Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 43

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 43- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 42

Rachel Leigh

Keesokan harinya, Thomas berdiri di sebelah Axton yang saat ini tengah duduk di sofa.

“Tuan Ax, apa anda yakin?” tanyanya sangsi. Sesekali sudut mata Thomas mengawasi kamar Milly yang pintunya masih tertutup rapat.

“Aku pernah melakukan hal ini sebelumnya Thomas. Kau tenang saja,” decak Axton. Lima jarinya menata rambut. Matanya begitu serius berkaca lewat kamera ponselnya. Dan model wajahnya sudah sangat pucat seperti orang sekarat.

Tentu, itu semua hasil polesan semata.

“Well, ini lebih baik dari sebelumnya,” gumam Axton pada diri sendiri, sebelum memasukkan benda pipih itu ke saku celana. Menatap Thomas yang cukup ngeri melihat wajah Axton sekarang.

“Anda benar-benar terlihat seperti seseorang yang akan mati sekarang, Tuan Ax.”

Axton menyeringai lalu menengadahkan tangan pada Thomas. “Berikan benda itu,” pintanya, membuat Thomas langsung mengerti dan mengeluarkan kaleng minuman kosong dari sisi jasnya.

“Saya tidak tahu jika anda selama ini bisa memoles wajah seperti ini.” Thomas menggeleng sambil memberikan kaleng minuman kosong itu pada Axton.

“Sudah kukatakan aku pernah melakukannya Thomas,” ulang Axton setelah menerima kaleng minuman kosong itu. Kemudian ia menyangga kepalanya dan mendesah.

“Saat itu usiaku dan Andez baru 20 tahun. Ia yang mengajariku make up seperti ini. Kami menakuti para gadis di kelas dengan terkapar di lantai tiba-tiba.”

“Anda?” ulang Thomas spontan.

Axton tersenyum samar dan mengangguk pada Thomas. “Dan kau ingin tahu apa terjadi selanjutnya?”

Thomas tahu pertanyaan Axton itu bersifat retoris dan tidak membutuhkan jawaban karena detik selanjutnya Axton sudah menerawang dengan senyum geli.

“Saat berhasil membuat gempar satu kelas, kami tertawa. Andez, ia lebih dulu tersiram air dengan satu ember penuh, sementara aku segera kabur meninggalkannya ketika ia diserang habis-habisan oleh gadis di kelas kami.”

Pandangan Axton beralih pada kaleng di tangannya.

“Aku kabur ke sekolah Eve dan menunggunya di mobil. Aku berpura-pura pingsan saat ia membuka pintu mobilku. Ia langsung cemas dan saat itu aku mengagetkannya.”

Perlahan bibir Axton menyunggingkan senyum miring kala mengenang semua itu. “Ia memukul lenganku dengan pipi merona sebelum tertawa.”

“Ia sangat manis saat tertawa. Aku merindukan momen itu bersamanya, Thomas.”

“Tapi saat itu kondisi anda dan Nona Eve berbeda Tuan Ax. Dan cari anda menggodanya mungkin terkesan manis saat itu, tapi tidak dengan sekarang,” nasehat Thomas yang terselip nada keraguan, bahkan cara berdiri Thomas pun terlihat tak nyaman.

Axton lantas menoleh ke arah Thomas tajam. “Kau cukup lakukan saja hal yang kuperintahkan Thomas.”

“Maafkan saya Tuan Ax. Saya hanya… tidak ingin anda mendapat tamparan lagi,” ringis Thomas.

Bertepatan dengan itu, suara pintu kamar Milly tiba-tiba terdengar terbuka, pertanda gadis itu sudah bangun. Spontan ekor mata Axton melirik sekilas ke arah Milly, sebelum berbisik mengingatkan pada Thomas, “Hanya ikuti rencanaku.”

“Baik Tuan Ax,” bisik Thomas membalas.

Detik berikutnya Axton sudah mempersiapkan posisi semenyakinkan mungkin. Kepalanya tergolek lemas ke samping, matanya terpejam seolah tak sadarkan diri, sementara tangannya mengenggam kaleng coffee kosong terkulai di sisi tubuh.

