Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 13

INHERITANCE​

Rahma dengan kaki tak beralas diturunkan truk pengangkut sayur tak jauh dari vila. Sudah jam 7, pastinya sebentar lagi akan banyak yang datang. Ia pun berpikir harus bersembunyi, sampai Arci atau Andini muncul. Sebab hanya kedua orang itulah yang bisa menolongnya sekarang ini. Rahma kemudian bersembunyi di sebuah pohon pinus yang ada di pinggir jalan menanti mobil-mobil lewat.

Ia berharap mobil Andini akan masuk ke dalam vila. Dan dugaannya tidak salah, mobil-mobil para petinggi direksi mulai berdatangan. Ia berdebar-debar karena semua orang yang ada di perusahaan ini tak bisa dipercaya. Ia hanya percaya kepada rekan kerja dan bosnya saja.

Rahma capek berdiri, ia pun duduk sambil tetap merapat ke pohon, bersembunyi dari orang yang lalu lalang lewat. Pikirannya lelah, ia capek, apalagi matanya mulai mengantuk. Kakinya sakit karena tak memakai alas kaki. Sepatunya ia buang ketika dikejar oleh orang-orang yang menculiknya akibatnya kakinya tertusuk batu dan duri beberapa kali. Ia merasa perih, tapi ia tahan. Rahma bukan wanita yang lemah, ia telah banyak mengalami yang lebih buruk daripada ini. Dan ia tipe wanita pejuang.

Angin semilir di Songgoriti yang sejuk membuat Rahma sedikit tak sadar. Ia terlelap beberapa menit, hingga suara klakson mobil membangunkannya. Rahma kaget, ia mengumpat dalam hatinya ketika menyadari bahwa ia tadi mengantuk dan tertidur beberapa saat.

Ketika ia menoleh ke arah vila didapatinya mobil BMW orang-orang yang menculiknya ada di sana. Rahma segera bersembunyi. Ia mengintip dari balik pohon, hingga saat mobil itu sudah memasuki halaman vila ia pun menghela nafas lega.

Sesaat kemudian Rahma melihat seseorang mengendarai sepeda motor supra-X. Dia sangat kenal dengan orang itu. Dia Arci, segera Rahma muncul dan melambaikan tangannya. Arci yang mengendarai sepeda motor kaget melihat Rahma. Ia segera menghampiri Rahma, kemudian turun dari sepeda motornya.

“Rahma, kemana aja kamu?” tanyanya.

“Tak ada waktu, Bu Dini. Cepat hubungi Bu Dini!” kata Rahma panik.

“Ada apa?”

“Ada orang yang berniat jahat kepadanya. Aku diculik karena mengetahui apa yang mereka rencanakan. Aku baru saja kabur,” kata Rahma sambil terengah-engah.

Arci melihat Rahma dari ujung rambut ke ujung kaki. Melihat Rahma yang kondisinya memprihatinkan itu ia langsung percaya. “OK, sebentar.” Arci mengeluarkan ponselnya. Ia pun menelpon Andini.

“Din, kamu di mana?”

“—”

“OK, jangan ke Vila dulu. Aku ketemu ama Rahma, kita sebaiknya ketemuan di depan alun-alun Batu.”

“—”

“Nanti aku jelaskan. Ini darurat! OK”

Rahma sekarang lebih melihat Arci sebagai dewa penolongnya. Perasaannya sangat lega hari itu.

“Mau naik?” Arci menawarkan diri.

Segera saja Rahma naik ke motornya Arci. “Mau ke mana kita?”

“Ke alun-alun Batu. Kita ketemuan ama Andini di sana,” kata Arci.

Mungkin Rahma agak aneh karena Arci tidak menyebut Andini dengan sebutan Bu Andini. Tetapi langsung namanya. Hal ini membuat Rahma sedikit curiga, jangan-jangan ada sesuatu antara Arci dan Andini. Sepeda motor pun langsung digeber dengan kencang.

“Pegangan!” kata Arci.

Rahma pun akhirnya memeluk pinggang Arci dengan kuat sambil memejamkan mata. Motor Supra-X itu pun melaju seperti orang kesetanan membelah jalan. Rahma tak terasa menempelkan pipinya ke punggung Arci, ia jadi teringat tentang Singgih. Bagaimana kabar cowoknya itu sekarang? Sudah dua tahun tak ada kabar, ia bahkan sudah pesimis bisa bertemu lagi dengan lelaki itu.

Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di alun-alun Kota Batu. Di sana Arci bisa mengenali mobil Andini, segera ia menghampiri mobil itu. Andini segera keluar dari mobilnya begitu melihat Rahma. Rahma pun segera turun dari boncengan Arci. Andini memakai baju blouse abu-abu dengan rok warna hitam. Ia tampak terlihat anggun dengan baju itu.

“Rahma, Kamu tak apa-apa?” tanya Andini.

