Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 53

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 53- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 52

Princess yang Mengusir Sang Pangeran

Axton memutar setir, mencari tempat parkir yang pas. Ia saat ini berada di sekolah Michelle yakni Oakwood School. Tanda itu kentara terpasang di sekitar, pada palang berbentuk kotak saat Axton masuk dan melewati pagar hijau tua yang berjejer.

Mata Axton mulai mengitari sekeliling dengan seksama. Hingga pilihannya jatuh saat melihat sebuah pohon tidak terlalu besar tapi sanggup menaungi mobilnya.

Lantas ia segera ke sana. Bersamaan dengan ia mematikan mesin, pada detik itu juga dua helai daun hijau gugur mengenai kaca depan mobilnya. Axton mengabaikannya, justru fokus memandang boneka unicorn di sebelah kursi kemudi. Namun tidak lama. Sebab ponselnya berdering.

Axton langsung mengeluarkan benda pipih di kantong celananya, mengangkatnya. Suara Thomas menjadi awal pembuka percakapan, terdengar memberi laporan yang diharapkan Axton.

“Tuan Ax, Nona Milly telah mengembalikan cincin pada pria itu. Nona Milly juga barusan membatalkan pernikahannya. Pria itu, ia terlihat patah hati sekarang.”

“Apa kau sudah mencabut alat penyadapnya?”

“Saya sudah melakukannya, Tuan Ax. Pria itu tidak curiga sama sekali. Maddie meletakkan alat itu di tempat yang tidak terlihat dalam mobilnya.”

“Kau yakin telah berhati-hati bukan?”

“Saya bisa menjaminnya. Bahkan saat saya sengaja menumpahkan kopi pada pria itu, ia tidak menyadari apa pun. Dan seperti dugaan anda, pria itu sangat mencintai kebersihan. Ia segera ke toilet setelah saya meminta maaf. Kesempatan itu saya gunakan untuk masuk ke dalam mobilnya menggunakan kunci cadangan dan melepaskan alat penyadap itu Tuan Ax.”

“Bagus. Kau dan Maddie melakukannya dengan sangat baik Thomas,” puji Axton sekaligus menutup pembicaraannya dengan Thomas.3

Axton memang telah merencanakanya dengan matang. Alat penyadap itu disisipkan oleh Maddie saat Simon lengah malam itu. Axton memang sengaja, supaya ia bisa mengakses seluruh pembicaraan Simon dengan Milly. Bahkan Axton baru selesai meeting dengan para karyawannya ketika mendengar Milly menentukan janji temu dengan Simon.

Dari awal, Axton sudah menebak bahwa secara naluri Milly akan mencari Simon dan membahas hal yang sangat ia inginkan terjadi. Untuk itu ia mengutus Thomas untuk memastikan sekaligus menyingkirkan alat penyadap itu segera.

Bersamaan dengan Axton menyimpan ponsel kantong celana, detik itu ia melihat beberapa anak kecil mulai berhamburan. Bibirnya mulai mengukir senyum tipis ketika menemukan Michelle di antara anak-anak itu.

Wajah gadis kecil itu terlihat lesu, kedua tangan mungilnya memegang tali ransel. Dua kali ia menendang sesuatu di sekitar. Mungkin kerikil, Axton tidak bisa mengetahuinya secara pasti.

“Kau harus membantuku Tuan Unicorn,” gumam Axton sambil menoleh sekilas pada boneka di sebelahnya.

***

Axton menutup pintu mobilnya. Pandangannya tertuju pada Michelle di kejauhan yang menyadari kemunculannya. Gadis itu segera berlari kecil ke arahnya.
Begitu tiba di hadapan Axton, Michelle langsung menggembungkan pipi dan memprotes, “Sudah kukatakan padamu untuk tidak menjemputku pangeran tampan!”

Setelah itu Michelle bersedekap di depan Axton disertai bibir yang mengerucut. Axton tidak merasa tersinggung. Apalagi suara merajuk Michelle terdengar manja di telinganya. Benar-benar membuat ia nyaris tertawa. Tapi Axton tetap mengontrol dirinya dengan membuka pintu mobilnya, memperlihatkan boneka unicorn duduk anteng di sebelah kursi kemudi.

“Aku ke sini karena aku mengantar Tuan Unicorn, Princess. Ia sangat ingin menemuimu. Bahkan terus menatapku, seperti… jika aku tidak menurutinya, ia akan menghabisiku.”

Michelle bergeming, memandang boneka itu. Memberengut, ia lalu menoleh pada Axton yang mengangkat sebelah alis.

“Aku tidak menyukainya. Jadi sebaiknya kau pergi sekarang pangeran tampan.”

“Kau yakin menolak Tuan Unicorn?”

Michelle sontak berkacak pinggang. Tatapannya memicing pada Axton. Ia kemudian memberi kecaman keras.

“Kalau kau tidak pergi sekarang, aku akan menyirammu dengan botol minumanku!”

“Kau benar-benar akan melakukannya padaku dan Tuan Unicorn?”

“Tentu saja. Kau pikir aku tidak berani?!” tantang Michelle sambil memelototi Axton.

Axton mengangguk singkat. Lalu membungkuk perlahan hanya untuk menolehkan kepalanya menatap boneka itu, yang sedari tadi setia di posisinya, di sebelah kursi kemudi. Michelle mengerjap-ngerjap memandang Axton dan boneka itu bergantian.

