Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Tamat

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 14

DI SARANG SINGA‚Äč

Arczre mengambil alih perusahaan PT Evolus. PT Evolus mempunyai Presiden Direktur baru. Ya, itulah judul headline koran. Seorang yang tiba-tiba berada di puncak. Tapi inilah hasil dari harga yang harus dibayar mahal oleh Arci dan keluarganya.

Hidup bertahun-tahun berpindah-pindah dikejar renternir, debt colector hingga orang-orang yang tak jelas yang ingin membunuh mereka. Sekarang Arci bisa berdiri di puncak. Namun tetap saja ada orang-orang yang tak suka ia berada di sana. Terlebih setelah ia mengetahui bagaimana sejatinya keluarga Zenedine. Mereka semua mengerikan.

Arci mau tak mau harus mengakui dirinya butuh sekutu. Ia sendirian di keluarga ini. Tak ada yang mendukungnya. Arci pun datang ke Letnan Yanuar setelah ia menelpon polisi itu. Mereka pun bertemu di sebuah kafe.

“Kau tak perlu takut, kita aman,” kata Letnan Yanuar. “Siapapun tak akan ada yang curiga kamu ngobrol dengan siapa.”

“Ini gila,” kata Arci. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Pieter membunuh orang, tepat di depanku!”

“Aku tahu, korbannya Yuswan Andi,” kata Letan Yanuar.

“Lalu kenapa dia tidak ditangkap?”

Letnan Yanuar menggeleng. “Kamu kira menangkap dia semudah menangkap nyamuk? Siapa saksinya? Kamu?”

“Bukankah banyak yang melihat?”

“Banyak yang melihat? Kamu tahu seberapa takut mereka kalau melaporkan kejadian itu? Ini tidak terjadi pertama kali, tapi lebih dari itu, beberapa tahun yang lalu juga terjadi hal serupa, tidak didor, tapi dijatuhkan dari atas gedung. Otaknya berhamburan di bawah. Dan kamu tahu nasib orang yang melaporkannya? Sama. Jatuh dari atas gedung. Pieter bukan orang sembarangan. Kalau kamu mau mengalahkan dia, maka kamu harus mencabut satu demi satu gigi-giginya. Dia itu seperti macan yang gigi-giginya tajam. Untuk melumpuhkannya, tentu saja cakarnya harus dipotong, giginya dicabut baru kita bisa mengalahkannya.”

Arci menggaruk-garuk kepalanya yang makin pusing.

“Kamu butuh sekutu di dalam keluarga itu, Arci!” Letnan Yanuar kemudian menyerahkan beberapa dokumen.

“Ini data tentang keluarga Zenedine. Pelajarilah, hanya ini yang bisa aku bantu. Dan satu lagi, kalau kamu ingin disegani oleh mereka, dekati Pieter dan Ghea. Dua orang ini ayah dan anak. Pieter saudara jauh dari Archer, lebih tepatnya sepupunya. Sebenarnya kalau saat itu dia tidak terlibat kasus kriminal, maka dia akan memimpin perusahaan ini. Tapi sekalipun begitu dengan bisnisnya yang entah apa namanya ia berhasil mempunyai banyak uang dan sahamnya termasuk salah satu yang tinggi di perusahaan ini.

“Pieter terkenal sebagai orang yang menjalankan bisnis. Dia orang kepercayaan Arthur. Segala sesuatu yang berbau kotor, ia pasti pelakunya. Tapi setiap polisi akan menangkapnya, bukti-bukti itu selalu hilang. Tak berbekas. Ghea, dia cewek yang mengerikan. Kalau kamu bisa mendapatkan dia sebagai sekutumu, kamu tidak akan dianggap remeh oleh keluarga Zenedine. Sebab apapun yang dianggap baik oleh Ghea, maka banyak keluarga yang mendukung. Satu lagi, ia berdarah dingin. Tak segan-segan menembak orang yang tidak disukai.”

Arci melihat dua buah foto. “Ini? Siapa mereka?”

“Yang laki-laki namanya Tommy Zenedine, dia pekerja seni. Ia tak mau terlibat panasnya intrik keluarga Zenedine, sekarang tinggal di Paris. Yang satunya Areline. Dia sekarang masuk rumah sakit jiwa karena terlalu banyak mengkonsumsi barang haram ketika muda hingga otaknya goyah. Kamu bisa tak perlu mencampuri urusan mereka.”

