Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 41

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 41- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 40

Pertarungan Bodoh antara Axton dan Fernandez

Sementara di kamar Axton mengamati rekaman CCTV lewat laptop. Posisinya sedang bersandar di tiang ranjang dengan selimut membungkus tubuhnya hingga sebatas perut.
Wajahnya terlihat lemas dengan butiran-butiran keringat memenuhi sekitar dahinya karena energinya beberapa hari ini terkuras oleh sesuatu yang konyol.

“Keparat itu…” desisnya lemah.

Entah bagaimana Fernandez mengetahui tentang CCTV itu. Benda yang belum lama ini ia perintahkan Thomas untuk memasangnya di dapur.
Tujuannya hanya sekedar mencari tahu penyebab masakan Elena yang terasa buruk kian hari.

Menutup laptopnya, Axton pun menggesernya benda itu ke sisi tubuh. Satu tangannya meremas rambut frustasi.

“Jadi selama ini, ia melarang kekasihnya itu untuk mencicipi masakannya sendiri,” asumsinya berdasarkan gerak-gerik Fernandez dari kamera CCTV tadi.

Entah apa yang dibicarakan Fernandez dengan kekasihnya itu, Axton tidak tahu. Sebab daya tangkap seluruh CCTV di rumahnya terbatas untuk merekam suara.

Tidak lama pintu kamarnya terbuka, membuat kepala Axton terangkat. Fernandez muncul dengan muka lempeng. “Bagaimana keadaanmu hari ini?”

“Sangat buruk keparat.”

“Itu berita bagus.”

“Sialan,” gerutu Axton dengan nada datar.

Axton memang memilih beristirahat di rumah usai merasa lebih baik. Ia hanya tidak suka terkurung lama dalam ruangan yang dipenuhi bau obat-obatan.
Fernandez kemudian menutup pintu.

“Hari ini Elena membuatkanmu lasagna,” beritahunya ulang.

Setelahnya ia memandang Dalton yang bergelung di sebelah Axton. Anjing itu tampak bermalas-malasan, matanya pun nyaris meredup. Fernandez melirik kaki anjing itu yang dikebat putih dan berkata kemudian, “Sepertinya kakinya mulai membaik.”

Axton yang sadar arah lirikan Fernandez lantas mengusap kepala anjing itu yang sekarang menguap. “Lebih baik dari sebelumnya.”

“Ia pasti berusaha membantu hari itu, dan beruntung Thomas menemukannya di belakang halamanmu walau aku tidak yakin seberapa parah lukanya waktu itu,” ujar Fernandez sambil melangkah ke arah Axton, meletakkan nampan itu di atas nakas, berlanjut meraih sekotak alumunium foil.

“Makanlah,” sodor Fernandez pada Axton, sementara Axton hanya memandang enggan.

Bentuk lasagna itu sekilas terlihat lezat tapi sayang semua itu hanya tipuan. Karena selama beberapa hari ini, Axton sudah membuktikannya. Seluruh masakan Elena selalu tertata dengan baik. Gadis itu sangat jago mempercantiknya tapi tidak dengan rasanya.

“Bentuknya sangat menarik. Elena sepertinya membuatnya dengan sepenuh hati. Dan aku tidak keberatan membaginya bersamamu. Karena aku bukan tipe lelaki pencemburu untuk hal semacam ini.” Fernandez tersenyum miring, lalu mendekatkan sekotak alumunium foil itu ke hidung Axton.

“Habiskan dan jangan ada yang tersisa.”

Axton bergeming, mukanya terlihat kehilangan sebagian energi tubuh.

“Kau tahu, hanya ini satu-satunya cara. Semakin sering kau ke toilet, semakin ia tidak bisa meninggalkanmu. Ia akan pergi jika kau telah membaik, dan itu artinya kau harus makin memburuk. Jadi buanglah air besar sebanyak yang kau bisa.”

Kalimat Fernandez itu menuai umpatan pelan dari Axton.

“Aku tidak tahu kenapa kau bisa tergila-gila pada gadis yang tidak bisa menyajikan makanan baik untukmu.” Tangan Axton merampas kasar sekotak alumunium foil itu di tangan Fernandez.

