Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 18

LET ME GO‚Äč

Kesepakatan Rahma dan Arci telah dimulai. Mereka melakukannya dengan berbagai cara. Pertama menyebarkan gosip di kantor, kedua unggah status di facebook, ketiga sering jalan berdua. Rahma sering dijemput dan di antar pulang oleh Arci. Tujuan mereka hanya satu yaitu agar Andini bisa kembali kepada Arci. Andini pun mendengar gosip itu. Hatinya seperti tercabik-cabik. Hingga pada suatu pagi, dia menyapa Rahma.

“Pagi!?” sapa Andini.

“Pagi bu,” jawab Rahma.

“Kudengar kamu jalan sama Arci?” tanya Andini.

“I-iya.”

“Selamat yah,” kata Andini. Setelah itu dia pergi meninggalkan Rahma yang bengong.

Di dalam ruangannya Andini menangis. Ia lemas dan tertunduk di lantai. “Kenapa? Kenapa jadi begini? Apakah kamu ingin menyakitiku?”

Hari itu kantor penuh berita heboh. Bahkan sampai-sampai orang seperti Nita dan Sonia yang suka bergosip tambah lebih heboh lagi. Mereka pun chatting.

Nita: Eh cuy, dirimu jadian ama big bos?

Rahma: He-eh.

Sonia: Waaaaaa… kita telaaattt. Beruntung banget kamu.

Nita: Iyo i.

Rahma; Hehehehe.

Nita: Piye si big boss? Wis diapakne wae karo uwonge?

Rahma: Ngomong apa sih? Nggak ngapa-ngapain. Baru juga jadian.

Sonia: Halaaah… diapa-apain juga nggak apa-apa koq Ma, aku juga senang temenku dapat cowok ganteng. Hihihihi.

Nita: Tapi kita butuh ditraktir nih.

Sonia: Iya, butuh ditraktir.

Rahma: Eh, koq malah nodong sih? Lagi bokek.

Nita: Halah, ayo ma’em oskab aja. Kuane Lop!

Sonia: Oyi, nakam oskab. Pentol gedhe.

Rahma: Yaelah, dibilang bokek.

Nita: Peliiiiiittt

Sonia: Oyi, peliiiit…

Rahma: Eh, beneran aku lagi bokek. Dibilangin koq.

“Ajak aja mereka, aku yang bayarin!” kata Arci.

Rahma terkejut dan buru-buru menutup desktopnya. “Eh,…pak Arci…?”

“Dibilang jangan panggil pak. Nggak di kantor nggak dimanapun aku melarangmu manggil pak,” kata Arci.

“Tapii…”

“Udah, ajak aja nanti makan siang Nita ama Sonia, makan bakso,” ujar Arci.

Rahma menghela nafas. Arci menoleh ke pintu ruangan Andini yang tertutup. Rahma melihat wajah Arci yang tampaknya merasa khawatir. Pemuda ini sangat mencintai Andini.

“Dia sudah tahu?” tanya Arci.

“Sudah,” jawab Rahma.

“Baiklah, aku ke sini mau memberikan ini,” kata Arci sambil memberikan beberapa tangkai bunga mawar merah, sekaligus vas bunganya.

“Ehhh?? Apaan ini? Nanti dilihat orang!”

“Bukankah semua orang harus tahu?”

“Hmm… i-iya juga sih, tapi aku malu.”

“Sudahlah, terima saja!”

Andini tiba-tiba keluar dari ruangannya. Dia terkejut melihat Arci berada di meja Rahma. Jantung Andini serasa copot melihat Arci memberikan bunga mawar kepada Rahma. Arci yang mengetahui Andini melihatnya kemudian membelai wajah Rahma, setelah itu mengangguk kepada Andini. Dia kemudian pergi. Rahma tak tahu kalau Andini keluar dari ruangannya dan hendak menuju ke mejanya.

Setelah Arci menghilangdari balik pintu barulah ia bernafas lega. Andini menghampirinya.

“Bunga ya? Romantis banget,” sindir Andini.

“Eh, ibu,” Rahma tampak gugup.

“Tolong laporan minggu kemarin berikan ke mejaku ya, aku ingin keluar sebentar,” kata Andini.

“B-baik bu,” Rahma agak gugup.

