Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 52

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 52- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 51

Ancaman Sialan Axton

Saat berada di dalam, Axton duduk di sofa dengan kaki terbuka. Kedua siku tangannya bertumpu pada kedua lutut, sementara kesepuluh jemarinya saling bertautan. Axton menatap Milly lekat.

Milly juga duduk di sofa berhadapan dengan Axton. Balas menatap lelaki itu dan mengabaikan aura dominan Axton serta aroma parfum maskulin lelaki itu yang menelusup di indera penciumannya. Sebuah meja persegi panjang berada di tengah mereka, menjadi pemisah jarak.

“Kebetulan kau ada di sini. Bibi sudah menceritakan padaku segalanya.”

Milly meletakkan amplop coklat ke atas meja.

“Ini adalah semua uang milikmu. Juga uang cicilan renovasi rumah. Aku baru menambahkan untuk bulan ini. Aku tahu jumlahnya masih kurang, tapi—”

“Kau akan menikah dengan Simon?” sela Axton dengan suara berat dan dalam.4

Milly terdiam beberapa detik sebelum membalas apatis. “Itu bukan urusanmu.”

“Pria itu bukan pria baik untukmu.”

“Jadi kau pria baik itu?” sindir Milly penuh ejekan.

Axton tersenyum tipis. “Setidaknya aku bukan pria pengkhianat.”

“Apa maksudmu?” Milly melotot pada Axton tidak suka. Ia tidak mengerti maksud ucapan lelaki itu. Terlebih ia muak melihat Axton yang hanya menjawab dengan seringai.

“Apa yang kau lakukan dengan Simon?” tuding Milly penuh tekanan lewat suaranya.

“Kau hanya perlu menunggu sebentar,” ujar Axton sambil menatap jam dinding di atas kepala Milly. Mengamati jarumnya yang berputar di tiap detiknya.

Milly mengernyit dan lekas berdiri. Axton dengan santai mengamati wajah geram Milly. Gadis itu bahkan mengepalkan satu tangan di sisi tubuh.

Tidak lama kemudian ponsel Milly berbunyi, menandakan ada notifikasi pesan masuk. Ia segera melirik benda pipih miliknya di sofa. Diambilnya dan dibukanya pesan itu. Milly ternganga menemukan video panas Simon dengan dua wanita tanpa busana.

Simon terlihat liar dan tampak menikmati bercumbu dengan dua wanita di atas ranjang dalam ruangan yang pencahayaannya remang-remang. Satu wanita memompa di atas tubuh Simon, sedang wanita lainnya berciuman penuh nafsu dengan Simon. Desahan dan erangan turut mengiringi aksi panas mereka. Durasi video itu tidak lama, hanya 60 detik.

“Ada apa? Kenapa wajahmu bereaksi sangat pucat?”

Axton sengaja bertanya tanpa beban. Ia tahu video yang dilihat Milly bahkan ia juga mendengar suara-suara dari video itu.

Spontan perhatian Milly tertuju pada Axton. Ia memicing kesal sambil menunjukkan layar ponsel yang berisikan video vulgar itu di depan Axton dan hanya ditatap Axton tanpa minat.

“Ini ulahmu bukan? Kau menjebak Simon?”

“Jika ia pria setia, ia tidak seharusnya mengecewakanmu,” ucap Axton tanpa rasa bersalah. Lalu dengan lambat ia berdiri, membuat Milly harus mengangkat kepala jika beradu pandang dengannya.

“Kau benar-benar bajingan!” maki Milly pelan agar tidak didengar oleh Rachel yang sedang mandi di lantai atas. Ia lalu melewati Axton dan membuka pintu lebar-lebar, tanda pengusiran nyata.

Axton terdiam sesaat mendengar umpatan Milly. Ia kemudian menoleh pada Milly yang berdiri di ambang pintu dengan wajah tanpa dosa.

“Apa kau marah padaku ketika tahu kekasihmu berselingkuh?”

Nada bicara Axton terdengar enteng ketika menanyakan hal itu, membuat Milly semakin yakin bahwa semua ini hanyalah rencana sialan dari lelaki itu.