“Yang lainnya?” tanya Arci.

Letnan Yanuar memberikan dokumen lainnya. Arci pun menerimanya.

“Pelajari semuanya. Mereka sangat berbahaya,” kata Letnan Yanuar.

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Arci.

“Kumpulkan bukti-bukti agar aku bisa menjerat mereka satu per satu. Di dokumen ini ayahmu memberikan catatan tentang siapa saja yang berbuat kriminal. Pelajari saja. Kamu akan mengerti nantinya. Dan satu lagi…,” Letnan Yanuar merogoh sakunya dan menyerahkan sebuah flashdisk USB.

“Apa ini?” tanya Arci.

“Kalau kamu pernah melihat video tentang ayahmu, ini video yang lainnya. Dia menyerahkannya kepadaku sebelum pergi. Dan dia benar-benar menyuruhku agar jangan sampai benda ini jatuh ke tangan orang yang salah,” jawab Letnan Yanuar. Ia menyeruput kopinya yang sudah dingin.

Arci membolak-balik dokumen-dokumen itu.

“Aku tinggal dulu,” ujar Letnan Yanuar. “Kalau kamu ingin menghubungiku, kamu tahu harus ke mana.” Ia pun beranjak dari tempat duduknya.

***

Tinggal di rumah baru. Rumah peninggalan Archer Zenedine. Siapa yang tak suka? Baik Lian, Safira dan Putri sangat senang. Kehidupan mereka berubah sekarang. Mereka sudah tidak kekurangan lagi. Lian dan Safira pun akhirnya tidak lagi mendalami profesi mereka. Kini keduanya menjadi orang yang bebas. Menikmati apa yang telah disiapkan oleh Archer Zenedine. Safira lebih bahagia kini, ia bisa tinggal bersama Arci. Lebih tepatnya dia sekarang seperti istri yang melayani suaminya.

Agaknya sedikit bimbang bagi diri Arci. Bagaimana kalau Andini tahu hubungan dia dengan kakaknya sendiri? Sebuah hubungan tabu yang bisa membuat dia dan Andini berpisah. Aci menyukai Andini tentu saja. Ia sangat mencintainya. Tapi ia juga tak bisa menelantarkan cinta Safira. Apalagi mereka adalah kakak adik. Di rumah mereka sangat mesra. Bahkan mungkin Lian sedikit cemburu dengan tingkah anak-anaknya ini. Tapi di dalam diri Arci ada sebuah perasaan galau. Hingga suatu ketika saat mereka telah selesai bercinta, keduanya saling berpandangan.

“Aku takut,” kata Arci.

“Takut kenapa dek?” tanya Safira.

“Kita sekarang berada di sarang singa. Semua anggota keluarga Zenedine memusuhi kita. Kakak mungkin tahu bagaimana kita dulu harus berpindah-pindah, semuanya salah satunya adalah karena ulah mereka. Tapi siapa aku masih belum tahu.”

Safira tak berkata-kata. Ia makin merapatkan tubuh tanpa busananya ke tubuh Arci. Mereka pun berpelukan. Arci membelai rambut kakaknya.

“Aku sekarang ini sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita,” kata Arci.

“Oh ya? Siapa?”

“Kakak masih ingat saat aku menjadi gigolo dulu?”

“Ya?”

“Aku sekarang menjalin hubungan dengan dirinya.”

“Oh..”

“Dan sebenarnya waktu itu aku tak melayani dia. Aku menolaknya dan ternyata mereka malah memberiku uang yang banyak. Mereka ternyata mendapatkan mandat dari ayahku untuk memberikan uang itu kepadaku.”

“Yang benar?”

“Iya. Dan sekarang wanita yang saat itu ada di dalam kamar hotel saat itu,…sekarang aku telah menjalin hubungan dengan dia. Dan kita serius. Dia bosku sendiri di perusahaan ini.”

Dada Safira terasa sesak. Ia tahu hal ini bakal terjadi. Arci mencintai wanita lain. Ia cemburu. Tapi sebagai seorang kakak ia tak ingin adiknya sakit hati. Ia ingin membiarkan Arci dengan cintanya. Hanya saja ia tak rela kalau adiknya direbut oleh orang lain. Tiba-tiba air matanya mengalir. Arci mengetahui hal itu.