“I-iya Bu, ada yang gawat. Ada orang yang merencanakan ingin mencelakai ibu.” Rahma mengatur nafasnya sejenak, kemudian ia mulai bercerita dari awal sampai akhir. Sampai nafasnya hampir habis. Andini kemudian memberikan sebotol air minum setelah Rahma bercerita panjang lebar.

Arci tampak menampakkan mimik wajah serius, “Kita bagaimana sekarang?”

Andini berpikir keras. Tak mungkin ia tidak menghadiri rapat tersebut walaupun nanti ia bakalan dibantai habis-habisan oleh direksi. Arci juga berpikir keras. Hingga tiba-tiba dia ada ide.

“Aku yang akan menghadapi mereka hari ini. Kamu dan Rahma sembunyi dulu, lebih baik antar Rahma pulang soalnya sudah beberapa hari nggak pulang tentunya orang tuanya khawatir. Besok kamu baru muncul, sekalian dengan ibumu. Kamu tahu apa yang aku maksudkan,” kata Arci.

“Serius? Mereka pasti akan mencariku,” kata Andini.

“Trust me! Untuk sementara memang seperti itu,” kata Arci.

“Aku tak percaya kalau Yuswan Andi ingin melakukan hal seperti itu,” ujar Andini. “Kamu tak salah orang kan?”

“Tidak, aku sangat kenal sekali dengan mobilnya. Hanya saja aku tak tahu dia di toilet itu bicara dengan siapa,” kata Rahma.

“Baiklah, ayo kita berangkat,” kata Arci.

Rahma semakin curiga dengan cara ngomong dua orang yang ada di depannya. Mereka tampak lebih akrab seperti orang yang sudah kenal lama. Dan adegan berikutnya bikin Rahma nyesek. Arci mengelus pipi Andini! Whaat??

“Hati-hati!” kata Andini.

“Kamu juga!” balas Arci.

Kedua orang ini lalu menoleh ke arah Rahma. Mereka nggak agaknya sesaat lupa kalau ada Rahma di sana. Langsung mereka salah tingkah. Arci menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Rahma hanya nyengir.

“OK, Rahma ikut aku!” kata Andini. Rahma lansung beringsut masuk ke dalam mobil.

Arci kemudian menggeber sepeda motornya kembali ke Vila. Rapat kali ini bakal jadi ajang politik. Arci akan berusaha berpikir dengan kepala dingin. Dia akan mencoba untuk bisa stay cool, sekalipun tahu keadaan yang sebenarnya.

Vila yang dipakai rapat itu cukup besar dan mewah. Ini memang vila yang tiap tahun dijadikan tempat untuk rapat. Dan oleh keluarga Zenedine vila ini disewakan dengan harga yang tinggi. Selain vilanya sangat nyaman dengan berbagai fasilitas, vila ini juga dikelilingi pemandangan yang cukup memanjakan mata. Di dalamnya ada sebuah kolam renang dan juga tempat pemandian.

Ada pula para pekerja yang memang dipekerjakan secara khusus di sini. Sehingga lebih mirip seperti sebuah hotel. Kamarnya pun ada banyak, kalau dilihat dari atas, vila ini seperti membentuk huruf U. Dari kiri ke kanan secara berurutan adalah ruang aula, kemudian ruang makan dan kamar. Di tengah-tengahnya ada sebuah kolam renang. Agak jauh dari kolam renang ada sebuah pemandian yang disekat antara pemandian pria dan wanita. Sebuah taman yang ditumbuhi tanaman hias berjajar mengelilingi vila itu.

Arci melangkah masuk langsung menuju ke sebuah ruangan yang digunakan untuk meeting. Melihat dia sendirian tanpa Andini membuat jajaran direksi bertanya-tanya. Mata Arci mengawasi siapa saja yang ada di sana. Tampak Yuswan Andi ada di sana.

“Saya mohon maaf, Ibu Andini tidak bisa hadir karena beliau harus ke rumah sakit,” kata Arci mengada-ada.

“Hah, ke rumah sakit?”

“Begitulah, beliau menyuruh saya untuk mewakilinya.” Arci kemudian mengambil tempat duduk. Semua pimpinan direksi saling berpandangan.

“Baiklah, kita langsung saja kalau begitu,” kata Weny yang sepertinya tidak sabaran. “Saudara Arci, sudah disiapkan semua materinya.”

“Tentu saja,” kata Arci dengan percaya diri.

Rapat pun hampir saja dimulai, ketika beberapa orang masuk ke dalam ruangan direksi. Arci tak mengenal mereka. Tapi ketika semua orang yang ada di ruangan rapat berdiri Arci pun ikut berdiri. Ada seseorang dengan memakai jas yang rapi, rambutnya putih, matanya hijau. Sedangkan tiga orang yang lainnya, tampaknya hanya mengawal saja. Ada seorang wanita yang membawa map dan dua orang berkacamata berjalan di belakangnya. Orang itu sedikit tersenyum dan ia terkejut ketika melihat Arci. Sepertinya ia kenal dengan Arci.

“Siapa?” tanyanya.