“Kau sebaiknya keluar sekarang Aro dan bawa amplop coklat itu bersamamu.”

Axton melirikkan matanya pada amplop coklat itu, lalu menatap Milly ulang tepat di mata. “Aku tidak membutuhkannya. Kau bisa menyimpannya.”

Setelahnya Axton berjalan ke pintu keluar dan berhenti di dekat Milly. Ia berbalik menghadap gadis itu. Milly menatapnya nyalang. Tapi Axton membalasnya dengan senyum miring sambil mengunci manik mata penuh permusuhan itu.

“Di dunia ini, satu-satunya pria yang akan menikahimu hanya aku. Tidak bisa dengan yang lain.”

“Aku akan tetap menikah dengannya!” tandas Milly mantap tanpa keraguan.

Hening beberapa detik.

Axton lantas membasahi bibir bagian bawahnya dengan lidah lalu dengan gerakan cepat, ia membuat Milly terlonjak karena satu telapak tangannya tiba-tiba berada di sisi kepala gadis itu, menempel di pintu.

Refleks Milly memundurkan sedikit tubuhnya demi melonggarkan jarak di antara mereka. Meski tetap saja tidak memengaruhi apapun. Karena jarak di antara mereka masih terbilang dekat.

Axton menatap lurus bola Milly yang memancarkan perlawanan padanya.

“Simon Goot, ia adalah seorang pengusaha roti terkenal di Los Angeles. Bagaimana jadinya jika berita panas ini sampai diketahui oleh publik? Maksudku, berita bahwa ia ingin menikahimu tapi justru bersenang-senang dengan wanita di Clubku.”

“Apa sekarang kau mengancamku?” desis Milly tajam, tapi Axton dapat menangkap sedikit nada gugup dalam suara gadis itu.

Itu membuat Axton menyeringai samar. Lalu dengan sengaja, ia meletakkan satu tangannya yang lain di sisi kepala Milly dengan gerakan pelan. Membuat Milly memerhatikan sekilas sambil menelan ludah. Selama beberapa detik Milly tidak berkutik saat Axton mengunci pergerakannya dalam kungkungan.

Dengan nada rendah yang sarat akan nada menggoda, Axton kemudian berujar, “Tidak. Aku hanya sedang memberikanmu pilihan. Kau tidak seharusnya menikahi pria yang tidak tepat, My baby girl.”

Muka Milly spontan memerah, bahkan ia kini merasa oksigen di sekitarnya seperti menguap. Hingga di detik berikutnya ia langsung mendorong kasar Axton sambil mengumpat, “Fuck you!”

Setelahnya pintu berdebam keras.

Axton telah berada di luar teras dengan bibir yang perlahan menyunggingkan seringai. Satu tangannya kemudian menyelip di saku celana. Ia tahu bahwa Milly akan melakukannya.
Gadis itu… akan segera mengakhiri hubungannya dengan Simon.

***

Siang harinya, Milly duduk di sebuah Kafe menanti kedatangan Simon. Ia tadi sudah menghubungi Simon untuk bertemu di sini yang langsung disetujui oleh lelaki itu.

Ancaman Axton berhasil membuat ia terus memikirkannya. Ia seharusnya tidak terpancing, tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa di lubuk hatinya, ia merasa cemas karena jika Axton benar-benar melakukannya, karier Simon akan hancur karena scandal tersebut.

Ketika sebuah lonceng di Kafe itu berbunyi pertanda ada pengunjung, Milly yang tadi menyesap secangkir coffee, langsung mendongak.

Simon, lelaki itu telah tiba. Kemeja hitam slim berlengan panjang yang digulung dengan dua kancing atas terbuka. Jam rolex melingkari tangannya. Rambut lelaki itu agak basah. Simon terlihat terburu-buru menghampirinya, mengambil kursi di depannya kemudian.

“Maaf, jika aku membuatmu menunggu. Tadi, Ibuku memintaku untuk diantar ke supermarket,” ujar Simon dengan mimik bersalah. Ia terpaksa harus berbohong dengan Milly.

