Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 20

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 20 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 19

KETIKA DIA DATANG​

Hari itu Lian sedang berbelanja di supermarket, hingga dengan sengaja troli belanjaya ditabrak oleh troli belanja seseorang. Lian menatap ke orang itu. Dia mengenal siapa orang itu, seorang wanita yang menjadi menantu keluarga Zenedine. Sebenarnya tidak resmi sebagai menantu. Dia menikahi duda dari seorang keluarga Zenedine. Sebenarnya juga sang duda bukan keluarga Zenedine, ia beruntung karena menikahi anak keluarga Zenedine. Wanita ini adalah Alexandra, suami dari Michael.

“Alexandra?!” sapa Lian.

“Hai pelacur? Masih exists? Selamat atas warisannya,” kata Alexandra ketus.

“Apa kamu menyapaku hanya untuk menghinaku saja?”

“Kamu memang pantas untuk dihina, dasar pelacur. Anaknya juga pelacur. Kamu tak pantas berada di keluarga kami.”

“Aku juga sebenarnya tak sudi berada di keluarga ini, tapi… Archer telah memilihku. Kita sama-sama orang yang beruntung masuk ke dalam keluarga Zenedine. Aku yakin kalau kamu dicerai suamimu, kamu juga akan melacur sama sepertiku.”

“Brengsek! Kamu mau menghinaku?”

“Kenapa? Benar bukan? Jangan-jangan suamimu mati karena kamu bunuh hanya untuk mendapatkan harta warisannya, atau mungkin kamu dan Michael sudah selingkuh lama sehingga kalian menghabisi pasangan kalian masing-masing?”

Alexandra kepancing emosinya, tapi ia mengurungkan niatnya yang ingin menghajar Lian saat melihat petugas security lewat.

“Ini belum selesai. Aku akan merobek mulutmu,” kata Alexandra.

“Aku tak takut,”

Alexandra kemudian pergi meninggalkan Lian. Lian jadi teringat bagaimana masa lalunya ketika pertama kali bertemu dengan Alexandra. Dia pernah dilecehkan habis-habisan oleh Alexandra. Bukan, tetapi oleh Michael suaminya. Lian tahu hubungan perselingkuhan Alexandra dan Michael saat pasangan mereka masih hidup. Alexandra yang menikah dengan Robert Zenedine dan Michael yang menikah dengan Rachel Zenedine. Mungkin dugaannya selama ini memang benar kalau Robert dan Rachel dibunuh oleh pasangan mereka. Robert, dia tewas dalam sebuah insiden. Jatuh dari jurang saat melakukan hiking. Rachel, dia tewas dalam sebuah kecelakaan.

Dia teringat ketika hari itu Archer mengantar dia pulang. Setelah Archer pulang Lian dibekap. Dia disekap oleh Michael. Dan Alexandra juga ada di sana. Lian disiksa dengan cambukan, dikencingi oleh Michael dan juga diperkosa.

Lian tak akan melupakan kejadian itu. Hal itu membuat Archer marah dan mengancam mengusir Alexandra dan Michael kalau tidak berlaku baik kepada Lian. Tapi cobaan tidak berakhir. Setelah Archer mewarisi kekayaan Arthur, dia tak bisa berbuat banyak. Sementara Alexandra dan Michael terus memburunya.

Ini adalah salah satu alasan Lian dan anak-anaknya lari dari satu kota ke kota yang lain, selain tentu saja kejaran debt collector, karena Archer tak meninggalkan apapun buat mereka. Namun setelah Archer meninggal, gangguan itu mulai reda. Mungkin sebagian besar tahu bahwa Lian yang telah mengandung anak Archer, dan akan berakibat buruk kalau sampai terjadi apa-apa kepada Lian.

Lian menghela nafas. Ia tahu beban ini masih berat. Keluarga yang tidak menyukai keberadaannya. Tapi yang lebih berat adalah Arci. Dia harus menanggung banyak hal. Apakah anaknya akan kuat?