“Saya Arczre, manajer marketing yang baru,” jawab Arci.

“Oh, kenapa hanya empat. Mana Andini?” tanyanya.

“Saya yang mewakili dia.”

“Kamu bisa apa?”

“Saya telah mempelajari apa yang harus saya pelajari untuk bisa rapat hari ini.”

“Baiklah tunjukkan kepadaku! Sebelumnya kalau kamu belum tahu siapa aku. Aku adalah Pieter Zenedine, aku termasuk salah satu orang yang memegang saham perusahaan ini, juga anggota keluarga Zenedine. Sekarang, mari kita mulai saja. Dimulai dengan kamu, laporkan apapun yang ingin kamu laporkan dalam meeting tahunan ini.”

Arci mengangguk. Ia kemudian mengambil tablet dan ponselnya. Semua orang kecuali tiga orang yang bersama Pieter duduk semua. Arci kemudian berdiri, beringsut menuju ke imager dan langsung mencolokkan kabel USB tabletnya ke imager. Ia memilih-milih file lalu dalam sekejap di layar sudah ada presentasi.

“Perusahaan kita sedang sekarat,” kata Arci memecah suasana ketika hening. Di layar sudah ada beberapa bagan yang menjelaskan maksud Arci. Semua orang mengerutkan dahi. “Anda tahu kenapa sekarat?”

“Sekarat? Bukankah kita selama ini terus beruntung?” tanya Pieter.

“Tidak, kalau Anda melihat angka laba yang stabil tiap bulannya itu adalah angka yang mengerikan, saya jamin tiga bulan lagi perusahaan ini bangkrut.”

“Kamu jangan mengada-ada, ini data dari mana? Andini harus bisa memberikan alasan yang jelas!” kata Tomi Rahardjo.

“Data ini bukan dari Andini tapi dari saya sendiri. Selama 2 minggu saya telah mempelajari seluk beluk pemasukan perusahaan ini. Kebanyakan yang terjadi adalah perusahaan-perusahaan cabang yang dipimpin oleh Anda semua melakukan persaingan pasar terhadap teman sendiri. Akibatnya pembeli bingung. Anda bisa lihat. Laba tiap bulannya konstan. Bahkan selama dua tahun. Apakah Anda tahu ketika laba konstan maka ada sesuatu yang terjadi dengan perusahaan ini yaitu sebut saja tidak berkembang.”

Arci kemudian menampilkan slide lainnya. Di situ menampakkan foto-foto tentang barang di gudang.

“Saya mendapatkan fakta bahwa di gudang ada produk-produk yang sebenarnya masih bagus tapi tak laku dijual? Karena apa? Karena tak ada pemasaran yang sesuai. Semuanya menumpuk dan perusahaan hanya terfokus kepada produk yang menjadi trend sedangkan produk-produk lama yang jauh dari trend dibiarkan menumpuk digudang. Padahal kalau dijual sebenarnya masih laku, terlebih karena PT Evolus adalah sebuah perusahaan yang barang-barangnya sudah dikenal oleh banyak masyarakat.”

Semua orang tercengang. Mereka tak pernah mengetahui ada barang yang menumpuk.

“Tapi tak perlu khawatir, karena saya sudah menyelesaikan permasalahan ini. Anda tahu? Sebagian konsumen kita mereka sebenarnya punya ide-ide yang briliant, saya kemudian membuat sebuah kuis di internet yaitu sebuah kuis untuk mereka yang punya ide desain untuk mendesain produk kita. Dan sebagai hadiahnya kita akan berikan banyak voucher dan hadiah langsung dari produk-produk kita yang menumpuk di gudang. Alhasil, peminatnya banyak yang mendaftar lebih dari 500 orang. Strategi pasar yang saya gunakan adalah mengusung komunitas-komunitas lokal untuk bisa memasarkan produk ini. Saya telah membuat sebuah portal yang bisa menghubungkan konsumen dengan kita. Alhasil mereka suka dan situs ini hanya dalam waktu satu bulan telah dikunjungi sebanyak satu juta pengunjung.”

Pieter manggut-manggut.

“Dan kemudian, saya tahu saingan terbesar kita adalah PT Denim. Ya, dengan produk-produk mereka yang terus berinovasi kita akan ketinggalan. Kita akan kalah. Dan kita akan bangkrut karena dari fakta lapangan beberapa pasar kita telah dikuasai mereka. Hanya saja mereka tidak melangkah ke tempat kita melangkah. Saya menyerang mereka dari segi yang mereka tidak sangka, yaitu komunitas online. Kaskus, Lazada, Tokopedia, semuanya akan membicarakan produk kita. Dan dengan begini saya akan pastikan tiga bulan lagi laba kita akan naik. Otomatis kita tak perlu memusingkan diri untuk bersaing dengan PT Denim.”

“Tapi, bukankah PT Denim lebih baik dalam masalah inovasi? Setidaknya kenapa kita tidak mencoba untuk bisa bekerja sama dengan mereka?” sela Yuswan Andi.

