Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 40

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 40- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 39

Menu Favorit Axton

Satu bulan kemudian telah berlalu sejak kejadian di rumah sakit itu dan kini di sinilah Milly sekarang, menunduk di wastafel dan memuntahkan sesuatu yang sia-sia, sementara Elena berdiri di sebelahnya mengusap punggungnya pelan dengan ekspresi cemas.

“Apa seburuk itu?” tanyanya pada Milly yang kini menyalakan kran air untuk membasuh mulut.

“Ya, dan aku ingin sekali mengugurkannya tapi…” Milly menyelipkan beberapa helai rambut ke telinga, mengangkat wajah lelahnya dan mematut dirinya di cermin sambil tersenyum getir.

“Jika aku melakukannya, aku akan menjadi Ibu terburuk di dunia.”

Lalu ia menoleh pada Elena yang tidak bisa menyembunyikan rasa harunya saat mendengar kalimat Milly berikutnya, “Seorang Ibu yang baik tidak akan pernah menyesal melahirkannya. Kurasa aku ingin ia bangga padaku suatu hari nanti.”

Elena tidak bisa menyembunyikan rasa harunya.
Milly pun pasrah saat Elena menarik tubuhnya, mendekapnya erat seolah memberi kekuatan.

“Meski tanpa Ayahnya,” timpal Elena menambahkan.

“Kau pasti akan menjadi Ibu yang hebat untuknya, Milly.”

Milly memaksakan senyum terbit di bibirnya. Ia juga berharap demikian.
Pada dasarnya, bayi ini tidak tahu apa-apa. Ia tidak seharusnya merenggut nyawanya. Lagi pula, cara itu bukanlah hal yang tepat untuk melupakan segalanya.

Tanpa Elena sadari, Milly membuang napas pelan sebelum membalas pelukannya.

“Dan kau belum mengatakan apapun pada Bibi Rachel bukan?”

“Seperti permintaanmu. Setelah kau memastikan bahwa penolongmu itu baik-baik saja, kau akan memberitahukannya sendiri.” Elena menguraikan pelukan mereka, mengerling jahil.

Ia bukan penolongku Elena. Ia adalah bajingan itu.
Tapi alih-alih mengatakan isi pikirannya, Milly hanya memaksakan senyum pada kalimat berunsur godaan yang dilontarkan Elena.

“Terima kasih Elena.”

Andai saja Elena tahu bahwa Axton adalah bajingan yang ia maksud, Milly yakin temannya itu takkan mau menginjakkan kakinya ke rumah ini. Bahkan bagian terburuknya adalah Elena yang tak mau mengenal Fernandez lagi.

Dan itu akan menjadi pembalasan setimpal untuk Fernandez. Tapi jika ia melakukannya, apa bedanya dirinya dengan mereka?

“Axton, pria itu menyukaimu,” bisik Elena yang merangkul pundak Milly ketika mereka berjalan keluar dari kamar mandi.

Milly melirik Elena. Temannya itu masih melanjutkan dengan intonasi suara yang sama, “Andez memberitahuku beberapa hari lalu.”

Ia tidak tahu mengapa Fernandez membeberkan hal itu pada Elena. Lelaki itu jelas tahu seperti apa hubungannya di masa lampau dengan Axton. Dan jika ini hanya salah satu trik Fernandez untuk menguji perasaannya, sayang sekali itu takkan berhasil.

Lelaki itu telah salah besar.
Ia benar-benar telah membekukan hatinya saat ini.
Tidak ada satu pun ruang yang tersisa untuk… Axton.

Walau tidak dipungkiri, sesekali keraguan itu muncul menghantui hati dan akalnya. Tapi dengan pandai Milly mengatasinya, menepis segalanya.
Dan sekarang ia sedang bersikap kuat untuk sementara di sebelah Elena dengan balas berbisik,

“Aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun saat ini, Elena. Aku hanya ingin hidup bahagia dengan bayi ini.”

“Itu artinya kau menolaknya.”

“Kau bisa menyampaikan penolakanku pada Andez.”

“Kau yakin tidak ingin mencoba bersamanya?”

Seketika Milly menghentikan langkahnya untuk menoleh pada Elena yang juga telah menunda langkahnya untuk berjalan.

Elena memasang tatapan serta senyum usil, tapi hanya bertahan satu detik karena balasan logis Milly begitu menohok dan sukses membuat Elena berganti memasang raut terluka seolah kata-kata itu ditujukan Milly untuknya.

“Maaf, tapi ia bukan tipeku Elena.”

“Kau akan melukai egonya dengan kata-kata itu.”

***

Di dapur Fernandez meletakkan sekantong plastik besar berlogo restoran ke meja bar dan bersandar di sana, dan bersamaan dengan itu Elena dan Milly muncul.

Jika Elena mengerjap melihat sekantong plastik besar itu, Milly hanya menatap tidak minat. Setelahnya kedua gadis itu serentak memandang Fernandez yang mengedikkan bahu dan tersenyum.