***

Arci baru saja dari Rumah Sakit Jiwa menemui Araline. Dia mengetahui hal-hal yang tidak pernah ia ketahui sebenarnya. Ia ingin menyimpannya sendiri. Ternyata apa yang dikatakan oleh ayahnya benar, “Jangan percaya kepada siapapun”. Entah apa yang akan dilakukannya. Ia sendiri tak tahu harus percaya kepada siapa saja. Araline tidak berbohong. Ia telah menjelaskan semuanya, kenapa ayahnya lebih memilih Lian sebagai pasangannya hingga melahirkan dirinya.

Dan alasan Araline masuk ke dalam rumah sakit jiwa, juga mencengangkan dirinya. Johan hanya berpesan satu hal, “Kali ini, kamu sendiri. Kalau kamu ingin teman, satu-satunya yang bisa menjadi temanmu di keluarga ini hanyalah Ghea. Dia masih polos, dia hanya patuh kepada ayahnya. Tapi kalau engkau mencoba mendekati dia, kamu akan bisa mengendalikannya. Aku tak bisa menolongmu, kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Araline. Sekarang kamu mengerti bukan?”

Arci mengangguk. Selama dua jam dia ada di Rumah Sakit Jiwa mendengarkan cerita Araline. Seluruh seluk beluk keluarga Zenedine malah didapatnya dari cerita seorang yang sedang ada gangguan jiwa. Arci pun punya rencana. Dan kali ini ia yakin rencananya tak akan gagal. Hanya saja mungkin apa yang akan dilakukannya ini akan membuat jalan hidupnya makin gelap.

Selama ini ternyata ayahnya lebih banyak curhat kepada Araline. Mungkin karena disangka Araline gila karena itulah ia bicara semaunya, membicarakan segala hal tentang keluarga Zenedine, bahkan sampai ke perselingkuhan Amanda dengan Pieter pun diceritakannya. Arci sudah masuk ke dalam lembah hitam, kalau ia lebih masuk lagi maka tak ada pilihan.Hidup memang keras dan ia harus kuat. Ia selama ini telah berjuang dalam kesusahan, dan ia akan terus memperjuangkannya.

Mobilnya melaju di atas aspal kering melewati jalanan raya, sampai sebuah mobil SUV memepet dirinya dan mengklakson. Arci melihat ke jendela dan mendapati wajah Letnan Yanuar. Mau apa Letnan Yanuar? Arci pun menepi dan mobil SUV yang dinaiki reserse itu pun menepi. Arci segera keluar dari mobilnya. Letnan Yanuar tampak bersama anak buahnya juga keluar.

“Ada apa?” tanya Arci.

“Kenapa belum ada laporan? Bukankah kita sudah bersepakat?” tanya Letnan Yanuar.

“Bersepakat? Sepertinya Anda salah, saya tidak bilang iya. Anda cuma ingin agar saya membantu Anda untuk menghancurkan keluarga saya berdasarkan rekaman video ayah saya bukan?” tanya Arci.

“Ya, memang seperti itu.”

“Tapi saya tidak mengatakan iya. Dan saya juga bukan orang yang suka ada orang yang mencampuri urusan saya. Jelaskan kepada saya kenapa Anda menerjunka tim lain?”

“Oh itu, aku tentu saja tidak percaya dengan kinerjamu. Kamu bukan reserse!”

“Kalau Anda memang ingin percaya kepada saya, suruh anak buahmu pergi semua. Daripada mereka mati konyol.”

“Sersan Danu memang aku tugaskan untuk membackup-mu, bukan untuk mencampuri urusanmu.”

“Sama saja. Dengar Let, aku akan lakukan dengan caraku sendiri.”

“Maksudnya?”

“Aku akan lakukan dengan caraku sendiri.”

“Arci, mereka orang-orang berbahaya.”

“Kalian juga orang-orang yang berbahaya.”

“Apa maksudnya?”

“Kalian memang penegak hukum, tapi rela melakukan apapun.”

“Hei, jangan mulutmu itu!”

“Mau apa, memukulku? Memenjarakan aku? Ayo, silakan! Toh, aku sudah seharusnya dari dulu tidak pernah ada. Kalian yang katanya melindungiku saat aku diburu oleh keluargaku sendiri, tapi kalian membiarkan ibu dan kakakku melacur. Itukah yang kalian sebut melindungi? Ketika aku menjual diriku untuk menjadi gigolo lalu kalian diam saja, itukah yang kalian sebut melindungi? Polisi macam apa kalian?”

Letnan Yanuar membisu.

