu itu adalah menunggumu.

“Aku kemudian masuk rumah sakit jiwa. Johan selalu mensupportku, bahkan semua berita tentang keluarga ini aku tahu dari dia. Aku mendengar bagaimana Tommy mulai menyuruh Alfred untuk berbuat bodoh, ia ingin menggabungkan perusahaan kita dengan perusahaan milik Trunojoyo.

“Agus Trunojoyo, pemilik PT Denim sangat berambisi untuk bisa menguasai PT Evolus. Dan kesepakatan antara Tommy dan Agus adalah Tommy akan menjadi presiden direkturnya apabila PT Denim bisa merger dengan PT Evolus. Kenapa ia tak lakukan saja sejak awal? Itu karena pengaruh Pieter masih sangat kuat. Di penjara Pieter banyak rekanan, banyak kenalan sehingga mengusik keluarga Zenedine sama saja dengan cari mati. Tommy mungkin masih mencari waktu yang tepat dengan sedikit demi sedikit menguasai orang-orang di keluarga Zenedine.

“Arci, tahukah kamu kalau sebenarnya Archer banyak curhat kepadaku tentang ibumu. Ya, ibu yang penuh kasih sayang. Aku tak pernah menyangka Archer akan bertemu dengan ibumu dan rasanya aku tahu kenapa Archer memilih ibumu. Semenjak aku berada di rumah sakit, aku jadi berfikir kalau toh aku bukan adiknya tetap saja aku tak akan bisa mengalahkan Lian. Aku juga tak mungkin bisa menjadi ibu yang baik, ibu baik mana yang kecanduan narkoba? Archer juga menceritakan kepadaku ia tak mencintai Amanda. Selama ini ia menikah hanya berdasarkan status saja, tak pernah ia sentuh Amanda. Mereka menjadi sahabat. Sedangkan Amanda lebih mencintai Pieter. Ya, mereka berdua adalah sepasang kekasih, tapi harus bertemu dalam keadaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika Pieter berada di penjara karena membunuh seorang polisi, Amanda selalu menjenguknya. Ah, banyak sekali affair dalam keluarga ini. Tapi aku salut kepada Amanda yang menyimpan cintanya sampai sekarang.

“Arci…, boleh aku meminta satu hal kepadamu nak?”

“Ya, apa itu?”

“Maukah kamu menjadi anakku? Anggaplah aku ibumu.”

Arci sedari tadi menahan haru. Ia mengetahui semua rahasia keluarga Zenedine dari wanita ini.

“Ya, kamu boleh menganggapku sebagai anakmu,” kata Arci.

“Sini anakku, peluk ibumu!”

Arci pun maju memeluk Araline. Araline meneteskan air mata. Ia sangat rindu Archer, walaupun sekarang yang ada di hadapannya adalah anak kandungnya. Itu sudah cukup. Itu sudah cukup rasanya.

Selama dua jam Arci berada di Rumah Sakit Jiwa. Ia pun sampai menyuapi Araline, layaknya seorang anak kepada ibunya. Araline sangat senang, Arci tak tega sebenarnya meninggalkan Araline sendirian. Johan yang melihat itu pun tak bisa menahan haru. Tapi, akhirnya setelah sekian lamanya Araline bertemu dengan kebahagiaan. Senyum bisa terukir di wajahnya.

“Baru kali ini aku melihat Araline tersenyum. Terima kasih Arci, terima kasih.”

***

Akhirnya hari itu Arci menikah. Kejutan tentu saja ketika Bu Susiati juga hadir bersama suaminya. Andini makin bingung bagaimana ibunya bisa hadir.

“Mama koq tahu?” tanya Andini.

“Ini semua idenya Arci, dia menghubungi mama jauh hari. Maaf ya, nggak ngasih tahu,” kata Bu Susiati.

“Arciii! Aku rasanya jadi orang bego gini. Mana aku nggak pake baju penganten lagi, disuruh duduk di depan penghulu. Malu tahu!” Andini protes sambil mukul-mukul bahu Arci.

“Halah, peduli amat ama baju penganten. Yang penting saaah!” Arci nyengir.

