Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 48

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 48- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 47

Pangeran Tampan

7 tahun kemudian…

Suara musik berdentum keras di sekeliling. Lampu yang menyerupai bola besar berputar, memancarkan cahaya warna-warni, makin menambah suasana hingar-bingar di Club itu. Axton mengambil kursi di sisi Fernandez.

Ia memandang Bartender di depannya dengan datar, dan sang Bartender langsung memberikan minuman biasa yang dikonsumsi Axton. Bahkan Axton tidak perlu membayar karena ini adalah Club miliknya.

“Jadi kau sudah bertemu dengannya?” Fernandez melirik Axton di tengah menenggak minumannya.

“Aku masih belum yakin.”

Fernandez mendengkus dan meletakkan gelas sloki ke meja yang langsung diisi oleh bartender dengan yang baru.

“Lalu untuk apa kau menyuruhku kemari.”

“Sengaja agar kau tidak terus berduaan dengan istrimu.”

Fernandez terkekeh kesal. “Keparat.”

Axton melirikkan mata padanya pada Fernandez, ujung bibirnya tertarik samar.

“Kau sepertinya bahagia dengan keluarga kecilmu. Terutama dengan Patricia.”

“Aku tidak tahu bahwa gadis berusia 5 tahun akan sebegitu menyusahkanku. Ia selalu ingin dimandikan olehku, merengek untuk ikut ke kantor, dan bagian menyebalkan dari segalanya adalah ia tidak pernah membiarkanku menghabiskan waktu bersama Elena. Entahlah. Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau tidak untuk itu.”

Axton tertawa rendah mendengar keluhan Fernandez. Ekspresi temannya itu juga terlihat kesal.

“Dan sekarang kau persis dengan Patricia,” sindir Fernandez sebelum meneguk minumannya dan menarik napas kasar. Matanya lalu fokus memerhatikan kegiatan bartender menyiapkan segelas minuman berakohol untuk pengunjung yang juga mengambil tempat duduk di sebelahnya.

“Omong-omong, apa kau yang menaruh bola bisbol usang di makam Kakakku?” tanya Fernandez tanpa menatap Axton.

Axton menyeringai sambil menatap cairan minuman berakohol di gelas slokinya.

“Trevor pernah menginginkannya tapi tidak pernah mengatakannya. Baginya, meminta adalah hal menjijikkan. Ia lebih suka melakukan hal sebaliknya, persis sepertimu.”

“Kau benar-benar pengamat yang buruk. Ia pasti akan marah padamu karena memberi benda terjelek seperti itu.”

Ucapan Fernandez berbanding terbalik dengan reaksi bibirnya yang justru menyunggingkan senyum simpul samar.

Axton memutar gelas sloki di meja seakan memainkannya sebelum menoleh pada Fernandez.

“Aku suka membuat Kakakmu marah. Itu menyenangkan. Lagi pula, ada satu pengakuan yang perlu kau tahu dariku, Andez.”

Fernandez balas menatap Axton dengan satu alis terangkat.

Wajah Axton datar tapi bibirnya menyunggingkan senyum miring.

“Karena hari ini aku merasa bahagia, jadi aku akan membagi kebahagiaan juga denganmu. Ini tentang pesta lajang yang kau buat karena kalah main catur denganku dan membuatmu akhirnya harus tidur di teras rumah karena kemarahan Elena.”

“Jangan katakan padaku bahwa kau mencurangiku saat itu?” tebak Fernandez curiga.

Axton mengedikkan bahu masa bodoh.

“Kau…” geram Fernandez.

Tapi Axton malah mengumbar senyum tipis, dan meminum seteguk cairan alkohol di dalam gelas slokinya. Kemudian ia berkata enteng pada Fernandez. Seolah itu bukan kesalahannya.

“Aku tahu kau tidak ingin dianggap pengecut olehku. Tapi aku tidak menuntut kau menjalankan tantangan dariku. Terlebih pesta lajang seharusnya dilakukan menjelang pernikahan bukan ketika pernikahan telah berjalan 6 tahun, Andez.”

Setelahnya Axton langsung menandaskan minumannya dengan cepat, membiarkan cairan berakohol itu menjalari kerongkongannya. Jakunnya bergerak naik turun.

Fernandez hanya mengumpat seolah menyalurkan kekesalannya.

“Brengsek, seharusnya aku benar-benar membunuhmu hari itu.”

Beberapa detik kemudian, ponsel Axton berdering bersamaan dengan tangan Axton yang meletakkan gelas sloki ke meja. Merogoh saku, Axton melihat layar ponselnya terdapat sebuah pesan masuk dari Rachel.

Segera Axton membacanya, bibirnya seketika mengukir senyum geli.
Pangeran tampan kau sudah tidur?

Tentu pesan itu dari Michelle, gadis kecil berusia 6 tahun yang mulai dekat dengannya. Michelle terlihat cerdas dan merupakan Putrinya. Tapi Axton belum sempat memberitahukan identitas dirinya yang sebenarnya.

Karena ketika pertama kali bertemu dengan Michelle, gadis kecil itu terlihat cuek bahkan terkesan sinis padanya. Namun berbeda dengan sekarang. Axton berhasil merebut hati gadis kecil itu. Meski awalnya, tentu saja tidak mudah.