Arci kemudian menampilkan sebuah gambar. “Anda lihat, ini ada sebuah baju. Bajunya sangat menarik. Dengan setelan lengan panjang berwarna biru dengan motif batik di bawah, sebuah desain yang keren kalau dibuat bekerja. Apalagi warnanya khas seperti jins. Menarik bukan? Coba tebak ini produknya siapa?”

Semuanya tampak terkesima dengan model baju kemeja yang ditunjukkan oleh Arci.

“Kita tak pernah membuat baju bermotif batik untuk baju kemeja seperti itu!” kata Argha.

“Ya, kita tak pernah membuat baju bermotif batik seperti itu,” sambung Weny.

“Pak Pieter?” tanya Arci.

“Itu baju kita, produk kita,” jawab Pieter.

“Pak Pieter benar, ini produk kita,” jawab Arci.

Semua orang tercengang.

“Bagaimana mungkin??” tanya Yuswan Andi.

“Ini produk pertama yang dibuat oleh Archer Zenedine. Di jaman itu di saat beliau masih menggunakan mesin jahit manual, beliau merancang baju ini. Anda mungkin lupa, tapi ini adalah produk pertama beliau. Dan lihat gambar berikutnya!” Arci menggeser slide. Dan tampak sebuah baju yang bentuknya sama. “Ini produk PT Denim yang baru saja keluar. Anda bisa lihat logo di kerah bajunya.”

BRAK!

Pieter menggebrak meja. “Bagaimana mereka bisa mendapatkan itu??”

“Saya tak tahu, tapi yang jelas sebagian besar inovasi yang dilakukan oleh PT Denim berasal dari kita. Rancangan-rancangan model lama kita diambil oleh mereka dan diklaim sebagai produk mereka. Saya kira ada orang dalam yang ingin membuat perusahaan ini bangkrut,” jelas Arci. “Dan bukan hanya produk ini saja. Ada banyak. Saya akan tampilkan di layar semuanya.”

Arci kemudian menggeser slide, menampilkan perbandingan kedua produk antara PT Evolus dan PT Denim.

“Oh My God. What the FUCK is THIS SHIT?!” Pieter tampaknya gusar. “Kalian, jelaskan kepadaku, apa-apaan ini?!”

“Pak Pieter, kami baru saja tahu,” jelas Yuswan.

“Arczre, jelaskan kepadaku data ini sangat valid?” tanya Pieter.

“Sangat valid, saya bisa antar kepada Anda di mana baju-baju ini dipajang,” jawab Arci.

“Baiklah, apakah engkau punya solusi dari ini semua?” tanya Pieter.

“Sejujurnya, saya punya tapi….,”

“Tapi apa?”

“Alangkah lebih baiknya saya meminta masukan juga kepada semua orang yang ada di sini, kalau misalnya ide saya tidak diterima silakan berikan saya masukan, kalau misalnya diterima maka saya ingin kita semua komitmen untuk bisa melaksanakannya,” kata Arci.

Sekilas wajah Pieter tampak menampakkan rasa penasaran. Tentu saja ia penasaran. Ia adalah sepupu dari Archer Zenedine. Melihat Arci ia jadi teringat saudara sepupunya itu. Semuanya mirip, baik itu wajah, suara dan perawakannya. Ia jadi penasaran siapa sebenarnya Arci.

“Baiklah, berikan kami idemu!” kata Pieter.

Arci menarik nafas dalam-dalam. Memberikan ruang sejenak di dalam paru-parunya untuk bisa mengeluarkans semua kata-katanya.

“Ide saya, kita biarkan masyarakat, kita biarkan customer yang memberikan kita ide. Dari customer, untuk customer. Kita akan berikan apresiasi yang pantas bagi desain mereka yang bisa kita pakai, bisa kita jual. Bahkan ke depannya kita akan mencoba berikan sebuah terobosan, ‘You can desain your suit'”

“Maksudnya?”

“Kita akan membuat customer yang secara langsung memesan produk sesuai dengan ide mereka. Mereka lebih senang mendesain sebuah kemeja untuk lelaki, maka kita akan berikan kepada mereka untuk mendesain model mereka sendiri.”

“Itu ide gila!”

“Gila, tapi itu akan membuat kita di mata customer lebih naik. Saya bertaruh ide tidak masuk akal ini tidak akan dipakai oleh PT Denim. Dan sebaiknya kalau misalnya ada di antara kita yang berniat untuk bergabung dengan mereka, buang saja jauh-jauh hal itu.”

Semua yang ada di ruangan itu tercengang. Harusnya hari itu akan menjadi pembantaian bagi Andini, tapi Arci membuat semuanya berbalik. Dia menguasai forum.

“Ide itu pernah diusulkan oleh Archer dulu, tapi sebelum terlaksana ia telah pergi terlebih dulu,” kata Pieter.

Arci sedikit terkejut. Well, mungkin karena memang sifat bapak niru kepada anaknya. Ia punya pikiran yang sama dengan mendiang sang ayah. Itu suatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Arci hanya bisa menyunggingkan senyumnya.