Sejak ia tersadar hari itu di rumah sakit, Milly memang tidak pernah ditemuinya secara langsung. Hanya dari jauh, lewat kaca kecil di kamar rawatnya. Bahkan tatapan gadis itu terasa dingin, seolah mati rasa saat memandangnya. Juga terlihat enggan melakukan komunikasi apapun dengannya.

Untuk memantau seberapa pulih keadaannya saja, gadis itu lebih memilih mencari tahu lewat perawat ketimbang menanyakan langsung padanya.
Sampai hari ini pun, gadis itu masih menghindarinya.

Hingga satu-satunya hal yang dilakukan Axton sementara ini adalah mengalah dan memberi ruang barang sejenak untuk gadis itu—sesuai usul Thomas. Meski sejujurnya Axton ingin menghampiri dan merengkuhnya, mengatakan seberapa besar menyesal dirinya.

Lalu sekarang Axton mencoba berspekulasi pada ide Fernandez yang sejujurnya amat menyiksanya.
Ketika ia menyendok secuil dan memasukkannya ke mulut, bola mata Axton seketika melebar.

Fernandez spontan menyipitkan mata. Apalagi sekarang reaksi Axton seperti hendak muntah namun memaksa menelannya.

“Benar-benar beracun,” nilai Axton ngeri.

“Jika itu beracun kau sudah mati sejak hari pertama mencicipi setiap masakan kekasihku,” sinis Fernandez dengan muka bosan sekaligus merasa tidak terima akan penghinaan itu.

“Lagi pula, kau seharusnya berterima kasih padanya. Karena saat ini, kekasihku sedang menyakinkan wanita yang kau cintai itu untuk menerimamu lagi.”

“Menurutmu kekasihmu itu akan berhasil?”

“Tidak ada salahnya mencoba, Axton.”

“Aku meragukan hal itu. Lagi pula, ia tidak akan semudah itu memaafkanku, Andez.”

“Ia mencemaskanmu Axton. Ia bahkan masih mempertahankan bayimu.” Sejenak tangan Fernandez merogoh sebotol kaca berisi kapsul dari kantong celananya dan memperlihatkannya pada Axton.

“Meski dari luar ia terkesan tidak peduli, tapi tidak dengan hatinya. Dan terbukti, kemarin ia memintaku untuk membelikanmu obat ini agar kondisi perutmu lekas membaik.”

Detik berikutnya, Fernandez menampilkan raut penuh kemenangan seolah puas karena rencananya beberapa hari ini telah membuahkan sedikit hasil.

“Kau berhasil menarik perhatiannya walau hanya sedikit,” lalu menaruh obat itu di atas nakas Axton bersebelahan dengan nampan.

Axton tersenyum miring yang menyimpan makna terselubung. Dengan posisi yang tidak berubah, ia melirik Fernandez yang menyeringai padanya.

“Tapi aku sungguh tak tahan dengan idemu Andez.”

“Kau harus kuat, Axton.”

“Setidaknya aku telah tahu satu hal…” Axton lalu melirik kotak alumunium foil di tangannya dan menoleh pada Dalton. “Hei, Dalton… apa kau lapar?”

Hanya dalam hitungan detik bola mata Fernandez melotot, suasana di kamar itu dalam sekejap berubah menjadi pertarungan bodoh. Kedua lelaki itu kini terlibat aksi saling tarik-menarik kotak alumunium foil dengan arah berlawanan, sementara Dalton telah berada di lantai, duduk manis sambil mengonggong di antara mereka, menunggu dengan setia.

“Guk. Guk.”

“Kau harus menghargai kekasihku Axton.”

“Aku menghargainya Andez. Dan Dalton akan menghabiskannya sampai bersih.”

“Itu artinya kau membuangnya.”

“Aku hanya tidak ingin mati konyol.”

“Ini tak seberbahaya itu, Axton. Rasanya cukup lezat jika kau menutup matamu.”

“Guk. Guk.”

“Jika bagimu lezat, kenapa porsiku lebih banyak dibanding punyamu?” Axton menyindir dan melirikkan matanya ke arah kotak alumunium foil milik Fernandez di nampan yang ada di atas nakasnya dan isinya sisa setengah.