Jemari Axton kemudian bergerak, mengetikkan balasan.
Belum. Ada yang ingin kau ceritakan padaku, Princess.

Tidak lama ponsel Axton berbunyi lagi, tapi kali merupakan panggilan masuk dari Rachel. Ia pun bangkit dari duduknya, berkata pada Fernandez dengan nada bangga.

“Michelle sudah makin akrab denganku.”

“Jadi itu yang membuatmu bahagia?” sinis Fernandez karena masih keki dengan pengakuan sialan Axton. Axton hanya membalas dengan seringai.

“Kuharap Michelle akan memusuhimu setelah ini,” ucap Fernandez tapi tidak sungguh-sungguh mengharapkan demikian. Ia cuma cuma melampiaskan sisa kejengkelan pada Axton.
Sementara Axton sudah berlalu dari Fernandez.

***

Axton berusaha mencari tempat yang pas untuk mengangkat panggilan. Ketika ia telah menjauh dari padatnya pengunjung, ia segera menerima panggilan itu. Suara musik masih terdengar berisik, tapi setidaknya tidak terlalu memekakkan sekarang.

Langsung suara khas anak kecil yang pertama menyapa telinga Axton, membuat Axton terkekeh rendah. Apalagi Michelle sedang berceloteh seolah menasehatinya.

“Kenapa kau belum tidur pangeran tampan? Kata Mom, tidur terlalu larut tidak baik bagi kesehatan.”

“Begitu? Lalu kenapa kau sendiri belum tidur, Princess?”

“Aku hanya kepikiran perkataan Mom.”

Axton mengernyit mendengar nada kebimbangan pada suara Michelle.

“Mommymu?”

“Ya, Mom tidak percaya pada bintang jatuh. Kata Mom, mengucapkan harapan pada bintang jatuh itu cuma mitos. Apa kau juga sependapat dengan Mom, pangeran tampan?”

Axton seketika terdiam. Kenangan memorinya dengan Evelyn di masa lalu berputar di benaknya. Dulu Evelyn pernah mengucapkan harapan pada bintang jatuh. Harapan tentang hubungan mereka yang akan bersama sampai selamanya.

Axton pun saat itu hanya mengikuti keinginan Evelyn yang menyuruhnya menutup mata saat melihat bintang jatuh pertama kalinya. Tapi Evelyn tidak pernah tahu yang dilakukan Axton ketika gadis itu memejamkan mata adalah kembali membuka mata dan memilih menghabiskan setiap detiknya hanya untuk memandang wajah gadis itu dari samping.

Axton tanpa sadar tersenyum miring. Sepertinya, gadis itu sekarang benar-benar ingin melupakan segala hal tentang mereka.

“Pangeran tampan, kau masih di sana?”

Suara Michelle spontan menyadarkan Axton ke realita. Ia segera menjawab, “Aku percaya sama sepertimu.”

“Benarkah? Jadi kau juga mengucapkan harapan pada bintang jatuh tadi?”

“Apa?”

“Jadi kau melewatkannya?”

Axton seketika terkekeh lagi mendengar suara Michelle yang agak heboh di seberang.

Dengan santai ia membalas, “Sepertinya aku memang melewatkannya. Tapi kurasa harapanku akan sama denganmu, Princess.”

“Benarkah? Kau juga mengharapkan aku bertemu dengan Ayahku?”

Axton kembali bungkam. Bahkan kini ia merasa tertohok ketika mendengar celotehan Michelle di ujung telepon.

“Aku hanya penasaran seperti apa wajah Ayahku. Aku juga ingin tahu alasan ia meninggalkanku dengan Mom. Kenapa ia melakukan semua itu padaku dan Mom? Seharusnya jika ia tidak mencintai Mom dari awal tidak seharusnya ia bersama Mom.”

“Jadi menurutmu Ayahmu itu tidak mencintai Mommymu?” tanya Axton yang berusaha menjaga intonasi suaranya agar tetap santai.

“Tentu saja. Jika ia mencintai Mom, ia tidak akan meninggalkan kami. Lagi pula, sekarang aku, Mom, dan Grandma sudah bahagia tanpanya. Mereka membesarkanku dengan baik. Aku tidak berharap Mom akan kembali dengan Ayahku lagi. Justru sebaliknya, aku berharap kau yang menjadi Ayahku, pangeran tampan.”

“Kalau begitu kau perlu mengatur waktuku dengan Mommymu untuk saling berkenalan,” balas Axton yang sekarang mengumbar senyum simpul.

Sudah sejak lama, ia memang berusaha membuat Michelle nyaman di dekatnya. Dengan begitu, ia mempunyai setitik harapan untuk bisa membuat Milly kembali bersamanya. Bahkan ucapan Michelle yang terakhir telah membuat Axton yakin, bahwa ia sudah saatnya bertemu gadis itu kembali.

Lagi pula Milly tidak akan menghancurkan kebahagiaan Michelle begitu saja. Milly pasti berusaha mengesampingkan apapun yang terjadi di antara mereka, dulunya.

“Kau serius?”

Suara Michelle terdengar ceria di seberang membuat Axton tersenyum ringan.

“Aku serius. Dari dulu aku memang suka melihat Mommymu. Hanya saja aku sedikit ragu mendekatinya.”

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak dulu, pangeran tampan? Jika tahu seperti itu, aku pasti sudah membantumu.”

***

Bersambung