Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 50

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 50- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 49

Princess Yang Membenci Sang Pangeran Tampan

Milly menatap Simon yang berdiri di depannya. Lelaki itu tidak lagi memakai kacamata seperti dulu. Simon tampak menawan sekarang dengan kaos hitam yang dilapisi setelan jas senada. Rambut lelaki itu ditata rapi dengan pomade. Senyumnya terlihat sangat manis.

Tentu lelaki itu tidak tahu bahwa Milly dan Evelyn adalah orang yang sama, meski bentuk wajahnya berbeda.

Mungkin terkesan klise, pertemuan pertama mereka terjadi satu tahun lalu karena Simon adalah pelanggan tetap di Restoran tempat Milly bekerja. Milly tidak lagi bekerja di kedai kopi, sebab ia tahu dari Elena bahwa entah bagaimana kedai kopi itu sudah lama menjadi lahan bisnis Fernandez.

Lewat pertemuan satu tahun itu pula, hubungannya dengan Simon terjalin dan mengalir begitu saja sampai mencapai ke tahap sekarang. Terbilang cepat memang. Meski awalnya, Simon yang mendekatinya lebih dulu.

“Simon… maafkan aku. Seharusnya nanti malam aku mempertemukanmu dengan Michelle. Tapi sepertinya…” Jeda. Raut Milly tampak tidak enak bercampur menyesal.

Ia tadi mendapat telepon dari Michelle yang merengek hingga perbincangannya dengan Simon di luar Restoran terintrupsi. Bahkan Simon berubah haluan menjadi menawarkan tumpangan supaya Michelle tidak perlu menunggu lama dan disetujui Milly tanpa banyak pikir.

“Tidak apa. Aku bisa bertemu dengannya di lain waktu,” potong Simon seolah paham. Lelaki itu kemudian melirik jemari manis Milly yang tersemat cincin pemberiannya.

“Lagi pula, aku sudah senang karena kau mau menerimaku.”

Milly refleks turut melarikan pandangannya pada cincin di jemarinya. Ia mengusap cincin itu dan beberapa detik merenung sebelum menatap Simon.

Seketika Simon terkejut saat Milly mengecup sekilas pipinya. Lelaki itu menjadi mematung selama beberapa saat. Satu hal yang tidak berubah dari Simon, lelaki itu akan menjadi salah tingkah jika mendapat perlakuan manis seperti tadi.

“Kalau begitu, masuklah ke mobilmu.”

“Y-ya…” balas Simon agak gugup.

Ia memegang tengkuknya dan menatap Milly dengan senyum lebar. Lelaki itu melangkah mundur perlahan sebelum balik badan. Hatinya serasa berbunga-bunga. Hingga tidak lama kemudian, Simon membalikkan badannya lagi dan menatap Milly ulang.

Milly belum beranjak dari posisinya bahkan pagar belum dibukanya. Ia memamerkan senyum kecil pada Simon. Sejujurnya, ciuman tadi hanya cara Milly membuat suasana hati Simon menjadi lebih baik. Ia ingin menghilangkan rasa kecewa yang mungkin dirasakan Simon karena acara mereka batal malam ini.

“Aku hanya ingin bilang, walau aku belum bertemu dengan Michelle, dan hanya melihat fotonya dari ponselmu, aku sudah jatuh hati dengan senyumnya. Ia memiliki senyuman yang indah sepertimu.”

Milly tertawa pelan. “Terima kasih Simon.”

“Aku pasti akan menyayanginya.”

Milly mengangguk sebagai respon.

Sedangkan Simon sekarang mengigit bibirnya sekilas. Lagi-lagi ia berkata pada Milly. Wajah berseri-seri seolah mendapat undian berhadiah.

“Dan walau kau tidak mengijinkanku menjenguknya sekarang, kuharap Michelle, ia segera membaik dari rasa pusingnya.”

Mulut Milly spontan terbuka sedikit. Segera ia berbicara demi mencegah pikiran buruk Simon.

“Simon, bukan begitu. Aku hanya tidak ingin ia menyusahkanmu. Kau tahu, ketika ia sakit; apapun itu, ia bisa saja membuatmu kesal.”