***

Setelah seharian mengikuti meeting, akhirnya rapat hari itu sukses. Besok akan ada pembacaan wasiat dari Archer Zenedine. Seluruh pimpinan direksi dan hampir semua keluarga Zenedine akan datang. Sebagian sudah tahu isi wasiat itu, sebagian tidak tahu. Beberapa keluarga Zenedine tahu tapi hanya sebagian kecil, mereka hanya penasaran siapa anak dari Archer yang akan menjadi pewaris tahta.

Arci tidak menginap di villa itu, sedangkan yang lainnya menginap di sana. Ia lebih memilih menuju hotel tempat Andini menginap. Rahma telah dipulangkan ke rumahnya, tentu saja kedua orang tuanya sangat khawatir. Akhirnya mereka bisa bernafas lega setelah mengetahui Rahma selamat. Arci segera menemui Andini setelah sampai di hotel itu. Ia pun mengetuk pintu kamar Andini.

Andini pun membuka pintu. Arci kemudian masuk.

“Bagaimana rapat tadi?” tanya Andini.

“Tenang saja, aku sudah menghandlenya. Aku mengatakan kalau kamu masuk rumah sakit,” jawab Arci.

“Fiyuuh…trus?”

“Besok. Kita lihat saja apa yang terjadi besok.”

Arci menghadap ke Andini. Arci lebih tinggi dari Andini, tapi perbedaan usia mereka tentu saja berbeda. Bagi Arci ia sangat takjub dengan Andini. Bagaimana ketika ia bertemu dengannya dulu, dalam keadaan yang sangat berbeda dengan hari ini.

Arci memegang pipi Andini, tangan itu terasa lembut di pipi Andini. Ia merasakan kesejukan ketika tangan lembut pemuda itu membelai pipinya. Andini memejamkan mata. Agaknya ia pasrah terhadap apa yang akan dilakukan pemuda itu. Di kamar hotel, berduaan. Arci bisa saja melakukan yang lebih jauh dari sekedar menciumnya. Tapi hari itu ia hanya mendaratkan sebuah ciuman ke bibir Andini dan memeluknya.

Dalam pelukannya Andini berkata, “Aku sangat merindukanmu. Kamu tahu itu?”

“Kamu beda sekali.”

“So, Mr. Zenedine. I’m yours.”

“No no no, not like this. Aku sudah berjanji akan menikahimu. Kamu bisa tunggu?”

Arci memegang bahu Andini. Wanita ini hanya tersenyum, senyum kebanggaan memiliki kekasih seperti Arci.

“Tapi bagaimana kita tidurnya? Just single bed,” gumam Andini yang masih dipeluk.

“Hmm… it’s OK. Aku bisa tidur sambil memelukmu.”

“Yakin kuat?”

“Apanya?”

“Yakin nggak tergoda?”

“Coba aja.”

Andini melepaskan pelukannya. Ia kemudian melepaskan kemejanya, lalu roknya hingga ia hanya memakai g-string dan bra. Arci menelan ludah dengan sangat susah. Andini memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar Arci mendekat.

“Wah, dia goda aku nih,” katanya dalam hati.

Tubuh Andini sangat mulus, kuning langsat, tanpa cacat. Tak ada bekas luka apapun, bulu-bulu halus tumbuh di sekitar lengannya, tampak urat-uratnya di payudaranya kelihatan pertanda dua buah bukit kembar itu tak pernah disuntik silikon. Buah dada berukuran 34 D ini seakan tak muat dibungkus oleh bra berwarna krem itu. Arci pun membuka kemejanya, sama seperti Andini, ia kini hanya memakai boxer. Sebagai laki-laki normal tentu saja senjatanya sudah mengeras.

“Hahahaha, sudah keras aja tuh,” kata Andini.

“Yah, kalau nggak gini ya nggak normal. Hehehhe,” kata Arci.

“Baiklah, aku mau tahu seberapa kuat kamu menahan diri. Hihihi.”

Arci tanpa basa-basi langsung menerjang Andini. “Aw!”

Mereka pun saling bercumbu, seperti melepas kerinduan yang selama ini mereka pendam. Arci meremas buah dada atasannya itu tanpa ada rasa sungkan. Rasa cintanya makin besar, ia ingin melampiaskan semuanya malam itu. Tapi Arci tetap akan memegang janjinya, sebelum menikah ia tak akan menyentuh Andini lebih jauh.

“Boleh aku lihat dalamnya?” tanya Arci saat menyentuh buah dada Andini.

Wajah Andini bersemu merah. Ia baru pertama kali disentuh lelaki seperti itu. “Te..tetapi kamu janji kan nggak masukin?”

Arci mengangguk. “Aku janji”

Andini menaikkan punggungnya sehingga tangan Arci bisa menggapai kaitan bra di punggungnya. Dalam sekejap dua buah bukit kembar dengan puting yang sudah mengeras terpampang di hadapannya. Arci menatapnya tanpa berkedip. Tentu saja ia sesaat membandingkan dengan punya Safira. Jelas, punya Safira tak ada apa-apanya dibandingkan ini. Yang ini lebih besar, lebih kencang, dan putingnya mengeras.

