Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 39

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 39- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 38

Kenangan Masa Lalu yang Menyulitkan

Fernandez membuang napas setelah menatap kepergian Thomas dan Robert di lorong rumah sakit. Beberapa menit lalu, ia terlibat percakapan dengan Thomas dan Robert dalam membereskan seluruh kekacauan yang terjadi.

Atas sarannya pula, kini Thomas menjalankan tugas untuk membereskan perkara di rumah Axton, sedangkan Robert berurusan dengan perkara Roger beserta anak buahnya yang dipastikan tidak akan pernah muncul lagi.

Tidak sedikit orang-orang yang lalu lalang memerhatikan Fernandez. Bercak darah di kemeja abu-abunya sangat mencolok seolah ia telah terlibat kasus serius.
Namun Fernandez mengabaikannya dan memilih berderap pelan menghampiri Milly yang duduk di kursi dan dari tadi hanya menangis.

Begitu tiba, Fernandez ikut duduk di sana, bersebelahan dengan Milly. Namun jarak terbentang cukup jauh di antara mereka. Kedua tangan Fernandez saling bertautan. Ia melirik sekilas Milly yang menunduk, terisak dan mengepalkan kedua tangan di atas paha. Rambut gadis itu begitu berantakan, mencuat kemana-mana.

“Aromu itu akan baik-baik saja,” gumam Fernandez.

“Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak peduli padanya. Aku membencinya,” racau Milly di sela isakannya. Ia lantas mendongak, menatap penuh kebencian Fernandez.

“Dan kau…” jeda, sebelum dengan suara bergetar Milly melanjutkan,

“aku juga benci padamu Andez.”

“Aku juga membencimu, Eve. Tapi kalau boleh jujur…” sesaat Fernandez menggantung kalimatnya, balik menatap Milly sebelum meneruskan.

“sebagian diriku yang lain tidak ingin membencimu.”

“Karena sebagian diriku ingin kau tetap menjadi adik perempuanku, satu-satunya.”

Tangis Milly mereda. Ia agak terkejut dengan pengakuan Fernandez, tapi ia terlanjur membekukan seluruh kenangan hangat yang pernah terjalin di antara mereka. Sekarang, hanya ada kilat kebencian yang terpancar di matanya, meski genangan cairan bening itu juga mengumpul di pelupuk mata.

“Kau bukan kakak yang baik Andez. Kau kakak terburuk yang pernah kukenal di dunia ini. Kau meninggalkanku hari itu dan membuatku sangat ketakutan.”

“Kau tidak perlu memberitahuku tentang itu, Eve. Aku tidak keberatan jika kau mau membenciku sampai saat ini. Itu tidak masalah.”

“Aku memang membencimu. Aku membenci kalian berdua! Kalian, orang-orang yang selalu menggunakan kekuasaan untuk menghancurkan orang kecil seperti kami. Dan berhenti memanggilku dengan nama itu!”

Ucapan luapan penuh emosi Milly itu membuat Fernandez mengalihkan pandangan pada tembok putih di lorong rumah sakit.

Lalu sambil terisak, Milly menyambung lagi, “Aku adalah… Milly.”

“Jika kau ingin aku memanggilmu begitu, aku akan melakukannya.”

Milly membuang muka ke arah lain ketika Fernandez memanggilnya pelan, “Milly…”

Dada Milly terasa sangat sesak sekarang. Kenangan masa lalu tentang siapa ia sebenarnya begitu menyulitkan dirinya. Ia memejam kuat, terlebih saat Fernandez mengatakan kata-kata yang makin menyudutkannya.

“Axton, ia telah mempertaruhkan hidupnya untukmu. Ia selalu melindungimu. Dan kau seharusnya berterima kasih padanya, Milly.”

Dengan tenang, Fernandez menoleh lagi pada Milly. Bahkan terang-terangan ia mengutarakan maksud kalimatnya,”Kau harus membalas kebaikannya dengan tidak meninggalkannya begitu saja.”

Air mata membanjiri wajah Milly. Kembali ia menatap Fernandez, tajam dan menusuk. “Kau tidak berhak mengaturku Andez,” ketusnya dengan ekspresi tidak bersahabat.

Setelahnya ia buru-buru menyeka air mata di pipi dan mati-matian menahan agar cairan bening itu tidak melesak lagi.

“Aku tidak pernah memintanya untuk melindungiku. Dan jika ada dua pilihan di dunia ini… aku lebih baik mati daripada harus diselamatkan oleh orang yang sangat kubenci.”