“Kakak menangis?”

“Nggak koq dek. Nggak.”

“Itu?” Arci menghapus air mata Safira.

“Aku kakakmu, aku akan mendukung apapun yang kamu lakukan. Tapi…sungguh, mendengar ceritamu aku tak tahu harus bahagia atau sedih.”

Arci lalu mendekap Safira. “Kamu tetaplah Kak Safira sampai kapan pun.”

“Kenapa aku bisa jadi kakakmu? Aku ingin jadi kekasihmu. Tak bisakah itu terjadi?”

“Kamu kakakku dan juga kekasihku.”

“Tapi kamu mencintai dia bukan? Rasanya sakit dek…dadaku sakit.”

“Maafkan aku.”

Safira menangis dalam pelukan Arci. Kamar yang baru mereka tempati hari ini merupakan saksi bisu bagaimana Safira mengutarakan kecemburuannya kepada Andini. Tapi seharusnya ia tak boleh cemburu. Tapi cinta tak bisa dipaksakan. Cinta Arci kepada Andini adalah cinta yang tulus. Dan ia ingin menjaganya. Dan cintanya kepada Safira, adalah cinta seorang adik kepada kakaknya. Andainya bisa lebih, apa yang akan terjadi nanti?

***

Arci membaca semua dokumen yang diberikan oleh Letnan Yanuar. Ternyata anggota keluarga Zenedine punya pengaruh yang luar biasa. Baik di dalam bisnis dan politik.

Tommy Zenedine

Usia 45 tahun. Adik dari Archer Zenedine. Sekarang menjadi seniman di Perancis. Sudah 10 tahun tidak pulang ke Indonesia.

Araline Zenedine

Usia 40 tahun. Adik dari Archer Zenedine. Sekarang tinggal di RSJ karena gila setelah terlalu banyak mengkonsumsi narkoba.

Pieter Zenedine

Usia 55 tahun. Sepupu Archer, orang yang lebih banyak berkecimpung di dunia hitam. Semua bisnis PT Evolus dia yang menjaga. Saat terjadi peralihan kekuasaan ke Archer ia tak masuk kandidat karena mendekam di penjara.

Ghea Zenedine

Anak dari Pieter. Pernah melakukan pelatihan di SAS. Namun dia dikeluarkan lantaran memotong salah satu kemaluan anggota SAS. Hanya dia satu-satunya wanita yang punya kemampuan militer. Bertempramen tinggi dan berbuat seenaknya.

Johan Sebastian

Suami dari Araline. Sekarang mengelola bisnis sendiri, bisnis yang ditekuninya adalah di bidang properti. Dia mendapatkan kekayaan dari istrinya dan digunakannya sebagai modal usaha.

Amanda Zenedine

Amanda Zenedine adalah istri dari Archer Zenedine. Tidak banyak yang diketahui darinya karena dia sangat tertutup. Darinya Archer tidak mendapatkan keturunan.

Alfred Zenedine

Alfred Zenedine adalah anak dari Tommy. Berbeda dari ayahnya, dia lebih banyak bekerja dalam bidang teknologi. Dia mempunyai toko elektronik yang cukup besar.

Jacques Kenedy

Jacques adalah tangan kanan Pieter Zenedine. Tak ada yang tahu identitas dan masa lalunya. Yang jelas dia tidak bisa diremehkan karena segala urusan kotor sekarang ini ditangani oleh Jacques.

Michael Hurtman

Salah satu menantu keluarga Zenedine. Dia orang yang berasal dari Amerika, seorang pengusaha real estate yang sekarang tinggal di Indonesia. Istrinya adalah Alexandra Zurky.

Alexandra Zurky

Kalau tidak jadi orang yang beruntung maka Alexandra tidak akan masuk ke keluarga Zenedine. Dia boleh dibilang beruntung karena dulu pernah dinikahi oleh Kevin Zenedine, sepupu Archer. Setelah suaminya meninggal, dia mewarisi semua hartanya. Kemudian dia menikah dengan Michael.

Arci kemudian memutar sebuah file video dari USB yang diberikan oleh Letnan Yanuar. Dia melihat wajah ayahnya lagi. Kemudian Archer mulai bicara.

