Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 55

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 55- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 54

Ledakan Amarah Axton

Suasana restoran siang itu cukup ramai. Beragam makanan amerika modern tersaji di tempat itu. Bunyi dentingan garpu dan sendok beradu di piring. Obrolan hangat para pengunjung mengisi suasana sekitar. Milly sibuk mendengarkan pesanan dua pengunjung di salah satu meja.

“Anda akan memesan dua iced tea dan dua spaghetti rustichella. Mohon menunggu sebentar,” ulang Milly ramah. Tepat ketika ia berlalu, detik itu pintu sebuah restoran terbuka, memunculkan sosok Axton yang menggandeng tangan Michelle.

Milly spontan berhenti melangkah. Bibirnya terbuka sedikit. Sementara Axton tersenyum tipis ke arahnya. Sebelum melewatinya tanpa melepaskan tautan jemarinya dengan Michelle. Sementara Michelle hanya mengerjap-ngerjap dengan mimik polos pada Milly.

Selama sesaat tidak ada yang bisa dilakukan Milly selain melayangkan tatapan horor pada Axton. Lelaki itu sedang menjatuhkan bokong di salah satu kursi pojok, sedang Michelle mengambil kursi di depan Axton hingga keduanya duduk berhadapan.

Helaan napas panjang lolos dari bibir Milly. Satu tangannya mengepal kecil, lalu detik berikutnya ia memberanikan diri menghampiri Axton.
Axton hanya mengamati setiap langkah Milly sampai gadis itu tiba di mejanya. Mata Milly menyorot tajam pada Axton sebelum beralih ke Michelle dan memprotes.

“Apa yang kau lakukan di sini, Michelle? Kau seharusnya berada di rumah dan—”

“Aku yang memintanya untuk menemaniku makan. Perutku tiba-tiba lapar saat di perjalanan mengantarnya pulang,” sela Axton yang sukses membuat pehatian Milly teralihkan padanya.

Milly memelototi Axton. Sementara Axton hanya menatapnya lurus.

“Bibi pernah mengatakan padaku bahwa kau bekerja di tempat ini. Jadi kuputuskan untuk kemari.”

Milly menelan ludah kasar disertai dengan bibir yang mengatup rapat. Lantas dengan nada menahan kekesalan, ia bertanya pada Axton.

“Jadi apa yang ingin kau pesan di sini?”

***

Axton menatap Michelle yang beberapa kali melirik ke arah Milly. Gadis kecil itu sudah menutup buku menu.

“Kau yakin hanya itu saja yang kau mau, Princess?” tanya Axton pada Michelle, ikut menutup buku menu.
Michelle mengangguk lugas.

Axton kemudian mengembalikan dua buku menu pada Milly sambil menahan senyum. Ia sadar betul perubahan raut wajah Milly sekarang. Gadis itu seperti sedang mengendalikan gejolak kekesalan di dada agar tidak meluap. Semua itu terlihat sangat jelas di mata Axton.

“Kau sudah mengingat seluruh pesananku dan Michelle kan, Mom?” goda Axton, membuat semburat merah tampak di kedua pipi Milly.

“Tentu saja. Aku akan segera kembali,” ucap Milly dengan senyum paksa. Ia mengambil kasar dua buku menu itu dari tangan Axton. Lalu menoleh pada Michelle, menghela napas pelan.

“Setelah kau menghabiskan makanmu, Mommy akan meminta ijin untuk mengantarmu pulang.”

Usai berpesan seperti itu pada Michelle, Milly langsung berlalu dari mereka. Tapi langkahnya menjadi lambat ketika mendengar ucapan Axton yang ditujukan pada Michelle.

“Kau harus merayu Mommymu agar mau diantar pulang olehku, Princess.”

Axton mengamati punggung Milly yang belum terlalu jauh dari mejanya. Gadis itu terus melangkah dan melewati beberapa meja yang telah diisi oleh para pengunjung dengan satu tangan mengepal kecil, kentara meredam kesal.

“Tapi sebelum itu, kau harus katakan padaku apa alasanmu meninggalkanku dan Mom, pangeran tampan,” ucap Michelle, membuat perhatian Axton seketika menjadi tertuju pada gadis kecil itu. Michelle melipat kedua tangan di meja dan menatapnya penuh selidik.

Tingkah gadis kecil itu selalu terlihat menggemaskan di mata Axton. Menyeringai samar, perlahan Axton mencondongkan tubuhnya ke depan. Menatap lekat bola mata Michelle.

“Tidak ada alasan. Karena aku tidak pernah meninggalkan Mommymu. Hanya saja ia tidak mengetahuinya.”

Axton lalu melirik ke arah Milly dan ternyata langkah gadis itu mendadak berhenti.

“Jika kau tidak meninggalkan kami, kenapa kau tidak ada di fotoku ketika aku lahir pangeran tampan?” Kerutan mulai tampak di kening Michelle akibat berpikir.

Axton kembali fokus pada Michelle. “Ada banyak hal yang belum bisa kau mengerti jika kujelaskan padamu Princess.”

Michelle diam dan mengamati Axton menegakkan tubuh kembali.

