Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 49

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 49- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 48

Simon Goot

Setelah selesai berbincang dengan Michelle, Axton kembali ke kursinya, menggeser dan duduk di samping Fernandez ulang. Bahkan tanpa permisi, ia merebut gelas sloki di tangan Fernandez. Padahal Fernandez baru saja ingin meminumnya.

“Sepertinya ia masih membenciku Andez.” Axton kemudian menenggak minuman di gelas sloki itu sekaligus. Mendesah kasar dan meletakkannya di meja.

Fernandez yang melihatnya juga balas mendesah kasar.

“Ia juga membenciku jika kau lupa. Dan ia cukup pandai menutupinya di depan Elena. Bahkan saat aku menemui Elena di apartemen, ia selalu menatap sinis padaku jika Elena tidak melihat. Hingga saat ini, tatapannya tetap sama padaku jika ia bertamu di rumah kami.”

Axton menoleh pada Fernandez. “Tapi kadar kebenciannya lebih parah denganku dibanding dirimu.”

“Lalu apa yang mau kau lakukan sekarang?”

“Melamar. Aku baru saja dapat restu dari Michelle.”

Kalimat Axton itu menuai seringai Fernandez. Axton turut menyeringai. Lalu sama-sama mereka kembali menenggak minuman yang telah diisi kembali oleh bartender.

“Menggelikan,” gumam Fernandez setelah menandaskan minumannya.

“Kau akan menikah untuk kedua kalinya dengan wanita yang sama.”

“Kuharap ia mau menerimaku kembali,” gumam Axton juga sambil menaruh gelas slokinya ke meja ulang.

***

“Jadi kau sudah siap bertemu Mommy?” Michelle membukakan pintu untuk Axton pagi itu. Kebetulan ini adalah hari minggu, jadi ia tidak ke sekolah.

Michelle menyambut Axton dengan senyum lebar. Rambut coklatnya tergerai indah dengan poni membingkai rapi di atas alis. Bola matanya persis dengan warna mata Milly. Sangat cantik dan menawan.

Axton spontan tersenyum hangat. Tangannya mengusap kepala Michelle sekilas sebelum masuk ke dalam.

“Sejujurnya aku sedikit gugup bertemu dengan Mommymu,” dusta Axton.

Tidak lama suara pintu ditutup oleh Michelle. Gadis kecil itu kemudian memutar badan dan menatap Axton antusias.

“Kau tenang saja, Mommy orang yang baik. Walau terkadang ia sering mengomeliku.”

Mendengar itu, Axton tertawa pelan. Michelle lalu menghampirinya, menarik tangan Axton dan mengajak berderap ke tengah ruangan di mana terdapat sofa yang digunakan untuk bersantai.

“Duduklah pangeran tampan,” ucap Michelle mempersilahkan.

Axton pun patuh dan mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu. “Sekarang di mana Mommymu?”

Michelle tertawa ketika Axton mengangkat tubuh mungilnya untuk duduk di pangkuan. Mereka kini saling berhadapan.

Michelle kemudian menatap Axton dengan mata berbinar bahagia. “Aku berbohong mengatakan bahwa aku pusing. Mommy selalu khawatir jika aku sakit dan sebentar lagi ia akan pulang,” beritahunya.

“Kau tahu, kau mengingatkanku dengan diriku dulu, Princess,” ujar Axton geli.

***

Sekarang Axton saling mengerutkan hidung dengan Michelle, berlanjut saling menggesekkan ujung hidung satu sama lain. Jika Michelle tertawa lagi untuk kesekian kalinya, Axton justru mengumbar senyum lebar. Tawa Michelle yang lepas terasa menyejukkan hati Axton yang kelam.

Seperti pelita yang menenerangi kegelapan, menariknya keluar dari kekosongan yang menyesakkan yang dirasakannya selama ini.

Tidak lama kemudian suara rapuh Rachel terdengar membuat Axton tersadar dan tidak lagi memerhatikan merdunya tawa Michelle, melainkan menoleh ke samping.

“Sepertinya kau sangat senang bertemu pangeran tampanmu Michelle.”

Rachel berdiri lumayan jauh dari Axton dan Michelle. Wanita tua itu lalu berjalan mendekat.
Tawa Michelle berhenti dan gadis kecil itu turun dari pangkuan Axton. Berlari menyambut Rachel. Memeluk kaki Rachel, mendongak dan berkata lugas,

“Tentu saja Grandma. Sebentar lagi pangeran tampan akan menjadi Ayah Michelle.”

Rachel spontan sedikit terkejut. Ia segera menatap Axton. Axton juga balas menatapnya sambil menyunggingkan senyum tipis.

“Kuharap kau merestuiku Bibi.”

“Aku pasti akan merestuimu, Nak,” balas Rachel hangat bercampur haru.

Michelle yang tidak memahami apa pun hanya memamerkan senyum bahagia, bola matanya berpendar semangat.
Detik berikutnya Rachel menunduk menatap Michelle dengan senyum lemah.

“Bisakah kau membantu Grandma? Kacamata Grandma tertinggal di kamar.”