“Arci, kalau kamu menerima file ini itu artinya kamu sudah masuk ke dalam keluarga Zenedine dan kamu mendapatkan warisan dariku. Selamat. Gunakan warisan itu sebaik-baiknya. Aku tak bisa menjagamu, andainya aku masih hidup saat melihatmu aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membelamu, melindungimu dan juga ibumu. Aku ingin kamu tahu, aku sangat mencintai kalian dan aku tak ingin kalian disakiti.

“Aku meminta tolong kepada Letnan Yanuar untuk bisa menolongku menyerahkan rekaman ini kepadamu. Sekali lagi, jangan percaya kepada siapapun. Setiap anggota keluarga Zenedine adalah singa-singa yang kelaparan. Kalau kamu sudah masuk ke sana berarti kamu telah masuk ke sarang singa. Saranku, jadilah singa. Kamu harus bisa menunjukkan kemampuanmu, jangan menyerah, wasiatku kepadamu yang terakhir adalah hancurkan keluarga Zenedine. Balaskan dendam ibumu, balaskan dendam orang-orang yang telah menghancurkan hidup ayah dan ibumu. Aku belum bisa mengumpulkan cukup bukti tapi kalau engkau masuk ke bagian produksi barang-barang yang diekspor kamu akan mendapati sesuatu yang tak pernah kamu duga.

“Dekatilah Pieter, dekatilah Ghea, dengan mendekati keduanya kamu akan tahu bisnis gelap apa yang mereka lakukan. Aku hanya punya satu teman di keluarga ini, yaitu istriku sendiri. Amanda. Aku tak pernah menyentuhnya, karena aku masih mencintai ibumu sampai sekarang. Dia satu-satunya yang bisa dipercaya di keluarga Zenedine, karena ia wanita yang entah bagaimana tersesat di sana. Hancurkan keluarga ini. Mereka tak berhak lagi untuk bisa menikmati kehidupan mereka. Dan kamu jangan khawatir. Kekayaanku sangat banyak bahkan kalau toh kamu menghancurkan setiap sendi dari mereka, kamu tak akan kehilangan satu sen pun dari kekayaanku.

“Arci, maafkan aku. Andai aku bisa hidup lebih lama lagi. Aku hanya bisa berkata ‘Jangan percaya kepada siapapun’. Dan…jangan mati.”

Video pesan dari ayahnya sudah selesai. Dan Arci hanya terbengong. Ia tak menyangka seperti ini. Isi flashdisk itu dibuka dan ada beberapa file tentang aliran dana, aliran uang perusahaan. Ternyata ayahnya mencatat semuanya, mencatat semua data keuangan yang tidak biasa. Arci tak percaya kalau tidak melihat sendiri.

Bicara tentang data keluarganya, maka data itu tidaklah lengkap. Arci tahu itu. Apakah mereka semua punya usaha di dunia hitam? Kalau misalnya dia membantu polisi itu, berarti dia sama saja ingin menghancurkan keluarganya. Apalagi ancaman Pieter, kalau misalnya dia berkhianat. Apa yang harus dia lakukan? Arci menumpuk dokumen-dokumen itu di atas mejanya. Hingga kemudian bel berbunyi.

TING TONG!

Agak aneh kalau sampai ada tamu sedangkan dia sendiri belum mengumumkan di mana alamat rumahnya yang baru. Arci segera menuju ke pintu. Ia melintasi ruang tamu kemudian mengintip dari lubang pintu. Dia melihat seorang wanita paruh baya, cukup cantik dengan baju warna hitam dan rambutnya yang berombak. Seorang wanita yang tidak dikenal sekarang sedang berada di luar pintu rumahnya. Kalau saja Arci tidak mengingat dokumen yang baru saja ia baca, maka ia pasti tak akan menghiraukan siapa wanita itu. Ya, dia adalah Amanda Zenedine.

Dibukalah pintu. Wajah sumringah seorang Amanda terlihat.

“Arci, apa kabar? Aku dengar cerita kamu sekarang dapatkan semua yang ayahmu punya. Boleh aku masuk?” tanya Amanda.

