Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 38

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 38- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 37

Akhir dari Segalanya

Roger terkekeh mesum saat menanggalkan satu per satu kancing Milly, sementara Milly terus berteriak walau suaranya teredam, meronta panik. “Mmm—hmpp…,” hingga dentingan borgol itu bergema lantang di ruangan itu. Air matanya terus berurai dan ia begitu ketakutan.

Namun baru dua kancing, ponsel Roger tiba-tiba berbunyi hingga ia menghentikan aktifitasnya.

“Oh, sepertinya aku baru mendapatkan satu pesan, manis. Dan mungkin, ini tentang pria pahlawanmu itu.” Roger tersenyum nakal dan meremas kecil payudara Milly membuat gadis itu meronta dan kembali berteriak yang berujung sia-sia.

“Mmm—hmmmp…,” dan lagi-lagi borgol itu hanya beradu menciptakan gema berulang tanpa bisa terlepas, sementara Roger tertawa keras saat membaca pesan dari Robby di ponsel.

Bos semua sudah beres. Aku sudah membunuhnya.

“Axton yang malang.” Ia kemudian menunjukkan pesan itu ke wajah Milly dengan tawa yang belum mereda seakan bersorak atas kematian Axton.

“Kau lihat? Pria pahlawanmu itu telah tiada manis.”

Milly menatap Roger dengan air mata yang mengucur deras. Wajah pria tua itu terlihat menyeramkan ketika tertawa di depannya.

Namun bukan itu fokus utama Milly, melainkan sesuatu yang dirasakannya kini. Ia tidak tahu mengapa perasaan seperti ini masih tersisa. Padahal ia telah mengubur segala tentang mereka.

Bahkan Milly benci dirinya yang sekarang.
Ia bukanlah Evelyn Blossom. Ia adalah Milly Kincaid yang tidak seharusnya peduli akan apapun keadaan lelaki itu. Bahkan jika Axton harus mati sekalipun.

Ia tidak mengenal lelaki itu. Ia tidak pernah memiliki kisah yang baik dengan lelaki itu. Satu pun tak ada. Tapi… obrolan masa lalu mereka seketika muncul di alam bawah sadar Milly, bergema dan seakan memaksanya untuk kembali mengenang yang tersisa dari sisi dirinya yang lama.

Aro… jika suatu hari nanti kita dipisahkan oleh semesta, apa hatimu tetap untukku?

Jika semesta memisahkan kita, aku akan tetap mencarimu. Aku akan membuat semesta mempertemukan kita. Tidak peduli seperti apa caranya. Karena Tuhan pun pasti tahu, bahwa kau satu-satunya wanita yang ingin kunikahi di dunia ini.

Lalu bagaimana jika maut yang memisahkan kita? Apa kau akan tetap membuat semesta memihakmu?

JIka itu terjadi… aku mungkin tidak bisa membuat semesta mengabulkan apa yang kuinginkan. Tapi setidaknya, sebagian hidupku sudah terisi bersamamu, Evelyn Blossom. Dan hal yang kulakukan setelahnya tanpamu adalah… menunggu sampai waktu mempertemukan kita di kehidupan lain.

Tiba-tiba semua itu buyar saat Milly merasakan Roger menjambak rambutnya lagi. Ia meringis dengan kondisi plakban hitam masih melekat di sekitar mulut.

“Mari kita lanjutkan aktifitas kita manis,” cengir Roger dengan mesum. Ponsel telah disimpan ulang di saku celana. Dan tepat Roger hendak melepaskan kancing ketiga Milly, tiba-tiba tembakan terdengar.

DOR!!

Dan itu sukses membuat mata Milly refleks terpejam kuat, sementara Roger seketika mengerang, “Arggh!” Peluru itu melukai kakinya hingga mengucurkan darah.

Lantas dengan murka, Roger menoleh ke samping pada dinding ventilasi atas. Di sana, ia melihat Axton menatapnya tajam meski kondisinya sedang terluka. Tentu, Roger agak terkejut.1
“Kau…” desisnya geram.

Detik berikutnya, Axton menjatuhkan tubuhnya ke bawah dengan punggung menghantam beberapa kardus hingga debu-debu itu menguar di udara, dan Roger lekas mengeluarkan pistol dari saku demi membalas Axton.
Sesaat Axton meringis, namun dalam sekejap ia langsung berguling ke kanan menghindari peluru yang diletuskan Roger ke arahnya.

DOR!!

DOR!!

DOR!!

Axton terus berkelit dari serangan tembakan Roger dengan terus menggulingkan badannya ke kanan, meski wajahnya mati-matian menahan rasa sakit akibat luka di tubuhnya.

“Kau seharusnya sudah mati brengsek!” marah Roger sambil terus menembak Axton ke segala arah.

Sementara Milly matanya terus terpejam ketika mendengar letusan tembakan terdengar berulang kali. Tubuhnya gemetar dan rasa takutnya kian bertambah.

Sampai mendadak suasana menjadi senyap. Perlahan mata Milly terbuka dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah Axton yang menatapnya lemah dengan posisinya tengkurap. Lelaki itu mendesis terlihat kesakitan ketika sepatu Roger menekan kepalanya kuat.

Roger tertawa puas, merasa akan menang. “Setelah ini kematian sesungguhnya telah menunggumu Axton. Dalam satu detik, kau akan habis jika peluru ini menembus kepalamu.”