Axton lalu menunduk, mengeluarkan ponsel dari kantong celana. Tanpa Michelle tahu, mata Axton sempat tertutup, rahangnya juga mengetat karena rasa mengigil yang semakin kuat ia rasakan. Namun Axton berhasil menutupi semuanya dengan rapi hingga tidak ada yang menyadari.

Bahkan ketika ia mendongak dan menatap Michelle ulang, Axton sanggup bersikap baik-baik saja di saat kondisi tubuhnya makin menurun. Justru dengan santai menggeser ponsel ke arah Michelle.

Michelle lantas mengambil benda pipih itu. Matanya mengerjap-ngerjap bingung begitu mendapati foto dirinya yang masih bayi dan sedang digendong Milly menjadi wallaper utama di layar ponsel itu. Di sana terlihat tubuhnya masih merah, sementara wajah Milly tampak lusuh bersandar pada ranjang rumah sakit.

“Dari mana kau dapat fotoku dan Mom, pangeran tampan?”

“Karena aku memang tidak pernah meninggalkan kalian, Princess.” Saat mengatakan kalimat itu, mata Axton tertuju pada Milly lagi.

Gadis itu perlahan membalikkan tubuh, menatapnya dari jauh. Hingga selama beberapa saat mata mereka saling terpaut, seolah detik demi detik menjadi berhenti seketika. Tapi tidak memudarkan suasana keramaian yang mengisi di sekeliling mereka.

“Walau aku tidak ada di sana, tapi aku sangat bahagia melihat kau hadir di dunia ini. Kau tampak seperti malaikat kecil yang manis.”

Perlahan Michelle menengadah memandang Axton. Bibirnya mulai menyunggingkan senyum kecil. Sementara pandangan Axton masih terpusat pada Milly.

“Kau harus percaya padaku, bahwa aku tidak pernah membohongimu. Perasaanku untuk Mommymu selalu sama. Aku selalu mencintainya.” Jeda sejenak. Lalu Axton menoleh pada Michelle.

“Juga dirimu,” lanjutnya.

***

Cukup sudah.

Milly tidak ingin mendengarkan lagi. Diputarnya badannya kembali. Tatapannya menjadi gusar. Suasana hatinya pun menjadi tidak menentu.

Lelaki itu seolah sengaja menggoyahkan hatinya, membuatnya merasa bersalah seakan-akan ia adalah pemeran jahatnya. Milly memejam kuat. Walau ia tidak melihatnya, ia tahu bahwa mungkin Axton kembali memerhatikannya lagi dari tempat duduk. Seperti sebelumnya. Tapi Milly tidak berniat untuk berbalik lagi.

Justru sebaliknya, ketika ia membuka kelopak matanya, detik itu Milly berlalu dari Axton sesegera mungkin dan memilih fokus pada pekerjaannya. Kedua kakinya berderap cepat melalui seluruh meja pengunjung.

Walau tidak bisa dipungkiri bahwa obrolan Axton dan Michelle yang tadi didengarnya terus tergiang-ngiang di pikirannya. Memenuhi benaknya, membuatnya sesak hingga kewalahan.

Hingga tanpa sadar, kaki Milly yang kelewat buru-buru berjalan, seketika tersandung sesuatu. Membuat ia hampir oleng, tapi tidak sampai membuatnya terjatuh. Milly cuma menyenggol gelas di meja tanpa sengaja hingga tumpah dan cairan minuman itu mengotori kemeja putih seorang pria yang memang berada pada di meja tersebut.

Spontan Milly menganga, terlalu terkejut. Dari aromanya serta warnanya, Milly sadar bahwa itu adalah cairan kopi. Menengadah, ia lalu menatap pria itu yang rupanya berdiri langsung dari kursi.

“Sialan kau! Apa kau tahu berapa harga kemeja ini?!” marah pria itu, menjadikan MIlly pusat perhatian seketika.

Milly menatap tidak nyaman pada sekitarnya, sebelum menatap penuh sesal pada pria tinggi dan bertubuh kekar di depannya. “Maafkan saya. Saya tidak sengaja dan jika anda tidak keberatan, saya bisa mencuci atau mengganti—”

“Gajimu bahkan takkan cukup membayarnya!” sela pria itu dengan nada tinggi. Matanya menatap tajam. Satu kaki pria itu maju selangkah. Lalu dengan senyum sinis ia melanjutkan.

“Dan jika kau mencucinya pun, aku tak sudi. Tapi kau tenang saja, aku tak akan mempermasalahkannya lagi atau membuatmu harus dipecat oleh bosmu, jika kau mau menemaniku satu malam.”

“Apa?”

Mata tajam pria itu seketika berubah menjadi kerlingan nakal. Menelusuri tubuh Milly dari bawah ke atas, seolah menelanjanginya.

“Milly Kincaid,” ucap pria itu membaca name tag yang terpasang di seragam kerja Milly dengan warna utama merah dan hitam.

“Bagaimana? Apa kau bersedia?” tanyanya.