Kini giliran Simon yang mengangguk. Senyum lebar lelaki itu belum memudar. “Aku mengerti. Sampaikan salamku untuk Michelle.”

Detik berikutnya, Simon melambaikan tangan sekilas pada Milly sebelum masuk ke mobil.

Milly kemudian menatap kepergian kendaraan lelaki itu sampai benar-benar menghilang. Setelah itu, ia mendesah panjang sambil mendorong pagar untuk masuk.

***

Rachel bergegas membuka pintu ketika Milly mengetuk. Sementara Axton tetap tenang duduk bersandar di sofa. Kotak beludru berwarna merah disimpannya di saku celana kembali.

“Michelle, di mana ia Bibi?” tanya Milly saat sudah berada di dalam.

Rachel yang selesai merapatkan pintu kini berbalik menatap Milly yang sedang melepas sepatu dan memunggunginya.

“Ia sedang ada di kamar Bibi. Dan… pria tadi.. siapa ia Milly?”

Usai meletakkan sepatu ke rak di sampingnya, Milly lantas membalikkan badannya menghadap Rachel. Menatap wajah wanita tua itu disertai senyum kecil.

“Simon Goot. Aku baru saja menerima lamarannya Bibi.”

Ekspresi Rachel sontak terkejut.

“Ke-kenapa kau tidak menceritakan hal ini pada Bibi?”

“Aku baru saja memberitahumu Bibi. Lagi pula… pria itu sangat baik padaku. Aku sudah mengenalnya. Ia adalah teman sekelasku dulu,” jawab Milly yang belum sadar akan keberadaan Axton di ruang tengah.

Perlahan Axton beranjak dari sofa, menyelipkan satu tangannya di saku celana.

“Pria malang dengan taktik bodoh.”

Mendengar celetukan tiba-tiba yang bernada sinis itu, sontak kepala Milly berputar ke samping. Bola matanya membesar ketika menemukan Axton berdiri di dekat sofa. Axton menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, tapi terasa mengintimidasi.

Milly spontan mengepalkan satu tangannya.

Selama ini, ia berusaha keras untuk tidak pernah bertemu Axton. Bahkan setiap akan membayar cicilan renovasi rumah, uangnya selalu dititipkan Milly pada satpam di kantor Axton. Ia hanya tidak ingin melihat lelaki itu lagi. Karena… ia benci mengetahui pengaruh lelaki itu atas dirinya. Bahwa debaran jantungnya akan selalu bereaksi sama bila ia bersama Axton.

Seperti sekarang, ketika lelaki ini mulai mendekatinya dan berhenti tepat di depannya.

Milly perlahan mendongak dan mencoba menyembunyikan kegugupannya.

Ia kemudian berbicara ketus, “Apa yang kau lakukan di sini? Jika kau ingin membahas cicilan renovasi rumah, tidak di sini. Aku akan datang ke kantormu dan memberikannmu—

“Michelle memintaku untuk kemari. Ia menginginkan aku menjadi Ayahnya,” potong Axton sambil memenjarakan manik mata Milly sejenak. Sebelum menggulirkan bola matanya pada di jemari manis Milly yang tersemat cincin perak sederhana.

Sadar arah tatapan Axton, Milly refleks menyembunyikan jemarinya di balik punggung.

“Kau tahu, selama ini aku belum melepasmu sepenuhnya, Milly,” bisik Axton.

Milly berusaha mencerna seluruh perkataan Axton. Ketika otaknya berhasil menghubungkan segalanya dan menemukan jawaban itu, segera kepalanya menoleh pada Rachel yang berdiri di antara mereka.

Rachel terlihat tergagap mendapati sorot tudingan di mata Milly disertai kedua alis bertaut, pertanda tidak senang. Lantas Rachel berusaha menjelaskan, “Milly… Bibi…”

api batal saat mendengar suara Milly yang bernada sedikit kecewa. “Jadi selama ini, kau memang menyembunyikan sesuatu dariku Bibi?”

Tidak ada yang bisa dilakukan Rachel selain mendesah pasrah.

“Maafkan Bibi, Milly. Bibi hanya…”

Lagi-lagi Rachel batal berbicara karena Axton segera memotong, seolah membantu melindunginya dari cercaan Milly.

