Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 42

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 42- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 41

Permintaan Maaf Axton

Milly membungkuk, memutar kran air di wastafel dapur, membiarkan air itu mengalir. Kepalanya terasa pusing. Entah tidak terhitung berapa kali ia mengalami hal seperti ini. Napasnya terengah-engah. Gejolak di perutnya yang terasa tidak nyaman dan begitu mendesak—minta dikeluarkan—membuat ia berada di sini, alih-alih kamar mandi.

“Kau baik-baik saja?”

Segera Milly berbalik dan mematikan kran air saat merasa suara itu berada di belakangnya. Ia terkejut melihat Axton berdiri di tengah ruangan. Wajah lelaki itu mengeras dengan bola mata yang memercikkan kecemasan.

“Apa yang kaulakukan di sini?” ketus Milly yang justru balik bertanya.

“Hanya ingin memandangmu lebih dekat.” Axton lalu berjalan ke arah gadis itu pelan, tidak menggubris sorot permusuhan yang kentara di mata Milly.

“Berhenti di situ,” peringat Milly tajam mencegah Axton lebih mendekat.

“Aku sudah katakan bahwa aku ingin melihatmu lebih dekat.”

Tanpa aba-aba, satu tangan Milly mengambil cepat pisau di dekatnya, lalu mengacungkannya ke arah Axton penuh ancaman.

“Aku bilang berhenti!” pekiknya dan di detik itu Axton berhenti dengan ujung pisau yang sejengkal akan menyentuh jantungnya.

Menurunkan pandangannya, Axton menatap benda tajam itu sesaat sebelum balik memandang tepat di mata Milly. Mata gadis itu memanas.

“Menjauh dariku,” bisik Milly lirih, memicu keheningan sesaat.

Tanpa melepaskan pandangannya dari bola mata hijau itu, Axton mengangkat tangannya dan mencengkram bilah pisau itu, membuat Milly tersentak. Mulutnya terbuka sedikit melihat tetesan darah dari tangan lelaki itu jatuh ke lantai.

Spontan Milly mendongak, memandang Axton dengan mata berkaca-kaca. “Apa kau sudah bosan hidup?”

Rahang Axton mengetat, meredam seluruh rasa sakit itu. “Menurutmu aku terlihat seperti itu?”

Milly tidak sanggup melihat saat tajamnya bilah pisau itu mengiris kulit Axton hingga ia berbisik lagi, “Hentikan.”

Lalu tanpa diduga, Axton segera membawa tubuh mungil Milly ke dalam rengkuhannya, membiarkan pisau itu terjatuh dan menghasilkan dentingan yang ngilu di antara mereka. Sedangkan tangannya yang terluka, terkulai dengan titik-titik darah yang mengotori lantai.

Axton seolah mencurahkan seluruh perasaannya dalam pelukan itu. Rasa putus asa, penyesalan, dan segala kerapuhan dalam dirinya. Lalu dengan suara serak dan pahit ia mengungkit kejadian mengerikan hari itu.

“Terakhir kali, aku merengkuhmu seperti ini adalah hari dimana kau mengucap kebencian padaku.”

Sesak. Milly merasa dadanya sangat sesak sekarang. Dan selama sesaat ia tidak melakukan perlawanan berarti. Air matanya jatuh dalam keheningan.

“Maaf untuk segalanya, untuk perbuatanku yang menyakitimu juga melukaimu.” Nada penyesalan itu begitu kentara terselip pada suara Axton seiring dengan napas berat lelaki itu yang berhembus di atas kepalanya.

Pelukan Axton berubah lebih erat seolah takut esok mereka tidak bertemu lagi.

“Kau selalu tahu segala tentangku, tapi tidak denganku. Bahkan aku tidak tahu jika selama ini kau alergi udang. Kenapa kau menyembunyikannya dariku?”

Milly tidak menjawab. Air matanya terus mengalir.

“Kau juga terus menghindariku,” ucap Axton yang terdengar putus asa.

