Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 44- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 43

Ungkapan Kebencian Milly

Milly mendekat ke cermin di kamar, rambutnya tergerai dengan indah. Saat mematut dirinya dan memandang perutnya yang belum terlalu membesar, Milly bergumam,

“Mommy janji akan menjagamu dengan baik. Dan di sini bukan tempat yang baik untukmu dan Mommy.”

Ia tahu bahwa Axton telah pulih. Bahkan dua jam lalu, ia sempat melihat lelaki itu masuk ke mobil bersama Thomas dari jendela kamarnya. Entah pergi kemana, Milly merasa tidak perlu memikirkannya.

Kepala Milly lalu menoleh ke segala arah, mengamati lekat setiap sudut di kamar ini.
Sekarang, ia hanya perlu pergi dari rumah ini. Karena ia sudah tidak memiliki hutang budi apapun dengan lelaki itu.

***

Milly menggenakan atasan t-shirt lengan panjang berwarna kuning dan bawahan rok putih mekar sebatas lutut senada dengan flatshoesnya. Ia berusaha mengatur napasnya di ambang pintu rumah Axton. Satu telapaknya bertumpu pada sisi ambang pintu.

Di belakangnya terdengar langkah kaki Robert yang mengejarnya sambil berseru, “Nona Milly, anda mau kemana?! Anda sedang hamil, dan anda perlu berhati-hati!”

Segera Milly menoleh sekilas, sebelum meneruskan langkahnya lagi.

Akan tetapi, pada detik ia baru tiba di teras, detik itu tangannya ditahan oleh Robert hingga tubuh Milly sontak memutar. “Lepaskan aku!”

“Maafkan saya Nona Milly, tapi atas perintah Tuan Ax, saya perlu memastikan bahwa anda selalu berada di rumah,” ujar Robert bagai robot, terus mempertahankan cekalan tangannya walau Milly berusaha keras menghempaskan.

“Aku bilang lepas!” jerit Milly.

“Anda akan saya lepaskan, jika anda mau mengikuti saya masuk ke dalam kembali.”

Wajah Milly terlihat kesal, lalu tanpa pikir panjang ia segera mengigit kuat tangan Robert membuat Robert sontak mengaduh kesakitan. “Arrgghh!”

“Itu balasan untukmu karena berani mencegahku,” gerutu Milly ketika berhasil lepas dari cengkraman Robert.

“Nona Milly!” teriak Robert lagi saat melihat Milly kini bergegas menuju undakan tangga, menuruninya dengan cepat.

Robert meringis dan mengejar lagi, namun saat kakinya berpijak di pekarangan, tiba-tiba ia berhenti karena pagar tinggi di depan matanya kini terbuka otomatis.

Begitu pula dengan Milly yang turut tersentak. Ia seketika membatu ketika melihat mobil hitam masuk dan berhenti tepat di hadapannya. Axton keluar dan berdiri di depan Milly. Lelaki itu menutup pintu sambil menatap lekat Milly. Bersamaan dengan itu terdengar suara familiar yang sangat dikenalnya.

“Mi…Milly…”

Seketika Milly menoleh pada sumber suara yang terbata-bata itu. Ia tercengang menemukan Rachel yang sedang dibantu Thomas keluar dari mobil. “Bibi…”

Dalam hitungan detik Milly kembali tersentak untuk kesekian kalinya karena merasakan pelukan hangat Rachel. Tangan Rachel turut membelai rambutnya. “Bibi pikir kau telah tiada. Bibi sangat merindukanmu.”

Spontan Milly lekas membalas pelukan Rachel. “Aku juga merindukanmu Bibi.”

Axton lalu mengisyaratkan pada Thomas untuk berlalu lewat sorot mata. Robert yang juga melihat arti signal itu lantas melangkah mundur dan turut masuk ke dalam rumah kembali.

“Bibi sudah tahu segalanya. Apa yang terjadi denganmu dan…” Pelukan itu terlepas, Rachel memandang Axton. Pandangan Axton kini lekat tertuju pada Milly, sementara Milly membalas tatapan lelaki itu dengan sorot tajam.

“Pria ini… apa yang ia lakukan, ia sudah mengakuinya pada Bibi.”

“Kalau begitu, kita sebaiknya pergi dari sini Bibi,”

cecar Milly yang buru-buru meraih pergelangan tangan Rachel, mengajaknya melangkah meninggalkan Axton tapi dengan cepat Axton menarik pergelangan tangan Rachel yang satunya, membuat langkah wanita tua itu menjadi tertahan.

