Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 46

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 46- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 45

Cara Kerja Waktu

Axton setengah berlutut di pemakaman Wella, satu tangannya memegang sebuket mawar merah. Sendu ia memandang nisan yang bertuliskan nama serta tanggal wafat Ibunya.

“Apa yang harus kulakukan Mom? Aku sudah berbuat banyak kesalahan dengannya,” gumam Axton, mencurahkan rasa frustrasinya namun hanya dibalas oleh kesunyian di siang hari.

“Milly… gadis yang kukenalkan padamu… ia adalah Eve, Mom.”

Axton lalu meletakkan sebuket bunga mawar di dekat nisan Wella. “Sekarang, ia sangat membenciku.”

Lagi-lagi sunyi. Namun hembusan angin mulai menerpa rambut Axton. Menelan ludah kasar, Axton kembali berbicara pada makam Wella, suaranya berbisik lirih.

“Maafkan aku Mom. Jika saja, aku tidak terlambat menolongmu, kau takkan berada di sini. Aku sangat menyayangimu Mom. Selalu.”

Setelah itu Axton berdiri. Mengusap wajahnya kasar. Sekali lagi memandang makam Wella. Lalu dengan perasaan berat, ia berbalik dan saat itu ia melihat Marcus. Berdiri memegang sebuket bunga mawar juga.

“Hai, Nak,” sapa Marcus pelan.

“Pak Tua, apa yang kau lakukan di sini?” Ekspresi Axton tampak minim ekspresi.

“Mengunjungi teman lama.” Marcus melewati Axton dan membungkuk sejenak untuk meletakkan sebuket bunga mawar di sisi lain di nisan Wella.

Axton lantas menoleh, memerhatikan Marcus berdoa sejenak untuk Wella. Pria tua itu memejamkan mata dalam keheningan.

“Dari mana kau tahu makam Ibuku, Pak Tua?” tanya Axton ketika Marcus telah membuka mata dan berbalik menatapnya sendu.

Alih-alih menjawab pertanyaan Axton, Marcus justru melempar pertanyaan balik.

“Apa sekarang kau menyesali perbuatanmu Nak?”

Axton menarik napas kasar lalu menatap Marcus datar.

“Menguping adalah perbuatan tidak terpuji Pak Tua. Kau seharusnya tidak melakukannya, mengingat seperti apa profesimu selama ini.”

Marcus tertawa pelan membuat Axton mendengkus. Pria tua itu kemudian mendekati Axton, menepuk bahunya.

“Aku tidak sedang mengupingmu, Nak,” ujar Marcus, suaranya terdengar rapuh karena faktor usia.

“Aku hanya kebetulan berada di belakangmu. Dan sangat tidak sopan bila aku tiba-tiba menganggu obrolanmu dengan Ibumu.”

Rahang Axton mengeras dan ia menyingkirkan pelan tangan Marcus di bahunya.

“Jadi?”

“Thomas merasa aku perlu mendoakan Ibumu. Jadi aku mengunjunginya di sela waktu luangku. Dan ia telah memberitahuku segalanya, juga tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Ternyata kau membunuh Ayahmu dan wanita itu.”

Marcus menggeleng disertai tatapan nanar pada Axton.

Axton mengepalkan satu tangannya tiap kali mengingat insiden kelam itu. Dengan tatapan datar, ia menantang Marcus.

“Lalu kenapa? Aku hanya membantu mereka untuk cepat menuju kebahagiaan bersama.”

Mendengar itu, Marcus pun mencoba meneliti kedalaman bola mata Axton yang kini menatapnya. Tentu, itu membuat Axton merasa jengah hingga ia mengalihkan pandangan ke arah lain sambil bergumam sinis.

“Apa kau sedang menyelidikiku sekarang Pak Tua?”

“Hanya katakan padaku, apa kau menyesali perbuatanmu sekarang Nak?”

Axton kembali memandang Marcus, menjawab mantap. Tatapannya yang semula datar kini menjadi dingin.

“Tidak. Aku tidak pernah menyesal membunuh Dad dan wanita jalang itu.”

Telunjuk Marcus menuding wajah Axton disertai gelengan miris. Mata Marcus juga tampak memicing.

“Kau berbohong. Kau sedang berbohong sekarang Nak,” bisiknya dengan suara rentan.

Axton menelan ludah pelan. Tatapannya lurus menghujam mata Marcus. “Lalu menurutmu apa yang harus kulakukan sekarang Pak Tua?”

Marcus kemudian menurunkan telunjuknya, lalu bersuara dengan nada yang terkesan iba pada Axton.

“Sudah kukatakan padamu, dendam hanya akan membuat hidupmu kacau. Kau tidak akan pernah bahagia dengan itu Nak.”

Axton menatap tidak suka Marcus, tapi ia membenarkan nasehat Marcus. Kenyataannya… memang itu yang terjadi.