Berbanding terbalik dengan Thomas yang tengah mengawasi gerak-gerik Milly keluar dan merapatkan pintu kamar.
Saat merasa situasi telah tepat, Thomas tiba-tiba berseru panik,

“Tuan Ax!” Berlanjut mengguncang-guncang pundak Axton dengan dramatis.

“Sadarlah Tuan Ax!”

Tentu itu membuat kepala Milly segera berputar, memandang ke arah punggung Thomas. Entah apa yang terjadi, Milly tidak tahu. Ia pun tidak bisa melihat wajah Axton karena tertutup oleh belakang kepala Thomas.

Tapi nada bicara Thomas yang kalut itu sukses memicu rasa penasaran Milly. Bukan hanya itu, hatinya pun seketika menjadi resah. Terlepas dari semua itu, kebimbangan lebih besar menguasai dalam dirinya untuk menghampiri atau tidak.

“Apa yang terjadi dengan anda, Tuan Ax?!” lagi seru Thomas, sengaja melantangkan.

Dan itu makin memperparah suasana hati Milly. Tanpa sadar ia menyalurkannya lewat kedua tangan yang mengepal. Bayangan buruk mulai membayang di benaknya, dan ia mulai merasa takut.

Lalu entah bagaimana kaki Milly telah berderap cepat agar sampai di depan Axton—terlalu terburu-buru seperti setengah berlari.
Axton pun sempat berbisik tajam dengan mata tertutup sebelum Milly tiba,

“Thomas goncanganmu terlalu keras.”

Spontan Thomas berhenti mengoyangkan bahu Axton. Ia meringis lagi.

“Maafkan saya Tuan Ax.”

Mendadak Milly sudah sampai di antara mereka, membuat Thomas membalikkan badan lalu pura-pura memasang wajah cemas.

“Nona Eve…”

Milly segera mengoreksi dengan sengit, “Milly.”

Thomas lantas berdeham, merasa paham. Ia meralat sekaligus meneruskan akting paniknya.

“Nona Milly… tolong lakukan sesuatu.”

Milly kemudian memandang Axton yang terlihat pingsan, pucat seperti mayat. Seketika wajah kekhawatiran itu tidak bisa lagi disembunyikannya, terpampang secara nyata.
Thomas tiba-tiba merampas kaleng di tangan Axton dan bergumam kaget,

“Mungkinkah… Tuan Ax diracuni oleh seseorang?” Ia masih dalam mode sandiwara sesuai keinginan Axton demi mematangkan ide hingga terkesan nyata.

“Apa?” Milly turut menatap kaleng minuman di tangan Thomas.

“Nona Milly… jika sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi, saya harap anda mau mencium Tuan Ax untuk terakhir kalinya,” lirih Thomas yang kini memasang mimik kalang kabut. Pendar matanya yang menyiratkan kecemasan turut menambahkan kesan dramatis.

Tentu, semua itu palsu.

Dan sejauh ini sepertinya rencana Axton berjalan dengan mulus, belum melenceng. Karena kini Thomas menyaksikan Milly bergegas duduk di sebelah Axton, menyentuh pipi lelaki itu.

“Anda perlu mencobanya. Siapa tahu, ada keajaiban yang terjadi pada Tuan Ax,” ujar Thomas sedih sambil mengeluarkan sapu tangan di kantong celana untuk bertingkah menyeka air mata.1

Terus terang, ini adalah kali pertama Milly melihat orang keracunan. Sebelumnya ia tidak pernah. Hingga ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tapi satu hal yang ia tahu, keracunan bukanlah hal sepele dan itu bisa mengancam nyawa.

“Hentikan leluconmu Thomas.”

“Saya serius dengan hal itu, Nona Milly. Jika anda adalah cinta sejati Tuan Ax, ciuman anda bisa membangunkannya.”

“Ini bukan waktunya bercanda Thomas!” sentak Milly pada Thomas, membuat Thomas tertegun seketika. Karena tanpa bisa dikontrol kini air mata gadis itu nyaris melesak keluar.

“Kau seharusnya menghubungi Dokter. Ia hampir mati!”

Thomas makin membatu menyaksikan Milly yang menoleh kembali pada Axton. Gadis itu menelusuri wajah pucat Axton yang sejujurnya hanya polesan belaka.