“Sudahlah, aku capek. Aku perlu mempersiapkan acara pernikahanku,” Arci berbalik menuju mobilnya lagi.

“Pernikahan?”

“Ya, aku akan kirimkan undangannya ke kantor kalian,” Arci membanting pintu dan menstarter mobilnya. Dengan cepat mesin mobilnya menyala dan meninggalkan Letnan Yanuar.

Kedua polisi yang ada di pinggir jalan itu tampaknya kecewa. Sementara itu dari jauh sebuah sedan Mercedes Benz SLK 250 melihat mereka semua. Di dalamnya Ghea hanya tersenyum simpul menyaksikan kelakuan Arci terhadap kedua polisi yang ada di pinggir jalan itu. Saat sedan mewah itu mendekat ke Letnan Yanuar, sang polisi tampak terkejut. Ia tahu siapa pemilik mobil itu.

“Arci diikuti oleh mereka. Itu mobil milik Pieter. Jangan khawatir ia tadi mungkin cuma pura-pura karena tahu dia diikuti,” kata Letnan Yanuar.

“Siap Ndan!” jawab anak buahnya.

“Lain kali kita harus hati-hati,” ujar Letnan Yanuar.

Arci hari itu langsung kembali ke rumahnya. Kondisi rumahnya sepi. Ia hanya mendapati adiknya saja yang berada di rumah.

“Lho, kak Safira dan Ibu kemana?” tanya Arci.

“Ibu belanja, kak Safira nggak tau dari tadi nggak nongol,” jawab Putri.

Arci kemudian mengambil ponselnya dan mengirim SMS.

Arci to Safira said:
Kak, ada di mana? bales GPL

***

Safira hari itu meninggalkan rumahnya tanpa ada yang tahu sama sekali. Ia sebenarnya berat. Tapi itu semua dilakukannya agar Andini kembali kepada Arci. Andini sudah melarangnya, tapi Safira mengirimkan pesan pagi itu dengan BBM.

Safira: Andini, aku hari ini pergi dari rumah, tanpa sepengetahuan Arci. Kuharap kamu bisa kembali.

Andini: Lho, kenapa kamu harus pergi? Jangan!

Safira: Aku tak bisa berada di sini terus. Kembalilah kepada Arci. Ya?

Andini: Safira, jangan. Kamu berada di mana sekarang?

Safira: Aku masih berada di jalan.

Andini: Aku akan menyusulmu. Please jangan lakukan ini!

Safira: Dini, aku akan pergi. Jagalah Arci.

Andini: Nggak. Kalau kamu pergi aku tak akan kembali kepadanya.

Safira: Sungguh??

Andini: Ya, sungguh. Iya, aku akan kembali ke Arci. Tapi kamu jangan pergi. Please. Aku akan terima semuanya. Aku akan menerima kalian sebagai keluargaku.

Safira: Boleh aku bertemu denganmu?

Andini: Aku akan menjemputmu.

Safira sudah berada di jalan saat itu. Melihat keputusan Andini yang akan kembali kepada Arci, ia pun akhirnya lega. Tak berapa lama kemudian mobil Andini menyusulnya. Andini langsung keluar dari mobil dan memeluk Safira.

“Kamu kenapa bertindak bodoh seperti ini?” tanya Andini.

“Apa aku punya pilihan lain?”

“Sudahlah, aku akan menerima kalian sebagai keluargaku. Ya, itu keputusanku. Mungkin ini berat bagiku, tapi… aku tak mau melihat orang yang dicintainya seperti ini. Safira,..”

Safira tersenyum. Ia membelai rambut Andini. Ia jadi tahu kenapa Arci sangat mencintai Andini. Bukan karena harta, bukan karena semata-mata kecantikannya, tapi terhadap kepribadian yang ada pada Andini. Andini mungkin tak ingin cintanya diduakan.

Tapi dia lebih sakit ketika keluarganya sendiri mendapatkan cobaan. Andini sadar, ia hanya belum siap. Dia sadar alasan Safira bersama Arci bukan karena didasari alasan nafsu semata, itu karena masa lalu Safira yang kelam. Ia mengetahuinya. Safira, seorang pelacur, bagaimana ia bisa diterima di masyarakat. Siapa laki-laki yang mau mencintai dirinya selain adiknya sendiri? Selain keluarganya sendiri?

