Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 54

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 54- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 53

Sebuah Hasutan Halus

Di tempat lain, Michelle mengeluarkan ponsel dari kantong kecil di ransel ungunya. Ia sudah berpikir cukup lama sebelum mengambil keputusan ini. Keputusan untuk menghubungi Axton.

Bahkan ia terpaksa mengambil ponsel ini di laci kamar Rachel secara diam-diam. Ia tahu, tidak seharusnya ia melakukan hal itu. Tapi jika ia meminta ijin, semua akan sia-sia. Ponsel itu takkan pernah bisa ia bawa. Sebab kelonggaran memegang benda pipih itu hanya berlaku di rumah saja, tidak dengan di sekolah.

Kedua orang dewasa itu kompak mendidiknya demikian. Semata-mata tidak ingin kegiatan belajar di sekolah terganggu.

“Sudahlah kau tidak perlu memaksakan memiliki Ayah jika nyatanya kau memang tak punya,” hina Sarah sambil mengibaskan tangan sekilas ke udara dan didukung senyum sinis oleh kedua temannya.

Kata-kata Sarah itu menohok Michelle, membuat Michelle menjadi sangat geram. Apalagi saat ia melihat Sarah menjulurkan lidahnya yang serempak diikuti oleh kedua temannya.

“Kau harus sadar bahwa kau takkan pernah punya Ayah, Michelle,” ulang Sarah mengoloknya lagi.

“Aku akan membuktikannya pada kalian bahwa aku punya Ayah dan ia bukan sopirku!” teriak Michelle emosi pada Sarah dan kedua temannya yang berdiri di sebelahnya. Napas Michelle naik-turun tidak terkendali.

Sesaat Sarah dan kedua temannya terdiam. Saling lirik sebelum kemudian kompak tertawa keras, seolah ucapan Michelle adalah sebuah bualan semata.

Michelle berusaha meredam semua kekesalannya dan fokus menempelkan ponsel ke telinga, menunggu panggilannya terhubung dengan Axton.

Di sekeliling mereka, banyak anak mulai menyebar hingga suasana menjadi cukup padat. Beberapa ada di bawah dan di atas usia mereka. Sebagian berjalan santai, sebagian lagi berlarian saking senangnya karena waktu belajar telah berakhir hari ini.

Tidak butuh waktu lama, Michelle segera menyapa ceria begitu Axton mengangkatnya, “Daddy…”

Melihat itu, tawa Sarah dan kedua temannya sontak sirna. Ketiga gadis kecil itu membisu dan mengerjap serempak.

“Daddy? Apa itu artinya kau sudah memaafkanku Princess?”

Michelle bisa mendengar kekehan Axton saat menanyakan hal itu padanya. Sekilas, Michelle melirik penuh kemenangan pada Sarah dan kedua temannya itu, sebelum bertanya pada Axton, alih-alih menjawab pertanyaan.

“Apa kau sibuk sekarang?”

“Ada apa? Apa sekarang kau mulai merindukanku, Princess, dan sangat ingin bertemu denganku?”

Michelle spontan tersenyum karena menangkap nada jenaka bercampur godaan yang terselip dari suara Axton.

“Tidak. Aku hanya ingin memeluk Tuan Unicorn Daddy.”

“Sayang sekali, kami sepaket Princess. Jika kau ingin bertemu Tuan Unicorn, itu artinya kau juga merindukanku.”

“Kalau begitu, aku tidak punya pilihan. Aku akan menungumu menjemputku di sekolah Daddy.” Ucapan sarkas Michelle kenyataannya berbanding terbalik dengan ekspresi gembira di wajahnya.

“Baiklah. Kupastikan kau akan segera bertemu dengan kami Princess.”

Setelah itu sambungan terputus.

Michelle lalu menurunkan ponsel dari telinga, memandang sejenak layarnya. Obrolan singkatnya dengan Axton tergiang-ngiang di kepalanya, membuat ia tanpa sadar tertawa kecil. Sebelum menoleh pada Sarah dan kedua temannya yang tampak cengo.