Tanpa sadar air mata Milly mengalir semakin deras. Entah dimana peluru itu mengenainya lelaki itu, ia tidak tahu. Tapi darah itu begitu banyak menggenang di sekitar tubuh Axton dan bau amis itu menguap hingga ke indera penciumannya.

“Jika kau ingin menghabisiku, kau seharusnya tidak melibatkan banyak orang Roger.” Axton melirik sengit Roger dan langsung disambut Roger dengan tawa lagi.

“Semua adalah kesalahanmu, Axton. Jika hari itu kau tidak menggangguku, mereka semua tidak akan merenggang nyawa. Kau yang memulai perkara denganku. Ingat?”

Kemudian Roger menatap Milly yang terus menangis dengan pandangan tertuju pada Axton, ia lantas menyeringai genit.

“Tenanglah manis. Semua ini akan segera kuselesaikan dan kita akan kembali merasakan kenikmatan bersama-sama.”

Tanpa Roger sadari, tangan Axton dengan hati-hati meraih pistol di dekat tubuhnya, berusaha keras agar tidak menimbulkan bunyi sedikit pun.

Detik berikutnya mata Milly kembali terpejam, tidak sanggup melihat Roger yang kini fokus mengisi peluru sebelum mengarahkan pistol ke kepala Axton, bersiap menarik pelatuk.

“Selamat menuju mautmu Axton,” kekeh Roger dan bersamaan dengan itu suara tembakan terdengar nyaring beberapa kali.

DOR!!

DOR!!

DOR!!

Diluar dugaan Roger pun mengerang, “Arghh!” Ia menjauhi Axton sambil memegang dadanya yang mengucurkan darah. Beruntung peluru itu tidak tepat menembus jantungnya. Wajahnya terlihat sedikit shock sekaligus marah.

Sementara Milly dengan berani membuka matanya ketika menyadari rantai borgol di kedua tangannya terputus hingga membuatnya saat ini tampak memakai gelang.

Bahkan Milly tidak menduga bahwa Axton masih hidup. Lelaki itu terlihat berusaha bangkit dengan satu tangan memegang pistol, sementara satu tangannya yang berlumuran darah menapak di lantai.

Begitu Axton berhasil memaksa tubuhnya berdiri tegak, Milly baru sadar bahwa kaki lelaki itu yang terkena peluru Roger, darah di bagian itu pun tidak sebanyak pada bagian perut Axton hingga membuat kemeja putih lelaki itu dikotori oleh lumurah darah.

Dengan langkah sempoyongan, Axton kemudian mendekati Milly.

Segera Milly melepas kasar plakban hitam di mulutnya. Di sela langkah tertatih-tatih itu, bola mata abu-abu Axton terlihat nyaris meredup, mengunci bola mata hijau Milly yang digenangi air mata.

Lalu dalam hitungan detik, kepala Milly sudah bertubrukan dengan dada bidang Axton. Lelaki itu menarik tubuh Milly dengan cepat, memeluknya erat. Sangat erat seolah takut jika esok tidak melihatnya lagi. Pada detik yang sama pula suara tembakan terdengar untuk kesekian kalinya.

DOR!!

Tubuh Axton tersentak, ia menahan erangan kesakitan, sementara mata Milly terpejam rapat secara refleks, tapi detik berikutnya ia menyadari sesuatu. Pada detik kelopak matanya terbuka, detik itu Axton ambruk menindihnya, membuat punggung Milly terhantam pelan ke lantai.

“Kena kau!” tawa jahat Roger bergema meski dadanya terasa sakit.

Dalam sekejap waktu seakan berhenti saat Milly bertatapan dengan Axton. Wajah lelaki itu terlihat sekarat. “Aku berhasil menemukanmu lagi. Aku akan selalu menemukanmu… Eve.”

Jantung Milly seolah dicabut paksa dari rongga dada waktu mulut Axton memuncratkan darah hingga titik-titik darah itu sedikit mengenai wajahnya. Itu sukses membuat Milly menangis.

“Aku bukan Eve. Aku Milly dan aku sangat membencimu.”

Kepala Axton perlahan terkulai lemas, lalu jatuh ke sisi leher Milly. Lelaki itu berbisik terakhir kalinya, sebelum matanya terpejam,

“Terserah siapa dirimu sekarang. Tapi aku tahu… bahwa kau adalah wanita yang sama, yang selalu menjadi pemilik hatiku, Evelyn Blossom.”

Tangis Milly seketika makin keras.

Pada saat Roger hendak menghampiri Axton dengan wajah belingsatan, seseorang tiba-tiba menembak tubuhnya dari belakang dengan sadis.

DOR!!

DOR!!

DOR!!

Membuat tubuh Roger tersentak beberapa kali dengan mata melotot, lalu terhuyung dan akhirnya tumbang dengan mengenaskan, menghasilkan dentuman keras di lantai. Perlahan darah mengalir membentuk kumbangan darah di sekeliling tubuhnya, membuat bau amis bertambah pekat di ruangan itu.

Fernandez lalu menurunkan pistolnya dengan napas menggebu-gebu. Thomas buru-buru mendekati Axton yang menindih Milly, disusul oleh Robert di belakang.

“Tuan Ax!” Mereka kompak berseru panik bagai anak kembar.

Saat Thomas dan Robert berhasil memapah Axton yang tidak sadarkan diri, mengalungkan satu tangan Axton ke leher mereka masing-masing, mata Fernandez tertuju pada Milly yang kini terbaring, menangis sambil menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangan.

***

Bersambung