Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 57

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 57- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 56

Gigitan Serangga

Axton menurunkan Michelle ketika tiba di dalam kamar bernuansa ungu bercampur putih yang sudah ditata rapi dan serba berkelas. Ranjang single berada di sudut ruangan—tepatnya sebelah kiri—dengan tiga boneka unicorn di atasnya dari beragam ukuran.

Karpet berbulu di tengah ruangan, dan terakhir meja belajar lengkap dengan kursinya di dekat jendela.

Mata Michelle tidak berkedip satu detik pun. Ia terperangah dalam arti bahagia. Detik berikutnya ia lekas berbalik menghadap Axton yang berada di belakangnya, bersandar di kusen pintu.

“Ini benar-benar luar biasa Dad. Aku sangat menyukainya. Darimana kau tahu bahwa ungu adalah warna favoritku?”

Axton menoleh pada Milly yang baru muncul di sebelahnya. “Mommymu yang memberitahuku.”

Michelle lalu menatap lurus Milly, membuat Milly mengernyit, tidak paham. Perlahan kepala Milly berputar ke arah Axton seolah ingin mencari jawaban. Bersamaan dengan itu, Axton mengedipkan satu matanya sambil melanjutkan ucapannya.

“Mommymu mengusulkan padaku warna ungu karena itu adalah warna favoritmu Princess.”

Pipi Milly memanas. Otaknya seketika mulai mencerna. Hingga ia mulai paham tentang situasi sekarang. Tapi faktanya, ia tidak pernah mengusulkan apa pun pada Axton. Sekali pun, fakta bahwa ia tahu warna kesukaan Michelle itu benar, ia tidak ingat pernah membahas hal itu dengan Axton atau sekedar memberitahu.

Di sela pemikirannya itu Michelle tiba-tiba memeluk kaki Milly, membuat Milly sedikit terkejut.

“Aku sangat menyayangimu Mom. Juga Dad. Aku menyayangi kalian berdua.”

Detik berikutnya, Michelle melepaskan pelukannya dari kaki Milly. Ia menoleh pada Axton dengan wajah bahagia.

“Dad, apa kau tidak keberatan jika aku mengundang teman-temanku dan menunjukkan pada Sarah bahwa aku lebih keren darinya?”

Axton tersenyum ringan. Sementara Milly melotot, ia hendak membuka suara pada Michelle tapi Axton telah mendahuluinya.

“Tentu saja, Princess. Kau boleh mengundang semua temanmu.” Lalu Axton mengelus pucuk kepala Michelle. Michelle tertawa senang.

“Terima kasih Dad.”

Tiba-tiba terdengar gongongan seekor anjing di sekitar mereka. “Guk. Guk.”

Michelle sontak menoleh ke samping. Seekor anjing golden retriever berlari ke arahnya. Lidah anjing itu terjulur, ekornya bergoyang ke kanan dan ke kiri.
Mata Michelle melebar senang, ia lantas memeluk Dalton ketika anjing itu melompat ke arahnya. Michelle tertawa geli karena jilatan Dalton di pipinya.

“Apa ia adalah anjingmu Dad?” tanya Michelle yang belum melepaskan pelukannya dengan Dalton.

“Mm-hm. Namanya Dalton, dan sepertinya ia suka padamu Princess karena kau sangat cantik.”

Michelle lagi-lagi tertawa kecil mendengar pujian Axton. Tapi mendadak Michelle terkejut ketika bandana putih dirambutnya diambil Dalton dan dibawa lari.

“Hei!” seru Michelle tidak terima. Spontan ia mengejar Dalton sambil tertawa untuk kesekian kalinya.

Axton tersenyum tipis melihat kepergian Michelle, sementara Milly justru menghela napas panjang.

“Ia benar-benar mengambil sifat jelekmu.”

“Dan sifat jelekmu ketika marah,” tambah Axton dengan enteng.

Sontak Milly menoleh dan memelototi Axton. Tapi dua detik kemudian bola mata Milly terkesiap karena Axton menarik pinggangnya, merengkuhnya dan membuat jarak mereka menipis.

“Lupakan. Lagi pula ada hal yang lebih penting yang perlu kau tahu. Aku punya keinginan yang lain lagi.”