“Kalian bisa lihat, sebentar lagi Ayahku akan menjemputku!” ujar Michelle, dagunya terangkat sombong pada Sarah dan kedua temannya yang kerap mengejeknya.

Seketika ekspresi bodoh Sarah dan kedua temannya lenyap. Mereka kompak mengerutkan kening curiga pada Michelle. Bahkan meneliti dari atas ke bawah. Lalu Sarah membuka suara, mencemooh.

“Benarkah? Atau jangan-jangan kau baru mengarang cerita saja.”

“Aku tidak mengarangnya! Kalian akan tahu bahwa Ayahku adalah Ayah terkeren sedunia! Ia sangat menyayangiku!” Michelle menyilangkan kedua tangan di dada dan tersenyum pongah. Naas, kalimatnya langsung disambut derai tawa Sarah dan kedua temannya.

“Kalian percaya padanya? Atau kalian juga berpikir sama denganku bahwa ia hanya sedang bermimpi,” ejek Sarah di sela tawanya, membuat gigi Michelle bergemelutuk, geram.

“Kalian hanya perlu menunggunya bodoh!” teriak Michelle kembali emosi. Mukanya merah padam.

***

Axton menutup pintu kamarnya. Ia sudah rapi dan siap menuju ke sekolah Michelle. Walau tubuhnya terasa lemas serta kondisi kesehatannya sedang memburuk sekarang, tapi tidak dengan suasana hatinya yang justru sangat baik hari ini. Bahkan senyumnya tidak pudar ketika ia melangkah menuju pintu luar rumah.

Tapi Thomas tiba-tiba muncul dan menghalangi jalannya. Senyum Axton seketika menghilang. Ia menatap Thomas yang tidak berniat bergeser sedikit pun, seolah memperingatinya dengan ekspresi yang terlihat khawatir.

“Tuan Ax anda tidak bisa kemana-mana untuk sekarang. Anda sedang sakit dan—”

“Aku perlu menjemput Putriku,” sela Axton sambil menggerakkan bola mata ke satu arah, perintah untuk Thomas agar bergeser ke samping.

Thomas membuka dan menutup mulutnya dalam waktu singkat. “Tapi Tuan Ax—”

Axton tetap keukeuh lewat tatapannya yang menghunus Thomas tepat di mata. Wajahnya minim emosi, tapi membuat Thomas merasakan aura lain hingga tidak berkutik. Terpaksa patuh menggerakkan tubuh ke samping.

Ketika jalan terbuka, Axton kembali meneruskan langkahnya. Hanya tiga detik, ia berhenti dan memutar tubuh menghadap Thomas yang juga balas menatapnya.

“Aku bisa menjaga diriku Thomas. Ini hanya demam biasa, bukan penyakit berbahaya. Jika aku membutuhkan bantuanmu, aku pasti akan menghubungimu segera.”

Detik berikutnya Axton sudah sampai di sisi pintu mobilnya. Ia membukanya, masuk ke dalam. Lalu mulai menyalakan mesin dan keluar dari pekarangan rumahnya.

***

“Sampai kapan pun kau takkan bisa mengalahkanku dalam segala-galanya, Michelle. Jadi berhentilah menganggap sopirmu adalah Ayahmu,” tawa Sarah sambil menatap kedua temannya yang turut tertawa. Tangannya mainkan ujung rambutnya.

Michelle yang tidak tahan lagi, spontan maju selangkah. Tangannya hendak menjambak Sarah tapi urung ketika tiba-tiba mobil hitam berhenti di depan mereka. Otomatis Michelle, Sarah dan kedua temannya serempak menatap ke arah yang sama, pada Axton yang keluar dan membanting pintu pelan mobil.

“Apa aku sudah membuatmu menunggu lama, Princess?” tanya Axton. Senyum lebar terpatri di wajahnya.

Sarah dan kedua temannya kini kompak menganga. Sebelum serentak menoleh pada Michelle. Michelle balas menatap mereka semua dengan senyum sombong.

“Itu Ayahku. Aku tahu ia sangat keren dan kalian tidak perlu memasang wajah bodoh seperti itu,” ujarnya sekaligus menghina balik. Setelahnya Michelle berlari menghampiri Axton sambil berseru riang.

