Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 56

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 56- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 55

Keinginan Pertama Axton

Saat ini Milly duduk di tepi ranjang sambil memandang Axton dalam diam. Sebuah kain kompres berada di dahi Axton. Hari pun sudah beranjak sore tapi lelaki itu belum membuka mata.

Setelah kekacauan yang diperbuat Axton, pria sekarat di restoran itu langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat, sementara Milly terpaksa harus keluar dari tempat kerjanya.
Tentu, itu semua bukan keinginannya. Sebut saja bahwa hari ini ia telah dipecat oleh Bosnya. Bahkan Bosnya menyampaikan kekecewaan besar padanya.

Beruntung Michelle tidak melihat atau pun mendengar kemarahan Bosnya. Karena saat itu terjadi, Milly telah membaringkan Axton di jok mobil belakang milik lelaki itu dan menyuruh Michelle menunggunya di sana.

Dan ia pula yang membawa Axton kemari. Mengijinkan lelaki itu tidur di ranjangnya. Sebab rumah ini hanya mempunyai tiga kamar. Ia bisa saja menempatkan Axton di sofa, tapi Milly merasa itu cara yang kurang baik dalam memperlakukan orang sakit.

Hingga pilihan Milly terpaksa jatuh pada kamarnya sendiri.

Karena jika di kamar Michelle, ranjangnya hanya dikhususkan untuk anak kecil. Badan Axton tidak akan muat di sana. Sementara kamar Rachel, Milly merasa tidak tepat saja.

Perlahan tangan Milly kini terjulur menyentuh kepala Axton, membelai rambut kasar lelaki itu dengan hati yang masih diselimuti rasa cemas. Detik berikutnya, Milly tersentak ketika mata Axton tiba-tiba terbuka. Lelaki itu juga dengan sigap memegang tangannya.

“Apa aku sedang bermimpi?” gumam Axton serak sambil menatap Milly. Bibirnya menyunggingkan senyum miring. ”

Kau memegang rambutku.”

Muka Milly seketika merona, merasa malu. Karena Axton menangkap basah dirinya. Segera ia menarik kasar tangannya agar lepas dari Axton. Secepat itu juga ia menutupi semuanya dengan menatap tajam Axton.

“Baguslah jika kau sudah sadar. Selama ini aku berusaha menjaga karier Simon, tapi kau justru mengacau di tempat kerjaku. Memukuli pelanggan dan membuat keributan di restoran, apa kau sudah gila?”

Senyum miring di wajah Axton langsung sirna saat mendengar Milly menyebut nama lelaki sialan itu.

Tapi Milly tidak memedulikan perubahan raut wajah Axton. Ia hanya fokus menyembunyikan kegugupannya, juga debaran jantungnya yang tidak seharusnya bertalu-talu sekarang dengan mengalihkan topik.

“Kau puas? Kau membuatku dipecat,” protesnya mencurahkan kekesalan.

Axton meraba kain kompres dari dahinya. “Aku tidak peduli.”

“Kau seharusnya tidak bersikap seperti tadi pada pria di restoran itu. Apa kau lupa bahwa seseorang juga dulu pernah melakukan hal seperti itu padaku? Bahkan lebih buruk.”

Axton sadar makna di balik kata-kata Milly. Gadis itu sedang menyindirnya. Sorot mata Axton berubah kelam karena rasa frustasi yang berbaur penyesalan. Ia memerhatikan gerakan bibir Milly yang masih mencecarnya.

“Hal semacam itu, sudah biasa untukku. Jadi kau—”

“Jika aku tidak sakit sekarang, aku sudah akan menciummu,” sela Axton tiba-tiba membuat Milly seketika terdiam dan refleks menelan ludah kasar.

“Apa?”

Mata Axton naik, memandang mata Milly yang membesar. Gantian Axton yang menelan ludah susah payah.

“Untuk membungkam mulutmu. Agar kau tahu bahwa perasaanku masih sama. Terlepas siapa dirimu sekarang, kau selalu bisa memengaruhiku, dalam hal apapun.”

Tubuh Milly membatu seketika. Tapi matanya balas menatap Axton dengan gugup. Debaran jantungnya berubah makin kencang. Apalagi ketika ia mendengar pengakuan Axton selanjutnya.

“Termasuk keputusan ketika aku melukaimu, aku hanya berusaha menyangkal segalanya.”

Dalam sekejap Milly merasa kehilangan separuh oksigennya. Sontak ia berdiri dan mengakhiri tegas. “Cukup.”

Detik berikutnya, Milly segera berbalik ingin meninggalkan Axton. Tapi secepat itu, Axton menggengam jemarinya erat, menahannya.

“Kau tahu seberapa menyedihkan aku dulu. Kau tahu sekelam apa masa laluku… Milly.”

Milly terpaku. Lidahnya terasa keluh. Tenggorokannya mengering. Bahkan dadanya seketika sesak saat menangkap nada lirih Axton yang terdengar tersiksa.

Ia memang mengenal Axton dengan baik. Ia tahu seluruh tentang lelaki itu. Bahkan seberapa hancur hidup Axton semasa kecil kala itu karena aksi penembakan yang tanpa sengaja terjadi.