Andini juga baru mengetahui, bahwa ayah Safira tak mengakui dirinya. Lalu kemana lagi ia harus pergi? Kemana ia akan pergi kalau semuanya tidak menerimanya? Andini tak bisa mengusir Safira dari kehidupan Arci. Itu terlalu jahat. Dan dia akan jadi orang jahat kalau sampai memisahkan Safira dan Andini. Andini menganggap dia terlalu egois, tapi satu hal yang tak bisa ia bohongi kepada dirinya sendiri. Ia cinta mati ama Arci.

“Boleh aku tinggal di rumahmu untuk beberapa hari?” tanya Safira.

“Kenapa?” tanya Andini.

“Nggak apa-apa. Aku ingin dekat dengan kamu saja,” jawab Safira.

Andini mengangguk. “Ayo”

Safira mendapatkan SMS. Dari adiknya.

from Arci said:
Kak, ada di mana? bales GPL

Safira pun membalas.

to Arci said:
Ke rumah teman. Tak usah dicari. Oh ya, aku nginap beberapa hari di rumahnya.

Arci yang saat itu menerima balasan mengerutkan dahi. Agak aneh, bukankah Safira tak pernah punya teman. Arci pun makin penasaran.

to Safira said:
Teman? Siapa?

Safira tersenyum.

to Arci said:
Sudah deh. Jangan khawatir. Aku tak akan pergi koq. Aku yakin adikku akan mendapatkan cintanya.

Arci makin nggak ngerti. Tapi kalau Safira bilang tidak akan pergi maka perasaannya pun lega. Hanya saja ketidak beradaan Safira itu hal yang baru. Ponsel Arci berdering. Dari Ghea. Arci segera mengangkatnya.

“Halo?!” sapa Arci.

“Arci, aku dengar semuanya,” kata Ghea.

“Maksudnya?”

“Semua yang dikatakan Araline, aku mendengar semuanya.”

“Engkau menyadapku?”

“Ya.”

Arci meraba-raba tubuhnya.

“Tak perlu diraba-raba, yang penting aku tahu. Itu untuk keamananmu saja.”

“Jadi sekarang?”

“Ya, kita sekarang tahu siapa orangnya. Aku khawatir ia telah menguasai semua yang ada di dalam keluarga Zenedine. Bahkan mungkin semua orang-orang kita. Aku takut terjadi sesuatu kepada ayahku, dan kamu tentu saja.”

Ghea entah kenapa sedikit mellow hari itu. Dia merasa manja kepada Arci, sesuatu yang aneh. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Beberapa hari pernikahanmu bukan?” tanya Ghea.

“Itu setingan, aku sudah mempersiapkan sesuatu.”

“Jadi? Itu bohongan?”

“Iya, aku ingin Andini kembali kepadaku. Sengaja aku bentuk seperti itu.”

“Kamu sewa gedung, catering, baju pengantin, itu semua buat apa?”

“Aku sudah merencanakan ini semua. Kamu ikuti saja.”

Ghea sama sekali tak mengerti.

***

“Bagaimana baju pengantinnya?” tanya Arci kepada Rahma.

Mereka berdua sedang melakukan fiting baju pengantin. Arci telah memakai sebuah kemeja dan jas tuxedo. Rahma memakai sebuah gaun yang sangat angun dengan untaian mutiara. Baju pengantin yang mahal tentu saja. Rahma tak tahu apa yang bakal terjadi nanti, tapi kalau memang Arci berkata ini hanya pura-pura tapi kenapa seperti sungguhan? Ia merasa seperti dijadikan alat.

Rahma menatap dirinya di cermin. “Arci, ini terlalu berlebihan. Kamu sampai sewa penghulu segala, ini berlebihan! Kita bukannya cuma pura-pura saja?”

“Kamu ikuti saja permainanku, nanti engkau akan tahu sendiri. Seperti yang aku tanyakan kemarin. Kalau misalnya aku tak memberikan apa-apa kepadamu apakah kamu tetap mau?”

“Entahlah, sebenarnya apakah kamu mencintaiku?”

Arci tersenyum mendengar pertanyaan Rahma, “Kamu pikir bagaimana?”