“Daddy!”

***

Ketika mengemudi, Axton berusaha tampak biasa, meski kenyataannya ia sedang bertarung melawan demam di tubuh yang tidak kunjung turun. Mereka telah keluar dari area Oakwood School beberapa menit yang lalu.

“Kau tidak ingin menyetel lagu princess?” tanya Axton dengan kedua alis terangkat, merasa heran akan tingkah Michelle yang terasa berbeda dari sebelumnya.

Padahal biasanya saat berada di dalam mobilnya—entah mengantar atau menjemput—Michelle akan langsung mencari musik yang seru untuk mengiringi perjalanan mereka. Tapi tidak dengan sekarang.

Gadis kecil itu tidak melakukan apapun selain duduk sambil memeluk boneka unicorn yang masih terbungkus plastik transparan. Pandangannya tertuju pada jendela mobil, mengamati bangunan permukiman di sepanjang jalan yang dilewati mereka.

Tanpa menoleh pada Axton, Michelle berujar, “Dengar, aku belum sepenuhnya meaafkanmu pangeran tampan. Aku masih marah padamu karena kau membohongiku.” Sikap hangat Michelle seketika berubah seratus delapan puluh derajat menjadi dingin.

Sambil fokus menyetir, Axton bertanya. “Lalu apa yang harus kulakukan agar kau bisa sepenuhnya memaafkanku Princess?”

Michelle diam.

Axton kembali memancing dengan bersuara sambil menempatkan satu tangannya pada persneling. “Jadi tadi itu…”

“Aku hanya ingin pamer pada Sarah bahwa aku juga punya Ayah yang keren,” potong Michelle menjelaskan dengan nada merajuk.

Axton mengangguk singkat dengan bibir mengulum senyum. Ada semacam perasaan hangat yang menjalar di hatinya saat mendengar pengakuan polos Michelle.

“Kau mengakuiku sebagai Ayah?”

Michelle spontan menoleh pada Axton dengan wajah cemberut. Ia tidak lagi fokus pada pemandangan di luar jendela. “Kau tidak perlu besar kepala pangeran tampan,” balasnya.

“Baiklah, Princess.” Axton menghela napas kecewa yang terkesan dibuat-buat. Lalu ia melirik Michelle sambil tersenyum di sela menyetir. Senyuman yang tersimpan makna tersembunyi.

“Jadi Sarah, apa ia adalah temanmu?” Axton memasang raut penasaran. Ia sedang mencoba membangun komunikasi yang baik Michelle, seperti sedia kala.

Michelle menggeleng. “Ia adalah sainganku.”

Axton mengangguk singkat, lalu memberi usul tanpa diminta. Nada bicaranya kelewat santai tapi sarat akan hasutan halus.

“Sepertinya kau dan aku harus membuktikannya, Princess. Dengan kau membantuku merebut hati Mommymu, maka kau bisa memanggilku Daddy dan aku akan resmi menjadi Ayah keren untukmu.”

Tangan Axton memutar setir untuk berbelok, sementara ekor matanya memerhatikan wajah cemberut Michelle berangsur surut, digantikan senyum tertahan. Lagi, Axton mencoba memengaruhi dengan ucapannya.

“Dan kita akan bersatu mengalahkan Sarah.”

“Kau beruntung karena kau tampan,” kata Michelle sambil menatap Axton. Perlahan bibir Michelle menyunggingkan senyum lebar. Axton menyeringai.

“Jika aku tidak tampan, kau tidak akan menjadi gadis kecil yang cantik, Princess,” jawab Axton begitu percaya diri hingga memicu tawa renyah Michelle seketika.

Axton tersenyum tipis melihat putrinya kembali ceria. Itu cukup menjelaskan bahwa hubungan mereka sudah kembali seperti semula. Gadis kecil itu tidak lagi memusuhinya. Pelan, tangan Axton bergerak, mengelus pucuk kepala Michelle disertai gumaman.

“Kau sangat pintar karena mengambil bagian yang baik dari diriku, Princess.”

***

Bersambung