Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 47

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 47- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 46

Ciuman Perpisahan

Malam harinya, Axton membuka kulkas di dapur, mengambil sekotak es krim. Sesaat ia memandang sekotak es krim rasa stoberi di tangannya.

Axton ingat dulu ia tidak menyukai es krim rasa ini, tapi sejak Evelyn memaksanya untuk mencoba, seiring waktu ia mulai terbiasa dan lama-kelamaan menyukainya.

Bahkan selama dua minggu ini, Axton selalu menyediakan sekotak es krim dengan rasa yang sama di kulkas sejak gadis itu tinggal di rumahnya. Namun, selalu berakhir ia yang menghabiskannya secara perlahan. Milly tak pernah menyentuhnya sedikit pun.

Seperti sekarang ketika Axton membuka penutup kotak es krim itu. Isinya masih sama, tersisa setengah dan jejak cekungan sendok di sana tidak bertambah atau berubah.

Perkataan Marcus terus tergiang di benaknya bahkan diulang Axton lewat gumaman,

“Dengan syarat, tetaplah di sisinya sekalipun ia menyuruhmu pergi.”

Satu bibir Axton menyunggingkan senyum miring. Ia kemudian menutup kulkas menggunakan bahunya, sebelum berbalik.

“Sepertinya Pak Tua itu sud—”

ucapan Axton terhenti ketika ia mendapati Milly sedang berdiri di depannya. Piyama tidur berwarna biru dongker sepasang dengan celana panjang terbalut di tubuh gadis itu. Sementara Axton menggenakan kaos putih dan celana selutut warna hitam.

Dari jendela dapur, sinar rembulan tampak terang dan indah terpantul, membentuk siluet mereka berdua dengan jelas dalam keheningan. Milly sekilas memandang es krim di tangan Axton sambil mengigit bibirnya, ragu. Kedua tangan mungilnya meremas ujung piyama tidurnya.

Axton pun menyadarinya, maka ia menyodorkan sekotak es krim itu pada Milly.

“Kau mau?”

“Tidak,” tolak Milly langsung dan segera membalikkan badan, ingin keluar dari dapur, tapi baru tiga langkah ia berhenti akibat cekalan tangan Axton di lengannya.

“Kau pikir aku tidak tahu arti tatapanmu?”

Walau sadar bahwa ia telah kepergok, Milly tidak akan mengakuinya di depan Axton.
Dua detik kemudian, Milly terperanjat ketika tubuhnya diputar Axton dalam satu kali sentak hingga menghadap lelaki itu kembali.

“Kita bisa memakannya bersama,” tawar Axton.

“Aku tidak mau.” Lagi Milly bersikeras menolak.

“Kalau begitu, kau bisa memakan semuanya dan aku menemanimu.”

Untuk kesekian kalinya, Milly bersikap keras kepala dengan menolak lagi dan menghempaskan kasar cekalan Axton.

“Aku—”

Tapi Axton lebih dulu memotong dengan nada tidak ingin dibantah. “Tidak ada penolakan.”

Otomatis Milly menjadi bungkam. Ia menatap tajam Axton. Namun Axton justru fokus memandang perut Milly sebelum dengan pelan menyentuhkan tangannya di sana.

Membuat Milly seketika terkejut, namun tubuhnya tidak juga bergerak untuk menghindar. Terlebih ketika ia merasakan usapan lembut Axton di perutnya sekilas, seolah sangat menantikan kehadiran bayi ini.

“Apa anak kita yang menginginkan es krim ini? Karena selama ini, kau selalu membiarkan es krim ini menganggur dan tidak pernah menyentuhnya sedikit pun.”

Mendadak rona hangat menjalar di kedua pipi Milly. Tatapan tajam gadis itu sirna digantikan tatapan gugup saat Axton kini menatapnya. Milly menelan ludah, dan di detik berikutnya ia segera membuang muka.

Axton pun merasa tidak perlu menuntut jawaban lagi. Karena gelagat kegelisahan gadis itu telah menjelaskan bahwa asumsinya memang tepat.
Lantas bibir Axton menyunggingkan senyum tipis, merasa senang mengetahui bahwa Milly sekarang sedang berusaha menuruti keinginan anak mereka.

***

Di meja bar, Milly dan Axton duduk bersebelahan. Milly tampak asik menyendok lapisan lembut es krim itu dan memasukkannnya ke dalam mulut. Di tengah aktivitasnya menikmati es krim itu, diam-diam Milly melirikkan mata ke arah Axton yang sedang mengetikkan sesuatu di ponsel.