Setelah status Arci dan Andini disahkan menjadi suami istri, juga Rahma dan Singgih, semuanya larut dalam kegembiraan. Arci menyalami siapa saja yang datang. Yah, takdir tak dapat disangka. Rahma bisa bertemu dengan Singgih. Ia sangat senang, ia tak peduli Singgih punya kaki atau tidak, punya tangan atau tidak. Yang penting Singgih kembali.

Hari itu perasaan Andini antara mendongkol dan bahagia jadi satu. Semua kejutan-kejutan dari kekasihnya itu tak pernah ia sangka. Perasaannya senang, gembira, gemes, jutek jadi satu. Ia menganggap Arci pria terbrengsek, terganteng dan tersayang yang paling ia kenal. Arci menggenggam tangan Andini erat-erat, seolah-olah ia berkata, “Jangan pergi, tempatmu di sini.”

Akhirnya untuk pertama kalinya Andini tersenyum. Mata Arci dan Andini bertemu. Ada debar rasa tersendiri di dada mereka. Ya, apalagi kalau bukan hari ini mereka telah sah jadi suami istri. Sebuah janji yang dulu diucapkan sekarang telah ditepati. Rasanya seperti mimpi.

Ponsel Arci berbunyi. Dia melihat siapa yang menelpon. Sebuah nama Ghea Zenedine terpampang di sana.

“Ghea?” gumam Arci.

“Ghea? Ghea Zenedine? Yang nodong kamu waktu itu?” tanya Andini.

“Iya,” kata Arci. Ia kemudian mengangkat ponselnya. “Halo?”

“Arci! Pergi dari tempat itu, sekarang!” kata Ghea.

“Kenapa suaramu seperti menangis? Ada apa?” tanya Arci.

“Papa tewas. Rumah kami meledak. Anak buah Tommy sedang menuju ke tempatmu!” kata Ghea.

“Apa?”

“Aku sekarang menuju ke tempatmu. Bubarkan semua orang yang ada di sana. Aku khawatir sebentar lagi terjadi perang di sana. Aku sudah mengirim orang-orang yang aku percaya untuk melidungimu. Tapi sepertinya kita kalah jumlah,” kata Ghea.

“Baiklah!” Arci menutup teleponnya. Raut wajahnya berubah.

“Ada apa?” tanya Andini.

Arci memegang bahunya, “Dengar, segera lari dari sini!”

“Ada apa? Kenapa?” Andini heran. Arci segera memberikan ciuman terdalam kepadanya. Andini langsung hanyut dalam kecupan sang kekasih. Arci seolah-olah ingin menghirup seluruh rasa bibir yang Andini punyai.

Setelah mencium Andini, Arci menoleh kiri-kanan mencari Safira. Tak ada. Kemana Safira pergi? Arci tak pikir panjang, segera ia berlari ke sebuah alarm kebakaran. Dan ia pun memukul alarm itu.

***

Letnan Yanuar pagi itu menghabiskan waktunya di sebuah kafe setelah jogging pagi. Dia memang sering nongkrong di sana. Pagi yang cerah, menikmati secangkir kopi dan biskuit sambil membaca koran. Beberapa kali ia sibuk dengan smartphonenya, melihat berita-berita terbaru. Pikirannya sibuk akhir-akhir ini dengan kasus-kasus yang ia tangani, terlebih ketika salah satu anak buahnya harus tewas di tangan Pieter. Arci tak bisa diandalkan pikirnya.

Berapa yang harus dibayar atas kasus ini? Keluarga Zenedine telah terbukti berbuat jahat, menyeludupkan narkoba, membunuh orang, tapi barang bukti-barang buktinya seolah-olah lenyap begitu saja. Dan baru saja ia akan mendapatkannya anak buahnya sudah tewas duluan. Letnan Yanuar melipat koran dan memandang sekeliling. Sunyi, sepi. Ia menghirup udara pagi yang sejuk, kemudian ia memandang sekelilingnya. Terlalu sepi.

“Sialan,” gumamnya ketika ada orang-orang yang tidak ia kenal berdatangan. Dan mereka membawa macam-macam senjata, parang, pipa, pisau.

Letnan Yanuar meraba pinggangnya. Ia lupa tak membawa senjata. Padahal ia seharusnya membawa benda itu kemana-mana. Oh, dia lupa. Kenapa jogging harus membawa pistol? Bodoh memang. Tapi, akhirnya dia mengerti. Dia terkepung.

