Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 45- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 44

Dejavu

Setibanya di kamar, Axton meletakkan ponsel di atas nakas, lalu menjatuhkan bokongnya ke tepi ranjang. Ia membuka satu per satu kancing kemeja biru tuanya dengan satu tangan. Saat mendengar ketukan pintu, ia menoleh sedetik.

“Masuk Thomas,” ucapnya mempersilakan.

Tapi ketukan itu terus terdengar, membuat Axton merasa heran. Sontak, ia beranjak dan membukanya dan saat itu ia tidak bisa berkedip mendapati Milly berdiri di depannya.

Gadis itu mendongak, matanya melemparkan sorot sengit tapi rona merah di pipi itu juga sedikit tampak. Axton menurunkan pandangan pada kotak obat di tangan Milly. Kaki gadis itu berpijak pun terlihat canggung.

“Minggir,” dorong Milly melewati Axton.

“Aku akan mengobatimu.”

Dengan kemeja yang kancingnya telah terlepas semua itu, Axton mengumbar senyum tipis saat mendorong pintu menutup, sisa darah pun masih tampak di ujung bibirnya.

***

Milly berusaha menghalau rasa tidak nyaman waktu duduk berdekatan dengan Axton di pinggir kasur. Ditambah, ia bisa merasakan bahwa Axton sedang mengamatinya di kala ia sibuk berurusan dengan antiseptik yang dikeluarkannya dari kotak obat.

Sekilas Milly melirikkan matanya pada perban putih yang membalut telapak tangan Axton. Sebelum kemudian ia mengangkat kepala ketika sudah siap mengobati.

Sesaat mata mereka bertemu. Kemudian tangan Milly terjulur, membersihkan darah di sudut bibir Axton sekaligus mengobatinya.

“Apa Bibi yang menyuruhmu kemari?” Axton menatap lurus padanya.

Milly tidak menjawab pertanyaan Axton. Satu sudut bibir Axton yang baik-baik saja terangkat.

“Jadi kau sendiri yang ingin melakukannya,” ujarnya menarik kesimpulan sendiri.

Tangan Milly seketika berhenti bergerak. Ia mendelik pada Axton. “Kau sebaiknya diam agar aku bisa menyelesaikan ini,” ketusnya.

Saat Milly meneruskan kegiatannya kembali, Axton menelusuri setiap inci wajah gadis itu sambil berbicara lagi,

“Apa kau ingat dulu kau juga pernah mengobatiku seperti ini? Saat itu, aku diam-diam berkelahi dengan anak laki-laki yang pernah menyerempetmu dengan sepeda.”

Milly bungkam tapi tangannya terus bekerja mengoleskan antiseptik di ujung bibir Axton.

“Kau terus saja memarahiku seperti Mom. Lalu…” Axton menggantung kalimatnya sejenak, kemudian meneruskan dengan nada bicara yang melambat.

“Aku berusaha menghentikan omelanmu dengan…”

Lagi-lagi Axton menahan kalimatnya, memilih memerhatikan bola mata Milly yang sekarang bergulir gugup menatapnya. Mata Axton seketika berkilat jenaka.

“Kau ingat bukan?”

Milly tidak menjawab.

Namun detik berikutnya, Milly spontan menjerit ketika Axton mendorong tubuhnya, memenjarakan dengan gerakan tangkas. Kemeja Axton yang kancingnya telah terlepas semua sontak sedikit berkibar saat ia melompat tiba-tiba ke arah Milly untuk mengurung gadis itu di bawah. Kedua telapak tangan Axton berada di sisi kepala Milly.

“Aro!”

Axton tertawa rendah mendengar panggilan masa kecilnya refleks disebutkan Milly. Juga ketika mendapati kini satu tangan Milly meremas kecil lengan panjang kemejanya. Dua hal yang sama, yang juga pernah dilakukan gadis itu dulu. Sebuah kenangan lama yang sangat Axton rindukan.

“Reaksimu bahkan masih sama seperti dulu.”

