Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 51

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 51- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 50

Tuan Unicorn

Malam harinya, Axton berdiri di balkon kamar. Ia menyesap segelas wine di tangannya, sementara satu tangannya menempelkan ponsel ke telinga, menunggu panggilannya diangkat oleh Thomas. Begitu tersambung, suara Thomas langsung menyapa pendengarannya. Lantunan musik yang menghentak turut terdengar di seberang.

“Saya sudah menemui Maddie, Tuan Ax. Seperti yang anda minta, ia akan mempersiapkan segalanya dengan baik. Besok malam, ia akan melaksanakannya.”

“Kerja bagus.”

“Tapi Tuan Ax, mengapa anda melakukan semua ini? Maksud saya, saya tidak pernah melihat pria itu dan pria itu juga bukan…”

“Simon Goot, pria itu telah mengusik apa yang menjadi milikku Thomas.”

“Jadi ini berkaitan dengan Nona Milly?”

“Pria itu telah melamarnya,” ujar Axton dingin.

“Saya mengerti perasaan anda Tuan Ax. Hanya saja, apa ini tidak akan melukai perasaan Nona Milly? Karena anda menjebak calon suaminya seperti ini.”

Axton bisa mendengar nada kebimbangan dalam suara Thomas. Dengan enteng, ia membalas seakan hal yang dilakukannya adalah sesuatu yang normal. Ekspresinya juga tetap tenang. Meski hatinya cukup panas ketika mengingat kata ‘calon suami’ yang disebutkan Thomas tadi.

“Aku hanya mengetes calon suaminya saja. Jika ia pria sejati, ia takkan tergoda dengan wanita lain.”

Axton kemudian menyunggingkan senyum miring. Segera ia menandaskan wine di gelasnya, dan diantara cairan berakohol itu turun di kerongkongannya, Axton mendengar kekehan kikuk Thomas.

“Anda jelas tahu bahwa Simon Goot bisa melakukan hal tanpa sadar jika berada dalam pengaruh cairan alkohol yang tinggi, Tuan Ax. Terlebih anda yang memerintahkan saya untuk memberikan obat khusus kepada Maddie untuk dicampurkan ke dalam minumannya.”

Usai mengosongkan isi gelas, kedua sudut bibir Axton melengkung membentuk seulas senyum kecil yang sarat akan makna terselubung.

“Itu memang yang aku inginkan terjadi Thomas. Lagi pula, mereka belum resmi menikah. Semua bisa saja batal bukan?”

***

Keesokan paginya, Michelle telah rapi dengan kemeja putih yang dilapisi cardigan biru senada dengan rok polosnya. Rambutnya bergelombang dan dihiasi bando berenda putih. Kaos kaki putih menutupi ujung kakinya hingga betis. Tas ungu tersampir di belakang punggungnya. Gantungan kunci di tasnya turut bergoyang ke kanan dan kiri ketika ia buru-buru menuruni tangga.

Di belakangnya, Rachel mengikuti tapi tidak tergesa-gesa seperti Michelle.

Detik berikutnya mereka telah duduk di kursi meja makan, bersebelahan. Rachel menatap sumringah pada Michelle. Gadis kecil itu terlihat bangga memegang dan memerhatikan beberapa helai ujung rambutnya sebelum kemudian berbisik pada Rachel.

“Ini sangat bagus Grandma. Terima kasih.”

Rachel tertawa pelan. “Grandma yakin setelah ini kau akan menjadi gadis tercantik di kelasmu.”

Michelle mengangguk senang.

Sementara Milly yang meletakkan sepiring roti bakar kepada Michelle lantas menggeleng tidak suka mendapati tatanan rambut Michelle.

“Kau menyuruh Grandma melakukannya untukmu?”

Michelle memandang roti bakar di piring sambil mencebikkan bibir. Ia tahu sebentar lagi Milly akan mengomelinya dan benar saja, sekarang Milly memprotesnya sambil berkacak pinggang.

“Michelle, kau tahu jelas sekolah adalah tempatmu belajar dan bukan…”

“Milly, sudahlah,” sela Rachel berusaha menengahi.

Spontan Milly mengambil napas sejenak dan tidak jadi melanjutkan.

“Lagi pula apa masalahnya dengan menjadi gadis tercantik di kelas Mom? Aku hanya ingin mengalahkan Sarah,” ujar Michelle keras kepala yang sukses memicu keinginan Milly untuk meneruskan tegurannya kembali.

Rachel segera memohon lewat sorot mata pada Milly agar membiarkan Michelle untuk kali ini saja. Alhasil Milly menurut dan tidak merespon ucapan Michelle. Melainkan menghembuskan napas pelan untuk kedua kalinya.

Tiga detik kemudian, suara kursi bergeser terdengar. Milly sontak melotot menemukan Michelle sekarang berjalan meninggalkan meja makan dan memakai sepatu.

Rachel menatap belakang kepala Michelle dengan prihatin bercampur tidak enak. Karena dalam sekejap suasana menyenangkan di rumah ini berubah menjadi suasana peperangan tak kasat mata antara Milly dan Michelle.

“Kau mau kemana? Michelle, kembali ke tempat dudukmu sekarang. Mommy sudah cukup bersabar dengan sikapmu yang membohongi Mommy kemarin.”

Mendengar teguran Milly, Michelle membalikkan badannya. Kedua tangan mungilnya yang telah selesai berurusan dengan sepatu berganti meremas tali ransel. Wajahnya kusut menatap Milly.

“Aku mau pergi Mom,” balasnya cuek.

“Kau tidak bisa pergi ke sekolah dengan perut yang kosong, Michelle.”