Fernandez mengamati seksama Milly dengan sorot tidak terbaca. Kalimat barusan memang terkesan kejam bahkan binar mata gadis itu tampak memancarkan kebencian, tapi nada getar dalam suara Milly tidak bisa menipunya, bahwa kebencian gadis itu tidak seberani ucapannya.

“Aku tahu. Tapi Eve, ia pernah mencintai pria yang sangat kau benci, Milly.”

“Hentikan Andez.”

“Jika kau ingin aku berhenti, kau harus dengarkan aku sebagai Eve dan bukan Milly.”

Pada akhirnya Milly mengalah. Ia menuruti permintaan Fernandez, tapi kilat kebencian itu tetap ditunjukkannya lewat bola matanya secara kentara.

“Axton kita sama-sama mengenal seperti apa sosoknya,” ujar Fernandez serius.

“Ia tidak mungkin lepas kontrol jika kau ada di sisinya. Dari dulu, hanya kau yang bisa membuat ia menjadi seseorang yang lebih baik, Eve.”

Perlahan buliran air mata itu kembali meluruh dari mata Milly, dan itu menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya melupakan tentang siapa dirinya.
Ia belum sepenuhnya menghapus jati dirinya di masa lalu.

“Seandainya Milly Kincaid, gadis itu masih hidup… kau mungkin akan menjadi satu-satunya orang yang didengarkannya untuk tidak melakukan kebodohan. Seandainya juga kau yang menenangkannya saat ia sedang butuh pendengar tentang Ibunya yang menjadi hancur setelah ditinggalkan oleh Ayahnya, ia mungkin tidak akan menembak Ayahnya hari itu.”

“Karena kau pasti akan mendampingnya, Eve. Selalu. Dan karena itu pula, kau menjadi sesuatu yang paling berharga baginya di dunia ini.”

Seketika itu juga Milly kembali menangis keras di lorong rumah sakit yang mulai lenggang. Terlebih mengetahui fakta terkait kematian Otis yang dulunya ia kenal sebagai sosok yang dikagumi Axton.

Seluruh pertahanan kebencian yang ia bangun nyatanya tidak lebih besar dari sisa rasa yang tertanam di hatinya. Bahwa ia pernah begitu peduli dengan lelaki itu dulunya. Bahwa lelaki itu pernah menjadi bagian dari dunianya. Sebelum semua perbuatan lelaki itu yang pada akhirnya menyakitinya begitu dalam. Membuat dadanya terasa sakit dan perih.

Fernandez yang mendengar isak memilukan itu perlahan menyandarkan punggung ke kursi. Ia mendesah pendek tanpa memandang Milly.

“Aku tahu kau takkan memaafkanku. Tapi aku akan tetap mengatakannya.”

“Maafkan aku, Milly.”

Tidak lama kemudian ponsel Fernandez berdering. Lantas ia merogohnya, dan sesaat Fernandez hanya memandang layar yang berkedip itu, seperti merenung.

Detik berikutnya, ia mengangsurkannya ponsel itu pada Milly dan membuat gadis itu yang tadinya menangis seketika tertegun. Sisa air mata itu meleleh di pipinya, bibirnya bergetar. Kemudian ia langsung memandang Fernandez karena ucapan lelaki itu.

“Jika kau mau, kau bisa membalasku. Elena, ia adalah kelemahanku.”

Tanpa peduli pada apapun, Milly mengambil kasar ponsel di tangan Fernandez, langsung mengangkatnya dan menempelkan ke telinga, sementara Fernandez cuma mengamati dengan aura ketenangan seperti lautan.

“Andez, aku hanya ingin memberitahumu bahwa hari ini aku baru saja keluar dari-”

“Elena…” interupsi Milly lirih sambil menghapus air mata di pipinya sekali lagi. Sekilas ia melirik Fernandez. Nyatanya di balik daya kontrol diri yang baik itu, ada sebersit binar kecemasan yang terpatri di bola mata Fernandez dan Milly sempat menangkapnya.

“Ini aku Milly…”

Sesaat senyap.

“Elena…” panggil Milly lagi memastikan bahwa Elena masih ada di seberang.

“Jangan bercanda padaku! Ini lelucon yang sangat konyol. Dengar siapapun yang ada di sana, aku takut dengan hantu. Jadi-”

“Terakhir kali kita berpisah saat kau dan Andez mengantarku,” potong Milly yang tanpa sadar kembali mengucurkan air matanya karena bayangan perlakuan bejat Axton di awal pertemuan itu berkelebat di ingatannya.