“Jadi begini ya? Main keroyokan. Baiklah,” Letnan Yanuar berdiri. Kemudian dia mengambil kursi yang dia jadikan tempat duduk tadi. Ia angkat lalu ia banting hingga hancur berkeping-keping. Kemudian dia mengambil sebilah kayu yang kemudian dia ayun-ayunkan. “Ayo! Kalian mau mengeroyokku? Ayo sini!”

Kemudian orang-orang itu pun mulai maju satu persatu mengayunkan apa yang ada di tangan mereka. Letnan Yanuar terus bertahan, bacokan demi bacokan parang, pisau dan hantaman pipa mengenai tubuhnya. Ia berhasil melukai beberapa orang. Sekalipun kalah jumlah ia benar-benar garang, tapi apa daya ia memang kalah jumlah. Setelah polisi itu terkapar tak berdaya dengan luka penuh bacokan, tusukan dan kepalanya remuk, ia pun ditinggalkan begitu saja seperti sampah, hingga nafasnya pun berhenti.

***

Amanda menikmati suasana rumahnya yang sepi. Tak ada suara seindah suara burung dan dedaunan yang gemersik tertiup angin. Apa yang ia inginkan sekarang? Mungkin yang ia inginkan adalah bisa bersama Pieter. Sendirian di rumah tanpa ada yang menemani hidupnya agaknya sudah membuatnya bosan. Ia ingin sekali dibelai oleh Pieter. Ingin di akhir hidupnya ia bisa mencintai lelaki itu. Ah, sungguh bukan sesuatu yang muluk bukan apabila bermimpi seperti itu? Dia sangat menginginkan kedamaian dan cinta. Dia boleh dibilang tidak menyesal berkenalan dengan keluarga Zenedine.

Setelah ia melihat Arci, ia jadi teringat Archer. Ya, teringat saat dia menjadi sahabatnya. Archer selalu baik kepadanya. Status mereka memang suami istri tapi Archer sama sekali tak menyentuhnya. Ah, andaikan Archer menjadi suaminya sepenuhnya tentu keadaannya akan lain. Tapi dia mendapatkan cinta yang bernama Pieter. Itu sudah cukup. Sekalipun setelah lama dipenjara, tapi cinta mereka makin besar.

Amanda memandang jauh ke depan. Ke pepohonan yang daun-daunnya bergoyang. Suasana di teras halaman belakang rumahnya sangat teduh. Tak begitu panas dan tak begitu dingin. Suasana kota Batu tempat tinggalnya ini pun sangat mendukung. Ia tak perlu pusing tentang masalah ekonomi, semuanya sudah ada. Tapi sekalipun begitu hati Amanda kesepian. Ia bisa saja tiap hari berada di rumah Pieter, tapi mereka belum resmi. Kegalauan lainnya dia tidak enak dengan Ghea. Rencananya dengan Pieter adalah bulan depan mereka menikah. Ya, tak ada yang bisa tahan dengan hubungan tidak jelas ini. Amanda sudah tak peduli lagi terhadap semuanya, yang ia inginkan hanya Pieter.

Ia mengambil tehnya yang udah dingin. Hampir saja ia minum tiba-tiba sebuah tangan kekar membekap mulutnya. Ia mencoba melepaskan diri tapi tangan itu terlalu kuat. Dengan satu gerakan kepala Amanda diputar. KRAAAK! Seketika itu juga Amanda sudah tak bernyawa. Amanda melemah, tubuhnya sekarang kaku dengan kepala terputar ke belakang. Lehernya dipatahkan oleh seorang assasin.

Teras belakang rumah, sebuah saksi bisu di mana perempuan yang sudah lama menunggu cintanya, akhirnya harus mati di tangan orang suruhan Tommy Zenedine. Tommy sudah berniat ingin menghabisi seluruh keluarga Zenedine.

***

Jacques, hari itu bangun tidur. Ia cukup capek dengan banyak urusan beberapa hari ini. Maka dari itulah ia kali ini bangun lebih siang. Dia mendapatkan SMS dari Ghea agar segera menemuinya. Jacques hanya membalas OK. Setelah itu ia ganti baju, memakai kemeja, dan juga jas. Sebagai tangan kanan Pieter, Jacques yang bekas anggota Delta Force itu cukup peka terhadap banyak hal. Terutama terhadap sesuatu yang mengancam nyawanya. Seperti pagi ini. Ia merasakan sesuatu yang aneh ketika keluar dari rumahnya.