***

Milly tersudut di dinding ruang kerja Axton, sementara Axton mengurungnya. Jarak mereka begitu dekat. Bulu kuduk Milly meremang ketika ia merasakan tangan Axton menyentuh leher kanannya. Ia seperti tersengat listrik.

“Kau berjanji bahwa kau akan mengabulkan seluruh permintaanku. Ini juga adalah hal kecil yang kuinginkan.”

“Sudah kukatakan padamu bahwa tidak ada—” Tapi ucapan Milly terputus karena Axton lebih dulu mengambil kesempatan itu untuk menyerang bibirnya. Melumatnya lembut dan memabukkan.

Milly yang tidak siap, terkejut. Bola matanya membulat penuh. Tapi pagutan Axton yang menggoda bibirnya, membuat mata Milly seketika menjadi tertutup. Ia terbuai oleh ciuman Axton. Aliran darahnya seketika bergerak cepat.

“Aku suka ketika hubungan kita mulai membaik,” gumam Axton di sela ciuman mereka, sementara Milly mengerang dan refleks membalas ciuman Axton yang sekarang berubah liar. Alih-alih menolak, tangan Milly kini terangkat meremas belakang rambut Axton.

Axton tersenyum di antara pagutan basah mereka. Tubuhnya semakin menghimpit Milly. Lalu dalam sekejap ciuman itu berubah makin tidak terkendali. Axton menaikkan intensitasnya, mengigit bibir bawah Milly, memasukkan lidah dan menjelajah rongga mulut gadis itu. Milly spontan mengerang lagi. Ia pun mencoba mengikuti ritme lidah Axton.

Satu tangan Axton yang berada di dinding lantas pindah ke pinggang Milly, menarik tubuh mereka makin menempel, sementara tangannya yang masih berada di leher Milly bekerja menekan tengkuk gadis itu agar ciuman mereka makin dalam.

Tubuh mereka serasa saling membakar sekarang. Tapi Axton segera menyudahi aktifitas panas itu, mengontrol dirinya agar tidak terburu-buru. Ia tidak ingin Milly merasa tak nyaman dengannya atau membuat gadis itu teringat perbuatan buruknya lagi.

Axton memejam seiring dengan napasnya yang memburu. Keningnya menempel di kening Milly. Sementara Milly terengah-engah dengan muka merah padam.

“Aro…” panggil gadis itu dengan susah payah, membuat hasrat dalam diri Axton hampir meledak.

“Sstt. Kau tidak ingin Michelle mendengar kita bukan?”

“Apa?”

“Aku sudah menahan ini sejak lama,” ujar Axton mengakui sambil membuka mata, memandang bibir Milly yang membengkak. Bibir itu mempengaruhi Axton begitu hebat dan sedikit melumpuhkan akal sehatnya.

Milly menatap Axton tidak mengerti. Tapi detik berikutnya, ia tersentak ketika merasakan jempol Axton mengusap sensual bibirnya yang tengah mengatur napas, sementara keempat jemari Axton masih berada di tengkuk Milly.

Sentuhan Axton itu membuat darah Milly seketika berdesir, juga meninggalkan sensasi aneh pada tubuhnya.

“Untuk merasakan rasa bibirmu. Bibir ini terus membayangiku sejak terakhir kali kau pergi.”

Axton menaikkan pandangannya. Menatap lekat Milly, memenjarakan gadis itu ke dalam pesonanya.

“Pernikahan kita, aku bersumpah akan melakukan semuanya dengan benar. Kau hanya satu-satunya wanita yang kucintai.”

“Aku tahu. Kau pernah mengatakan hal itu padaku.”

“Dan kau tahu, sekarang kau hampir membuatku gila. Aku ingin merasakan bibirmu lagi. Aku menginginkanmu.”

Milly tersenyum mendengar kejujuran Axton dan Axton menganggap itu pertanda baik. Tanpa membuang kesempatan, pada detik itu Axton kembali meraih wajah Milly dan menciumnya lagi dengan intensitas yang dalam. Liar dan panas.