Tubuh Milly seketika menjadi kaku di atas ranjang. Ia serasa dejavu. Terlebih mendengar tawa renyah Axton yang berdengung di telinganya.
Tawa lelaki itu masih sama. Tawa anak laki-laki yang dulu pernah menjadi sumber kebahagiaannya. Tawa anak laki-laki yang dulu membuat hidupnya penuh warna.
Tanpa sadar, MIlly pun menelan ludah. Bola matanya yang tadi bertubrukan dengan dada telanjang Axton kini bergerak pelahan untuk bertemu dengan iris mata Axton.

Kini tatapan Axton berubah menjadi tidak terbaca. Tawanya pun berangsur hilang. “Omelanmu saat itu menjadi terhenti karena aku tiba-tiba menyerangmu seperti ini,” sambung Axton.

Lalu tangan Axton yang dikebat meraih dagu Milly pelan. Kepala Axton juga mulai mendekat. “Dan aku bertanya padamu…” Jeda. Jarak di antara mereka telah menipis. Pandangan Axton jatuh pada bibir Milly yang sedikit terbuka.

Mata Milly tidak berkedip satu detik pun. Tentu, ia ingat peristiwa itu. Bahkan ia tahu apa yang akan ditanyakan Axton. Pertanyaan yang membuatnya kala itu memukuli Axton bertubi-tubi dengan bantal saking malunya.

“Bolehkan aku menciummu, Milly?” bisik Axton parau.

Seketika Milly terkejut. Bukan karena pertanyaan Axton, melainkan nama yang disebutkan Axton untuknya. Namun keterkejutannya tidak bertahan lama karena tiba-tiba perutnya bergejolak tak nyaman, membuat ia serasa ingin muntah.

Axton yang menyadari ekspresi aneh Milly itu sontak mengernyit. Ia menatap intens Milly bercampur rasa cemas. “Kau baik-baik saja?”
Alih-alih menjawab, Milly justru mendorong Axton kasar hingga Axton terguling ke samping. Lalu buru-buru Milly menuju ke kamar mandi Axton.

Sementara Axton membeku sesaat di atas ranjang. Namun telinganya mendengar samar-samar suara Milly yang seperti sedang muntah. Dalam sekejap Axton dirudung kegusaran. Dengan cepat, ia beranjak, menyusul gadis itu ke kamar mandi.

***

Pemandangan pertama yang Axton temukan adalah Milly yang berjongkok dengan napas menggebu-ngebu, kedua tangan gadis itu bertumpu pada pingiran closet duduk.
Axton yang melihat itu lantas bergeming. Terlebih saat mendapati sekali lagi Milly mengeluarkan isi perut yang berujung nihil.

Milly sadar keberadaan Axton yang berdiri di belakangnya, tapi ia bersikap tidak peduli. Memejam sejenak, Milly lalu bangkit dari posisinya.
Pada detik itu pula tangannya langsung ditarik oleh Axton.

“Apa yang kaulakukan?!” jerit Milly spontan dan membisu seketika saat kedua telapak tangannya tidak sengaja menyentuh dada telanjang Axton. Muka Milly memerah malu.

Tangan lelaki itu melingkar di pinggangnya, sementara tangan Axton lainnya yang dikebat menyentuh pipi Milly. Milly terkesiap, ia mendongak dan pandangan mereka beradu.
Sorot mata Axton sekali lagi tampak tidak terbaca, dan Milly tidak tahan bertatapan lama hingga ia memutuskan kontak mata mereka dan mendorong Axton. “Lepas!”

Tapi tubuhnya justru tertarik makin rapat, membuat Milly makin terkesiap. Terlebih kala ia merasakan bibir dingin Axton yang kini mengecup lama keningnya, penuh perasaan. Mata Axton terpejam sesaat, sementara kedua tangan Milly yang berada di dada lelaki itu spontan mengepal.

“Maaf, jika aku membuatmu seperti ini,” bisik Axton sengau yang dipahami Milly maksudnya berkaitan dengan kehamilannya.