Andini berusaha mengejar Arci. Dia mempercepat langkahnya. Begitu dia melihat Arci masuk lift ia juga mengejar Arci sampai masuk ke dalam lift. Mereka berdua pun berada di dalam lift. Nafas Andini memburu. Ia seperti tak terima Arci sudah punya gebetan lagi.

“Kamu, …. cepat sekali berpindah ke lain hati,” kata Andini.

“Kenapa? Inikan hidupku, bukan hidupmu,” kata Arci. “Apa aku tak boleh mengencani Rahma.”

“Rahma itu anak buahku, sekretarisku. Kamu tak bisa seenaknya seperti itu!”

“Apakah ada peraturan kantor yang melarang atasannya mengencani bawahannya?”

“Ada, itu aturanku.”

“Kamu cemburu?”

“Tidak. Si-siapa bilang?”

“Berarti kamu masih mencintaiku?”

“Hah??” Andini agak gugup. “Tidak, katamu hubungan kita telah berakhir bukan? Sudahlah. Nggak usah dibahas. Terserah kamu mau menjalin hubungan dengan siapapun.”

“OK, lalu kenapa kamu sewot?”

“Kenapa terlalu cepat? Kenapa kamu terlalu cepat memutuskan?”

“Din, aku single, aku cukup ganteng, aku punya kekayaan, aku punya semuanya. Wajar kalau aku ingin punya pacar bukan? Kamu mau kembali kepadaku lagi?”

“Tidak! Kamu bodoh! Tidak sensitif!”

“Akuilah kalau kamu masih mencintaiku.”

Andini terdiam.

Untuk dua menit yang panjang mereka diam. Andini tak menjawab. Dia ingin berteriak saat itu. “Aku mencitaimu” tapi mulutnya seperti terkunci. Terlebih ketika mengingat Arci bersama Safira. Mata Andini berkaca-kaca.

“Aku akan menikahi Rahma seminggu lagi!” pancing Arci.

JDERR! Tentu saja kata-kata itu membuat Andini terkejut.

“Bohong!”

“Kamu akan menerima undangannya besok. Setidaknya masih ada waktu, apakah kamu masih mencintaiku ataukah tidak. Kalau kamu masih mencintaiku, aku akan batalkan pernikahan ini. Kalau tidak kamu akan mendapatiku berada di pelaminan.”

Lift terbuka. Arci pun keluar. Andini hanya melihat punggung Arci menjauh, kemudian disusul pintu lift yang menutup. Tangis Andini pecah. Ia menekan tombol STOP di lift agar lift tak bergerak. Entah antara penyesalan dan cinta, ia bingung.

“Kenapa kamu memaksaku? Aku mencintaimu, kamu harusnya tahu. Arci…please jangan pergi….,” Andini terisak.

DRRRRRTT! Ponsel Andini berdering. Dia tadi sengaja menggunakan nada getar. Sebuah nama terpampang di sana My Cici. Arci menelponnya. Ia galau antara menerima dan tidak. Dan akhirnya jemarinya pun menggerakkan slide untuk menerima teleponnya.

“Ya?!” sapa Andini singkat.

“Andini?” tanya sebuah suara wanita. Andini sedikit terkejut.

“Si…siapa?” tanya Andini.

“Ponselnya adikku ketinggalan. Kalau itu kamu, aku ingin bicara. Bisa kita ketemuan?”

Dada Andini berdebar-debar. Kenapa Safira ingin menelponnya? Ada perlu apa?

“Please, ini penting. Bisa kita ngobrol? Aku tunggu di Kopi Tiam di Jalan Bondowoso, nanti sore,” kata Safira.

“B-baiklah,” ujar Andini.

***

Kafe NIKI Kopi Tiam malam itu tak begitu ramai. Mungkin karena para mahasiswa sedang sibuk dengan ospek dan liburan semester, sehingga kafe yang biasaya tidak sepi pengunjung itu pun kini hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Safira mengenakan baju putih lengan panjang, dengan bawahan jeans dan sepatu boot.

Dia membawa sebuah tas kecil yang ia taruh di sebelah tempat dia duduk. Sebuah cangkir kopi yang masih mengeluarkan uap panas berada di mejanya. Beberapa orang lelaki matanya tertuju kepada Safira. Mungkin karena dia satu-satunya wanita cantik yang ada di kafe itu. Parfumnya pun bisa tercium ke segala sudut ruangan membuat pesona Safira tak bisa ditolak.