Di halaman rumahnya biasa saja. Tak ada tanda-tanda yang aneh. Jalanan juga sepi. Bahkan mungkin terlalu sepi bagi dia. Dia punya kebiasaan ketika pagi tiba selalu mendapati sebuah koran tergeletak di teras rumahnya. Ada anak kecil yang menjadi loper koran langganannya yang selalu melemparkan koran. Tapi ini tidak ada. Dan tidak biasanya. Lebih aneh lagi adalah pagar rumahnya bergeser sedikit.

Dia segera menghubungi Ghea tapi Ghea tidak mengangkat hanya voice mail, “Ghea, ada yang tidak beres. Coba cek Pieter!”

Jacques tidak masuk ke mobilnya. Dia keluar dari pagar rumahnya dan melihat sekeliling. Dan perasaannya pun tidak salah. Sudah ada puluhan orang menodongkan senjata semi otomatis ke arahnya. Ia hanya tersenyum sinis.

“Jadi ini yang kalian lakukan. Baiklah….”

Jacques tak ada pilihan, tak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang yang mengepungnya itu pun sudah memberondong dia dengan peluru. Peluru-peluru dari senjata semi otomatis itu pun menembus tubuhnya. Tubuh Jacques pun terkapar di pinggir jalan. Orang-orang yang menembaknya pun pergi.

***

Agaknya Safira yang sebenarnya tak kuat berada di dalam gedung. Melihat Arci dan Andini bisa bersatu membuat dia cemburu. Ah, hidup memang kejam. Tapi ini adalah pilihannya. Ia sangat mencintai adiknya melebihi apapun, dan ia harus bisa bahagia dengan itu. Safira melangkahkan kakinya menuju keluar gedung. Dan ia terkejut ketika tangannya disentuh oleh seseorang. Safira mengenal orang itu.

“Anda??”

“Ini aku, Agus. Masih ingat?” sapa orang itu.

Tentu saja Safira masih ingat Agus Trunojoyo, client pertamanya. Yang mendapatkan keperawanannya kala itu.

“I-iya, aku masih ingat. Apa kabar om?” tanya Safira.

“Kamu sudah dewasa ya sekarang,” kata Agus melihat Safira dari atas sampai ke bawah.

Safira tersenyum. “Iyalah om, sudah berapa tahun juga.”

“Maaf, kamu masih menekuni profesimu? Kalau masih boleh tuh om pakai lagi. Tadi om terkejut melihat kamu disini,” kata Agus.

“Oh, udah nggak om. Maaf, om diundang juga? Kenal ama adikku berarti?”

“Aku pemilik PT. Denim, tentu saja diundang. Adikmu pemilik PT. Evolus kan? Aku tak menyangka saja dia adalah adikmu.”

“Iya, kehidupan kami cukup berubah.”

“Mau ikut ama om? Tenang aja, kita ngobrol. Nggak ngapa-ngapain.”

Safira menghela nafasnya. Boleh juga pikirnya. Lagipula ia tak tahu apa yang harus ia lakukan di tempat itu. Ia pun mengangguk. Agus kemudian menggandeng Safira meninggalkan gedung itu. Safira menganggap Agus tak akan berbuat jahat. Sebab dulu Agus memperlakukan dia dengan baik, apalagi membayarnya dengan sangat mahal. Mungkin saja tak akan macam-macam.

Alarm berbunyi dan membuat semua orang panik. Semuanya langsung pergi keluar dari gedung acara pernikahan. Andini kebingungan terhadap apa yang dilakukan oleh suaminya.

“Ada apa?” tanya Andini.

Arci segera menggandengnya menemui Bu Susiati dan Suaminya yang kebingungan.

“Ada apa nak Arci?” tanya Bu Susiati.

“Bawa Andini pergi, ada sesuatu yang tidak beres,” kata Arci.

Andini yang sepertinya mengerti maksudnya segera dibawa oleh orang tuanya pergi. Arci mengambil ponselnya kemudian menghubungi Safira. Safira pun mengangkat teleponnya.