Wajah Axton terlihat serius sekali. Sesekali kening lelaki itu mengerut seolah berpikir sebelum menoleh pada Milly.

“Bibimu menyukai warna apa?” tanya Axton tiba-tiba.

“Apa?”

Milly tampak cengo sesaat. Axton menyeringai samar melihat ekspresi lugu Milly karena pertanyaan dadakannya. Terlebih ketika ia mendapati bibir Milly saat ini belepotan es krim.

“Lupakan. Aku akan memilih warna favoritmu saja untuk mendominasi warna cat di rumah Bibimu,” putus Axton akhirnya. Setelahnya mata Axton tertuju pada ponsel ulang. Jemarinya juga kembali mengetik.

Sementara Milly yang baru paham bahwa pertanyaan Axton tadi berkaitan dengan urusan renovasi rumah Bibinya hanya bergeming.

Namun ketika Axton telah selesai dan meletakkan ponsel di meja bar, mata Milly tidak sengaja menemukan foto dirinya yang sekarang menjadi wallpaper di ponsel lelaki itu. Dalam gambar itu, Milly terlihat memeluk Dalton sambil tertawa karena anjing itu menjilat pipinya.

Entah bagaimana lelaki itu bisa memotretnya. Gambar itu pun seperti diambil dengan jarak yang pas. Tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Kepala Milly lantas mendongak memandang Axton yang rupanya sedang menatapnya juga.

“Kapan kau mengambil fotoku?” ketus Milly kentara merasa keberatan.

Mata Axton yang tadi tertuju pada bibir Milly yang belepotan es krim lantas berpindah menatap mata Milly yang menyorot sengit. Dengan merasa tidak berdosa, Axton pun menjawab.

“Aku menyuruh Thomas memotretmu diam-diam. Karena saat itu aku sedang masa pemulihan, terlebih kau selalu menghindariku.”

“Kapan?”

“Kau tidak perlu tahu kapan. Aku juga tidak tahu bagaimana Thomas melakukannya sampai kau tak sadar telah menjadi modelnya.”

Jawaban santai Axton itu membuat Milly segera memalingkan wajah, kembali fokus pada es krim dan mengacuhkan lelaki itu. Walau sejujurnya jantungnya justru berulah sebaliknya. Berdebar-debar dengan ritme yang kacau. Apalagi sekarang aroma maskulin lelaki itu menguar begitu dekat, menelusup di indera penciumannya.

Seketika alam bawah sadar Milly langsung peka. Ia sontak menoleh ke samping. Detik itu juga ia tertegun ketika merasa jempol Axton mengusap sudut bibirnya lembut. Bola mata Milly melebar saat menemukan wajah Axton begitu dekat dengannya. Mulutnya terbuka secara refleks karena perlakuan tiba-tiba Axton.

“Kau terlihat seperti gadis yang sangat manis jika seperti ini,” bisik Axton. Mata lelaki itu memerhatikan bibir Milly yang merekah.

Lalu entah bagaimana Milly seolah terhipnotis oleh bola mata Axton yang menggelap. Hingga di detik berikutnya, ia tidak melawan saat Axton menciumnya tanpa permisi.

Bahkan Milly tidak tahu apa yang salah dengan tubuhnya. Ia refleks memegang pergelangan tangan Axton ketika lelaki itu menyelipkan tangannya di tengkuk Milly.

Tanpa sadar, mata Milly tertutup kala merasakan pagutan mesra Axton. Tidak menuntut, melainkan lembut dan menggoda bibirnya. Namun lambat laun ciuman itu berubah intens. Axton menarik tengkuk Milly, makin memperdalam lumatan mereka.

Panas bertemu panas. Membuat tubuh Milly terasa terbakar. Hingga dalam sekejap otak Milly menjadi tumpul. Bayangan buruk yang dilakukan Axton pada dirinya seketika sirna sejenak. Ia terlarut oleh ciuman basah dan memabukkan yang dilakukan Axton.

“Aku mencintaimu… Milly,” gumam Axton merayu di tengah ciuman.

Hal itu memicu gelenyar aneh di tubuh Milly. Terlebih pagutan Axton yang dalam tapi juga hati-hati seolah tidak ingin melukai, membuat Milly benar-benar melupakan daratan sesaat. Ia mengerang di sela lumatan Axton yang berubah makin menggila.

Kepala Axton bergerak miring, menghisap, mengigit pelan bibir Milly untuk akses menjelajahi rongga mulut gadis itu. Hingga di detik Milly nyaris kehabisan oksigen, Axton segera mengurai pagutan mereka, dan memindahkan bibirnya ke leher Milly, memberi kecupan panas di sana.