Tentu itu hanya alasan Rachel agar Michelle memberi ruang untuknya dan Axton. Karena ada beberapa pembicaraan yang belum saatnya diketahui oleh Michelle. Apalagi Michelle masih begitu polos untuk mengerti masalah orang dewasa.

Sepeninggalan Michelle yang berlari menuju kamar yang berada di pojok ruangan, Rachel segera mengambil posisi duduk di sebelah Axton.

“Jadi kau ingin melamarnya?”

Axton merogoh saku celananya, membuka kotak beludru berwarna merah di mana terdapat cincin berkilau yang tersemat di sana. Cincin pernikahan yang sempat dipaksakannya untuk dikenakan Milly. Cincin yang pada akhirnya ditinggalkan gadis itu di atas nakas ketika pergi dari rumahnya beberapa tahun lalu.

Gadis itu membawa segalanya, hatinya juga putri kecilnya dan membuat hidupnya terasa hampa. Tapi sekarang, Axton akan membawa gadis itu kembali pulang.

“Kurasa ini waktu yang tepat Bibi. Kali ini aku akan melakukannya dengan benar,” gumam Axton sambil memandang cincin perak yang terlihat elegan itu.

Rachel menghela napas letih dengan pandangan tertuju ke depan, pada jam dinding yang berdetak di atas televisi.

“Aku sudah terlalu tua untuk berurusan dengan masalah seperti ini, Nak. Entah seperti apa reaksi Milly jika ia tahu kebenarannya. Bahwa selama ini cicilan yang ia berikan padamu terkait renovasi rumah ini, tidak pernah kau terima. Tapi kau justru memberikannya padaku. Membuatku harus berbohong padanya setiap bulan bahwa aku telah memenangkan permainan di casino.”

Axton menutup kotak beludru itu dalam sekali sentak. Kemudian menoleh pada Rachel dengan senyum kecil.

“Teruslah berbohong untukku Bibi. Lagi pula aku tidak membutuhkan uang itu dan aku tidak suka melihatnya bekerja terlalu keras.”

Rachel balas menatap Axton dengan raut lelah.

“Kau tahu Nak, ia selalu mengomeliku tapi aku berpura-pura bertingkah keras kepala seolah aku tidak bisa lepas dari permainan casino. Padahal kenyataannya aku tidak pernah ke tempat semacam itu.”

Axton tertawa rendah. “Sepertinya aku perlu mencarikan alasan lain untukmu berbohong Bibi.”

“Kau memang seharusnya melakukannya Nak. Ia sempat curiga padaku jika aku mendapat bantuan darimu. Beruntung, aku berhasil menyakinkannya.”

Rachel kemudian melirik was-was sekitar sebelum melanjutkan kata-katanya. Sementara Axton mendengarkannya dengan tenang dan sesekali tersenyum geli.

“Ia juga masih belum menyadari bahwa selama ini kau diam-diam mengirimkan dana untuk membiayai seluruh kebutuhan Michelle. Bahkan ia tidak tahu bahwa kau selalu mengantar dan menjemput Michelle di sekolah.”

“Terima kasih Bibi karena bersedia membantuku selama ini.”

Rachel spontan tersenyum lembut.

“Milly sangat menyayangi Michelle. Ia benar-benar menjadi Ibu yang baik dan tidak pernah sedikit pun aku menemukan raut sedih di wajahnya saat melahirkannya. Dan kau…” Jeda sejenak. Rachel lalu menepuk-nepuk lengan Axton sebelum meneruskan.

“Terlepas dari seluruh kesalahanmu di masa lalu, kau masih Ayah Michelle. Kau tidak salah begitu peduli padanya karena seperti itulah seharusnya seorang Ayah.”

***

Tidak lama kemudian, sebuah mobil merah berhenti di depan pagar rumah Rachel. Axton segera melarikan pandangannya ke jendela karena mendengar deru mesin mobil yang dimatikan.

Begitu pun dengan Rachel. Sementara Michelle masih berada di kamar Rachel sedang mencari kacamata yang sejujurnya tidak ada. Karena kacamata Rachel berada di atas kulkas dapur.

Di luar pagar terlihat sosok lelaki keluar dari mobil. Milly juga melakukan hal serupa. Axton memicingkan mata tidak suka ketika mengamati Milly sekarang berdiri berhadapan dengan lelaki itu.

Tentu, Axton tidak lupa wajah lelaki itu setelah sekian lama. Simon Goot. Lelaki culun yang dicemburuinya karena pernah sekelompok dengan Evelyn di senior high school. Bahkan di hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih.

Axton benar-benar kesal karena Evelyn kala itu membatalkan kencan yang telah direncanakannya dengan baik hanya karena ingin menyelesaikan tugas sialan bersama Simon.

Perbedaan usia mereka yang terpaut 4 tahun membuat Axton kala itu tidak lagi menjadi murid di senior high school sebab ia lebih dulu lulus dari Evelyn. Namun Axton tidak lupa tentang desas-desus sekolah dulu, bahwa Simon sudah menyukai Evelyn sejak di junior high school tapi tidak berani bertindak.

Lalu sekarang… bagaimana bisa ia bersama Milly?

“Sejak kapan ia bersama pria itu Bibi?” tanya Axton tanpa ekspresi.

“Aku tidak tahu Nak.”

***

Bersambung