Lalu dengan lembut Axton mempertemukan kening mereka. Mata Axton tidak lagi menutup. Milly bisa melihat dengan jelas bulu mata Axton yang lentik selama lelaki itu menatapnya lurus-lurus. Deru napas Axton bahkan terasa berhembus hangat di antara mereka.

Milly yang peka dengan suasana ini lantas membuka suara lirih, “Kau akan memperlakukan seperti dulu lagi?”

“Kau tahu… aku…” Bibir Axton hendak menyentuh bibir Milly yang terlihat menggoda, nyaris. Tapi ucapan Milly selanjutnya mengurungkan niatnya, terlebih nada getir yang terselip di suara gadis itu begitu kental terselip.

“Kau akan menghancurkanku lagi dan…”

Axton segera melepaskan Milly. Ia pikir gadis itu sedang mengungkit masa lalu mereka yang manis, tapi kenyataannya bukan seperti itu.
Axton lantas menatap Milly dengan raut penyesalan yang kentara. Milly langsung mundur teratur, menjauhinya. Sebelum berbalik dan lagi-lagi meninggalkan dirinya. Axton tidak mengejar dan cuma mematung di tempat.

Tak lama kemudian suara pintu berdebam pelan, membuat Axton kini mengusap wajahnya frustasi.

“Apa yang aku pikirkan?” gumamnya merutuki diri sendiri.

***

Milly berjalan cepat menuju kamar tamu yang ia tahu telah dipersiapkan Axton untuk Rachel. Namun kakinya terhenti saat ia melihat Thomas berbincang sebentar dengan Rachel di ambang pintu.

Thomas adalah orang pertama yang menoleh ke samping dan menyadari keberadaan Milly. Gadis itu berdiri beberapa meter dari Thomas dan Rachel.

Kepala Rachel spontan mengikuti arah pandang Thomas.

“Kalau begitu saya permisi. Jika anda membutuhkan sesuatu, anda bisa mencari saya,” pamit Thomas undur diri dan dibalas langsung oleh Rachel.

“Terima kasih Thomas.”

Sepeninggalan Thomas, Milly segera menghampiri Rachel, memeluknya erat. Tubuh Rachel yang tidak siap sepenuhnya menjadi agak terdorong ke belakang.

“Ada apa?” tanya Rachel dengan suara rentan, balas memeluk Milly.

Kepala Milly menggeleng dalam dekapan Rachel. Matanya menutup, memaksa menepis bayangan tatapan menyedihkan Axton yang sarat akan rasa bersalah beberapa detik lalu ketika ia meninggalkan lelaki itu begitu saja.

Detik berikutnya, Milly sudah berada di dalam kamar bersama Rachel. Satu tangannya memegang bahu Rachel. “Kau dan aku tidak boleh tinggal di sini Bibi.”

Setelahnya Milly berjalan menuju almari, mengeluarkan kembali pakaian Rachel yang telah ditata rapi oleh wanita tua itu dan menumpukkannya di tepi kasur sejenak.

“Milly… dengar kau tahu…” Rachel membuntuti Milly yang sekarang duduk di pinggir kasur.

“Jika ini masalah renovasi rumah Bibi, kita bisa tinggal sementara di tempat Elena Bibi,” sela Milly yang tidak memberi kesempatan Rachel bicara.

Rachel lalu duduk tepat di sebelah Milly, mengamati tangan gadis itu yang begitu cekatan memasukkan pakaiannya ke dalam travel bag besar berwarna hitam ulang.

“Aku juga akan mengganti seluruh biaya yang telah ia keluarkan untuk perbaikan rumah Bibi.”

“Bibi mengerti bahwa apa yang ia perbuat denganmu sangat buruk. Tapi kau sudah menikah dengannya. Sudah sepantasnya kita menjadi keluarga sekarang.” Rachel kemudian menahan tangan lincah Milly agar tidak menjejalkan pakaiannya lagi ke travel bag besar itu.