“Entahlah. Aku tak tahu.”

Arci memegang bahu Rahma. Jarak mereka sangat dekat, “Dengarlah, aku masih mencintai Andini. Tapi pernikahan ini sungguhan. Kamu akan menikah, aku juga.”

“Tapi… apa maksudnya aku tak mengerti!”

Arci masih tersenyum, “Dan aku mohon maaf kemarin sudah menciummu. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin Andini cemburu. Engkau akan tahu pada hari pernikahan besok.” Arci melepaskan pegangannya dan berkaca di cermin.

“Arci, aku masih tak mengerti,” kata Rahma.

Sikap Arci ini penuh dengan tanda tanya. Dia sudah punya rencana sendiri. Rencana yang tidak semua orang tahu. Bahkan ketika pada malam sebelum hari H. Arci tetap membisu. Dia tidak menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya. Rahma kebingungan atas sikap Arci. Dia ingin protes, tapi bingung apa yang bisa dilakukannya. Semuanya sudah diset, gedung, penghulu, catering, undangan telah disebar. Kalau misalnya dibatalkan begitu saja, dia yang akan malu.

***

Safira tinggal di rumah Andini beberapa hari ini. Cukup ajaib, mereka sekarang bisa akrab. Andini mendapatkan undangan dari Arci. Safira yang melihat undangan itu hanya tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum?” tanya Andini.

“Kamu yakin Arci bakal menikahi Rahma?” tanya Safira.

“Trus? Undangan ini? Bukannya ini sebagai bukti bahwa ia tak main-main?”

“Arci punya kejutan. Katakan saja kamu mencintainya, ia pasti akan memberikanmu kejutan!”

“Omong kosong, tidak mungkin. Dia sudah menyewa gedung, menyewa macam-macam, udangan sudah disebar. Mana mungkin ini cuma bohongan?”

“Andini, aku tahu siapa adikku. Dia sangat mencintaimu. Ketika kamu datang nanti ke sana, pasti akan ada sesuatu yang terjadi. Dan itu baik bagimu. Kalau toh tidak, ah…itu tidak mungkin. Datang saja!”

Andini menutup wajahnya. Ia mengusap-usap wajahnya rasanya tak percaya melihat undangan Arci dan Rahma. Mustahil seperti mimpi.

“Mau ke sana bareng?” tanya Safira.

Andini menghela nafas, “Boleh. Aku ingin buktikan sendiri kalau ini cuma bohongan.”

Safira mengacak-acak rambut Andini, “Naah, gitu. Sekalian jaga-jaga kamu kalau pingsan.”

“Ihhh! Nggaklah.”

***

“Siang sepupu,” sapa seseorang lelaki kepada Pieter.

“Tommy?” Pieter keheranan. “Kapan datang? Koq tidak ngasih kabar?”

“Hahahaha, ingin memberi kejutan saja. Katanya anaknya Archer muncul ya?”

“Begitulah,” ujar Pieter.

Pieter masih sibuk memotongi dedaunan tanaman hiasnya. Ia menoleh lagi kepada Tommy, diperhatikannya Tommy yang memakai baju casual. Selama di Perancis sepertinya selera fashion Tommy lebih baik. Tommy melihat-lihat tanaman hias Pieter.

“Kenapa? Ada urusan penting kah?” tanya Pieter.

“Sebenarnya tidak ada, aku hanya ingin mengunjungimu saja. Sekaligus tanya-tanya tentang siapa namanya? Arczre?”

“Dia anak yang baik. Dia telah menjadi bagian dari keluarga kita. Kamu tak datang ketika pembacaan wasiat itu, seharusnya kamu datang.”

“Hahaha, buat apa. Aku toh tidak tertarik.”

“Orang seperti kamu tidak tertarik? Mustahil.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Hahahaha, Tommy Tommy… aku tahu kamu benci kakakmu itu sejak lama. Bahkan kamu kan yang melaporkan kepada ayahmu ketika Archer pergi ke Paris bersama Lian? Aku tahu hal itu. Walaupun aku di penjara, tapi aku punya banyak telinga.”

Tommy tersenyum tipis. “Itu masa lalu, saat aku emang iri dengannya.”

“Apa kamu bisa menjamin sekarang tidak? Aku tidak percaya kepadamu Tom!”