Reaksi Milly itu benar-benar di luar dugaan Thomas. Sekarang gadis itu terisak dan mulai meracau,

“Ia tidak boleh mati. Jika ia mati, aku tidak punya alasan lagi untuk membencinya. Aku ingin membencinya seumur hidup.”

Perlahan Thomas melirik Axton yang masih menutup mata. Ia tahu bahwa Axton pasti bisa merasakan setetes air mata yang mengenai pipinya.
Detik itu mata Axton terbuka, membuat isakan Milly dalam sekejap sirna.

“Kau bilang apa?” tanya Axton dengan suara dalam.

Dan Thomas tahu rencana ini sudah tidak sesuai ekspektasi. Sorot mata Axton terlihat gusar mengunci manik mata Milly. Spontan mulut Milly terkejut mengetahui bahwa Axton nyatanya baik-baik saja. Sebelum ia menjauhkan tangannya dari pipi Axton, dengan gesit Axton menangkap jemarinya, menahannya tetap di sana.

“Aku tanya kau bilang apa barusan?”

Milly hanya melayangkan tatapan penuh amarah pada Axton. Meski begitu, sisa air mata masih meleleh di pipinya.

Lalu detik berikutnya ia terkejut untuk kedua kalinya karena tindakan cepat Axton. Lelaki itu menarik kepala Milly mendekat dengan sebelah tangannya yang dikebat perban putih, membuat bibir mereka nyaris bersentuhan.

Bola mata Milly seketika membesar, begitu pula dengan Thomas.

Sadar akan apa yang mungkin terjadi selanjutnya, Thomas pun dengan peka memunggungi dua sejoli itu berusaha memberikan privasi dan bersikap tidak melihat apa-apa.

“Aku tidak akan mati dengan mudah. Aku akan selalu berada di sisimu,” kata Axton dengan nada rendah di antara napas hangat mereka yang saling berhembus pelan.

Kemudian ia melepaskan genggamannya di tangan Milly, berganti menyentuh pipi gadis itu, menyeka sisa air mata itu dengan lembut.

“Jadi berhenti menangis. Karena aku benci menjadi orang yang selalu membuat air matamu berderai.”

Detik berikutnya dalam sekejap suara tamparan nyaring dua kali terdengar. Membuat Thomas refleks tersentak dan memejamkan mata.

“Kau sangat keterlaluan,” desis Milly sengit lalu beranjak dari sofa.

Tidak butuh waktu lama Milly telah pergi meninggalkan Axton. Hingga Thomas berbalik dan memandang Axton yang membeku sesaat, sebelum senyum pahit terukir di ujung bibir Axton. Kedua pipi Axton memerah, bekas tamparan.

“Tuan Ax…” Dengan hati-hati Thomas memanggil yang direspon Axton dengan lirikan.

“Saya sudah memperingati anda sebelumnya. Situasi sekarang berbeda, dan sekali lagi, wanita hamil terkadang sangat sensitif dan emosional.”

“Saya juga merasa, mulai sekarang anda perlu membiasakan diri untuk tidak lagi memperjuangkan Nona Eve, melainkan Nona Milly, Tuan Ax. Karena keadaan dan identitas Nona Eve telah berubah. Bahkan sepertinya Nona Eve telah terbiasa menjadi Nona Milly,” terang Thomas lagi dengan pelan, berusaha untuk tidak makin merusak suasana hati Axton.

Sekarang Axton terlihat menyelipkan rokok di bibirnya setelah sebelumnya mengambilnya di saku celana. Ia memantik apinya, lalu menghisapnya dan menghembuskan asapnya, mencoba mencari ketenangan sesaat.

Sementara Thomas hanya memerhatikan tingkah Axton yang tampak sulit ditebak. Seperti sedang merenungi sesuatu. Hingga tiba-tiba gumaman tercetus dari bibir Axton.

“Rachel Leigh. Hanya wanita tua itu yang bisa membantuku.”

Seketika wajah Thomas kembali dihiasi keraguan pekat ketika sadar makna dibalik kalimat Axton. Lantas, ia bersuara lagi dengan intonasi pelan.

“Jika maksud anda adalah membuat wanita tua itu berada di pihak anda, itu berarti anda perlu mengakui tentang apa yang terjadi selama ini pada Nona Milly dan anda, Tuan Ax.”

***

Bersambung