“Kau tidak bisa. Rumah Bibimu sedang kurenovasi.”

“Apa?”

Milly spontan memandang Rachel seolah menuntut penjelasan.

Rachel menggangguk membenarkan ucapan Axton, kemudian ia menampilkan raut getir.

“Bibi tahu kau sangat membencinya. Bibi juga, awalnya. Tapi pikirkan bayi itu. Ia butuh Ayahnya.”

“Tidak Bibi.” Milly menggeleng pelan bukti penolakan.

“Kau juga… kau telah ingat siapa dirimu sekarang. Bibi minta maaf karena telah… membuatmu mengalami hal yang tidak seharusnya,” kali ini mimik Rachel menyiratkan penyesalan yang dalam disertai sorot matanya.

Axton telah melepaskan tangannya yang mencengkram pergelangan Rachel dan memilih mendengarkan pembicaraan Rachel dan Milly yang terang-terangan membahasnya.

“Semua ini tidak sepenuhnya adalah kesalahannya.” Rachel sekilas melirik Axton yang hanya diam dengan pandangan tidak lepas sedikit pun dari Milly. Namun Milly membalas tatapan Axton tidak suka, seperti akan menelannya hidup-hidup.

“Ia memang bajingan tapi ia juga mencintaimu Milly.” Rachel menyunggingkan senyum pedih.

Kini giliran Milly yang perlahan menguraikan pegangannya pada tangan Rachel.

Rachel pun mulai menangkup wajah Milly, membuat perhatian Milly kini tertuju pada Rachel. Wanita tua itu lalu mengulangi ucapannya, sarat dukungan dengan binar mata haru.

“Ia mencintaimu dan ia berjanji akan selalu menjaga kalian.” Pandangannya lalu turun pada perut Milly, bibirnya mengumbar senyum kecut.

“Ia juga mengatakan pada Bibi bahwa ia menyesal…” Kembali pandangan Rachel naik, menatap Milly.

“Ia benar-benar tidak ingin kehilanganmu…”

Milly segera membantah, “Semua itu adalah kebohongan Bibi. Bibi tidak boleh percay—”

“Aku tidak bohong,” potong Axton cepat.

Rachel kemudian menurunkan tangkupannya pada pipi Milly dan menoleh pada Axton yang sekarang menghampiri Milly. Lelaki itu menjulang dengan jarak yang amat dekat dengan Milly. Manik mata Axton begitu intens memenjarakan mata Milly.

Milly mengatupkan bibirnya rapat. Tatapan tidak sukanya semakin tajam menghunus Axton. Bahkan lima jarinya membentuk kepalan di sisi tubuh dengan sekuat tenaga.

“Apa aku perlu membuktikan semuanya padamu?”

Tepat pertanyaan itu selesai, di detik itu dengan keras Milly menampar Axton. Sangat keras dari tamparan sebelumnya. Hingga kepala Axton tertolak ke samping yang turut mengakibatkan rambutnya terkibas. Rasa panas bercampur perih terasa merambat di pipi Axton.

“Milly….” Rachel sontak terkesiap.

“Aku membencimu apa kau tidak dengar?! Kau tidak bisa memaksaku untu—”

Jeritan Milly tidak selesai begitu ia melihat sudut bibir Axton mengalirkan darah ketika lelaki itu menatapnya kembali. Ia menelan ludah saat bersitatap dengan Axton. Rasa bersalah seketika menyeruak dalam dirinya.

Enam tahun lalu, ia tidak bisa melukai Axton. Bahkan selama itu pula, banyak hal manis yang pernah dilalui mereka bersama sewaktu menjadi sepasang kekasih.
Seandainya saja seluruh memori tentang mereka itu tetap mengendap, Milly tidak akan mengalami kebimbangan seperti sekarang.

“Aku hanya melakukan hal yang seharusnya. Dia Bibimu, itu artinya ia juga akan menjadi Bibiku dan aku akan memberikan yang terbaik untuknya, termasuk tempat tinggal,” ujar Axton sambil menyeka darah di ujung bibirnya.

Bersamaan dengan kalimat Axton yang berakhir, detik itu juga Milly langsung berlalu begitu saja, tanpa alasan yang jelas.

Axton hanya memandang lurus Milly yang berlari tiba-tiba dan masuk ke dalam rumahnya sampai sosoknya menghilang.

“Kau tidak apa Nak?” tanya Rachel merasa khawatir.

“Aku pantas mendapatkan tamparannya Bibi. Aku sudah sangat menyakitinya.” Axton kemudian meringis saat menyentuh luka di bibirnya.

***

Bersambung