“Dan kau tahu jelas… bahwa Ibunya baru saja meninggal belum lama ini,” bisik Rachel iba yang memicu kepala Milly terangkat, berlanjut memandang nanar Rachel.

“Bibi…”

Rachel memamerkan senyum pilu. “Ia menceritakannya pada Bibi. Ia tidak lagi memiliki siapapun lagi. Satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini adalah dirimu, bayi itu juga Bibi, Milly.”

Bayangan kematian Wella dan ucapan Fernandez tentang kematian Otis masih terekam jelas di ingatan Milly.

Rachel kemudian mengenggam hati-hati kedua tangan Milly.

“Kau tidak bisa menimpakan semua kesalahan pada pria itu. Semua akan menjadi berbeda, jika Clara yang selama ini kau anggap sebagai Ibu… tidak mengubah wajahmu,” nada suara Rachel terdengar getir.

Tanpa bisa dibendung, air mata Milly mengalir karena mendengar kata-kata Rachel barusan.
Lagi, Rachel meneruskan masih dengan nada yang sama,

“Kau pasti akan hidup dan… menikah seperti sekarang bersama pria itu. Bahkan selama ini, pria itu terus mencarimu dan mengumumkan di seluruh media.”

“Axton… pria itu percaya kau masih hidup,” bisik Rachel pedih, lalu menggerakkan jemari ringkihnya untuk menghapus air mata Milly.

“Dan tidak seharusnya… kami menyembunyikanmu dan menahanmu agar tetap bersama kami.”

“Tidak Bibi. Aku… tidak pernah menyesal bertemu denganmu. Juga Mom,” lirih Milly sambil meraih jemari kurus Rachel yang terlihat keriput.

Rachel tercengang dengan mimik sendu karena Milly nyatanya masih menganggap Clara sebagai Ibunya walau secara darah daging tidak demikian. “Oh Milly…”

Detik berikutnya mereka sudah saling berpelukan. Posisi kepala Milly terbenam di dada Rachel, mencari rasa aman sambil terisak, sementara dagu Rachel bertumpu di atas kepala Milly disertai tangannya yang kini membelai lembut rambut coklat Milly.

Sorot mata Milly menerawang pedih. “Hatiku rasanya sakit Bibi. Sangat sakit.”

“Bibi tahu semua ini tidak mudah, dan kau membutuhkan waktu. Tapi…”

Nasehat yang bernada bujukan lembut Rachel itu segera diinterupsi Milly,

“Tolong jangan paksa aku untuk menerimanya lagi Bibi. Aku tidak mau bersamanya. Aku akan mengajukan perceraian padanya.” Pelukan Milly makin mengerat pada Rachel.

“Lagi pula, pernikahan kami… adalah sebuah kesalahan,” tangisnya tersedu-sedu karena bayangan perbuatan tak bermoral Axton hari itu membuat hatinya perih.

“Aku tidak pernah ingin menghabiskan waktuku bersama seorang pembunuh Bibi.”

“Milly…” Belaian Rachel terhenti, wanita tua itu hendak berkata lagi, tapi Milly lebih dulu angkat berbicara sambil mengurai pelukan mereka.

“Bibi tidak boleh merasa kasihan padanya. Ia… ia pantas mendapatkannya Bibi. Ia pantas… untuk ditinggalkan. Ia telah membunuh Mom dan juga Ayahnya sendiri.”

Rachel tanpa syok dengan hal yang dibeberkan Milly. “Apa?”

“Ia menembak Ayahnya sendiri Bibi,” ulang Milly.

Dan tanpa diketahui oleh keduanya, Axton berada di luar sedang merapatkan pintu kembali dengan hati-hati, sementara satu tangannya tenggelam di saku.
Ia menelan salivanya kasar setelah mendengar seluruh perbincangan serta tangisan Milly lewat celah pintu tadi. Lalu tanpa menimbulkan bunyi suara apapun, Axton melangkah mundur, berbalik dan pergi dari sana dengan suasana hati yang berkecamuk.

***

Bersambung