Tapi mulut Milly tidak mengeluarkan suara satu pun. Hingga dengan lancang telunjuk dan jempol pria itu menyentuh dagu Milly, membuat Milly tersentak dengan kepala terangkat.

“Oh, ayolah. Aku sudah berbaik hati padamu. Itu akan terasa adil untuk kau dan aku. Hanya satu malam. Bersenang-senang denganku, lalu—”

Ucapan pria itu terputus karena tiba-tiba Axton muncul dan mendaratkan bogeman maut pada wajah pria itu hingga terjengkang ke lantai. Membuat suasana ramai seketika berubah menjadi teriakan histeris. Beberapa pengunjung lainnya tercengang karena kaget, termasuk Milly.

Sementara Michelle yang melihat itu sontak membulatkan mulut yang berlanjut menutupnya dengan kedua tangan.

“Kau pikir aku tidak melihatnya? Kau sengaja memanjangkan kakimu untuk membuatnya tersandung.”

Pria itu lantas tertawa remeh merespon ucapan sengit Axton.

Ketegangan seketika melingkupi sekitar saat Axton meraih brutal kemeja pria itu, memaksa agar berdiri. Rahang Axton mengeras, geram.

“Jika kau berani sekali lagi menyentuhnya sejengkal saja, aku akan mematahkan lehermu!” tukasnya memberi peringatan keras.

Pria itu balas menatap nyalang Axton seolah tidak terima.

“Lalu kenapa jika aku melakukannya? Memangnya kau siapa?!” serunya menantang di depan muka Axton.

Mata Axton tampak berapi-api. Napasnya naik turun emosi. Detik itu juga, Axton kembali menonjok wajah pria itu hingga pria itu terjerempab ke lantai lagi. Walau suhu tubuhnya panas, tapi ia masih bisa bertahan sedikit lagi untuk memberi pelajaran pada pria brengsek itu.

Tidak tanggung-tanggung Axton sekarang duduk di atas tubuh pria itu, menghajar membabi-buta wajah pria itu hingga babak belur. Menciptakan kericuhan di tempat itu.

Bahkan lagi-lagi jeritan histeris yang memekakan dari para pengunjung terdengar disertai derap langkah heboh. Karena beberapa di antara mereka mulai berhamburan keluar, membuat situasi menjadi tak terkendali.

Sementara Michelle kini memejamkan kedua matanya, tapi karena terlanjur penasaran tentang apa yang terjadi, ia pun mulai membuka sebelah matanya untuk mengintip. Terlebih ia mendengar seruan Milly.

“Aro!!”

Milly tampak panik. Pasalnya kondisi pria itu sudah tidak berdaya tapi Axton terus memukuli wajahnya bertubi-tubi. Bukan hanya itu, suasana di sekitar menjadi kacau dalam hitungan detik. Para pengunjung menjadi ketakutan karena ulah Axton yang seperti akan membunuh pria itu.

“Aro, hentikan!!” lagi Milly mengulang lebih keras lagi. Ia bahkan menarik lengan kemeja biru Axton kuat, berusaha memisahkan Axton dengan pria itu.

Refleks Axton berdiri serta melangkah mundur. Napas Axton menggebu-ngebu memandang pria itu terkapar lemah di lantai dengan wajah bonyok. Butiran-butiran keringat memenuhi sekitar dahi Axton.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan hah?!” semprot Milly pada Axton. Nadanya terdengar marah.

Axton lantas menoleh pada Milly. Sorot mata gadis memercikan kilat kecil. Akan tetapi Axton juga mendapati genangan air mata yang terkumpul di pelupuk mata gadis itu.

Axton menelan ludah kasar. Detik berikutnya, ia mengalihkan pandangannya ke arah Michelle. Gadis kecil itu menatapnya. Membuat satu tangan Axton yang kotor karena darah pria itu tanpa sadar mengepal.

Tiga detik kemudian, pandangan Axton tiba-tiba mengabur. Kepalanya terasa berat. Lalu tanpa persiapan apa-apa, ia tumbang begitu saja ke arah Milly. Seketika Milly terkejut. Gadis itu dengan sigap menangkap walau tubuh mungilnya harus sedikit bergeser.

Kepala Axton terkulai di bahu Milly. Kesadarannya mulai menipis. Tapi di sisa kesadaran terakhirnya, Axton sempat mendengar sayup-sayup seruan Michelle.

“Daddy!”

Setelah itu Axton tidak lagi bisa melihat apa-apa. Semua menjadi gelap. Tapi setidaknya Axton bisa merasa lega. Karena apa yang barusan ia lakukan nyatanya tidak membuat Michelle menjadi takut padanya. Justru sebaliknya, gadis itu memanggilnya ‘Daddy’.

Sementara Milly menjadi tertegun dengan tangan yang berada di pinggang Axton, sedang tangan lainnya berada di leher lelaki itu. Kecemasan pun langsung terpatri di wajahnya. Bukan karena teriakan Michelle, melainkan karena suhu tubuh Axton yang tidak normal.

Panas. Badan lelaki itu sangat panas.

Axton terkena demam dan ia sangat bodoh karena tidak menyadarinya.

***

Bersambung