“Itu karena aku membencimu,” balas Milly kejam.

Mendengar itu, Axton menguraikan rengkuhannya pelan. Lalu mereka saling pandang. Milly bisa melihat sorot kelam pada bola mata Axton, seakan-akan ada separuh jiwa yang hilang.

Tapi secepat kilat Milly menyembunyikan seluruh keraguan tak beralasan di lubuk hatinya. Ini bukan kali pertama ia merasa seperti ini, dan ia yakin ia bisa melakukannya lagi.

Ditatapnya sengit Axton, meski matanya berair. “Aku sangat membencimu,” tegasnya mengulang, yang lebih terdengar sedang berusaha tegar.

“Tapi aku sangat merindukanmu,” balas Axton sebaliknya dengan nada rendah.

“Aku adalah Milly Kincaid, jika kau lupa,” ungkit Milly.

Axton paham kata-kata gadis itu. Hingga secara spontan tangan Axton meraih kepala gadis itu, membenturkan di dadanya. Kepala Axton agak menunduk. Tangannya mencengkram belakang kepala gadis itu frustrasi.

Sedangkan Milly untuk kesekian kali menjadi tidak bisa berkutik dan hanya mematung. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan air mata lagi.

“Aku tidak peduli. Kau akan menjadi wanita yang selalu bersamaku.”

“Kau salah. Aku akan menjadi wanita yang akan meninggalkanmu.”

“Dengarkan, itu adalah detak jantungku. Aku hanya bisa merasakan hal itu jika aku bersama orang yang kucintai,” bisik Axton tiba-tiba, membuat kedua tangan Milly perlahan mengepal di sisi tubuh.

Ia ingat kalimat itu. Itu adalah kalimat yang pernah diucapkannya untuk Axton saat ia hidup sebagai Evelyn Blossom. Saat untuk pertama kalinya Axton merasa cemburu pada anak lelaki di kelasnya. Dan saat itu… adalah hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih.

“Aku pernah menanyakan apa bukti jika kau juga benar-benar mencintaiku. Tidakkah kau ingat tentang itu?” Axton melirik rambut coklat Milly, tersenyum miris.

“Dan sekarang pun sama. Detak jantungmu tidak bisa menipuku. Kau membenciku tapi juga masih mencintaiku.”

Milly yang tidak tahan lagi akhirnya mendorong Axton menjauh, dan Axton hanya pasrah. Ia menyelami lamat-lamat bola mata Milly yang menatapnya nyalang disertai setetes air mata yang jatuh.

“Aku tidak ingat tentang itu, dan aku tidak pernah mencintaimu!” jerit Milly.

Setelah itu ia berlalu cepat melewati Axton, menahan matanya agar tidak melirik luka di tangan lelaki itu yang darahnya terus berjatuhan di lantai.

Axton bergeming sesaat.

Kalimat itu barusan begitu menohoknya. Tapi tidak membuatnya kesal sedikit pun. Justru sebaliknya, dengan cepat Axton mencekal tangan Milly.

Sontak kepala gadis itu berputar ke arahnya. Lalu pada detik itu pula, Axton menariknya. Tidak kencang, melainkan pelan namun sukses membuat Milly merapat ke arahnya secara refleks karena hilangnya keseimbangan.

Lelaki itu dengan sigap melingkarkan satu tangannya di pinggang Milly dan mencium pipinya lembut. Bola mata Milly sontak melebar. Terlebih saat mendengar Axton berbisik rendah, “Aku tidak keberatan menjadi pria yang akan mengejarmu lagi,” bibir bagian atas Axton masih menyentuh di pipi Milly.

“Dan membuatmu jatuh cinta padaku lagi seperti 6 tahun lalu.”

Ketika Axton telah menjauhkan kepalanya, detik itu Milly lalu mendaratkan tamparan kuat ke pipi kanannya hingga memicu bunyi nyaring di antara mereka.

“Jangan pernah melakukan hal menjijikan itu padaku, bajingan!”