“Seperti biasa, dari fans fanatiknya.”

Tentu, semua itu hanya dusta Fernandez belaka dan kegiatan ini sudah ia lakukan selama beberapa hari ini. Beruntung kedua gadis di hadapannya ini tidak menyadari bahwa di balik makanan lezat yang ia bawa beberapa hari ini sejujurnya adalah makanan yang sengaja dibelinya sendiri.

“Kau yakin?” tanya Elena yang sudah mendekat, mengintip isi plastik itu dan terperangah melihat tacos dan nachos—makanan khas meksiko yang menjadi kesukaannya.

“Seperti biasa, Axton tidak mau memakannnya. Ia lebih suka masakanmu Elena.”

Milly memutar bola mata malas, sedangkan Elena justru menoleh tak percaya pada Fernandez dan secepat kilat pula ekspresinya berubah bahagia sampai ia tertawa malu.

“Bilang saja kalau kau juga menginginkan masakan Elena,” sindir Milly dengan berani tapi intonasi suara itu sangat pelan.

Elena seketika terkejut, ia ingin memastikan bahwa telinganya tidak salah menangkap ucapan tidak segan yang baru terlontar dari mulut temannya itu.

“Milly barusan kau bilang apa?”

Bahkan nada ketidaksukaan Milly yang kentara itu menuai rasa heran bagi Elena.

Spontan Milly tergagap, sadar bahwa ia keceplosan. Tidak seharusnya ia menunjukkan sifat asli itu di depan Elena. Lagi pula Elena tidak tahu pertikaian tak kasat mata yang terjadi di antara mereka selama ini.

“Aku tidak mendengar apapun, Elena. Sepertinya kau hanya berhalusinasi,” bela Fernandez tiba-tiba, lalu merangkul bahu Elena dan mengalihkan topik,

“Dan saat ini, aku sangat ingin makan masakanmu. Apa menumu hari ini?”

Milly sadar bahwa kata-kata Fernandez terakhir itu ditujukan untuk membalas sindirannya. Lagi-lagi, ia memutar bola mata bosan.

“Kau bilang bahwa Axton menyukai lasagna. Dan…”

Tiba-tiba suara oven yang menandakan masakan telah matang mencuri perhatian Elena. Ucapannya tertunda sesaat karena ia bergegas menuju oven sambil meraih buku resep masakan di dekat situ.

Usai mengeluarkan masakannya itu, Elena meneliti bentuk makanan yang nyatanya sudah sesuai dengan buku resep makanan. Kemudian ia berbalik dan meneruskan pada Fernandez,

“Hari ini aku membuatkan menu itu untuknya.”

Melihat dua kotak alumunium foil berisi lasagna di tangan Elena, spontan Fernandez menyunggingkan senyum lebar.

Selang beberapa menit, Elena menaruh makanan itu ke meja bar. Fernandez berada di sampingnya. Di detik Elena hendak mencicipi, di detik itu pula Fernandez menahan tangannya, membuat kepala Elena berputar ke arahnya.

“Tidak perlu,” bisik Fernandez lembut seperti berbicara pada anak-anak, tatapannya mengunci tepat di mata Elena.

Sudut bibir Fernandez tertarik.

“Sudah kukatakan berulang kali kau tak perlu mencicipinya, bahkan selama kau membuatnya sekalipun. Aku sudah yakin seperti apa rasanya, Elena.”

Lalu bulu kuduk Elena seketika meremang sewaktu merasakan cekalan Fernandez yang menjalar pelan menyentuh jemarinya sebelum meraih sendok dari tangannya.

“Takaran bumbu yang kau masukkan… selalu pas.”

Rona merah merambat di kedua pipi Elena mendengar bisikan lembut berunsur pujian yang dilontar Fernandez. Tapi hal itu tidak berlangsung lama karena deheman kecil Milly menginterupsi, membuat Elena segera menjauhi Fernandez.

“Maaf, jika aku menganggu kalian,” ucapnya Milly memasang raut pura-pura tidak enak saat dua pasang mata itu menatapnya.

Pandangan Fernandez terlihat datar, sedangkan Elena justru tampak salah tingkah, seperti tertangkap basah berbuat sesuatu yang buruk. Ia kemudian tertawa canggung.

“Kau sama sekali tidak menganggu kami, Milly.”

Saat Elena mengatakan itu, Fernandez sudah sibuk meletakkan dua kotak alumunium foil berisi lasagna ke nampan, lalu memandang ke atas dan mengangkat makanan itu ke arah kamera CCTV. Menyeringai ia berbicara meski tatapannya minim emosi, “Menu favoritmu, lasagna.”

Seketika itu juga Milly dan Elena mengikuti arah pandang Fernandez. Mereka turut menatap CCTV yang terpasang di dapur. Elena ternganga, sementara Milly memicing penuh curiga.

“Sejak kapan benda itu ada di situ?” Pipi Elena makin memerah karena teringat dua hari lalu Fernandez pernah menciumnya di dapur ini.

***

Bersambung