“Jangan tatap gitu ah, malu!” kata Andini mengalihkan wajahnya.

“Kamu punya buah dada yang sangat mempesona,” kata Arci.

“Cici, jahat!”

“Boleh aku hisap?”

Andini mengangguk.

Arci pun mulai bekerja. Bibirnya mulai mengecup puting susu Andini. Andini menggelinjang. “Aaahh…Ciii…!”

Arci menikmati setiap kelembutan yang hinggap di bibirnya. Andini pun merasakan sentuhan seorang lelaki yang kini mulai menikmati payudaranya. Ia memeluk Arci, meremas setiap sudut kepala pemuda ini hingga Arci tak bisa bernafas karena terbenam dalam dua buah bola yang empuk. Arci menghisap bergantian kedua puting tubuh wanita yang sempurna ini.

“Cii…geli…”

Puas dengan payudara Andini, Arci mulai menciumi semua tubuh wanita ini. Dari kening, kedua kelopak matanya, pipi, leher, lalu dada, ketiaknya–yang ini membuat Andini menggelinjang hebat, Arci sampai menjilati ketiak Andini yang bersih serta wangi ini–lalu pinggulnya, pahanya, betisnya hingga kemudian Arci mengemut jempol kaki Andini yang membuat wanita ini tubuhnya melengkung.

“Ciii…memekku gatel, masukin yuukk….plissss..!” Andini merengek. Arci melihat g-string milik Andini basah. Ia menyentuh daerah selakangan Andini, seketika itu gadis itu menggeliat dan menjerit. “Aawwww! Jangan disentuh Cii…!”

“Kenapa?”

“Aku keluarrrr…!”

“Lho, aku belum ngapa-ngapain lho.” Arci pun dicubit pinggangnya. “Aduh!”

“Jahat! Cici jahat! Aku keluar banyak gini!”

“Lihat, siapa yang nggak kuat??”

“Ahhh….Cici jahaaat!”

Arci lalu berbaring memeluk Andini erat-erat sementara Andini bergeser berada di atas tubuh lelaki itu. Ia pun menggesek-gesekkan kemaluannya di tonjolan boxer Arci.

“Duuhh…Ciii, enak bangeetttss!”

“Aww…..aduh…iya Ni, enaaakk!”

Andini pun menggesek-gesekkan kemaluannya. Klitorisnya benar-benar seperti dikoyak oleh tonjolan kemaluan Arci. Tiba-tiba di saat bergoyang Andini pun menghentikan aktivitasnya. Ia berdiri lalu melepaskan G-Stringnya. Dan terlihat jelas sebuah tempat privat wanita yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Arci kaget melihat Andini telanjang tanpa sehelai benang pun. Dan lebih kaget lagi ketika Andini berusaha melepas boxer yang ia pakai.

“Lho, lho, Dini…kamu mau apa?”

“Udah deh, nikmatin aja!”

Tanpa disangka keduanya sekarang telanjang bulat. Rudal Arci mengacung ke atas dan Andini merangkak di atas tubuhnya. Dia pun kemudian menduduki batang monumen nasional itu. Arci menggelinjang geli ketika cairan Andini yang membasahi memeknya kini juga membelai batang penisnya. Andini mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur. Ini seperti batang Arci dikocok oleh jepitan memek Andini. Sensasinya cukup membuat ia terangsang dan benar-benar membakar birahi. Arci pun meremas kedua toket Andini.

“Dini…ohhhhhh…. kita kayak orang ngentot!” rancau Arci.

“Kita simpan pertemuannya nanti malam pertama yach yang? Sekarang, kita cukup begini aja,” kata Andini.

“Aaahh…Diinnniii…!”

“Achh…Cii..enaaak…uuufffffhhh!”

Andini terus menggesek-gesekkan bibir kemaluannya dengan batang kemaluan Arci. Rasanya juga sudah cukup enak. Kemaluan Andini juga sudah gatel ingin segera mengeluarkan orgasmenya lagi. Sedangkan Arci pun juga merasakan sesuatu yang akan meledak.

“Diinn..aku kayaknya mau keluar,” kata Arci.

“Keluarin yang, aku juga nih,” kata Andini.

“Aaahhh….toketmu gedhe gilak!”

“Kamu suka?”

“Suka banget!”

“Oohhhh…Cinta….aku keluuuuaaaaaaaaaaarrrrrr!”

“Akhhhh!”

Jeritan keduanya mengakhiri pergumulan keduanya, semburan sperma hangat menyembur ke perut Arci dan Andini. Keduanya lantas langsung berpelukan erat. Andini memeluk Arci dengan erat, menindihnya, meluapkan semua perasaannya kepada orgasme keduanya. Walaupun tidak memasukkan kemaluannya ke liang senggama Andini, Arci sudah merasa cukup puas. Ia tak memaksa Andini, apalagi ia ingin hubungan ini terjalin dengan baik.

