Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30

Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Aku Mencintaimu Part 10

RAHASIA​

Setelah acara pesta makan-makan malam itu Arci segera pulang karena ibunya ingin bercerita tentang sesuatu. Tentang siapa jati diri ayahnya. Sebenarnya menurut Arci sendiri hal ini tentunya membuat dirinya lebih senang tapi ada sesuatu yang entah kenapa dia lebih takut dari pada sebelumnya. Ibaratnya ia lebih takut mengetahui siapa dirinya sekarang. Baginya tabir misteri itu lebih baik tetap tidak dibuka daripada ia mengetahui malah mengubah semuanya. Ia takut.

Setelah melihat Andini pergi Arci pun ikut pergi. Dia lumayan ngebut di atas aspal. Sama seperti sebelum-sebelumnya ia ngebut tapi masih dalam batas wajar, dalam arti tetap mematuhi rambu lalu lintas. Tak berapa lama kemudian ia sudah sampai di rumah.

Sesampainya di rumah ia sudah melihat ibunya duduk di ruang tamu sambil menyalakan rokok. Di meja tampak sebuah buku album tergeletak di sana.

“Butuh waktu untuk ibu menyimpan ini semua,” kata Lian sambil menunjuk ke album yang ada di hadapannya.

Arci yang tahu apa maksudnya langsung mengambil album itu dan membuka-buka isinya. Ada wajah seseorang di sana. Wajah seorang lelaki yang sangat asing. Tapi dari sekilas ada kemiripan antara wajah itu dengan dirinya. Terutama bagian mata dan rambutnya.

“Ini..??” gumam Arci.

“Dulu setelah dua tahun Safira lahir, ibu sempat bertobat. Tak mau lagi menekuni dunia seperti ini. Dan ibu kenal dengan seorang yang dia cukup tampan, berwibawa, pokoknya tak ada yang bisa menyamai dirinya. Dia adalah klien terakhir ibu waktu itu. Tipnya juga besar. Entah kenapa waktu itu ibu curhat kepadanya soal rumah tangga. Prinsip ibu adalah, tak mau curhat kepada pelanggan. Karena hal itu bisa menimbulkan ikatan batin yang tidak seharusnya. Alhasil, terjadilah.

“Namanya Archer Zenedine. Seorang berkebangsaan Ceko yang sudah lama menetap di negeri ini. Kamu tak bakal menyangka seperti apa kekayaannya. Selama menjalin hubungan dengan dirinya ibu pernah ke luar negeri beberapa kali. Bahkan ia melamar ibumu ketika mengajak ibu ke Moskow. Hanya saja sayang sekali keluarganya tidak setuju.

Ibu diintimidasi, dia juga. Bahkan keluarganya mengurung dia agar tidak keluar rumah, sampai kemudian kabarnya ia dipaksa untuk menikah dengan wanita pilihan keluarga mereka. Tapi ibu sudah hamil dan melahirkan kamu. Ibu tak tahu lagi kabarnya. Intimidasi keluarganyalah yang menyebabkan kita seperti ini.

Tinggal berpindah-pindah, kehidupan yang tak menentu bahkan memaksa ibu untuk menekuni profesi lama ibu lagi. Mereka jugalah yang memaksa kakakmu untuk melacur, dan ya ibu dendam kepada mereka. Kasihan ayahmu, ia sangat mencintai ibu tapi tak bisa berbuat banyak.

“Dia selalu mengirimkan surat kepada ibu di saat-saat terakhirnya. Setelah ayahnya meninggal dia yang mewarisi perusahaannya. Semuanya. Namun nasib juga sepertinya tak membuat ia beruntung. Ayahmu pun mengidap penyakit jantung. Sehingga tak lama kemudian ia juga menyusul ayahnya. Tapi dia telah mengembangkan perusahaan miliknya hingga sangat besar. Dia juga berhasil mengontak ibu lagi. Hanya sayang sekali itu sudah terlambat. Ia telah menulis sebuah surat wasiat yang akan dibaca pada tanggal 31 Mei. Di dalamnya ada namamu. Ibu sengaja merahasiakannya darimu, ini semua karena ibu tak mau kamu berbuat nekat dengan menemui keluarga mereka. Ibu tahu watakmu yang bertindak berdasarkan hatimu. Ibu tak ingin kamu kenapa-napa, maka dari itulah ibu simpan sampai ibu rasa kamu sudah siap mendengarnya.”

