Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 4

Pembunuhan

Axton duduk di sisi ranjang yang ditaburi mawar-mawar indah. Ia berada di sebuah hotel megah di Los Angeles. Sengaja wajahnya ia tutup menggunakan topeng silver. Ketika pintu terbuka, kepalanya langsung menoleh.

Clara Kincaid.

Wanita yang pernah dilihatnya bercumbu liar bersama Ayahnya. Lewat topengnya itu Axton mengamati penampilan wanita itu dari atas sampai bawah. Dress ketat yang sukses mempertontonkan keseluruhan lekuk tubuh. Juga hampir tidak bisa menutupi bokong.

“Kau suka honey?” Clara menggoda dengan suara merdunya.

Axton tidak menjawab hanya menyeringai.

Clara kemudian mendekatinya. Duduk di sebelahnya, memangku satu kakinya, menampakkan paha mulusnya. Axton sempat meliriknya sekilas tanpa minat.

Ia masih waras. Ia tidak suka dan tidak tertarik pada wanita berumur. Lagi pula saat ini ia sedang menyamar menjadi Otis Bardrolf.

Dan beruntung wanita itu tidak menyadarinya. Itu dikarenakan lampu yang sengaja dibiarkan remang-remang oleh Axton.

“Tunggu.” Clara mendekatkan wajahnya kepada Axton.

“Kau memakai topeng?”

Sebelum kecurigaan Clara muncul, Axton dengan cepat menarik wanita itu. “Oh,” Clara tertawa kemudian begitu berada di pangkuan Axton.

“Kau ingin menjadi sosok misterius untukku malam ini Otis?”

Lagi-lagi di dalam suasana remang-remang itu, sudut bibir Axton tertarik ke atas. Ia pura-pura memejam menikmati sentuhan Clara di pipinya, turun ke jambang tipisnya lalu lehernya.

“Malam ini ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu Otis. Seperti janjimu,” bisik Clara serak.

“Ini tentang kita.” Kedua lengan Clara kemudian merangkul mesra leher Axton.

Wanita ini…

Axton tidak tahan ingin membunuhnya segera. Namun ia perlu untuk berusaha tidak buru-buru melakukannya. Mengulur waktu sejenak tidak ada salahnya.

“Hei, Otis. Kenapa kau menjadi sangat pendiam sekarang hm?” Jemari Clara meremas rambut Axton.

Detik selanjutnya Clara tertawa lagi ketika ia merasakan tangan itu membuka resleting dressnya di belakang. Dengan sukarela, ia turun dari pangkuan itu, menjatuhkan dressnya.

“Kau suka?” godanya lagi.

Axton hanya diam lalu menengadahkan tangannya dan tanpa ragu Clara menyambutnya. Kali ini berada di pangkuan Axton. Mengangkang dan sengaja menyentuhkan miliknya pada Axton.

“Kau… ingin melakukan pemanasan sebelum membicarakan hal serius padaku,” bisik Clara nakal, memegang kedua pipi Axton.

Dengan pelan Axton mengangguk, mengikuti arah pembicaraan Clara.

“Kau memang pria nakal Otis.”

Nakal?

Axton memang berniat menjadi anak nakal untuk sesaat. Kenakalan ini adalah wujud dari sosok Otis Bardrolf yang ia contoh pada malam itu, tepatnya di suasana kegelapan malam kala ia menemukannya dengan wanita itu.

Dan itu semua terekam jelas di benak Axton.

Kaitan bra Clara terbuka karena jemari Axton. Ia sengaja mengusap punggung wanita itu yang kini menjatuhkan dahi di pundaknya. Sementara jemari Clara hendak membuka kancing kemeja Axton tapi dicegah Axton.

“Kau kenapa Otis?”

Clara menatap bola mata Axton dari balik topeng sambil mengigit bibir merasakan jamahan tangan Axton yang menelusuri pahanya. Spontan mata Clara terpejam saat Axton membuat gerakan memutar di sekitar pahanya.