Andini tak lama kemudian datang. Begitu melihatnya Safira sangat senang sekali. Dia menganggap Andini cantik, anggun, dengan balutan baju atasan hitam putih dan rok warna abu-abu. Rambut Andini diikat. Sepatu high heelsnya yang bermerk terkenal tampak makin serasi saja dia pakai. Begitu Andini masuk, ia langsung mengenali Safira. Para lelaki yang berada di kafe kini mendapatkan pemandangan indah yang lainnya. Dua bidadari ada di dalam ruangan.

Safira segera menyambut Andini, menyalaminya dan cipika-cipiki. Andini tak menyangka Safira bisa selembut ini dan seakrab ini.

“Apa kabar?” sapa Safira.

“Baik,” jawab Andini.

Mereka berdua duduk berhadapan. Andini sangat canggung, apalagi Safira tersenyum. Dia mengira Safira ini cantik. Pantas saja Arci menyukai kakaknya sendiri. Andini merasa kalah.

“Aku ingin bicara mengenai adikku. Kalau kamu tak keberatan,” kata Safira.

Andini menghela nafas. “Masalah apa?”

“Kamu tahu, apa yang dikatakan adikku bukan? Ketahuilah, dia sangat mencintaimu. Aku tak ingin merusak hubungan kalian, aku sangat berharap ia bisa bersama denganmu. Arci telah menganggap engkau adalah hidupnya.”

“Aku tak mengerti.”

“Andini,” Safira menggenggam tangan Andini. “Kamu mencintai Arci, bukan?”

Andini menarik nafas dalam-dalam. Entah kenapa, dia saat itu bisa berkata, “Iya”

“Aku akan pergi, kamu tak akan melihatku lagi. Aku tak ingin kebahagiaan kalian terganggu olehku. Aku sadari aku salah. Dari dulu aku adalah perempuan hina, sering diusir, sering diintimidasi, itulah aku. Tapi aku sangat menyayangi Arci, lebih daripada yang engkau ketahui. Aku tak ingin mengganggu cinta kalian. Aku hanyalah duri yang mengganggu kisah cinta kalian.”

Andini tiba-tiba menangis. “Jangan, engkau adalah orang yang dia cintai. Aku tak bisa. Aku sudah kalah sebelum bertarung. Aku tak bisa.”

“Dini, kenapa kamu menangis?”

“Aku tak tahu.”

“Kamu takut kehilangan dia bukan?”

“Iya,… aku takut…takut sekali. Tapi, dia hari ini katanya telah berhubungan dengan wanita lain. Katanya dia akan menikahinya seminggu lagi.”

“Tidak, Arci tidak akan berbuat seperti itu. Ia hanya ingin memancing amarahmu saja. Dia hanya ingin agar engkau mengakui bahwa engkau masih mencintai dia. Hanya itu. Katakan kepadaku, kamu mencintai dia bukan?”

Air mata Andini makin deras. “Aku sangat mencintainya. Sangat mencintainya.”

Safira menggeser kursinya, kemudian dia memeluk Andini. Keduanya sama-sama menangis. Mencintai seorang yang sama, tapi dengan status berbeda.

“Kamu jangan pergi!” kata Andini. “Arci tak akan bisa hidup tanpa kamu.”

“Dia harus bisa,” kata Safira.

“Tidak, jangan!”

“Aku menyayangimu, sama seperti aku menyayangi adikku. Aku akan mengalah. Arci harus bisa hidup tanpa diriku.”

“Safira…..hiks…”

***

Besoknya Arci membawa surat undangan. Surat undangan berwarna coklat itu ada sebuah pita kecil yang berada di salah satu halaman undangannya. Di sana tertulis nama Arci dan Rahma. Semuanya dibagikan. Ini surat undangan pernikahan. Sepertinya Arci sangat serius. Arci sudah pergi ke rumah orang tua Rahma dan melamarnya. Dan Arci juga serius mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk pernikahan hingga Rahma tak tahu apakah ini bercanda atau serius. Dia berkali-kali bertanya kepada Arci.

“Ini seriusan?” tanya Rahma berkali-kali.