“Lalu kamu sendiri? Apa tidak ingin kekayaan itu juga?”

“Hahahaha, bagi orang seperti aku, bisnis gelapku lebih aku sukai daripada harus mengemis kekayaan keluarga Zenedine! Sedangkan kamu, hidupmu tidak jelas. Penghasilan dari melukis? Hahahaha, kamu bikin aku tertawa. Sejak dulu kamu rival Archer, aku tak yakin kamu tak punya hasrat.”

“Bisa saja kau ini. Sudahlah, aku tak mau membahas itu. Sepi sekali, mana Ghea? Biasanya ia selalu bersamamu”

“Dia ada tugas.”

“Oh, baiklah.”

Tommy melihat arloji di tangannya. Ia menghirup nafas dalam-dalam. “Udara Malang sejuk. Aku suka tinggal di sini. Ah, ngomong-ngomong aku ada perlu, selamat tinggal paman.”

Pieter hanya tersenyum mendengar ucapan Tommy. Tommy melambai, kemudian ia keluar dari gerbang. Pieter wajahnya langsung berubah datar. Segera ia berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia langsung menuju ke mejanya mengeluarkan dua buah pistol dan mengambil beberapa magazine.

Ucapan Tommy bukan ucapan biasa. Umumnya orang-orang akan berkata, “Sampai nanti” atau “Sampai jumpa” tapi ketika seseorang bilang “selamat tinggal” itu persoalan lain. Dan benar. Beberapa orang, mungkin puluhan masuk ke rumah Pieter. Pieter mengambil ponselnya dan menghubungi Ghea dengan loud speaker.

“Papa?” sapa Ghea.

“Lindungi Arci!” kata Pieter.

“Iya, Ada apa?”

“Mungkin aku tak bisa melihatmu hari ini.”

“Papa, jangan katakan kalau Tommy menemuimu?”

“Begitulah. Kamu sudah tahu ternyata.”

“Aku sudah tahu beberapa hari yang lalu ketika Arci menemui Araline di Rumah Sakit Jiwa. Tapi aku tak percaya begitu saja, aku mengumpulkan bukti-bukti dulu sebelum memberikannya kepada ayah. Sebagaimana ayah bilang, aku tak boleh gegabah. Dan aku sudah mendapatkannya. Semua obat-obat terlarang itu, narkoba dan sejenisnya, Alfred yang mengatur. Araline mengatakan bahwa dia bisa terlibat narkoba karena pengaruh dari Tommy, dan yang lebih mengejutkan adalah dia sangat bernafsu ingin menguasai harta Zenedine. Dialah yang menjadi pengkhianat, aku telah mendapatkan kesepakatan dia dengan Agus Trunojoyo untuk menguasai PT Evolus.”

“Oh, jadi begitu.”

“Papa, apa yang terjadi di sana?”

“Ada perusuh masuk. Jangan khawatirkan aku, khawatirkan Arci! Lindungi dia. Lagipula ini hari yang spesial bukan?”

“Papaaa! Kalau papa tidak ada aku harus bagaimana?”

“Pergilah bersama Arci, selamatkan apa yang ada.”

“Tapi papa!? Aku akan kesana, tunggulah!”

“PERGI KATAKU!”

Ghea takut mendengar suara ayahnya sendiri.

“Baiklah.”

“Ghea, aku sangat menyayangimu. Bertahanlah hidup!”

Telepon pun ditutup. Pieter kini memegang dua pistol glock. Rumahnya telah di kepung, semuanya membawa senapan mesin, mereka semua sudah bersiap untuk memuntahkan isi peluru mereka. Dan jadilah hari itu hari berdarah bagi keluarga Zenedine. Sang anjing penjaga berjuang sendirian menghadapi para cecunguk suruhan Tommy Zenedine. Pieter berjuang hingga pelurunya habis. Pieter berhasil menembak beberapa orang, bukan beberapa puluhan orang.

Peluru-peluru yang dia tembakkan tidak sia-sia hingga akhirnya habis. Setelah pelurunya habis dia mengambil parang yang ada di bawah mejanya, dia kemudian menyerang orang-orang yang mengepung rumahnya. Benar-benar pejuang yang tangguh, hingga Pieter yang kalah senjata itu akhirnya harus mengakui tubuhnya tak mampu lagi menahan luka. Peluru-peluru menembus tubuhnya hingga ia akhirnya berlutut dengan berpegangan kepada parang yang ada di tubuhnya.