Keduanya berpelukan dalam sebuah selimut tebal. Andini merasa tentram dalam dekapan kekasihnya. Sang kekasih yang tetap memegang janjinya.

***

Besoknya, saat yang ditunggu. Arci dan Andini hadir. Dalam sekejap vila tersebut dipenuhi mobil-mobil mewah, hampir semua keluarga Zenedine dan orang-orang yang dekat dengan Archer Zenedine hadir di sana. Dan tentu saja Bu Susiati sebagai seorang pengacara yang sangat disegani ada di sana.

Arci melihat dengan seksama seluruh keluarga Zenedine. Sebentar lagi semua orang akan tahu siapa dirinya. Ia tak tahu apa nanti yang akan terjadi. Tiba-tiba ia teringat dengan Letnan Yanuar. Tentang kelakuan keluarga Zenedine yang sebenarnya mereka semua adalah mafia. Arci tak tahu apa yang harus dilakukan, apakah ia akan menerima tawaran itu ataukah tidak. Mengumpulkan bukti-bukti untuk menghukum anggota keluarganya sendiri?

Bu Susiati mulai mengeluarkan sebuah CD. Ia kemudian memasukkannya ke sebuah player. Sebuah imager yang terpampang di tengah ruangan pun mulai menampilkan Video Player. Bu Susiati kemudian memutar video itu. Setelah itu muncul wajah Archer Zenedine. Arci mengetahuinya.

“Ini adalah wasiatku. Aku Archer Zenedine. Aku tahu kalian pasti akan bertanya-tanya kenapa harus hari ini, tanggal 31 Mei beberapa tahun setelah aku wafat. Jawabannya hanya satu. Karena hari ini adalah hari ulang tahun putraku. Putra semata wayangku. Dialah satu-satunya yang berhak atas semua kekayaanku, dan satu-satunya orang yang akan mengarahkan kemana perusahaan yang diwariskan oleh Arthur Zenedine kepadaku.

“Namanya adalah Arczre Vian Zainal. Dia adalah anak biologisku dengan seorang wanita yang sangat aku cintai, Lian. Semuanya telah sah aku tanda tangani dan mulai hari ini Arczre mewarisi semuanya. Dia berhak menjadi anggota keluarga Zenedine, dia berhak atas semuanya. Dan kepada anggota keluarga yang lain, semuanya telah aku bagikan yang mana akan diurus oleh pengacaraku. Sekian. Dan untuk Arci, aku pesan kepadamu follow your heart”

Berakhirlah rekaman video itu.

“Ini semua yang menjadi wasiat dari Archer Zenedine, dan ini sudah menjadi ketetapan hukum tidak bisa diganggu gugat,” kata Bu Susiati.

“Ini gila, ini tidak mungkin. Siapa anak pamanku itu? Toh kita tak tahu dia masih hidup atau tidak,” protes seorang pemuda. Ia sepertinya lebih muda sedikit dari Arci.

“Aku tak setuju, wasiat sampah. Akulah yang seharusnya menjadi pewaris resmi,” ujar seorang lagi.

Lalu seluruh ruangan menjadi ricuh. Tapi Pieter yang saat itu juga ada di tempat itu mengangkat tangannya. Semua orang langsung terdiam. Ternyata Pieter punya pengaruh yang luar biasa di keluarga ini.

“Arczre Vian Zainal anak Archer Zenedine ada di sini, bukan begitu?” tanya Pieter sambil menoleh ke arah Arci. Tatapan Pieter itu seolah-olah dia sudah mengetahui semuanya.

“Ya, dia ada di sini,” kata Bu Susiati.

“Mana?!” teriak salah satu anggota keluarga Zenedine.

“Saya orangnya,” Arci melangkah maju.

Semua mata tertuju kepadanya.

Tiba-tiba dari kerumunan keluarga Zendine seorang wanita bergerak maju dan mengacungkan sepucuk pistol ke dahi Arci. Wanita itu tampak masih muda, cukup cantik, tatapan matanya tajam dan bulu matanya tebal. Pistol model glock itu sudah hampir ditarik pelatuknya dan Arci tentu saja kaget. Jantungnya hampir copot.

“Ghea!” bentak Pieter. “Kamu mau apa?”

“Aku akan menghabisi orang yang mengaku sebagai anak paman Archer ini, dia tak pantas menyandang nama keluarga Zenedine. Kalau dia dihabisi bukankah kekayaannya bisa dibagi ke kita?!” kata gadis yang sepertinya masih berusia 21 atau 22 tahun.

“BODOH!” bentak Pieter. “Kalau kamu membunuhnya maka tidak satupun dari kita akan mendapatkan warisan itu, bahkan semuanya akan disumbangkan ke yayasan sosial.”

“Jadi aku harus menerima dia sebagai anggota keluarga kita?”