Kenyataan bahwa dia adalah istri sah ayahnya tak bisa ditepis. Ia sedikit ragu ketika mengucapkan kata “silakan” kepadanya. Wanita itu pun masuk. Lian yang juga penasaran siapa tamu yang datang agaknya terlihat sedikit terkejut melihat Amanda.

“Apa kabar, Lian?” sapa Amanda.

“Baik. Bagaimana kamu?” tanya Lian.

“Seperti biasa, kesepian,” jawabnya.

Amanda lalu berjalan masuk ke ruang tamu, kemudian dia duduk di sofa. Arci dan Lian menemaninya.

“Maaf, kedatanganku mengagetkan kalian.” Amanda menghela nafas. “Mungkin kamu kaget ketika pertama kali bertemu dengan kami disambut dengan sambutan yang tidak pantas.” Amanda melihat Arci.

“Ya, aku shock,” ujar Arci.

“Aku dan Archer, tidak pernah merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Berada di dalam keluarga ini rasanya seperti neraka. Aku sangat terkejut ketika mendapatkan kabar bahwa Arci muncul. Kalau ada Arci berarti ada Lian, kamu yakin ingin masuk ke dalam keluarga ini?” tanya Amanda.

Arci menggeleng, “Aku tak yakin. Aku juga tak tahu apakah ini pilihan yang benar atau tidak.”

“Aku akan membantumu,” kata Amanda.

“Membantuku?”

“Ya, apapun yang kamu perlukan aku akan membantumu. Kalau kamu sudah pernah melihat pesan dari ayahmu, maka aku adalah satu-satunya orang yang bisa kamu percaya sekarang ini,” jelas Amanda. “Tapi itu juga terserah kepadamu apakah kamu ingin berjuang sendiri ataukah membutuhkan bantuanku. Aku tahu tak ada yang dipercaya di keluarga ini, tapi aku berani bilang kalau aku adalah satu-satunya harapanmu di keluarga ini.”

Arci tak yakin. Ia menoleh kepada ibunya. Lian hanya menghela nafas. Ia juga tak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin saja kehadiran Amanda bisa membantunya. Mungkin saja tidak.

***

Pieter berjalan-jalan di jalan Ijen saat Car Free Day. Dengan baju training lengan panjang. Ia terlihat santai sambil sesekali menggerak-gerakkan tubuhnya. Walaupun usianya lanjut ia masih energik. Ghea tampak mengawasinya dari jauh sambil terus berjalan di belakangnya. Rambutnya yang kemerahan dengan mata hijaunya, membuat banyak lelaki yang melirik ke arahnya. Mereka tak tahu saja kalau di pinggang cewek blesteran itu ada pistol yang siap ditembakkan kapan saja, serta beberapa pisau tajam yang siap memotong apapun.

“Ghea, Kenapa jauh-jauh? Kemarilah!” kata Pieter.

Ghe segera mendekat. Dia berjalan di sisi ayahnya sekarang.

“Aku ingin perintahkan kamu untuk mengawasi Arci. Kedatangannya di keluarga ini memang mengejutkan tapi… cobalah untuk mengawasi gerak-geriknya. Kalau ada yang mencurigakan segera lapor kepadaku!”

“Kenapa tidak dihabisi saja dia?”

“Jangan begitu, di dalam darahnya masih mengalir darah Zenedine. Hanya para pengkhianat yang wajib dihabisi. Selama ia tidak berkhianat, kita tak boleh berbuat gegabah. Dekati saja dia, korek keterangan tentang dirinya. Dan, jangan berbuat yang jauh. Aku tak mau dia tahu kalau engkau awasi.”

“Baik ayah.”

“Satu lagi, cari orang yang menerima bocoran desain dari Yuswan. Kalau ketemu habisi dia. Aku tak ingin kita dianggap remeh oleh PT Denim.”

“Baik ayah.”

Pieter melanjutkan acara olahraganya sementara Ghea sudah berbalik meninggalkan ayahnya sendirian.

***

“Aku tak suka dengan orang itu. Siapa dia seenaknya masuk ke keluarga kita.”

“AKu juga demikian. Tapi keputusan itu tak bisa dimentahkan oleh siapapun.”

“Aku tahu, wasiat Archer tak bisa diubah, tak bisa dibatalkan. Tapi, apa bisa dia menggunakan warisan ayahnya itu dengan bijak?”