Tommy Zenedine kembali masuk ke dalam rumah Pieter. Dia menendang anak buahnya yang tewas oleh peluru Pieter. Pieter menatap Tommy tanpa berkedip. Darah mengalir dari lubang-lubang peluru di tubuhnya.

“Kamu selalu mengajariku kalau ingin perang, selalu memakai rompi anti peluru. Ternyata engkau sendiri yang lupa,” ujar Tommy.

Pieter tersenyum. “Aku juga mengajarimu, kalau masuk rumah orang kamu harus tahu ada apa saja di dalamnya bukan?”

Tommy mengerutan dahi. Dia melihat Pieter mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah remote.

“FUUUCKK!” umpat Tommy. Ia segera berbalik dan pergi. Anak buahnya pun mengikutinya. Mereka semua mengambil langkah seribu dan tak lama kemudian rumah Pieter meledak. Ledakannya benar-benar mengguncang dan menimbulkan suara yang keras. Getarannya hingga membuat mobil-mobil yang berada di dekat rumahnya pun ikut terangkat, bahkan sebagian alarm mobil berbunyi.

Tommy selamat, dia sangat beruntung. Beberapa anak buahnya tewas karena ledakan. “Brengsek! Tua bangka, mau mati saja nyusahin orang. Keparat! MATI KAU!”

***

Andini masih tak percaya ia datang di pernikahan Arci. Ya, pernikahan itu berada di sebuah gedung mewah. Semua undangan telah disebar. Tapi mana pengantennya?

Andini memakai gaun warna putih keperakan. Safira memakai gaun warna merah maroon. Dan dibandingkan tamu undangan yang lain, mereka berdua sepertinya bakal menjadi bintangnya karena sangat cantik. Dua bidadari ini begitu masuk gedung langsung disambut oleh banyak orang. Pelaminan masih kosong, pengantinnya belum kelihatan. Para tamu sudah menunggu dan sebagian menyantap hidangan yang ada.

Saat itulah dari arah pintu masuk Arci datang. Dia menggandeng Rahma. Tentu saja Andini rasanya mendidih melihat mereka berdua, Safira mencoba menenangkan Andini. Arci menyapu semua tamu yang hadir dan dia melihat Andini dan Safira. Wajahnya tampak berseri-seri, bukan karena acara hari ini, tapi karena melihat seorang yang sangat dicintainya ada di tempat ini.

Setelah itu Arci buru-buru naik ke panggung yang ada di sebelah kanan tempat pelaminan. Di sana sudah disiapkan alat-alat musik dan beberapa anggota band. Begitu Arci meraih mic tanpa kabel ia segera turun. Dia mengetuk mic, membuat semua tamu undangan melihat ke arahnya.

“Terima kasih semuanya telah datang. Hari ini, bisa jadi hari bahagia bagi kita semua. Namun bisa jadi hari yang paling mengharukan bagi sebagian orang. Saya berterima kasih kepada kalian yang telah hadir. Rekan-rekan kerja, teman-teman yang sudah memberikan waktunya untuk bisa hadir pada acara hari ini,” kata Arci.

“Sebelumnya saya hanya ingin kalian semua menjadi saksi,” lanjut Arci. “Saksi atas apa yang terjadi pada hari ini. Yang pertama, saya menyuruh kalian untuk membawa undangan bukan? Sudah kalian bawa? Kalau kalian bawa coba angkat ke atas!”

Semua tamu undangan yang membawa undangan itu mengangkat undangan itu keatas begitu Arci memberi aba-aba. Mereka tak mengerti apa yang Arci inginkan. Rahma juga gagal faham. Andini yang membawa undangan itu ikut mengangkatnya. Ia merasa konyol dengan kelakuan Arci.

“Setelah itu, lihat ada pita bukan di tengah halamannya? Pita ini coba ditarik, maka akan ada halaman baru di dalamnya!” kata Arci.