“Elena menyuruhku menumpahkannya sebagian untukmu, brengsek.”

“Guk. Guk. Guk,” gongonggan Dalton makin nyaring. Ia berputar-putar di tempat seperti tidak sabaran. Ekornya bergoyang.

“Bilang saja kau sendiri tak sanggup memakannya, keparat. Dan ini semua atas inisiatifmu. Tidak ada hubungannya dengan kekasih sialanmu.”

“Apa kau baru saja menghina keka—”

Ucapan Fernandez terpotong seketika karena Dalton mendadak menyambar cepat kotak alumunium foil itu hingga terjatuh ke lantai, beberapa isinya tumpah. Anjing itu tidak merasa bersalah sedikit pun dan justru buru-buru melahapnya.

Itu membuat Fernandez terkesiap. Begitu pula dengan Axton.

Bertepatan dengan itu pula, suara pintu kamar terbuka membuat Axton dan Fernandez seketika menoleh. Jika ekspresi Fernandez terkejut melihat Elena, Axton menampilkan ekspresi yang menyimpan sejuta misteri dengan sorot mata intens tertuju pada gadis yang berdiri di belakang Elena dan tidak berani menatapnya.

“Apa yang kalian lakukan?” Elena lantas menatap ke lantai pada Dalton yang asik menyantap lasagnanya yang sebagian berceceran di bawah.

“Kalian menjatuhkannya?”

Mendongak, Elena memandang Axton dan Fernandez bergantian. “Apa yang terjadi di sini?”

Axton menatap tanpa emosi pada Fernandez, namun ujung bibirnya tertarik.

“Andez, kekasihmu itu tidak rela kalau aku menikmati lasagna buatanmu Elena. Jadi ia merebutnya dariku dan ingin memakannya sendirian.”

Alasan Axton itu membuat Fernandez melotot dua kali lipat. “Apa?”

“Ia sangat menyukai masakanmu Elena. Terlalu menyukainya dan sibuk mengangguku.”

“Kau—”

“Jika begitu, kau bisa mengatakannya padaku Andez,” protes Elena kesal dan senang secara bersamaan, juga membuat ucapan Fernandez terputus. Gadis itu menahan senyum dan memutar bola mata ke atas.

“Tunggulah di sini. Aku akan membuatkannya lagi untukmu dengan porsi yang lebih besar.”

Ketika mengatakan itu pada Fernandez, Elena sudah berbalik. Ia mulai keluar dari kamar Axton, sementara Fernandez melemparkan lirikan sengit pada Axton yang tampak puas dengan sebelah alis terangkat.

Beberapa detik kemudian, Fernandez sudah bergegas menyusul Elena, membuat kamar itu seketika hening, menyisakan Axton dan Milly saja. Dari luar sayup-sayup obrolan singkat Elena dan Fernandez terdengar selama sesaat.

“Tidak Elena. Kau dan aku sebaiknya mempersiapkan diri untuk acaraku sebentar malam.”

“Kau yakin? Tapi—”

“Andez!”

Tak butuh waktu lama sosok Fernandez terlihat melewati ambang pintu kamar Axton yang pintunya terbuka dengan Elena yang terseret mengikuti secara otomatis. Fernandez menarik lengan gadis itu, memaksa mengikuti.

Dua detik berselang terdengar pintu berdebam, menandakan bahwa keduanya telah pergi tanpa mengucapkan pamit.

Milly yang melihat adegan kilat itu lantas mengerjap. Lalu menatap Axton yang nyatanya sedang mengamatinya lekat seperti sedang menyelami manik matanya.

Lantas dengan berani Milly memamerkan sorot dengki itu pada Axton, menyembunyikan rasa tidak nyamannya, sebelum membuang muka dan bergegas meninggalkan lelaki itu.

Tanpa suara, Axton menyingkirkan selimut dan bergumam, “Persetan dengan ruang jarak sialan.” Tubuhnya memang terasa lemas tapi tidak sampai membuat ia tidak bisa bergerak untuk menyusul Milly.

***

Bersambung