Arci menjawab, “Seriusan.”

Rahma terkejut. “Ci, bukannya katanya kita cuma main-main saja sampai Andini mengakui cintanya.”

Arci tersenyum. “Turuti saja apa kemauanku. Aku sekarang jadi calon suamimu, baik kamu suka maupun tidak.”

“Hei!? Tidak bisa begini. Bukan begini perjanjiannya!”

“Tenanglah, aku yakin dia akan berkata jujur bahwa dia mencintaiku.”

“ARCI!” suara Rahma meninggi.

Arci langsung mencium bibir Rahma. Rahma yang mendapatkan serangan mendadak itu pun kaget. Andini keluar dari ruangannya, ia kaget melihat Rahma dan Arci berciuman di depan mata mereka. Ini sama sekali tidak pernah dikira. Sama sekali tak pernah dikira. Rahma pun tak bisa melawan, hingga akhirnya ia pasrah dan menerima perlakuan Arci. Andini sangat sakit, sangat sakit hatinya. Ia kembali masuk ke ruangannya.

“Terserah apa yang ingin kamu lakukan. Aku tak peduli. Mau kamu pergi, mau kamu kawin ama Rahma terserah!” rutuk Andini. Dia kemudian mendorong seluruh barang yang ada di atas mejanya. Setelah itu ia menjerit. Hatinya sangat sakit. “Arci, aku mencintaimu….”

Saat Andini sudah masuk ke ruangannya Rahma mengetahui kalau Andini tadi melihat. Ia mendorong Arci kuat-kuat.

“Apaan sih?” gerutunya.

“Aku ingin dia cemburu,” kata Arci.

“Gila apa?! Ini bukan kesepakatan kita. Ngapain pake acara cium segala? Batalin nggak itu pernikahannya?”

“Tidak. Ini sudah keputusanku.”

“Tapi apa yang akan terjadi nanti? Kalau misalnya emang beneran Andini ingin kembali kepadamu, bukankah semua undangan sudah disebar?”

“Kamu tak akan menyesal, pada hari itu kamu tetap akan menikah. Aku tetap akan menikah.”

“Ci, ini gila!”

“Bukankah kita sudah bersepakat kalau kamu mau mengikuti caraku?”

Rahma menghela nafas. Ia masih ingat bagaimana dua hari yang lalu Arci datang ke rumahnya. Terang-terangan “melamar” Rahma. Antara pura-pura dan tidak, sepertinya tak bisa diketahui. Bahkan Arci menjadwalkan acaranya dua minggu lagi. Dia sudah mengatur tempat, sudah menyewa gedung. Semuanya sudah dia persiapkan. Orang tuanya Rahma, tentu saja setuju. Tapi Arci bilang itu keputusan Rahma, ingin setuju atau tidak. Dan Rahma setuju. Saat itu juga Arci berkata, “Sekalipun dengan menikah nanti kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dariku?”

Rahma tak mungkin bilang “tidak”. Dia hanya berkata, “Iya”

Ini adalah hal tergila dalam hidupnya.

***

“Aku akan kembali,” kata seseorang. Dia memainkan cerutu yang ada di tangannya, sementara tangan satunya sedang memegang ponsel di telinganya.

“…”

“Tak perlu takut. Keluarga ini memang begitu. Tak akan memberikan toleransi kepada para pengkhianat. Itu memang bakalan terjadi. Hanya saja, kalau bisnisku diganggu. Aku juga tidak suka.”

“….”

“Aku tahu kematian Jatmiko, harusnya kamu tidak ceroboh!”

“….”

“Biarkan Alfred yang mengurus.”

“…”

“Anak Archer, biar aku urus. Bantuan sudah datang?”

“….”

“Tentu saja. Apa? Dia mau menikah? Kapan?”

“….”

“Perjanjian kita tak akan batal. Aku sudah berjanji bukan? Kita akan merger, kalian akan tetap dapat bagian. Sudah saatnya PT Evolus dipimpin oleh orang yang tepat.”

“….”

“Segera, kita akan lakukan pembersihan. Semuanya, tanpa ampun!”

“….”

“Ya, semuanya.”