Arci terus membolak-balikkan album kenangan yang berisi foto ibunya dan ayahnya. Dan ketika sampai di halaman terakhir ada sebuah amplop.

“Bukalah! Itu seharusnya kamu baca ketika usia tujuh belas tahun. Tapi ibu tak memberikannya kepadamu. Karena ibu takut kamu belum siap. Tapi sekarang, kamu harus membacanya. Itu pesan terakhir ayahmu!” kata Lian. Arci menatap ke ibunya sejenak. Lalu ia pun membuka amplop tersebut. Ada beberapa lembar surat. Arci mulai membacanya.

Anakku Arczre,

Aku tak tahu sampai kapan aku akan berjuang melawan penyakitku ini, tapi sebelum terlambat aku ingin menyapamu dulu. Apa kabarmu? Kamu sekarang pasti sudah remaja. Kamu sudah mulai mengenal cinta. Papa tahu, karena papa dulu pernah muda.

Maafkan papa. Papa sangat ingin sekali bisa menggendong dirimu waktu kamu masih bayi dulu. Papa sangat ingin sekali memeluk dan menciummu, tapi sampai sekarang papa tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan papamu. Tapi dalam setiap mimpi, dalam setiap tarikan nafas, engkau adalah putraku satu-satunya. Satu nama yang selalu membuatku bersemangat untuk tetap hidup. Andai posisi kita tidak seperti ini tentu aku akan lebih menyayangimu lagi nak, sayang kita tidak bisa saling melihat, tidak bisa saling menyapa.

Anakku.

Maafkanlah ibumu. Dia selama ini pasti sangat lelah menjagamu. Mungkin ada kata-kata kasar yang keluar dari mulutnya, tapi itu semua karena ia sangat menyayangimu. Tolong jangan marah kepada ibumu. Marahlah kepada papamu yang tidak bisa berbuat banyak, bahkan ketika semua kekayaan ini ada di tangan tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.

Anakku.

Aku sebenarnya ingin marah. Tapi tak tahu harus marah kepada siapa? Aku marah karena aku tak berdaya. Tak bisa berbuat apa-apa. Padahal aku sangat ingin bisa melihatmu. Dalam beberapa tahun ini papa berusaha mencarimu hingga akhirnya bisa menghubungi ibumu lagi. Sungguh itu suatu hal yang sangat menyenangkan.

Tapi sayang, kondisi papamu mulai drop. Bahkan sekarang makanan yang dulunya enak, terasa hambar di mulut. Hanya makanan halus yang boleh masuk ke dalam perut. Setiap hari papa hanya memandang dari tempat tidur, berbaring, sambil terkadang menulis beberapa paragraf untuk dikirim kepada ibumu. Baru kali ini papamu berani menuliskan wasiat ini kepadamu. Sebut saja wasiat, sebut saja salam perpisahan, karena hidup papa nggak lama lagi.

Anakku,

Aku sungguh sangat menyayangimu, aku juga sungguh merindukanmu. Aku ingin berpesan kepadamu jadilah anak yang baik. Jagalah ibu dan kakakmu. Dan kalau engkau sudah berusia dua puluh lima tahun. Papa ada kejutan buatmu. Kuharap engkau sudah siap waktu itu. Kuharap engkau sudah siap menerima kejutan dari papa. Tapi untuk itu kamu harus sekolah yang tinggi. Ambil semua ilmu yang ada. Perbaiki masa depanmu.

Engkau adalah pewaris PT Evolus Produtama. Semuanya adalah milikmu dan satu-satunya manusia di planet ini yang berhak mendapatkannya. Sementara ini sebelum usiamu sampai 25 tahun papa menyerahkan perusahaan ini kepada orang yang paling papa percaya. Datanglah ke PT Evolus Produtama saat pembacaan wasiat, tapi kalau engkau berhalangan tak masalah. Pengacaraku sudah mempersiapkan semuanya.