“Rasa bibirmu seperti stroberi,” bisik Axton yang mengukir seringai geli sambil mengigit kecil leher Milly, membuat mulut Milly terbuka dan mendesah.

Tapi tidak lama kemudian, kesadaran Milly dalam sekejap pulih. Hingga ia segera mendorong Axton menjauh. Bahkan dalam hati Milly merutuki apa yang baru saja terjadi di antara mereka.

Axton berusaha menjaga ekspresinya agar tampak biasa. Napasnya memburu.

Milly juga terengah-engah. Tangannya sekilas bergerak meraba bekas kecupan Axton di lehernya. Ada jejak basah di sana. Seketika kedua pipi Milly memerah malu, tapi matanya menyorot tajam pada Axton.

“Ciuman tadi… itu hanya ciuman perpisahan,” ketus Milly.

Kalimat Milly barusan sukses membuat dada Axton terhantam batu besar. Lekat, ia menatap Milly yang mengambil kotak es krim di meja bar yang isinya belum habis.

“Besok aku akan pergi dengan Bibi Rachel, dan jangan mencegahku. Aku juga akan mencicil seluruh biaya renovasi rumah Bibi padamu kalau aku sudah memiliki uang. Termasuk es krim ini, aku pasti akan menggantinya.”

Setelah itu Milly hendak beranjak dari kursi, tapi Axton lebih dulu mencekal pergelangan tangannya, menahan agar kembali duduk. Kepala Milly menoleh tidak suka pada Axton.

“Lepaskan tanganmu.”

Axton tentu mengerti jelas kalimat Milly tapi ia tidak berniat melepaskan cengkramannya pada pergelangan gadis itu. Justru mengunci pergerakan bola mata Milly yang memercikan emosi kecil, berusaha mencari kebenaran yang disembunyikan gadis itu.

“Kau benar-benar tidak bisa memberikan aku kesempatan?”

Milly mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tatapannya masih sengit tertuju pada Axton.

“Aku tahu aku sangat brengsek. Jika kau mau, kau bisa menamparku lagi,” ujar Axton lagi.

“Lepaskan tanganmu, Aro,” ulang Milly penuh peringatan.

Mendengar panggilan kecilnya disebutkan Milly, mau tidak mau Axton melepaskan cekalannya. Milly segera menurunkan tangannya di sisi tubuh.
Axton hanya mengamati setiap pergerakan gadis itu yang sekarang memundurkan kursi, menghasilkan suara decitan di ruangan dapur yang sunyi.

“Aku juga akan mengajukan surat perceraian padamu,” tandas Milly menambahkan, nadanya juga kentara tidak bersahabat.

Detik berikutnya Milly sudah melewati Axton dengan satu tangan memegang sekotak es krim. Langkah kaki gadis itu berhenti sejenak di ambang pintu dapur untuk menoleh ke belakang pada Axton yang bergeming di kursi, tampak seperti anak lelaki yang kesepian.

“Setelah itu kau bisa menikahi Chloe.”

Axton spontan menoleh begitu mendengar suara ketus Milly yang sedikit bergetar.

“Di hari pertama kita bertemu… kau terlihat serasi dengannya.”

Setelahnya Milly meneruskan langkahnya kembali. Namun lagi-lagi harus terhenti sejenak saat mendengar pengakuan Axton.

“Aku dan Chloe tidak seperti yang kau pikirkan saat itu. Aku tidak pernah melakukannya sampai sejauh itu. Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku hanya…”

Milly kembali menatap Axton lagi ketika lelaki itu terlihat berat melanjutkan. Axton menatap lamat-lamat Milly sebelum meneruskan, ada setitik penyesalan dalam suaranya.

“Melakukannya denganmu saja.”

Milly tidak tahu apakah ia harus merasa senang ketika mendengar kejujuran Axton atau justru sebaliknya. Karena seingatnya, ketika lelaki itu melakukannya untuk pertama kali dan terus berulang, Axton selalu mengasarinya. Bahkan bagian terburuk dari yang bisa Milly ingat adalah perbuatan Axton yang membuat ia tampak seperti wanita murahan.

Tanpa sadar, setetes air mata mengalir di wajah Milly. Hal itu membuat perasaan Axton menjadi tidak karuan. Tapi ia tidak melakukan apapun ketika Milly berlalu meninggalkannya.

Helaan napas kasar kemudian lolos dari bibir Axton. Wajahnya kusut, memandang ke arah kulkas Dalam keheningan yang kini membuatnya frustrasi, Axton bergumam.

“Sepertinya aku perlu percaya pada omongan Pak Tua sialan itu tentang cara kerja waktu.”

***

Bersambung