Dan ia adalah anak perempuan yang satu-satunya menjadi temannya, membantunya bangkit dari keterpurukan. Anak perempuan…. yang berhasil membuat senyumnya terukir kembali.

Milly memejam dan menarik napas panjang. Terlepas dari seluruh perlakuan buruk yang pernah Axton lakukan padanya, tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Seluruh kenangan masa kecil mereka nyatanya tetap abadi dalam ingatannya.

Perlahan Milly memberanikan diri untuk memutar pelan tubuh kembali, tanpa menyingkirkan genggaman Axton pada tangannya. Sesaat mata mereka saling beradu pandang.

“Aku tidak punya pilihan lain lagi bukan?” gumam Milly memecah kesunyian di antara mereka.

Axton sadar bahwa gadis belum selesai berucap, maka ia hanya menantinya.

“Tentang pria di dunia ini yang akan menikahiku. Sepertinya… hanya kau, satu-satunya.”

Mendengar itu, seketika senyum lebar terukir di wajah Axton. Namun tidak lama kemudian, senyum itu berubah menjadi kaku karena kalimat Milly selanjutnya.

“Jadi minum obat yang kuberikan dan kau harus cepat sembuh. Jika kau membantah atau menolaknya, aku akan merubah keputusanku.”

“Apa sekarang kau sedang mengancamku balik?”

Sementara Milly justru tersenyum manis, senyuman yang untuk pertama kali sangat tidak disukai Axton sebab tersimpan makna terselubung.1

“Ini bukan pertama kali aku melihatmu seperti ini Aro. Aku tahu kau selalu tidak mau meminum obat karena kau tidak menyukainya. Jadi aku hanya membujukmu seperti dulu. Telan obatmu dan aku akan mengabulkan seluruh permintaanmu.”

“Seluruhnya?” ulang Axton memastikan. Seringai terbit di bibirnya.

Seketika Milly berdeham dan segera meralat, “Tapi tidak dengan hal yang macam-macam.”

***

Empat hari kemudian, Michelle berlari senang ketika masuk ke dalam rumah Axton yang megah. Mata gadis kecil itu berbinar-binar menjelajahi sekitar.

Mulai dari sofa empuk berwarna putih di tengah ruangan, TV flat yang besar, lampu gantung mewah yang berada di atas plafon. Satu lukisan abstark yang besar menempel di dinding. Juga seluruh ruangan yang dipenuhi oleh perpaduan warna putih dan emas. Sangat cocok, membuat kesan minimalis melekat kuat.

“Mom ini sangat keren!” seru Michelle takjub sambil menatap Milly di belakangnya. Ia lalu tertawa riang.

Milly hanya merespon dengan senyum canggung. Berbeda dengan Axton yang berada di sebelah Milly, lelaki itu justru tersenyum ringan dengan satu tangan terbenam di saku. Ini adalah keinginan pertama Axton, mengajak Milly dan Michelle berkunjung ke rumahnya.

“Jadi dari 1-10 seberapa ingin kau tinggal di sini Princess? Semakin besar angkamu menunjukkan bahwa semakin besar kau menginginkannya.”

Tawa Michelle kini mereda. Ia menatap Axton dan hendak menjawab, tapi Milly lebih dulu angkat bicara. “Kau sebaiknya tidak memilih angka 10 Michelle.”

Michelle spontan menatap Milly dengan raut lugu.

“Aku baru saja ingin mengatakan angka itu Mom. Aku ingin berikan Dad angka 10.”

Milly lantas memejam sejenak diiringin helaan napas panjang. Ketika matanya terbuka, ia melirik Axton dan menangkap sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas.

Detik berikutnya Axton sudah setengah berlutut. Ia menggerakkan tangannya, memanggil Michelle. “Kemarilah Princess.”

Michelle pun patuh dan mendekati Axton dengan mata berpendar bahagia. Wajar mereka telah sejajar. Kedua sudut bibir Axton melengkung membentuk senyum tipis, lalu ia mencubit sekilas satu pipi Michelle. Tidak keras, melainkan pelan.

“Aku sangat suka mendengar panggilan barumu untukku, juga jawaban kejujuranmu.”

Setelah itu Axton mengangkat tubuh Michelle dengan sigap, menggendongnya. Sontak itu memicu tawa Michelle lagi.

“Jadi apa kau siap melihat kamarmu Princess? Aku sudah mempersiapkannya untukmu.”

“Aku tidak pernah sesiap ini Dad,” jawab Michelle mantap.

Melihat keakraban antara Axton dan Michelle, tanpa sadar Milly tersenyum kecil. Entah mengapa, ia menjadi tertarik mengamati tingkah keduanya yang kompak terkekeh saat ini. Kedua tangan Milly lantas saling menyilang di dada.

“Baiklah kita akan ke sana sekarang, Princess.”

Axton lalu melirik Milly dengan seringai, dan Milly hanya mengedikkan bahu disertai senyum yang belum luntur dari wajahnya.

***

Bersambung