Pesan papa. Berhati-hatilah. Papa sengaja merahasiakanmu dari semua orang. Hanya beberapa orang saja yang tahu mengenai dirimu. Bahkan namamu pun memang sengaja papa berikan bukan nama Zenedine, agar tidak ada orang yang tahu bahwa kamu adalah anakku. Ada orang yang sangat ingin kamu tiada. Papa dan ibumu berusaha melindungimu selama ini. Jadilah anak yang kuat.

Ini adalah kenang-kenangan dari papamu. Tak seberapa, tapi kalian memang berhak untuk mendapatkannya. Ini sebagai balasan karena papa tak bisa menjagamu selama ini. Kamu mau kan maafin papa?

Anakku…. Selamat Tinggal, jaga ibu dan kakakmu.

ttd

Archer Zenedine

Mata Arci basah. Ia meletakkan surat itu. Di belakang surat itu ada sebuah foto. Foto seorang lelaki yang banyak sekali alat-alat di tubuhnya. Wajahnya kurus kering. Itu adalah wajah Archer Zenedine di saat-saat terakhirnya. Arci menoleh ke arah ibunya. Ibunya sudah tak bisa membendung kesedihannya. Arci tahu sekarang kenapa ibunya tak memberi tahu siapa ayahnya sampai sekarang. Ia hanya tak percaya, dia adalah pewaris perusahaan tempat ia bekerja sekarang ini.

Safira muncul dari kamarnya. Ia ternyata sejak dari tadi sudah melihat semuanya. Ia lalu memeluk adiknya. Mungkin kisah ini seperti kisah si Bebek Buruk Rupa. Memang dilihat oleh semua orang ia seperti orang tak berguna, tapi ternyata ia lebih dari dugaan semua orang. Arci, pewaris sebuah kerajaan. Dan satu-satunya orang yang berhak atas PT Evolus.

***

Arci terbangun. Hari sudah pagi. Ia agak kaget mendapati Safira sudah ada di sampingnya. Ia baru ingat kalau tadi malam Safira memeluknya sampai ia tertidur. Arci menyunggingkan senyum. Agaknya ia akan terbiasa melihat Safira selalu ada di kamarnya tiap hari. Dia tadi malam mengisi batteray ponselnya, karena habis. Ia kini menghidupkan ponselnya. Langsung ada satu pesan masuk.

FROM: SMS Rahma Savithri said:
Ci, SMS aku yes. Puenting, guawat. Cepet!

Arci mengerutkan dahi. “Apaan nih?” Ia segera menghubungi Rahma. Seketika itu langsung ada suara perempuan “Nomor yang Anda hubungi tidak aktif atau berada di luar service area”

“Aneh…?” gumam Arci.

Arci merasa tak ada yang aneh pagi itu. Mungkin Rahma ada suatu masalah kerjaan di kantor. Nanti di kantor juga bakalan tahu, pikirnya.

“Hmm…? Sudah bangun?” tanya Safira.

“Sudah, mandi sono gih!” Arci melemparkan bantal ke arah Safira.

“Aduh!”

Arci melepas bajunya dan mengambil handuk.

“Mandi bareng doong!?” Safira menggelayut manja.

“Duh, kakakku ini koq manja banget,” Arci pun masuk ke kamar mandi.

Safira langsung melepas bajunya satu per satu, lalu beringsut membuka pintu kamar mandi. “Ikuuutt…!” Melihat Safira tanpa benang sehelai pun langsung membuat Arci “bangun”.

“Dasar, ya udah,” kata Arci.

Walaupun ada acara mandi. Tapi toh akhirnya diselingi juga dengan belaian dan cumbuan. Hingga akhirnya kedua tubuh polos tanpa busana itu pun sudah bersatu. Arci memeluk Safira sambil menyodok-nyodokkan kemaluannya ke dalam liang senggama kakaknya yang sempit.

Mereka berdua sudah terbakar nafsu, shower yang mengguyur mereka pun rasanya sudah tak diperhatikan lagi yang ada hanya memburu kenikmatan di pagi hari. Kedua insan yang saling mencintai ini akhirnya mengakhiri perguluman dahsyatnya di kamar mandi dengan semburan berkali-kali dari kemaluan mereka. Arci dan Safira saling tertawa menyaksikan diri mereka sendiri.