“Kak, ada di mana?” tanya Arci.

“Aku sedang jalan ama teman,” jawab Safira.

“Siapa?” tanya Arci.

“Ada deh,” jawab Safira.

“Aku seriusan ini! Sama siapa?!”

Mendengar Arci berkata dengan nada tinggi membuat Safira terhenyak. “Sama Pak Agus.”

“Siapa?”

“Klien aku dulu. Aku pernah cerita bukan? Kamu mengundangnya juga. Masa’ nggak ingat? Kalau nggak ingat kenapa dia bisa datang?”

Arci mengingat-ingat nama Agus. Dan dia pun teringat dengan nama yang dimaksud Agus Trunojoyo. Mendengar nama Trunojoyo ia terkejut.

“Kak, pergi dari orang itu! Aku tak mengundangnya. Lari! Dia pemilik PT Denim. PT Evolus dan PT Denim musuhan kak, bukan sahabat. Aku hanya mengundang rekan-rekan kerjaku saja dari PT. Evolus! Kamu ada di mana?”

Mendengar itu Safira yang saat itu ada di dalam mobil tersentak. Tapi terlambat. Agus sudah membekap dia dengan sapu tangan berkloroform. Safira kemudian pingsan. Agus tersenyum penuh kemenangan. Dia kemudian menelpon seseorang.

“Kakaknya udah aku dapatkan!” kata Agus.

“….”

“Baiklah, sopir. Kita ke tempatku!” kata Agus.

Arci yang saat itu panik segera berlari keluar. Namun dari arah pintu masuk, tampak beberapa orang masuk dengan membawa clurit, parang, pipa dan berbagai senjata lainnya. Kini Arci sedang dihadang oleh segerombolan tukang pukul. Kemudian dari ujung gerombolan itu tampak seseorang tersenyum sinis sambil memukul-mukulkan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya. Rambutnya cepak seperti seorang tentara, dia tegap memakai jas berwarna abu-abu.

“Alfred….,” gumam Arci yang mengenali dia.

Orang-orang pun kemudian panik, mereka semua berlari keluar gedung. Mereka mengira akan terjadi pertumpahan darah di tempat ini. Arci melihat sekeliling ruangan, ia sudah tak melihat lagi teman-temannya termasuk Rahma juga Andini. Andini yang melihat orang-orang tukang pukul dari keluarga Zenedine masuk menjadi panik.

“Ma, lepasin ma. Arci masih di dalem!” kata Andini.

“Nggak, kita harus pergi. Suamimu bisa jaga dirinya,” kata Bu Susiati.

“Tapi…dia sendirian Maa!” kata Andini.

“Dini, dengar Arci menyerahkanmu kepadaku. Itu artinya ia percaya kepadaku dan dia bisa menjaga dirinya. Ayo. Kita harus pergi!” kata Bu Susiati.

“Ayo Dini!” ayahnya pun menarik tangan anak perempuannya.

Andini bersedih. Seharusnya ini menjadi hari bahagia, ia telah menjadi istri dari orang yang dicintainya tapi, kenapa harus terjadi hal seperti ini. Tapi ia punya keyakinan, Arci pasti baik-baik saja. Dia segera berlari mengikuti ibu dan ayahnya.

Sementara itu Arci diam. Baru kali ini ia berhadapan dengan banyak orang apalagi dirinya tanpa senjata. Alfred memang benar-benar ingin membunuhnya. Tommy Zenedine ingin menguasai seluruh harta Zenedine bahkan harus menyingkirkan dirinya.

“Jadi, seperti inikah yang kalian inginkan?” tanya Arci.

“Hahahaha, tak usah dianggap serius. Ini sudah biasa terjadi di dalam keluarga kami. Yang tidak disuka akan kami sikat. Saling menghabisi satu sama lain itu sudah biasa,” ujar Alfred.

“Aku sudah tahu apa yang kalian rencanakan. Tapi aku tak pernah menyangka kalian akan merusak acara pernikahanku,” kata Arci.

“Bagus bukan? Memang itu yang kami inginkan,” kata Alfred.