“Tidak apa. Aku juga belum lama.” Milly memamerkan senyum kaku.

“Jadi kau ingin bicara apa?” Simon meraih cangkir kopi yang telah dipesankan Milly sebelumnya, mencicipi seteguk.

“Simon… kurasa… aku tidak bisa menikah denganmu,” tutur Milly pelan. Lalu perlahan melepaskan cincin di jemarinya, meletakkan ke meja dan menggesernya ke arah Simon.

Simon menatap Milly bingung bercampur panik. “Apa maksudmu? Kau tahu bahwa aku—”

Ucapan Simon tersendat. Wajahnya pucat waktu melihat video yang disodorkan Milly di depan wajahnya. Ia lekas menaruh cangkir berganti meraih ponsel Milly cepat dan menelan ludah menyaksikan seberapa gila dirinya.

“Itu kau bukan?”

Simon langsung menengadah, memandang Milly dengan memohon bercampur penuh rasa sesal. Milly spontan memejam, menunduk dan menghembuskan napas sepelan mungkin.

“Aku bisa menjelaskannya. Kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama,” bujuk Simon.

Milly bergeming dengan kepala tertunduk. Ia melihat Simon meletakkan ponsel itu ke meja, sebelum gegabah meraih kedua tangannya, mengenggam seakan ingin menyakinkan dirinya agar mengubah keputusan.

“Ini… ini memang aku. Tapi… aku bersumpah, aku benar-benar tidak sadar. Aku… aku sepertinya dijebak. Malam itu, aku hanya datang ke acara pesta temanku. Ia mengundangku karena berhasil menyelesaikan proyeknya dengan salah satu klien. Lalu tiba-tiba… setelah aku minum, tubuhku terasa aneh. Rasanya sakit dan panas. Kepala juga merasa pusing.”

Milly mendongak usai mendengar penjelasan panjang Simon. Ia tersenyum lemah dan menggeleng. “Maafkan aku Simon,” bisiknya.

Detik berikutnya, Milly menjauhkan tangannya lalu beranjak dari kursi. Simon terpaku beberapa saat, sebelum ikut berdiri kemudian, mengambil cincin di meja. Rasa panik kian besar tampak di wajahnya.

“Milly… kumohon…”

Tapi Milly telah berlalu melewatinya. Ia amat menyesal karena harus melakukan ini pada Simon, seolah ia tidak tahu tentang apa pun di balik video itu. Langkah kakinya berderap cepat, menghalau seruan Simon yang memanggilnya, juga mengejarnya.

“Milly!”

Tepat di pintu keluar, langkah Milly tertahan karena Simon mencegatnya, menangkap pergelangan tangannya.

“Hanya berikan aku satu kesempatan. Aku janji takkan mengulanginya. Kau bisa bukan?” pinta Simon putus asa.

Beberapa orang mulai memerhatikan mereka. Milly tidak menatap Simon di sampingnya. Ia juga tidak berusaha menghempaskan cekalan lelaki itu. Justru ia menarik napas panjang. Bukan karena terluka, hanya karena ia merasa tidak bisa melakukan apa pun lagi selain berucap.

“Aku rasa ini memang yang terbaik untuk kita Simon. Tolong, jangan memaksaku.”

Detik itu Simon melepaskan cekalannya perlahan. Kesempatan itu digunakan Milly untuk meneruskan langkahnya. Sekilas juga Milly melirik nanar ke arah Simon ketika telah keluar dari Kafe. Dari pintu kaca, tampak wajah lelaki itu begitu frustrasi.

Setelahnya Milly meninggalkan lelaki itu tanpa menoleh lagi.

Tanpa keduanya tahu, Thomas telah berada lebih awal di Kafe itu dan duduk di pojok ruangan yang jauh dari keramaian. Bersembunyi di balik koran yang digunakan untuk menjalankan penyamaran. Sesekali mengintip demi bisa mengamati interaksi Simon dan Milly.

Tentu, keberadaan Thomas di tempat ini sekedar memata-matai sesuai perintah Axton.

***

Bersambung