“Kamu tak takut kalau hamil kak? Aku sering nyemprot di dalem,” kata Arci.

“Kalo papanya seganteng kamu sih nggak masalah,” kata Safira sambil ketawa sementara tangannya melingkar di leher Arci.

“Heh, serius ini.”

“Lha kamu sendiri kenapa koq disemprotin di dalem?”

“Hmm…itu..yaa….kalau disemprotin di luar kurang nikmat aja.”

“Huuu dasar, cowok maunya emang gitu. Aku nggak masalah kalau sampai jadi, aku ingin merawat anak kita nanti kalau emang jadi.”

“Oh kak…hmmh,” Arci memberikan satu ciuman. “Aku juga tak akan menyesal kalau sampai kakak hamil. Ibu sudah merestui kita koq.”

“Iya, gara-gara kemarin kita seharian begituan. Aku bilang ama ibu kalau aku cinta ama kamu,” kata Safira.

“Maafkan aku ya kak. Harusnya kakak mendapatkan lelaki yang lebih baik daripada aku.”

Safira menggeleng. “Nggak, mana ada lelaki yang mau perempuan seperti aku? Yang ada aku malah akan disakiti. Aku tak mau seperti ibu. Biarlah aku mencintaimu dek. Kalau toh kamu tak mencintaiku aku tak apa-apa. Cinta tak harus menerima.”

“Nggak kak, aku mencintai kakak.”

“Ohh…Arci..adikku yang ganteng.”

Arci dan Safira berpelukan dalam rasa birahi tabu. Mereka pun melanjutkan aktivitas mandi yang sebenarnya setelah itu. Walaupun begitu mereka masih belum puas sebenarnya untuk menuntaskan birahi. Tapi Arci tahu diri kalau ia harus berangkat kerja hari itu. Dan hari ini adalah hari yang baru baginya. Ia tahu siapa jati dirinya sekarang.

***

“Aku di mana?” gumam Rahma.

Ia merasa sangat pusing. Ia baru menyadari kalau tubuhnya terikat, kaki dan tangannya terikat dengan tali yang sangat kuat, sementara mulutnya ada lakban tapi sudah terlepas. Disadari olehnya ia seperti berada di sebuah gudang. Ada barang-barang seperti sepeda, meja, kursi, bangku dan beberapa besi yang tertumpuk di dekatnya. Sementara dirinya ada di atas sebuah ranjang dengan kasur yang bau.

Ranjang itu ranjang tua, sehingga ketika ia bergerak suaranya berderit. Satu-satunya penerangan adalah lampu pijar seukuran sepuluh watt yang ada di atasnya. Rahma berusaha menggeser tubuhnya. Bisa, ternyata tali itu hanya melilit tangan dan kakinya saja.

“Oh tidak, tidak, aku harus pulang, aku harus beritahu Arci, aku harus beritahu Bu Dini.”

Rahma berguling-guling hingga ia akhirnya jatuh dari ranjang. Ia jatuh bahu kanannya dulu karena ia terikat ke belakang. Rasanya sakit bukan main. Rahma berusaha untuk berdiri, tapi dengan susah payah. Dia berusaha mengingat-ingat orang yang berusaha membekapnya. Semakin ia mengingat-ingat semakin kepalanya pusing.

Dengan penuh perjuangan ia akhirnya bisa bangkit. Tapi karena tangan dan kakinya terikat ia pun melompat-lompat seperti kanguru. Dia berusaha menuju ke pintu. Rahma melihat kaca jendela yang ada di sampingnya. Ia mempelajari di mana ia berada. Tak bisa diketahui, di luar ia hanya melihat rerumputan yang tak terawat serta beberapa benda seperti bangku dan kursi yang tergeletak bertumpuk di dekat pintu. Tidak, bahkan pintu itu diganjal dengan benda-benda rongsokan itu.

“TOloooong!?” teriak Rahma. “Tolooong!”

Rahma total hanya berteriak dua kata itu. Karena di pikirannya tiba-tiba timbul pikiran waras bisa jadi komplotan orang yang menyekapnya ada di sana. Maka dia pun berpikir lagi. Ia harus keluar, tapi bagaimana caranya. Lalu siapa orang yang melakukan ini semua?

