Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 58

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 58- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 57

Selamanya Bersama

Empat Bulan Kemudian…

Milly telah menghabiskan banyak waktu bersama Axton, dan sekarang ia sedang merealisasikan rencana yang telah mereka susun bersama.

Tepatnya di sini.

Pada outdoor salah satu hotel Axton di Los Angeles yang sukses diubah menjadi begitu indah. Halaman itu telah dihiasi berikat-ikat bunga.

Dalam gaun putih pengantin yang elegan, Milly berjalan pelan didampingi Thomas menelusuri karpet putih yang tergelar di tengah, sementara di sekelilingnya terdapat beragam meja yang dilapisi kain putih beserta kursi berjejer rapi. Semua terisi penuh oleh para tamu yang hadir.

Michelle juga memakai gaun berwarna putih. Rambutnya tergerai indah dan ditata bergelombang. Gadis kecil itu terlihat bahagia berdiri bersama Rachel yang diikuti oleh para tamu menyambut kedatangan Milly.

Rachel tersenyum lebar, matanya berpendar haru ketika Milly melangkah anggun melewatinya.

Detik berikutnya Milly sampai di hadapan Axton. Axton tersenyum dalam balutan tuksedo yang senada dengan gaun Milly. Senyuman yang membuat lelaki itu bertambah tampan di mata Milly.

“Aku tahu kalian pasti akan berakhir bersama lagi,” ucap Marcus yang berdiri di antara mereka untuk meresmikan pernikahan. Pria tua itu mengumbar senyum bahagia.

“Diamlah Pak Tua, kau sebaiknya menjalankan peranmu dengan baik kali ini,” balas Axton masih juga sinis.

Marcus tidak menggubris Axton dan fokus memandang Milly, menelusuri penampilan gadis itu yang sangat menawan.

“Kau sangat cantik Nak. Aku yakin kau pasti mengingatku. Dan kau pasti tahu bahwa pria yang akan menjadi suamimu sebentar lagi punya ego yang tinggi. Ia mengutus anak buahnya untuk menjemputku, agar aku bisa berada di sini untuk meresmikan hubungan kalian. Tentu saja dengan benar kali ini, tapi ia terlalu malu mengakui bahwa ia membutuhkanku.”

Milly tersenyum geli karena seluruh ucapan Marcus.

“Ya, aku masih mengingatmu dan terima kasih atas pujianmu juga karena kau bersedia datang untuk kami.”

“Apa kau tidak bisa memulainya sekarang?” timbrung Axton. Ia melirik Marcus terlihat tidak suka.

Marcus menghela napas pendek. Lagi, pria tua itu berucap pada Milly.

“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu Nak karena kau bisa menaklukannya.”

Milly mengernyit hingga Marcus menggerakan ekor matanya ke arah Axton untuk memperjelas lebih kentara. “Anak durhaka itu.”

Sontak Milly tertawa kecil. Tapi hanya sebentar. Karena ia tidak seharusnya tertawa sebelum acara di mulai. Apalagi ia tidak menggenakan veil pengantin.

Axton berusaha menahan kekesalannya. “Kau sudah selesai menjelekkanku Pak tua?” sindirnya pedas yang dibalas senyum kecil oleh Marcus.

“Aku baru saja selesai Nak.”

Setelah itu Marcus memandang pada para tamu dan menyambut mereka dengan kalimat pembuka. Sementara Axton tidak memusingkan perkara itu, pusat perhatiannya hanya tertuju pada Milly. Gadis itu tersenyum malu padanya.

“Aku suka melihat Mom dan Dad bersama seperti ini Grandma,” ujar Michelle tersenyum senang, memerhatikan Axton dan Milly yang saling tatap dari jauh.

Rachel yang sejak tadi memandang ke depan, pada objek yang sama dengan Michelle lantas menoleh pada gadis kecil itu.

“Kau pikir Grandma tidak? Grandma juga sama sepertimu. Dan sekarang Mommy dan Daddymu terlihat bahagia.”

Michelle balas menatap Rachel. Wajah gadis kecil itu terlihat menggemaskan di mata Rachel.

“Grandma, kau harus jujur padaku. Selama ini kau tahu bahwa pangeran tampan adalah Ayahku bukan?”

Rachel sontak tertawa saat menangkap nada tudingan dalam suara Michelle.

“Ya, kau adalah putrinya, dan Grandma mengetahuinya.”

“Itu berarti kau tahu segalanya.”

Rachel menghela napas pura-pura, sebelum mengukir senyum kecil pada Michelle. Entah mengapa Rachel merasa gadis kecil itu akan tumbuh menjadi anak cerdas di masa depan.