“Kau dengar keinginan Princess bukan?” ucap Axton pada boneka itu sebelum menegakkan tubuhnya kembali. Gantian menatap Michelle ulang.

“Tuan Unicorn mengatakan bahwa ia akan selalu menunggumu Princess. Jika kau berubah pikiran, kau bisa mencariku.” Michelle hanya membuang muka sombong, tak ingin memandang Axton.

Ketika Axton sudah berlalu menjalankan kendaraannya keluar dari Oakwood School, perlahan Michelle melirikkan matanya untuk melihat kepergian kendaraan Axton. Wajahnya cemberut. Ia masih dalam mode memusuhi Axton.

***

Sekarang Michelle sedang menunggu bus sekolah datang. Ia tidak peduli pada suara ramai anak-anak yang terdengar di sekelilingnya. Karena suasana hatinya sedang buruk. Dan hal itu semakin diperparah lagi dengan kemunculan Sarah dan dua temannya yang berdiri di dekatnya.

Mereka kompak tertawa mengejeknya.

“Sudah kukatakan bahwa Michelle hanya berbohong. Ia tidak pernah punya seorang Ayah.”

Ledekan Sarah itu sukses memancing emosi Michelle. Spontan Michelle menoleh lalu berteriak kesal. “Diam!”
Bukannya bungkam, Sarah dan dua temannya justru tergelak puas. Sarah menunjuk wajah Michelle, melanjutkan ejekannya.

“Lihat, pagi ini kau bahkan datang dengan bus sekolah. Cepat atau lambat kebohonganmu pasti akan terkuak bodoh.”

“Aku tidak bohong. Aku punya Ayah!”

“Oh ya? Lalu kemana Ayah kerenmu yang biasa menjemputmu?” ledek Sarah sambil menyilangkan kedua tangan di dada, tidak takut akan tatapan garang Michelle.

“Ia sedang sibuk!”

“Sibuk atau Ayah keren yang selama ini kau akui hanya sopir yang dibayar oleh Ibumu,” simpul Sarah yang kembali tertawa lebih keras bersama kedua temannya. Mengolok-olok Michelle dengan gelengan kompak seolah merasa iba.

“Dan sekarang Ibumu sudah tak sanggup membayarnya lagi. Michelle yang malang.”

Michelle mengepalkan kedua tangannya melihat semua itu. Seiring dengan munculnya bus sekolah, ia menghentakkan kaki kesal. Lalu berlari masuk dan mengambil duduk di kursi paling belakang dekat jendela.

Bersedekap sebal, menunggu bus jalan. Ia menulikan telinga dari gelak tawa Sarah dan kedua temannya. Juga mengabaikan pemandangan Sarah yang sekarang melambai pada kedua temannya karena dijemput oleh sang ayah menggunakan mobil merah yang keren.

Michelle bersumpah akan membuktikan pada mereka. Bahwa ia juga punya Ayah. Bahwa Ayahnya lebih keren dibanding Ayah Sarah.

***

Seminggu kemudian…

Thomas meletakkan nampan berisi segelas air mineral dan sebotol obat pada nakas di kamar Axton. Lalu memandang Axton yang berbaring di ranjang dengan posisi memunggunginya.

“Anda sudah bekerja keras selama ini, Tuan Ax. Saya tahu anda melakukannya untuk melupakan masalah Nona Milly dan putri anda, tapi semua itu bukan cara yang tepat. Kondisi tubuh anda justru menjadi mudah terserang sakit.”

Axton hanya mendengarkan Thomas di balik selimut tipis yang membungkus tubuhnya hingga sebatas bahu. Ia bersikeras melawan rasa mengigil yang membuat syaraf di seluruh tubuhnya tidak nyaman. Terlebih kepalanya turut terasa cenat-cenut sekarang. Kerongkongannya juga terasa sakit dan kering.

“Suka tidak suka, anda sekarang perlu meminum obat, Tuan Ax. Jika tidak… kondisi anda akan memburuk dan-”

“Sejak kapan kau bertingkah seperti perawat thomas,” gerutu Axton, tanpa mengubah posisinya.

“Tolong dengarkan saya kali ini Tuan Ax,” mohon Thomas yang berdiri di sisi ranjang Axton.

“Aku baik-baik saja Thomas,” bantah Axton.

Thomas menghela napas ringan. Ia tahu tidak ada perubahan yang menunjukkan bahwa Axton membaik sejak pagi tadi hingga siang ini.

“Itu adalah kondisi anda semalam, tidak dengan tadi pagi saat saya mendapati anda berkeringat dan tubuh anda panas. Anda sedang tidak dalam keadaan sehat sekarang, Tuan Ax.”

“Jangan memaksaku Thomas,” desis Axton masih bebal, lalu menghembuskan napas pelan.

“Tapi panas di tubuh anda bisa semakin tinggi, Tuan Ax. Anda benar-benar perlu menelan obat sekarang,” pinta Thomas lagi dengan nada cemas.

“Kau terlalu berlebihan Thomas. Lagi pula aku benci obat.”

“Tuan Ax-”

“Aku butuh istirahat. Sebaiknya kau tidak mengangguku Thomas,” potong Axton langsung. Lalu dalam satu kali sentak ia menarik selimut menutupi seluruh kepalanya.

Thomas sadar akan pengusiran kentara Axton. Hingga satu-satunya yang dilakukan Thomas adalah menghela napas lagi.

“Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa mencari saya Tuan Ax.”

***

Bersambung