Tiba-tiba jemari Axton telah berada di ujung dalaman Clara, membuat Clara peka dan lekas melucutinya. Lalu kembali duduk di antara atas paha Axton. Tapi kali ini ia membelakangi lelaki itu.

“Oh, Otis… aku tidak tahu kau bertindak aneh malam ini. Rasanya tidak adil…” Nafas Clara memburu ketika tangan Axton mengelus perutnya.
Sangat kasar.

Seperti ada bekas luka di sana. Itu membuat Axton mengernyit sejenak.
Axton memajukan dagunya, bertumpu pada bahu Clara.

“Apa kau sedang mengalami masalah Otis? Bersuaralah…”

Axton hanya meniupkan nafas hangat di leher wanita itu, membuat Clara merasa geli. Tertawa kemudian.

“Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi. Kita akan selesaikan ini secepatnya hm…” Clara lalu meraih tangan Otis.

Sejenak ia merasa aneh. Rasanya berbeda dari sebelumnya. Tapi ia menepis keganjalan itu dan menuntun menyentuh dadanya, lalu turun menelusuri inti dirinya.

“Kau bilang kau sangat suka bagian ini bukan?”

Clara sengaja mendesah menggoda Axton. Satu tangannya meremas rambut Axton. Matanya terpejam dan tubuhnya sengaja ia liuk-liukan dengan sensual.

“Kau sangat menjijikan.”

“Apa?” Clara terkejut mendengar suara asing itu. Satu hal yang ia tahu, lelaki yang bersamanya saat ini bukanlah Otis Bardrolf.

Sebelum sempat Clara berbalik tali telah melilit lehernya. Bola mata Clara keluar secara spontan. Tangannya pun memegang tali itu, ingin melepaskan. Mencoba berontak sekuat tenaga. “To..to…long.”

“Aku tidak dengar? Kau meminta tolong pada siapa hm?” desis Axton menyentak tali itu tanpa perasaan, membuat lingkaran itu makin ketat mencekik leher Clara. Makin menipiskan oksigen wanita itu.

“Ka…kau…”

Axton tersenyum miring waktu Clara dapat melihat wajahnya. Topengnya mendadak telah terlepas begitu saja. Itu karena tangan Clara tidak sengaja menyenggolnya akibat rontaan wanita itu.

“Senang bertemu denganmu, wanita jalang.”

Clara berusaha menggapai apapun untuk melukai Axton di nakas. Seperti yang diprediksi Axton, tas wanita itu pun tergelincir hingga isi di dalamnnya berserakan. Obat penenang tumpah dari sana, tapi Clara masih bersikeras melakukan perlawanan.

Tidak sadar benda yang diselipkan Thomas tadi-ketika menjemput-di dalam tasnya demi memenuhi rencana kematian wanita itu.

“Le… le…pas.”

“Kau ingin aku melepasmu?” Axton makin mencondongkan wajahnya di samping wajah Clara. Menoleh sekilas lalu melanjutkan, “Baiklah. Aku akan melepasmu.”

Setelah itu, dalam sekali sentak Axton mengencangkan belitan tali itu di leher Clara dua kali lipat dari sebelumnya hingga nafas Clara sukses kandas seketika. Rontaan berhenti dalam sekejap. Bola mata wanita itu tampak merangsek keluar. Mulutnya terbuka lebar. Dan Axton lekas berdiri, membiarkan tubuh Clara terkapar begitu saja di ranjang. Terlentang tanpa busana.

“Kau seharusnya berterima kasih padaku karena sekarang kau akhirnya bisa hidup bahagia bersama Otis Bardrolf, cinta sejatimu,” tukas Axton dingin, menatap jijik tubuh Clara.

Ia mengeluarkan sapu tangan dari kantong, lalu melap tangannya seakan habis memegang benda kotor. Kembali ia menatap wajah Clara yang telah menjadi mayat. Senyum miring tersungging di bibirnya.

“Dan kalian berdua… akan menyatu bersama di dalam tanah.”

Lalu detik berikutnya Axton telah keluar dari kamar itu. Sebab sisanya Thomas yang akan mengurus segalanya.

***

Bersambung…