“Grandma tidak tahu segalanya. Tapi satu-satunya hal yang Grandma tahu adalah Ayah dan Ibumu sangat menyayangimu. Hanya itu.” Itu jawaban yang dirasa Rachel tepat untuk pertanyaan Michelle.

Michelle manggut-manggut. “Baiklah.”

“Seharusnya itu sudah cukup untukmu bukan?” tanya Rachel sarat akan nada godaan.

Michelle sontak tertawa kecil, sementara Rachel mengumbar senyum bahagia. Di waktu yang sama pula, pada deretan kursi terdepan di seberang, Elena berdiri bersama Fernandez. Gadis itu tidak henti-hentinya menatap antusias pada Axton dan Milly yang kini mengucap janji suci.

Sementara Fernandez hanya tersenyum miring sambil menggendong Patricia yang terus menempel dengannya. Putrinya itu tertidur dengan kedua tangan memeluk leher Fernandez erat, seperti koala.

“Aku tidak tahu bahwa mereka akan secocok itu,” ucap Elena turut bahagia.

“Ya, dan permainan berakhir di sini,” gumam Fernandez, kedua sudut bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

“Permainan?” Elena langsung menoleh tak paham pada Fernandez.

Fernandez berdeham dan bergumam, “Tidak. Aku tidak mengatakan apapun.”

Tidak lama suara sorak dan tepuk tangan para tamu memeriahkan acara, membuat Fernandez dan Elena yang tadi saling pandang kini menatap ke depan. Sontak Elena tersenyum lebar sambil bertepuk tangan keras menyaksikan Axton yang mencium Milly.

“Kita juga bisa melakukannya di sini jika kau mau. Aku tahu kau menyukai rasaku,” goda Fernandez di tengah sorak-sorai para tamu membuat Elena lekas mencubit pelan pinggangnya.

“Andez!” peringat Elena malu.

Sedangkan Axton yang menempelkan bibirnya di bibir Milly, mencium dengan tulus dan penuh perasaan. Tapi tidak lama, hanya berlangsung beberapa detik. Setelah pagutan mereka terurai, Axton memandang Milly tepat di mata. Bibirnya menyeringai dan dahi mereka menempel.

Milly tersipu. Pipinya menghangat. Kedua tangannya melingkar di leher Axton, meski sebuket bunga digenggamnya. Sedangkan satu tangan Axton mendekap erat pinggangnya.

Suara kehebohan para tamu yang turut gembira masih terdengar di sekeliling mereka ketika Axton berkata, “Kau tahu, tidak peduli ke mana takdir membawamu, aku akan selalu mencarimu. Aku akan selalu menemukanmu, Milly.”

Milly menjelajah ke dalam mata Axton dengan bibir yang mengukir senyum lebar.

“Kau satu-satunya wanita yang akan bersamaku sampai akhir.” Lalu tiba-tiba Axton mencium Milly kembali, seolah merasa belum cukup.

Mata Milly spontan menutup senang. Kakinya sedikit berjinjit agar Axton bisa mudah memperdalam ciuman mereka. Kedua tangan Milly yang terkalung di leher Axton turut mengerat tanpa melepaskan sebuket bunga di genggaman. Hal itu jelas menambah kehebohan sorak-sorai para tamu. Kecuali Michelle yang sejak tadi matanya ditutup oleh Rachel.

“Keparat, apa ia tidak bisa menahan diri sedikit saja?” gumam Fernandez datar. Lalu ia melirik elena di sebelahnya. Istrinya itu membekap mulut sambil memancarkan kegembiraan lewat sorot mata.

“Elena…” panggil Fernandez.

“Kita takkan melakukannya Andez,” jawab Elena seolah paham.

“Sial,” umpat Fernandez.

Detik berikutnya, Milly mulai melempar sebuket bunga setelah ciumannya dan Axton berakhir. Buket bunga itu melayang tinggi di langit. Membuat beberapa tamu lagi-lagi bersorak sambil mencoba menangkap. Milly tertawa melihat itu, dan diam-diam ia mengamati Axton yang tersenyum miring dari samping.

Sekali pun dirinya tidak lagi hidup sebagai Evelyn dan keadaan telah merubah mereka, Milly tahu itu tidak berlaku dengan hatinya. Karena seberapa keras ia mencoba mengingkarinya, nyatanya ia tidak bisa berbohong.

Meski dulu Axton pernah menyakitinya, tapi lelaki itu juga dulu pernah membuatnya bahagia. Milly percaya padanya. Axton mencintainya. Begitu pun sebaliknya. Dan mereka akan selalu kembali bersama, tidak peduli apa yang terjadi.

Dulu, sekarang dan mungkin di masa depan nanti, selamanya, selalu bersama.

***

– END –