Milly pun pasrah, matanya lagi-lagi menutup menikmati ciuman Axton yang makin menjeratnya ke dalam bara gairah. Membuat kewarasannya seketika menguap. Bahkan Milly tidak sadar jika sekarang Axton telah mengaitkan kedua kakinya ke pinggang lelaki itu. Sebelum menjatuhkan tubuh mereka sama-sama ke sofa.

Axton kini berada di atas Milly dan Milly mendesah ketika lelaki itu berpindah menghisap lehernya. Kesepuluh jemari Milly spontan meremas rambut kasar Axton. Napas Milly berubah cepat dan tidak beraturan ketika satu tangan Axton membuka kancing blouse putihnya dengan tergesa-gesa.

“Aro…” ucap Milly parau, membuat Axton makin terangsang.

Kepala Axton menjauh dari leher Milly seiring dengan tangannya yang menurunkan bra hitam gadis itu. Sejenak mata Axton yang menggelap memandang Milly. Ia suka melihat wajah gadis itu yang tampak diselimuti kabut gairah dan tidak fokus.

“Kau tidak bisa menyuruhku berhenti sekarang. Kau menginginkanku.”

Setelah itu Axton menunduk dan hendak melahap buah dada Milly, tapi detik itu pintu tiba-tiba terbuka, membuat Axton seketika mendongak, sementara Milly terkaget. Aktifitas mereka dalam hitungan detik terhenti.

Kewarasan akal sehat Milly langsung kembali ketika mendengar suara polos Michelle.

“Mom, Dad, apa yang kalian lakukan?” tanya Michelle dengan mata mengerjap-ngerjap.

“Princess.” Axton menoleh ke belakang dengan napas putus-putus.

“Kenapa kau berada di atas Mom Dad?”

Pertanyaan kedua Michelle itu segera membuat Axton bangkit dan berjalan ke arah Michelle. Lelaki itu masih bisa bersikap tenang setelah hal tidak senonoh yang tadi hampir terjadi. Berbeda dengan Milly yang justru panik dan buru-buru merapikan pakaiannya dengan muka merona malu. Gadis itu bahkan merutuki keteledoran Axton yang tidak mengunci pintu.

“Kau sudah selesai bermain dengan Dalton?” tanya Axton mengalihkan topik sambil mengangkat tubuh Michelle ke dalam gendongannya, seolah melupakan kejadian panas tadi.

Tapi rupanya Michelle tidak terpengaruh. Gadis kecil itu justru mengingatkan kembali. Mata bulatnya memandang Axton penasaran. “Kau belum jawab pertanyaanku Dad.”

Milly yang telah beranjak dari sofa lantas berdeham dan mengambil alih untuk menjelaskan.

“Michelle, Daddymu tadi hanya membantu mengobati luka gigitan serangga yang ada di leher Mommy.”

Axton lantas menoleh pada Milly. “Serangga?” ulangnya dengan nada datar, membuat Milly memelototi Axton sebagai kode keras untuk mengiyakan. Hingga Axton pun membenarkan ucapan Milly.

“Ya. Serangga. Mommymu baru digigit serangga, entah bagaimana,” ucap Axton pada Michelle.

Spontan kepala Michelle berputar ke arah Milly dan disambut Milly dengan senyum lebar yang dipaksakan. Mata Michelle lagi-lagi mengerjap. Sebelum kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Axton lagi.

“Jadi kau sudah merasa lebih baik sekarang?” tanya Axton yang sekarang menatap Milly. Sengaja meneruskan sandiwaranya supaya alasan ‘serangga’ yang digunakan Milly tadi terlihat lebih realistis.

Milly langsung mengangguk cepat. “Ya, tentu saja. Terima kasih untuk yang tadi.”

Jawaban spontan Milly itu membuat Axton mengulum senyum.

“Kalau begitu, beritahu aku jika serangga mengigitmu lagi, aku akan dengan senang hati memeriksamu seperti tadi.”

Setelah itu Axton dengan santai membawa Michelle yang masih berada dalam gendongan keluar bersamanya. Meninggalkan Milly yang bergeming di ruangan itu dengan muka merah padam. Ia sadar maksud ucapan Axton itu jelas-jelas menggodanya.

Tapi tidak ada yang bisa dilakukan Mily selain membuang napas panjang demi meredakan rasa malunya.

***

Bersambung