“Daripada itu, kita lebih baik menjaga diri. Sebab Yuswan telah mati tepat di hadapan kita. Aku tak mau kita juga ikut seperti Yuswan. Beruntung dia tidak memberitahukan siapa rekannya. Pieter pun memperingatkan kita semua, itu adalah balasan bagi para pengkhianat. Tentunya kepalamu tak mau berlubang bukan?”

“Ya, kita harus lebih hati-hati lain kali.”

“Tapi kita cukup beruntung, gadis itu hanya memberitahukan tentang Yuswan. Artinya ia tak melihatku.”

“Perlu kita bereskan dia?”

“Tidak, misi kita lain. Hancurkan PT Evolus, kita harus buat PT Evolus terpuruk dengan begitu anak Archer tak akan dapat dipercaya oleh keluarga mereka dan kita bisa menguasai PT Evolus dengan membelinya.”

“Baiklah.”

“Tapi ingat, harus tanpa ketahuan.”

“Iya, tentu saja.”

“Sebentar ada telepon masuk….ya?? Halo?”

“…”

“Teruskan, pengiriman harus selesai malam ini. Ya, tentu saja ke Vietnam.”

“…”

“Apa katamu??”

“…”

“OK, aku akan urus sisanya.”

“Ada apa?”

“Presiden direkturmu yang baru membuat langkah yang membahayakan bagi kita.”

“Hah?”

“Sebaiknya aku ceritakan sambil jalan. Ayo!”

***

Arci memeriksa pembuatan produk dan dia pun membongkar beberapa baju yang sudah dipack di sebuah box kayu yang siap dikirimkan ekspor. Arci kemudian merobek salah satu baju. Dan dia tercengang mendapati sesuatu di sana. Sebuah bubuk putih berada di lipatan-lipatan jahitan. Kecurigaan ayahnya terbukti. Ada sesuatu di perusahaan ini. Jadi ada narkoba yang diseludupkan pada produk-produk yang diekspor.

Saat itu beberapa pekerja tampak menundukkan wajah.

“Apa ini?” tanya Arci. “Siapa yang bertanggung jawab terhadap ini?”

Tak ada satu pun yang menjawab. Wajah-wajah mereka tampak ketakutan.

“Kalau tak ada yang bilang kepadaku siapa yang bertanggung jawab atas ini semua. Aku akan memecat kalian semua,” ancam Arci.

“Maaf pak, ini semua sudah lama,” jawab salah seorang karyawan.

“Sudah lama?”

“Iya, sudah lama. Anda mungkin baru tahu itu bisa dimaklumi. Khusus untuk produk ekspor yang dipack, telah jadi rahasia perusahaan ini kalau diisi serbuk itu. Dan ini semua atas inisiatif dari mendiang Arthur. Dia yang merancang sistem ini, pengepakan ini, semuanya.”

“Apakah ayahku tahu tentang hal ini?”

Karyawan itu menggeleng.

“Baiklah, aku ingin semua barang-barang ekspor ini di keluarkan. Setelah itu rusak seluruhnya, serbuk-serbuk itu segera disiram air. Musnahkan semuanya. Kalau ada yang bertanya ini ulah siapa, jawab saja aku!”

Arci kemudian meninggalkan bagian pengepakan barang. Semua karyawan saling berpandangan. Mereka antara takut dan was-was melakukan apa yang diperintahkan oleh Arci. Ia segera menuju ke ruangannya. Sudah seminggu ini ia menjadi presiden direktur, sungguh sebuah perjalanan hidup yang aneh. Dalam waktu singkat ia sudah melejit ke atas. Ia menuju ke ruangan Andini.

Arci melewati Yusuf, ia sapa pemuda itu, lalu Rahma. Rahma langsung berdiri, dan Arci menyuruhnya duduk. Pintu dibuka. Andini agak kaget melihat Arci.

“Ci? Eh, maaf Pak Direktur?!” sapa Andini. Ia langsung berdiri menyambut Arci.

“Panggil aku sesukamu nggak apa-apa koq,” jawab Arci.

“Yah, kita bertukar posisi sekarang,” kata Andini.

“Tidak, tidak, kamu masih bosku,” kata Arci.

“Nggak bisa begitu dong!”

Andini meletakkan kedua telapak tangannya di pundak Arci.