Andini mengerutkan dahi. Ia tak percaya, maka ia menarik pita itu dan kata-kata sebelumnya adalah

ARCZRE dan RAHMA

berubah menjadi

ANDINI dan ARCZRE

RAHMA dan SINGGIH

Andini mulutnya menganga. Safira tertawa puas.

“Apa-apaan ini?” kata Andini.

Rahma juga heran ketika ia baru menyadari ada halaman baru di dalamnya, sebuah nama yang ia tak akan pernah lupa. Arci kemudian menunjuk ke sebuah arah. Di pintu masuk, tampak seseorang berada di atas kursi roda, ia tak mempunyai lengan dan kaki. Tapi wajahnya sangat dikenal Rahma.

“Singgih??” kata Rahma.

Arci kemudian berjalan menuju ke arah Andini. Seluruh tamu undangan tercengang. Mereka gagal faham terhadap apa yang terjadi, tapi mereka mencoba mencerna. Beberapa orang mulai faham.

“Andini, kamu masih ingat janjiku ketika kamu menjadi Iskha?” tanya Arci yang kini sudah ada di hadapannya sambil mic masih ada di dekat bibirnya.

Mata Andini berkaca-kaca. “Kau jahat! Tentu aku ingat.”

“Hari ini, pak penghulu sudah menunggu. Kamu tak mau jadi istriku?” tanya Arci.

Andini masih tak percaya. Beberapa saat lalu hatinya hancur diaduk-aduk, sekarang berubah 180 derajat. Dia menoleh ke arah Safira. Safira mengacungi jempol. Andini menangis, ia tak peduli make-upnya luntur. Ia lalu memukul-mukul Arci.

“Brengsek! Kamu pria terbrengsek yang pernah aku kenal,” kata Andini. Ia lalu memeluk Arci, “Tapi aku cinta ama kamu.”

Rahma tak menghiraukan apa yang terjadi dengan Arci. Di hadapannya sekarang ada Singgih yang didorong oleh seorang wanita. Wanita inilah yang selama ini merawat Singgih. Singgih tampak memakai baju yang sangat rapi, khusus di hari spesial ini. Arci telah mencarinya selama beberapa waktu, tak sulit mencarinya. Dia tinggal menghubungi kedutaan besar Indonesia di Inggris kemudian mencari Singgih dengan orang suruhannya. Lalu membuat acara kejutan yang telah ia siapkan.

Sekarang Rahma mengerti maksud dari Arci bahwa hari ini Arci menikah, dia juga akan menikah. Dan ia juga mengerti maksud dari ia tak akan mendapatkan apa-apa. Singgih dengan kondisi seperti sekarang, artinya ia tak akan bisa memberikan Rahma apa-apa.

“Hai…apa kabar?” sapa Rahma.

“Beginilah kabarku. Kamu sangat cantik hari ini,” kata Singgih. “Aku tak bisa menghubungimu, keadaanku seperti ini. Aku ingin pulang tapi aku tak bisa.”

Rahma meneteskan air mata. Ia tak kuasa melihat Singgih.

“Aku telah diminta Arci. Dia yang merancang semua ini. Ia bilang, kamu masih mencintaiku. Aku tidak percaya diri melihat keadaanku seperti sekarang ini. Aku merasa kamu lebih pantas menerima orang yang lebih baik daripada aku, tapi…dia memaksa. Katanya kalau engkau mencintaiku, maka kau akan menerimaku apa adanya,” Singgih tak kuasa menahan haru. “Kenalkan dia Catherine. Dia yang menabrakku, dia merasa bersalah dan merawatku hingga sekarang.”

Catherine tersenyum kepada Rahma, “So it was you, Singgih bercerita banyak tentang dirimu. Dia sangat mencintaimu.”

Rahma tak bisa bicara lagi, ia langsung memeluk Singgih. “Sudah cukup, sudah cukup, aku sudah bilang jangan pergi. Aku sudah bilang jangan pergi! Lihat bukan akibatnya?”

“Maafkan aku!”

Keduanya tenggelam dalam tangis. Catherine pun tak mampu lagi membendung kesedihannya, ia juga larut dalam tangis. So…ini happy ending? Yeah, sepertinya. Tapi cerita belum berakhir. Kegelapan, mulai mendekat kepada mereka semua. Seperti semut yang merambat di atas batu hitam di kegelapan malam.

bersambung