Arci mundur. Ia tak punya senjata, untuk bisa mengalahkan puluhan orang seperti ini, ia harus punya senjata. Dia juga teringat dengan kakaknya. Kakaknya dalam bahaya. Ia harus nekat. Dia mundur sampai ke meja makan. Makanan yang ada di pesta itu adalah prasmanan. Jadi ada sebuah kompor kecil berbahan bakar spirtus yang biasanya nyala di bawah wadahnya. Satu yang akan ia buat, kerusuhan. Dia pun akhirnya mengambil kompor kecil itu menuangkan spirtusnya ke taplak meja, kemudian api kecil dari kompor itu langsung membakar taplak meja. Jadilah meja makan itu terbakar. Tak cukup di situ, ia mengambil kompor lagi dan menuangkannya di atas karpet, membanting kompor itu sehingga api langsung membakar karpet yang digelar di gedung itu.

Alfred cukup panik melihat api, terlebih apinya entah kenapa bisa merambatcepat. Arci segera berlari ke panggung, dia melihat tongkat mic yang panjang. Diambil gagang itu kemudian ia lempar micnya. Kini ia punya senjata. Tujuannya satu, ia harus mengejar Safira.

Arci nekat menuju ke gerombolan tukang pukul yang mengepungnya. Mereka pun mulai menyerangnya. Arci pun mulai mengayun-ayunkan tongkat mic itu. Sebagian tukang pukul terkena, Arci memukul-mukul mereka tanpa ampun. Dia sudah membunuh orang, apa salahnya untuk membunuh lagi, terlebih ia sudah berada di dalam keluarga ini. Jadi penjahat atau tidak, tak ada nilainya di keluarga Zenedine. Beberapa sabetan parang mengenai punggungnya. Ia pun memutar-mutar tongkat mic itu hingga terkena beberapa orang. Arci terus mendesak mereka semua, sementara ayunan parang, tongkat dan macam-macam yang dibawa oleh tukang pukul itu terus menerjangnya. Alfred tiba-tiba berlari dan melompat kemudian menendang dadanya hingga Arci terpental. Arci mengenai sound system yang ada di pinggir ruangan. Langsung terdengar suara melengking yang membuat telinga semua orang serasa mau pecah.

Arci susah payah berdiri. Tapi kengeriannya tak berhenti di situ saja. Orang-orang Alfred kembali mengejar dia. Arci melihat di dekatnya ada jendela kaca. Kesempatan, ia kemudian memukulkan tongkat mic ke arah jendela itu sekeras-kerasnya. Kacanya pecah. Segera ia melompat keluar.

Arci kemudian berlari sekencang-kencangnya. Tidak, ia tidak ke tempat parkir. Ia menuju jalan raya. Dia dikejar orang-orang dengan senjata-senjata mereka. Tubuh Arci yang bersimbah darah karena luka sabetan tak dia hiraukan. Hal itu menjadi pemandangan aneh bagi orang-orang. Arci lalu mencoba mengubungi Safira lagi. Kali ini ponselnya diangkat.

“Halo?!” kata Arci.

“Halo,” saat itu Agus yang menjawab teleponnya.

“Brengsek, di mana kamu? Lepaskan Safira!” kata Arci.

“Melepaskannya itu mudah, tapi aku harus punya jaminan dulu engkau menyerahkan seluruh aset perusahaanmu kepada PT. Denim,” kata Agus.

“Baiklah, di mana kita ketemuan?” kata Arci tanpa berpikir.

“Oh, cepat sekali. Sudah kamu pikirkan baik-baik?” tanya Agus.

“Anjing! Katakan kamu dimana?!”

“Baiklah, aku tunggu di atas jembatan Sulfat”

Arci melihat seorang pengendara motor yang jalannya santai. Ia kemudian menendang pengendara motor itu. Tentu saja yang punya kaget dan karena tak bisa menghindar akhirnya terjatuh. Arci kemudian merebut motornya.

“Maaf, aku pinjam dulu!” katanya.

Segera Arci menggeber sepeda motor itu dan meninggalkan sang empunya yang ling-lung.

***​

Butuh waktu beberapa menit untuknya sampai di jembatan Sulfat. Arci melihat Safira yang berdiri di pinggir jembatan bersama seorang lelaki. Sementara itu beberapa meter di depannya ada beberapa orang yang menghadang. Arci segera turun dari sepeda motornya dan berjalan mendekat.