“Hei, ingat ini kantor,” kata Arci.

“Bodo amat.” Andini kemudian melanjutkannya dengan ciuman.

“Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepadamu,” kata Arci sambil membelai rambut Andini yang lurus.

“Apa itu sayang?”

“Kamu tahu produk ekspor kita? Aku tadi memeriksanya ada garam murahan di dalamnya.”

“Garam murahan?”

“Kokain.”

“Hah??”

Arci menghela nafas. “Kalau dari raut wajahmu yang heran itu artinya kamu baru tahu. Aku tak tahu bagaimana tapi barang itu ada di sana. Aku sudah menyuruh para karyawan untuk memusnahkan semua produk yang diekspor yang mengandung kokain.”

“Jelas aku tak tahu, tak pernah tahu,” ujar Andini sambil keheranan.

“Ada yang tidak beres dengan perusahaan ini. Aku akan coba memeriksa kemana barang-barang ekspor itu dikirim,” kata Arci.

“Aku akan minta Yusuf untuk memeriksanya!”

Andini segera beringsut keluar dari ruangannya, Arci mengikutinya. Lagi-lagi Rahma keheranan melihat Arci dan Andini jalan bersama. Ia semakin yakin kalau kedua atasannya ini punya hubungan khusus. Yusuf sedikit kaget ketika Andini dan Rahma ada di samping tempat dia duduk.

“Yusuf, bisa minta tolong? Aku ingin tahu semua data barang kita yang diekspor. Kemana tujuannya dan diantarkan pakai apa?” tanyaku.

“Sertakan juga kapasitas boxnya, produknya apa saja,” tanya Andini.

“Baik bu sebentar,” kata Yusuf.

Dengan cekatan ia memeriksa database. Yusuf cukup terampil. Terima kasih kepada Arci yang telah membuatkan program khusus sehingga orang awam dengan sangat mudah bisa mengoperasikannya.

“Oke, kita sudah dapatkan. Kita mengekspornya ke Amerika, Inggris, Perancis, Venezuela, Kolombia, Malaysia, Thailand, Mexico dan Itali,” kata Yusuf.

“Mana yang ekspornya paling kecil?” tanya Arci.

“Kolombia dan…Mexico??”

“Drug Cartel, kedua negara itu terkenal dengan kartel narkoba. Alasan inikah yang menyebabkan sampai diekspor ke sana?” gumam Arci.

“Ini ada apa ya?” tanya Yusuf.

“Berapa laba yang dihasilkan?” tanya Andini.

“Hmm…tak begitu banyak, konstan tiap tahun,” jawab Yusuf.

“Itu dia, laba yang konstan. Biasanya perusahaan berusaha untuk menambah laba, tapi kenapa perusahaan ini seolah-olah mendiamkan begitu saja laba konstan? Apalagi begitu kecil?” tanya Arci. “Kamu tahu siapa yang bertanggung jawab atas ekspor ini?”

“Aku tahu, namanya Jatmiko. Dia bagian ekspor,” jawab Andini.

“Kita segera menemuinya,” kata Arci.

“Rahma, tolong telpon bagian ekspor. Sambungkan dengan Pak Jatmiko!” perintah Andini.

Rahma segera mengangkat gagang teleponnya. Lalu ia menekan beberapa tombol. Cukup lama ia menunggu respon lalu ia menggeleng.

“Aneh, tak ada yang mengangkat,” kata Rahma.

Arci punya firasat buruk. Segera ia pergi meninggalkan Yusuf, Rahma dan Andini. Andini beringsut mengikutinya.

“Ada apa?” tanya Andini.

“Bagian ekspor ada di gedung sebelah bukan?” tanya Arci.

“Iya,” jawab Andini.

Arci dan Andini segera bergegas menuju ke gedung sebelah. Beberapa staf dan karyawan yang melihat mereka tampak keheranan. Dan tak lama kemudian sampailah mereka ke ruangan manajer distributor dan ekspor. Tanpa ba-bi-bu Arci segera masuk ke ruangan. Begitu masuk ia langsung berbalik menahan Andini agar tidak masuk.

“Sebaiknya kita tak usah masuk,” kata Arci.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Andini.

“Aku takut kita hanya akan mendapatkan mayat Jatmiko,” jawab Arci.

Bersambung