“Tentu saja, lagi pula dia tak sebodoh yang kamu kira,” kata Pieter sambil terus bersuara lantang.

Semua orang membisu. Wanita yang dipanggil Ghea itu pun menurunkan pistolnya. Arci menarik nafas lega.

“Aku tak suka kepadamu, sepupu!” Ghea mendorong Arci. Arci mundur satu langkah. Setelah itu dia pergi meninggalkan Arci.

Hari itu tentu saja semua berubah. Semua orang mau tidak mau harus menerima Arci. Keadaan yang tidak menguntungkan bagi keluarga Zenedine. Tapi mereka harus menerima. Sebagian yang lain mulai merancang sesuatu, Arci tahu di antara mereka tidak akan ada yang bisa diajak bersahabat. Mereka hanya ingin hartanya.

“Arci, apa yang akan kamu lakukan sebagai pemimpin perusahaan ini?” tanya Pieter.

Arci menghirup nafas dalam-dalam.

“Jangan takut, keputusanmu adalah keputusan kami juga. Tapi, kalau kamu ingin menghancurkan apa yang dirintis oleh kakekmu, aku tidak akan tinggal diam,” kata Pieter.

“Baiklah, kalian sudah mengetahui apa rencanaku ke depan dari rapat kemarin bukan?”

Semuanya mengangguk.

“Hal pertama yang ingin aku lakukan adalah memecat Yuswan Andi dari jajaran direksi.”

Sontak hal itu membuat semuanya terkejut. Ruangan itu jadi ricuh.

“Hei, anak muda!? Apa yang kamu lakukan? Salahku apa?” Yuswan Andi protes.

“Kamulah orang yang telah membocorkan rancangan kita kepada PT Denim, kamu berusaha untuk bisa mempersatukan perusahaan ini dengan PT Denim dan rencanamu itu telah di dengar salah satu rekan kerjaku Rahma. Kamu juga berniat buruk kepada Andini, tapi sayangnya aku telah mengambil alih rapat kemarin,” ujar Arci.

“Betulkah katamu itu?” tanya Pieter.

“Aku bisa mendatangkan Rahma menjadi saksi,” jawab Arci.

“Jadi, dia yang membocorkan desain itu?” tanya Pieter.

“Aku bisa jelaskan semua,” Yuswan Andi berusaha membela diri.

Pieter memberi isyarat. Tiba-tiba seorang berkaca mata hitam muncul dari belakang Yuswan Andi dan menodongkan pistolnya lalu….

DOR!

Sebuah peluru menembus kepalanya. Yuswan Andi belum sempat bicara. Ia sudah tewas di tempat. Andini kaget dan langsung memeluk ibunya. Semua orang tak tega melihat itu. Pembunuhan tepat di depan mata mereka. Arci benar-benar menyaksikannya secara langsung. Darah segar menggenangi lantai tepat di mana Yuswan terbujur kaku.

Pieter menghampiri tubuh Yuswan Andi, ia lalu berkata, “Aku tak suka pengkhianat. Aku sudah bilang aku tak suka pengkhianat. Kalian lihat? Aku sudah tegaskan kepada kalian. Kalau sampai ada yang berkhianat aku tak akan memaafkan orang itu. Dan kamu Arci, termasuk kamu. Kami rela kehilangan semua warisan dari Archer, kalau kamu berkianat kepada kami. Kamu mengerti?”

Arci menelan ludah. Pandangannya terpaku kepada Pieter. Pieter hanya tersenyum, ia lalu menepuk pundak keponakannya.

“Santai saja, selamat datang keponakanku. Kamu perlu berkenalan dengan kami semuanya nanti,” kata Pieter. “Maaf, sambutanku yang tidak pantas ini.”

Setelah itu Pieter dan keluarga Zenedine keluar semuanya dari ruangan. Arci masih begidik melihat Ghea yang tadi menodongkan pistolnya ke kepalanya. Ia masih terasa dinginya besi yang menempel di dahinya tadi. Ghea, hanya tersenyum simpul kepadanya.

“Bu Susiati, ini kejahatan bukan?” tanya Arci sambil berbisik. “Kenapa Anda diam saja?”

“Arci, ada kalanya uang dan pengaruh lebih berkuasa dari hukum. Kamu akan sering melihat seperti ini di keluarga ini. Aku hanya bisa menolongmu untuk mendapatkan kekuasaan di keluarga Zenedine. Selebihnya engkau harus berusaha sendiri,” bisik Bu Susiati.

“Lalu??”

“Berusaha jangan mati,” kata Bu Susiati.

Kepala Arci pusing. Ia baru kali ini melihat seseorang dieksekusi tepat di depan matanya. Agaknya ia harus melaporkan ini kepada Letnan Yanuar. Tapi ancaman dari Pieter tadi bukan main-main. Ia sekarang sedang berada di sebuah platform yang sangat berat untuk diduduki, seseorang yang dijuluki Inheritance. Keturunan. Dan dia menyesal mendapatkan semuanya sekarang.

Ooo bersambung ooO