***

Seseorang lelaki berusia 40-an masuk ke sebuah rumah sakit jiwa. Dia adalah Johan Sebastian. Dia mengunjungi istrinya Araline Zenedine. Sebenarnya ini kunjungan rutinnya, karena hampir pasti kalau tidak ada halangan dua minggu sekali ia menjenguk istrinya. Sang istri keadaannya mulai membaik. Mulai tenang. Walaupun tidak sepenuhnya dan bisa kambuh sewaktu-waktu.

“Araline?!” sapa Johan.

“Hmm??” jawab Araline. Dia memakai baju putih, rambutnya disisir rapi, tapi kantung matanya tampak menonjol. Araline punya kebiasaan kurang tidur. Bahkan lebih banyak mengigau. Semenjak narkoba mempengaruhi jalan pikirannya ia dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Ini adalah cobaan bagi Johan.

“Kamu tahu, ini kesekian kalinya aku menjengukmu. Dokter bilang sudah ada kemajuan dari terapimu. Hanya saja masih perlu observasi,” kata Johan.

Araline masih membisu.

“Kamu masih mikirin kejadian masa lalu? Sudahlah, udah berapa tahun? Sebentar lagi kalau kamu tidak kambuh lagi, kita akan pulang.”

“Katakan bagaimana kabar Archer?” tanya Araline.

Johan capek sebenarnya dia menanyakan kabar Archer. Johan tak pernah tahu apa yang terjadi antara dia dengan Archer yang notabenenya adalah kakaknya sendiri. Araline selalu bertanya tentang kabar Archer.

“Dia …. sekarang sudah meninggal. Kamu harus tahu, dia sudah lama meninggal!” ujar Johan.

Araline tersenyum. “Kamu bohong. Archer menungguku, dia pasti menungguku.”

“Dia sudah meninggal, sekarang ada anaknya yang menggantikan dia,” kata Johan.

“Anaknya? Siapa?”

“Namanya Arczre, panggilannya Arci. Ia pewaris dari PT Evolus. Harusnya kamu relakan dia.”

“Semua keluarga ini memang sampah. Mereka tak pernah punya perasaan. Archer yang tidak bersalah saja bisa mereka siksa seperti itu. Siapa dia? Arci? Aku ingin bertemu dengan dia. Kamu bisa antarkan dia ke sini?”

“Kenapa?”

“Aku ingin berikan dia sebuah rahasia.”

“Apa?”

“Biar Arci yang tahu, aku sudah berjanji kepada Archer untuk menceritakan hal ini kepadanya. Tapi kalau kamu bilang ada anaknya maka boleh saja kan? Aku ingin ceritakan sesuatu kepada Arci. Dan juga tentang alasanku berada di sini.”

“Araline, kamu ini kenapa?”

“CEPAAAT!” Suara Araline meninggi.

“Iya, OK, OK. Aku akan ajak anak itu ke sini.”

Araline tersenyum. “Jangan sampai tidak.”

Johan mengerutkan dahinya. Ia tak habis pikir. Rahasia apa yang akan dibeberkan oleh Araline? Dia berdiri, kemudian meninggalkan Araline seorang diri. Tujuannya sekarang adalah mencari Arci.

Untuk mencari Arci tidak terlalu sulit. Johan langsung menemui Arci di ruang kerjanya. Sebagai salah satu keluarga Zenedine, akses untuk dia amatlah mudah. Arci saat itu sedang menandatangani beberapa berkas. Agaknya hari itu ia menyibukkan diri di dalam kantornya. Kantor seorang presiden direktur cukup luas, juga merupakan tempat yang paling atas di gedung. Di mejanya ada sebuah bingkai foto. Dan foto itu adalah foto Andini. Ketika Arci mengusap-usap bingkai foto itu, Johan mengetuk pintu.

Arci yang terkejut segera menutup bingkai foto itu. Dia lalu berkata, “Silakan masuk!”

Johan pun masuk.

“Johan?” Arci cukup terkejut.

“Apa kabar ponakan?” sapa Johan.

“Ada perlu apa?” tanya Arci.

“Aku ingin kamu ikut denganku.”

“Kemana?”

“Ke Rumah Sakit Jiwa, tempat istriku berada. Dia ingin memberitahukan sesuatu kepadamu. Percayalah kepadaku. Kamu akan mengerti apa yang terjadi sebenarnya di keluarga ini.”

bersambung