“Kau… kau masih hidup?” Dari nada suaranya, Elena terdengar seperti terkejut sekaligus tak percaya dan sekali lagi Milly menyakinkan dengan intonasi kegetiran nyata,

“Ya… dan semua ini karena bajingan itu, Elena.”

Tentu Elena tidak akan tahu siapa bajingan yang dimaksud Milly. Temannya itu mungkin bingung dengan segala yang terjadi, dan Milly tidak keberatan untuk menjelaskannya.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Gadis di pemakaman hari itu-”

“Semua itu palsu Elena,” lagi Milly menyela langsung.

“Bajingan itu, ia sengaja melakukannya. Dan selama ini aku dikurung olehnya. Lalu…” sesaat Milly berhenti dan hanya menangis, membuat Elena diliputi kecemasan.

“Milly, apa yang ia lakukan padamu? Kau… baik-baik saja?”

“Bajingan itu membuatku mengandung anaknya, Elena,” lanjut Milly dengan suara bergetar.

“Apa?”

“Aku hamil, Elena. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.” Setelahnya Milly terisak keras. Pandangannya jatuh pada perutnya.

Dan Fernandez yang sedari tadi duduk di sebelahnya seketika membatu mendengar berita kehamilan itu. Wajahnya agak terkejut. Perlahan bola matanya bergulir ke arah perut Milly. Samar, ia menggeleng seperti sulit percaya.

Detik berikutnya dengan tubuh yang masih bersandar di kursi, Fernandez menengadahkan kepalanya dan memejam sejenak, kedua alisnya mengerut.

“Kau benar-benar bajingan Axton.”

Tentu gumaman berupa umpatan Fernandez itu dapat didengar oleh Milly, tapi ia mengabaikannya.

Lagi, suara Elena kini kembali terdengar bertanya, “Katakan padaku siapa bajingan itu Milly? Andez… kau bersamanya sekarang bukan?”

“Andez…”

Menyadari namanya digumamkan oleh Milly, mata Fernandez terbuka. Ia menoleh pada Milly seolah sudah siap menanggung segala konsekuensi jika gadis itu membongkar segalanya.

Tapi alih-alih melakukannya, Milly justru mengatakan hal lain, “Ia menolongku dari bajingan itu. Juga temannya… Axton.”

Seketika Fernandez kembali dibuatnya tertegun. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan gadis itu sekarang. Jika gadis itu mau, ia bisa membalasnya dalam hitungan detik. Tapi…

“Mereka telah membunuh bajingan itu, Elena. Dan Axton…” Milly menutup matanya. Air mata itu meluruh di mata gadis itu, dan Fernandez hanya memerhatikannya. Ia sadar satu hal, jika gadis itu tidak mengadukannya pada Elena, itu artinya gadis itu juga takkan pergi begitu saja.

Dan seperti dugaannya, dengan bibir bergetar gadis itu melanjutkan, “Ia sekarang sedang kritis dan aku perlu berada di sini sebelum aku meninggalkannya.”

Beberapa saat kemudian saat Milly sudah berbicara panjang lebar dengan Elena tentang segalanya, tapi tidak sepenuhnya benar dan mengakhiri panggilan, Fernandez tiba-tiba berujar pelan tanpa menatap Milly.

“Kau memang adalah Evelyn Blossom.”

Tidak ada balasan apapun dari Milly. Gadis itu hanya menggengam erat ponsel Fernandez yang ada di tangannya sambil terisak kecil.

“Dan sebagian hatimu masih peduli pada Axton.”

Lantas dengan mata memerah karena menangis, Milly menoleh pada Fernandez yang kepalanya masih menyentuh dinding.

“Kau salah, Andez. Aku hanya tidak ingin berhutang budi pada orang yang sangat kubenci.”

“Dan aku bukan orang jahat seperti kalian.”

Fernandez sadar gadis itu tengah menyindirnya, spontan ia balik menoleh. Alih-alih membalas ucapan itu, Fernandez malah mengusulkan hal lain,

“Kalau begitu, aku akan membelikanmu sesuatu yang bisa dimakan. Kau butuh asupan gizi jika ingin menunggu Axton.”

Sebelum Milly sempat memberi penolakan keras, Fernandez telah beranjak dari kursi dan berlalu meninggalkannya.

***

bersambung