Usai meluapkan emosinya, Milly menepis tangan Axton di pinggangnya, lalu meninggalkan lelaki itu. Axton membeku. Matanya tidak berkedip sedikit pun. Sebelum ia menolehkan kepalanya memandang kepergian Milly dengan penuh arti.

Setidaknya detak jantung gadis itu menjelaskan… bahwa ada yang tersisa; ia masih punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya dan mengutuhkan kembali kepingan-kepingan kebersamaan mereka yang retak.

“Tuan Ax… apa rasanya sangat sakit?” ringis Thomas yang berjalan masuk ke dapur. Ia tadi sempat melihat aksi penganiayaan kecil yang dilakukan Milly terhadap Axton.

Pertanyaan konyol Thomas itu segera direspon Axton dengan lirikan.

Seketika Thomas berdeham. “Maafkan saya Tuan Ax. Saya tidak bermaksud untuk…” ucapan Thomas terputus saat pandangannya tidak sengaja melihat darah di lantai.

Spontan ia merasa cemas. “Apa anda terluka Tuan Ax?” Ia menatap Axton kemudian.

“Tidak masalah.”

Axton lalu berjalan menuju wastafel, menyalakan kran air untuk membersihkan darah di telapak tangannya, juga mengabaikan rasa kebas di pipinya.
Sementara Thomas melirikkan matanya ke arah berlalunya Milly tadi sambil berkata hati-hati pada Axton,

“Anda seharusnya saat ini masih memberi ruang untuk Nona Eve, Tuan Ax. Terkadang saat hamil, emosi wanita suka menjadi tidak stabil.”

Mendengar itu, Axton melirik Thomas di tengah air yang mengalir berpadu dengan darah di telapak tangannya.

“Semua sudah terlanjur Thomas. Dan jika aku kembali memberi ruang untuknya, itu juga takkan membantu lagi.”

Setelahnya Axton mematikan kran. Mengambil kain yang berada dekat jangkuannya, melilitkannya di telapak tangan sambil bergumam, “Andez bilang bahwa Elena akan menyakinkannya untuk menerimaku.

Sepertinya itu tidak berhasil. Ide keparat itu menyuruh kekasihnya memasak untukku benar-benar menyiksaku. Aku selesai untuk itu.”

“Tapi anda terlihat menggemaskan ketika harus bolak-balik ke toilet Tuan Ax.”

Axton memicing tidak senang dengan kata-kata Thomas yang berunsur gurauan, bahkan saat ini Axton bisa melihat senyuman terkulum Thomas.

“Aku menderita dan bagimu itu lucu?”

“Setidaknya anda tidak terluka Tuan Ax.”

Balasan spontan Thomas yang lugas itu membuat Axton jengkel. “Kau bilang apa?”

“Maafkan saya Tuan Ax.”

Axton makin jengkel melihat ucapan Thomas yang nyatanya berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya sekarang. Kepala Thomas agak menunduk, satu tangannya mengepal, menutup mulut demi meredam tawa.

“Dan sekarang kau menertawakanku?” Alis Axton terangkat, wajahnya kecut bukan main mendengar tawa tertahan Thomas.

“Saya tahu, saya lancang, tapi akan lebih baik jika saya jujur pada anda Tuan Ax.”

Saat mengatakan itu Thomas telah menghentikan tawanya, mendongak dan tersenyum geli memandang Axton, membuat raut muka Axton kentara tidak senang, terlihat kesal bukan kepalang.

“Kau benar, aku merasa seperti keledai dungu saat menjalankan ide sialan Andez,” desisnya keki.

Detik berikutnya Axton melewati Thomas begitu saja, bukti nyata dari kekesalannya.

Sontak Thomas memutar badannya dan berseru pada Axton, “Tuan Ax, apa anda marah sekarang pada saya?”

Tapi tidak ada balasan dari Axton selain sosoknya yang murni menghilang dari pandangan Thomas.

***

Bersambung