“Aku yang meminta tolong pada Bibi. Tapi setelah sekian lama, kau tetap saja keras kepala.” Suara Axton terdengar dalam dan serak ketika mengatakan hal itu, membuat Milly spontan menatapnya.

Selama beberapa saat mereka hanya saling tatap sebelum Milly lebih dulu memutuskan kontak mata dan mengalihkan pandangan ke arah lain.

“Kita sudah berakhir Aro.”

“Tidak bagiku dan Michelle. Tidak bisakah kau hentikan saja semua ini?”

Kembali Milly menatap tajam Axton. Ia hendak membantah, tapi Axton lebih dulu angkat bicara lugas dan membuat Milly seketika bungkam.

“Michelle, putriku. Ia menginginkanku menjadi Ayahnya sekarang.”

Selama sesaat hening. Hingga suara rapuh Rachel memecah, memanggil.

“Milly…”

Nada bicara Rachel terkesan membujuk dan Milly paham bahwa Rachel tengah memintanya mempertimbangkan ucapan Axton barusan.

Tapi tiba-tiba suara vas bunga yang terjatuh di lantai membuat ketiganya kompak menoleh. Michelle berdiri beberapa meter dari mereka semua. Gadis kecil itu terkejut memandang pecahan vas bunga yang berserakan di dekat kakinya, sebelum ia mendongak melihat ketiga orang dewasa di depannya.

“Apa itu benar?” tanya Michelle dengan ekspresi lugu.

“Princess…” Axton berusaha menyembunyikan nada ragu dalam suaranya. Ia mulai melangkah mendekati Michelle tapi harus berhenti karena isyarat tangan Michelle yang menyilang membentuk tanda X, kode larangan keras.

“Jangan mendekatiku pangeran tampan.”

“Dengarkan aku dulu, Princess.”

Jika Rachel memerhatikan Axton berusaha merayu Michelle dengan harap-harap cemas, Milly justru tanpa sadar mengulum senyum mendengar julukan Axton untuk Michelle, begitu pun sebaliknya.

Seketika Milly menjadi teringat pada boneka barbie yang ia dandani untuk bertemu pangeran tampan. Sebuah masa di mana ia pertama kali berjumpa dengan Axton, si anak lelaki menyebalkan baginya kala itu. Di detik berikutnya, Milly segera merutuki reaksi spontannya dalam hati, merasa sangat bodoh.

“Kau adalah Ayahku?” ulang Michelle dengan mata memerah, menahan tangis.

Axton mendesah melihat Michelle yang kini melangkah mundur menjauhinya secara lambat.

“Semua tidak seperti yang kau—”

Ucapan Axton tersendat ketika Michelle berteriak memotongnya. Gadis kecil itu terlihat marah padanya.

“Kau jahat pangeran tampan. Kau membohongiku!”

Kemudian Michelle segera menaiki tangga menuju kamarnya. Derap langkahnya begitu tergesa-gesa. Spontan pandangan Axton mengikuti ke mana arah kaki gadis kecil itu berlari sambil balas berteriak agar Michelle bisa mendengarnya.

“Princess, aku tidak pernah berbohong padamu! Bukankah kau ingin mendengarkan penjelasan mengapa aku meninggalkanmu?! Aku tidak pernah meninggalkanmu!”

Naas, hanya debaman pintu keras yang menjawab Axton. Hingga helaan napas pendek lolos dari bibir Axton. Sementara Rachel sempat terkesiap sedetik karena bantingan pintu itu. Berbeda dengan Milly yang justru dengan santai melewati Axton.

“Ia tidak menginginkanmu Aro.” Milly melirik Axton, terkesan mencemooh.

Axton lantas memandang punggung Milly dengan sorot tidak terbaca. Gadis itu menaiki tangga dan berjalan ke arah kamar Michelle yang pintunya tertutup.

“Aku minta maaf padamu, Nak. Tapi sepertinya, untuk sekarang kau sebaiknya pulang,” ujar Rachel ketika sudah berada di sebelah Axton. Intonasi suara Rachel begitu hati-hati, tidak ingin menyinggung Axton sama sekali.

***

Bersambung