Tiba-tiba di saat seperti ini ia teringat kembali kepada Singgih. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? Andai Singgih berada di tempat ini. Apakah dia bisa menolongnya?

* * *​

Di kantor, Arci tidak melihat Rahma. Mejanya sepi.

Andini langsung menyeletuk mengagetkan dirinya. “Nggak lihat Rahma?” tanya Andini.

Arci menggeleng.

“Kemana ya? Nggak biasanya,” gumam Andini. “Coba deh hubungi rumahnya! Ada berkas yang harus aku periksa soalnya.”

“Baik,” kata Arci.

“Oh ya, karena Rahma nggak ada. Kamu jadi asistenku sementara yah?”

“Koq aku, Bu?”

“Apa kamu keberatan?”

“Ehhmm…nggak sih.”

“Habis ini ke ruanganku!” kata Andini. Ia kemudian melangkah ke ruangannya.

Arci hanya menghela nafas. Padahal kerjaannya masih menumpuk. Ia kemudian mencari-cari nomor Rahma di data arsip karyawan. Setelah mendapatkan nomornya, ia lalu memutar nomor di telepon kantor.

“Halo? Ini rumah Rahma? Rahmanya ada pak?”

“…”

“Ini saya Arci teman sekantornya. Koq dia nggak masuk ya hari ini?”

“…”

“Hah? Belum pulang? Lho??”

“…”

“Saya nggak tahu juga.”

“…”

“Baiklah kalau begitu, terima kasih.”

Arci menutup teleponnya. Dia bergumam, “Aneh, Rahma belum pulang dari kemarin. Ada apa ini?”

“Ada apa Pak Menejer?” tanya Yusuf yang baru saja tiba.

“Rahma nggak masuk, dan katanya belum pulang dari kemarin,” jawab Arci.

“Lho?? Koq aneh?” Yusuf menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Ada yang nggak beres nih kayaknya. Oke deh, ntar aku coba lacak ponselnya,” kata Arci. “Soalnya kemarin dia cuman SMS suruh calling dia katanya penting. Sayang kemarin ponselku batteray-nya drop. Jadi dia pasti calling aku nggak bisa.”

“Wah, wah, wah. Oke deh. Aku juga khawatir nih ama dia,” kata Yusuf.

Arci segera masuk ke ruangan Andini dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Masuk!” kata Andini yang bersamaan dengan itu Arci masuk. Arci menutup pintunya.

“Din, Rahma nggak pulang dari kemarin,” kata Arci.

“Hah? Koq bisa?”

Arci mengangkat bahu. “Dan….dia ngirim SMS aneh ini ke aku kemarin.”

Arci menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan SMS dari Rahma. Andini mengerutkan dahinya.

“Ponselnya udah dihubungi?” tanya Andini.

“Nggak bisa. Mati. Dia sering onlinekan? Aku coba lacak terakhir kali dia ada di mana,” kata Arci.

“Oke deh, hati-hati. Perasaanku jadi nggak enak. Oh iya. Besok ada rapat dewan direksi selama tiga hari di Villa Songgoriti. Aku ingin kamu ikut,” ujar Andini.

“Aku?”

“Iya, menginap di sana.”

“Trus Rahma?”

“Ini penting. Menyangkut hajat hidup orang banyak satu perusahaan.”

Arci kembali teringat sesuatu. Bukankah dua hari lagi tanggal 31 Mei?

“Rapat ini akan menentukan arah kemana perusahaan kita. Kamu pokoknya harus hadir. Ada sesuatu yang ingin aku omongin juga, penting buat kamu,” kata Andini.

“Penting buat aku?”

“Iya, penting. Tidak saja buat kamu, tapi juga seluruh perusahaan. Di rapat nanti akan ditentukan siapa orang yang kelak akan memimpin perusahaan ini. Jadi kuharap engkau hadir.”

Melihat tatapan mata Andini Arci pun begidik. Ia hanya bisa menelan ludah. Bagaimana Rahma? Sesuai prosedur kalau ada seseorang hilang sampai 2×24 jam tak ada kabar maka berarti memang Rahma telah diculik.

BERSAMBUNG