Bahkan selama ini ada kehampaan pekat yang dirasakan oleh hatinya tapi selalu ia coba tutupi. Lubang hitam bernama dendam yang tertanam dalam dirinya telah menjeratnya terlalu jauh hingga ia kesulitan untuk keluar. Bahkan bagian terburuknya, berhasil mematikan akal sehatnya.

“Tapi… percayakan semua pada waktu, ia akan menyembuhkan segalanya,” nasehat Marcus sambil mengusap lengan Axton sekilas seolah memberi penghiburan yang menenangkan.

“Apa maksudmu?”

Marcus lantas mencondongkan wajahnya hanya untuk berbisik di depan muka Axton dengan senyum terkulum. “Milly… aku tahu siapa gadis itu sebenarnya, Nak.”

Sesaat Axton bergeming di tempat dengan raut bosan, memandang gurat keriput yang terlihat bertambah di wajah Marcus sejak terakhir kali mereka bertemu, sebelum mendesis kesal.

“Tidak mungkin.”

Marcus telah memundurkan wajahnya kembali dan memamerkan senyum tipis.

“Thomas… ia terpaksa menceritakan padaku. Jika tidak, aku takkan berada di sini untuk mendoakan yang terbaik buat Ibumu, Nak.”

“Seharusnya ia tidak perlu memohon padamu,” dengkus Axton.

“Tapi ia melakukannya. Kau tahu kenapa?”

Axton menaikkan satu alisnya, wajahnya terlihat menahan kekesalan. Terlebih melihat Marcus yang sekarang menyipitkan mata, berlanjut menggerakan telunjuk untuk menunjuk dadanya, menusuk-nusuk di sana. Refleks, Axton menurunkan pandangan mengamati telunjuk lancang Marcus.

“Karena ia tahu… Ibumu pasti akan senang jika aku yang mendoakannya. Sama seperti ia memilihku untuk menikahi Ayahmu dan Ibumu.”

“Brengsek,” umpat Axton pelan sambil menepis telunjuk Marcus. Bahkan ia sempat menangkap nada puas yang terselip dalam suara Marcus.

“Kau, Pak Tua sialan. Apa kau-”

“Kau tidak boleh mengumpat di pemakaman Ibumu Nak,” potong Marcus menegur. Lalu menoleh sekilas ke belakang pada makam Wella seakan memberi kode mengingatkan.

Axton turut menatap makam Wella sekilas sebelum menatap ulang Marcus dengan tajam.

Pria tua itu lagi-lagi memamerkan senyum tipis dan menepuk-nepuk lengan Axton.

Bahkan kini berbisik seolah yakin, “Gadis itu… yang kau bawa untuk aku nikahkan, ia akan kembali padamu Nak.”

Detik berikutnya Marcus melewati Axton, hendak meninggalkan, tapi baru lima langkah ia berhenti karena suara Axton menyindirnya penuh cemoohan.

“Omong kosong. Apa kau sedang meramalkan tentang hubungan kami? Kau tahu, itu bukan hal yang patut kau lakukan Pak Tua. Selain tidak sesuai dengan profesimu, itu juga sangat bertentangan dengan ajaran kitab sucimu.”

Marcus spontan memutar badan menghadap Axton yang nyatanya kini sedang menatapnya sambil menenggelamkan satu tangan di kantong celana disertai senyuman miring.

Dengan senyum tertahan, Marcus menyanggah, “Aku sedang tidak meramalkanmu Nak. Aku sedang berbicara tentang waktu padamu.”

Axton bungkam dan seolah tertohok. Bahkan bola matanya turut membesar secara refleks, tapi segera dinormalkannya dalam hitungan detik.

“Thomas mengatakan bahwa gadis itu dulu mencintaimu. Hubungan kalian terjalin cukup lama sebagai sepasang kekasih. Dan kau hanya perlu melihat seperti apa akhirnya. Karena melupakan segalanya, tentu tidak semudah itu Nak. Kau perlu membiarkan waktu bekerja dengan caranya.”

“Dengan syarat, tetaplah di sisinya sekalipun ia menyuruhmu pergi,” imbuh Marcus.

Seluruh kalimat Marcus itu seolah menjadi mantra dalam benak Axton. Ia memandang Marcus yang memamerkan binar hangat padanya, seperti seorang Ayah yang menyayangi anaknya.
Setelah segala perbuatan kurang ajar Axton yang menyudutkan pria tua itu, Marcus justru datang memberi nasehat yang sedikit menyejukkan hati Axton.

Seketika suasana hati Axton berubah menjadi lebih baik, menghangat dan merasa lega secara bersamaan. Mengungkapkan rasa terima kasih pada Marcus, Axton lantas mengumbar senyum sinis.

“Nasehat yang bagus Pak Tua.”

Setelahnya ia melengos, meninggalkan Marcus yang belum beranjak lagi dari posisinya. Pria tua itu memandang punggung Axton yang mulai menjauh sambil bergumam, suaranya terdengar rapuh.

“Dasar anak itu.”

***

bersambung