“Lepaskan Safira!” kata Arci.

“Lepaskan? Sesuai dengan perjanjianmu. Aku sudah membawa surat-surat pengesahan agar semua aset PT. Evolus menjadi milik PT. Denim!” kata Agus.

“Brengsek,” Arci mendekat.

Anak buah Agus dengan sigap memeriksa Arci kalau-kalau membawa senjata. Setelah yakin bersih ia mengijinkan Arci berjalan maju mendekat. Safira yang ketakutan ia menggeleng-geleng. Punggungnya sedang ditodong dengan sebuah pistol oleh Agus. Salah seorang anak buah Agus mendekat dengan membawa sebuah surat-surat yang telah disiapkan. Ternyata semuanya sudah disiapkan oleh Agus.

“Jadi, kamu bekerja sama dengan Tommy?” tanya Arci.

“Ah, kamu tahu juga rupanya,” jawab Agus.

Arci tersenyum sinis. Anak buah Agus yang membawa surat-surat tadi mendekat ke Arci dan memberikan pena. Arci melihat tulisan-tulisan yang ada di kertas tersebut. Dia tak membacanya, tapi ia membaca situasi bagaimana cara menyelamatkan kakaknya. Arci kemudian mencorat-coret sebuah tempat untuk tanda tangan. Hingga menyentuh materai. Setelah itu Agus tersenyum penuh kemenangan.

“Hahahahaha, akhirnya PT. Evolus menjadi milikku. Selamat tinggal, cantik!” kata Agus.

DOR!

Arci terkejut. “Kak Safira!”

Safira ditembak oleh Agus. Wajah perempuan itu seperti terhenyak. Ia mencoba menggapai Arci. Arci pun menangkap kakaknya itu.

“Nggak, nggak, nggak, jangan! Kamu tak boleh pergi. Kakak nggak boleh pergi!” Arci menangis.

Safira tak bisa berkata-kata. Rasa sakit di punggungnya tembus ke perutnya membuat ia tak bisa bicara dengan lancar. Sementara itu Agus dan anak buahnya mulai pergi.

Safira menangis, tubuhnya lunglai. Kini Arci mendekapnya. Ia sangat bahagia di saat terakhir dalam hidupnya bisa melihat Arci. Lelaki yang dicintainya ini hancur sekarang. Arci sekarang lebih membutuhkan kakaknya dari siapapun.

“Terima …. kasih sudah …. memberikan cintamu kepada…ku, maaf…Ci… aku ….ttak…bi…sa… menj..jadi…ibu … d..dari an..nak…kkhi…taa,” Safira memegang perutnya.

“Jangan bilang kamu hamil!?”

Safira mengangguk.

“Tidak kak, kamu harus hidup, jangan! Tidak seperti ini!” Arci berkata sambil sesenggukan.

Safira tersenyum, kemudian tubuhnya kaku dan lemas. Ia menghembuskan nafas terakhirnya.

“Kaaaaaakkk…. Kak Safira jangan pergi! Kaaaakk!” Arci menjerit. Di pingir jalan dia memeluk kakaknya dengan bersimbah darah. Ia tak tahu kalau kakaknya sudah mengandung anaknya. Kini ia benar-benar membenci semuanya, membenci orang-orang yang telah mencelakai keluarganya. Dia akan mengejar Agus. Ia harus menuntut balas. Digesernya tubuh kakaknya hingga bersandar di pinggir jembatan.

Arci kemudian mengambil sepeda motornya tadi. Dengan segera ia geber sepeda motornya dan langsung mengejar Agus. Mobilnya masih terlihat. Dengan kesetanan Arci pun segera mengejar mobil orang yang telah membunuh Safira. Air matanya mengalir, kesedihan akan kehilangan orang yang sangat dia cintai itu tak bisa dibendung lagi.

“Terkutuk kalian, aku akan membunuhmu Tommy, aku akan membunuhmu Agus, aku akan minum darah kalian, aku akan jadi vampir yang tidak akan puas sebelum aku menghabiskan darah kalian,” kata Arci sambil menarik gas penuh.