“Tapi bus sekolah sebentar lagi datang Mom.”

“Jika kau tahu bahwa bus sekolah akan datang, tidak seharusnya kau membuang waktumu untuk hal yang tidak penting,” sindir Milly terang-terangan dengan mata masih melotot.

Tapi balasan Michelle selanjutnya membuat ekspresi Milly berubah dalam sekejap. Tercengang dengan kerongkongan yang terasa kering. Milly tidak tahu harus mengatakan apa begitu menemukan mata Michelle seperti sedang menahan tangis. Juga menangkap nada getar yang terselip dalam suara putrinya.

“Pangeran tampan biasa menjemputku lebih lama dari ini Mom. Tapi aku selalu tepat waktu tiba di sekolah. Aku juga bisa memakan sesuatu di sekolah.”

Hanya dua detik, Michelle telah hilang dari pandangan Milly. Gadis itu berlari dan cepat-cepat membuka pintu. Milly terperanjat begitu mendengar bantingan pintu setelahnya. Rachel yang melihat itu lantas menoleh pada Milly.

“Kau tahu bahwa suasana hatinya saat ini sedang tidak baik, Milly. Seharusnya kau bisa memakluminya dan membuatnya senang agar ia tidak lagi mengingat persoalan kemarin,” desah Rachel, merasa iba dengan Michelle.

Milly hanya memandang nanar pintu yang ditutup keras oleh Michelle. Menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa lalu berujar penuh sesal, “Kurasa, aku memang sedikit keras padanya.”

***

Axton bersandar di sisi kap mobilnya sambil menatap pintu rumah sederhana di depannya. Satu tangannya memegang boneka unicorn cukup besar dan terlindung oleh plastik transparan. Ketika pintu terbuka, Axton langsung menegakkan tubuhnya. Terlihat sosok Michelle keluar, berlari dan membuka pagar.

“Princess,” panggil Axton kemudian.

Spontan Michelle memutar tubuhnya ke sumber suara usai merapatkan pagar. Axton tersenyum tipis. “Hei.”

Bibir Michelle mengerucut, tatapannya seperti memusuhi Axton. “Kau datang lebih awal dari biasanya pangeran tampan.”

Axton tersenyum geli dan mendekati Michelle. Ia membawa serta boneka unicorn di tangannya. Kemudian perlahan berlutut dengan satu kaki terlipat demi menyesajajarkan wajahnya dengan Michelle. “Aku hanya tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Kau juga sangat cantik pagi ini dengan model rambut seperti itu, Princess.”

Pujian Axton tidak merubah ekspresi Michelle. Gadis kecil itu tetap cemberut memandangnya. Tapi Axton tidak menyerah untuk meluluhkan.

“Kau suka unicorn bukan?”

Michelle masih bergeming.

Axton kemudian menunjukkan boneka unicorn yang cukup besar itu pada Michelle.

“Hadiah permintaan maafku untukmu, Princess.”

Michelle hanya menatap lama boneka unicorn di depan wajahnya. Boneka favoritnya. Tangannya ingin mengambil boneka itu tapi ia terlalu malu untuk mengakui. Spontan ia segera membuang muka dan melipat kedua tangan di dada.

Axton menurunkan boneka itu dan mendapati Michelle memberikan lirikan tanpa minat padanya.

“Berhenti menjemputku pangeran tampan. Karena seterusnya aku akan naik bus sekolah.”

“Kau serius tidak ingin melihatku lagi?” pancing Axton, mencoba mengoyahkan kemarahan gadis kecil itu.

Tapi Michelle justru berjalan menjauhinya, berdiri di tepi jalan demi menanti kedatangan bus sekolah. Melihat itu, Axton berdiri dan mengulum senyum. Satu tangan Axton tenggelam di saku, sementara satu tangannya mendekap boneka itu di dada.

“Bukankah kau tidak suka berdesakkan dalam bus sekolah, Princess?”

Michelle mendongak angkuh tanpa memandang Axton. Kesepuluh jemarinya sekarang meremas tali ransel. Meski kenyataannya memang demikian, tapi Michelle tetap berpegang teguh pada prinsipnya yang enggan berbaikan dengan Axton.

Tingkah Michelle yang merajuk terlihat menggemaskan di mata Axton. Lagi, Axton mendekati gadis kecil itu, berdiri di sebelah Michelle di pinggir jalan.

Michelle melirik sekilas pada sepatu pantofel Axton sebelum membuang muka lagi.

“Apa kau tidak kasihan pada Tuan Unicorn, Princess?” goda Axton dengan nada bujukan. Matanya berpendar jenaka menatap Michelle.

“Ia datang jauh-jauh untuk menemuimu. Kau tidak ingin membawanya bersamamu?”

Tidak lama bus sekolah tiba, membuat Michelle mendongak pada Axton hanya untuk berucap pedas. “Jangan membuang waktumu pangeran tampan.” Lalu Michelle masuk ke bus, meninggalkan Axton.

Axton lantas menatap kepergian bus sekolah yang membawa Michelle.

“Kau benar-benar persis dengan Mommymu jika marah,” gumam Axton.

Ketika ia berbalik dan hendak menuju ke mobilnya, tapi matanya tidak sengaja mendapati Milly di ambang pintu. Menatapnya dengan canggung di kejauhan. Sebelum mengedikkan kepala sebagai isyarat menyuruh masuk ke dalam.

Axton spontan menurut sebelum Milly berubah pikiran. Bibirnya membentuk seulas seringai samar. Tapi sebelum itu, ia sempat meletakkan boneka unicorn di sebelah kursi kemudi.

***

bersambung