Dia pun sampai juga mengejar Agus. Mereka mulai melewati jalanan yang curam. Mereka sekarang melewati jalanan curam dan sempit di daerah Industri. Jalanan di sini memang curam, menanjak dan menikung, plus ada sebuah jembatan kecil di daerah itu. Arci menendang-nendang pintu mobil Agus. Melihat itu Agus jadi geli.

“Pepet saja, di depan ada jembatan lagi bukan?” perintah Agus.

Mobilnya kemudian memepet Arci hingga motornya Arci minggir. Kemudian tanpa disangka Arci tak melihat ke depan, sehingga ia menabrak sebuah pembatas jembatan. Dan ia pun terpelanting jatuh di atas jembatan. Mobil Agus segera berhenti. Agus kemudian keluar dari mobilnya dan menodongkan senjatanya ke arah Arci yang masih terkapar di atas jalan. Ia membiarkan Arci perlahan-lahan bangun. Dan setelah itu.

DOR! DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!

Beberapa peluru menembus tubuh pemuda itu. Ia meraba tubuhnya yang tertembus peluru. Dia tersenyum. Mungkin Arci mengira akan bisa bertemu dengan Safira kalau dia mati. Tapi dia ingat Andini. Dia harus hidup. Arci terhuyung dan ia pun jatuh ke sungai.

BYURRR!

Agus kemudian masuk lagi ke mobilnya. Ia menginstruksikan sopirnya untuk jalan lagi. Tiba-tiba dari depan sebuah mobil Marcedes Benz SLK 250 menghantam mobilnya.

BRAAKK!

Sebuah air bag langsung terkembang ketika mobil milik Agus dihantam mobil itu. Dari dalam mobil Marcedes Benz itu, muncullah Ghea. Beberapa anak buah agus yang berada di mobil lainnya keluar. Kemudian Ghea menyambutnya dengan tembakan di pistol glock miliknya.

DOR! DOR! DOR! DOR!

Terjadi perang sengit di jalanan. Tapi Ghea tahu prioritasnya. Menyelamatkan Arci. Dia segera berlari ke arah jembatan dan menceburkan dirinya ke sungai. Arus sungai yang deras itu pun menyeretnya jauh. Sementara anak buah Agus berusaha menembaki dia dari atas jembatan.

Agus kehilangan sopirnya. Sopirnya kaget terkena hantaman mobil mewah itu, hal itu mengakibatkan sampai-sampai lehernya patah. Agus yang duduk di belakang selamat, ia keluar dari mobilnya.

“Sudah, sudah, biarkan. Ayo kita segera pergi!” katanya. Mereka semua pun akhirnya pergi dan meninggalkan mobil Agus ada di situ. Sementara itu Agus menumpang mobil anak buahnya.

Sementara itu di sungai Ghea berhasil menangkap Arci. Dia pun segera menyeret Arci ke pinggir. Dengan sisa-sisa tenaganya ia segera membawa Arci pergi, berjalan menembus semak belukar. Tubuh Arci bersimbah darah, terdapat banyak luka di tubuhnya. Ghea harus membawa Arci untuk diobati, tapi ke mana? Dia akhirnya menggendong Arci tanpa tujuan.

Ghea terus menggendongnya hingga ia melihat sebuah klinik kecil. Dia segera berlari ke klinik itu. Klinik itu kecil, belum ada pasien sepertinya. Segera saja Ghea masuk ke klinik itu. Ya, langsung masuk tentu saja, tanpa babibu. Di dalamnya ada seorang perawat yang kaget. Terlebih melihat Arci yang penuh luka sampai darahnya menetes di lantai.

Ghea menodongkan senjatanya, “Kalau kamu tak obati dia, aku akan menembakkan pistol ini ke kepalamu!”

Perawat itu gemetaran, ia panik dan segera mengambil peralatannya. Arci kemudian diletakkan di atas sebuah ranjang. Dokter jaga klink itu pun datang datang dan terkejut melihat Ghea yang menodong perawat kemudian dirinya. Sang dokter pun melihat Arci di ranjang. Ia menelan ludah.

“Selamatkan dia, cepat!” kata Ghea.

“OK, kami akan selamatkan dia tapi jangan ditodong. Turunkan senjatanya!” kata dokter.

“Kamu berani memerintah aku?” tanya Ghea.

“Ti…tidak, baiklah,” sang dokter pun mulai bekerja.

bersambung