Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 37

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 37- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 36

Strategi Roger

Roger terkekeh setelah menyiram wajah Milly dengan air. Mata gadis itu kini terbuka. “Apa kau sedang memimpikanku, manis?” Pria tua itu lalu melempar botol plastik yang isi airnya telah kosong ke sembarang arah.

Mata Milly mulai menjelajah isi ruangan. Ia tidak tahu dimana dirinya berada sekarang. Tempat ini terlihat seperti gudang. Minim ventilasi dan udara di sekitar terasa pengap. Bahkan penerangan hanya di dapat dari lubang-lubang kecil ventilasi itu. Tampak beberapa kardus yang entah isinya apa berjejer, cukup banyak di sekelilingnya.

Lalu tiba-tiba ingatan Milly terhempas pada Wella yang mencoba melindunginya, lantas tatapannya nanar tertuju pada blouse biru muda lengan panjang dan rok circle putih sebatas lutut yang dikenakannya, di mana ada bekas cipratan darah Wella di sana.

Seketika mata Milly memanas.

Detik berikutnya, ia bergidik saat tangan menjijikkan Roger bergerak, menyisihkan beberapa helai rambut di sekitar wajahnya dengan cengiran mesum. “Kau sudah siap, manis?”

Milly segera memalingkan wajahnya, lalu memberontak sebisanya, “Mmmhh-hmmpp…,” tapi naas suaranya teredam oleh plakban hitam yang menutup mulutnya. Kedua tangannya yang terentang di tiang, terpenjara borgol besi berdenting karena usahanya melepaskan.

Tawa Roger seketika bergema. “Jangan terlalu keras, manis. Tenagamu takkan kuat melepaskan benda kecil ini.” Lalu tangan Roger dengan sengaja terulur, menggerakkan borgol di tiang itu hingga menambah suara dentingan.

“Hanya aku yang bisa melakukannya untukmu.”

Kemudian tangan Roger berpindah menangkup wajah Milly, lidahnya mulai menjilat sisi wajah Milly yang beruraian air mata dengan nikmat.

“Mmhh-hmmpp…,” Lagi Milly meronta, menyentak mukanya menjauh, merasa jijik, dan dentingan borgol besi itu kembali bergema di ruangan beberapa kali.

Roger yang mendapat penolakan terang-terangan itu justru tertawa senang. Lalu dengan gesit ia menarik rambut Milly dan berbisik menggerikan di telinga gadis itu, “Aku tahu, manis. Aku akan membuatmu siap untukku.”

Setelahnya wajah Roger tampak tidak sabaran dan tangannya mulai memberi pengusiran kepada dua bodyguardnya yang mengawalnya. Dua bodyguard itu pun langsung mematuhinya.

Sejurus kemudian pintu itu berdebam pelan, membuat Roger kini sepenuhnya menelusuri lekuk tubuh Milly dari atas sampai bawah dengan bernafsu, mengabaikan raut kesakitan di wajah Milly karena jambakan kuatnya yang belum lepas.

“Sekarang tidak akan ada lagi yang menganggu kita, manis,” matanya mengerling mesum.

Tepat saat Roger ingin menjamaah tubuh Milly di balik blouse biru muda itu, alarm bahaya di ruangan itu berkedip, membuat suasana ruangan itu diselimuti cahaya kedip-kedip berwarna merah. Roger pun mengurungkan niatnya.

Terlebih ponselnya mulai berdering. Dirogohnya benda itu dan ditatapnya Milly sekilas dengan senyuman nakal. “Sebentar manis. Aku akan kembali untukmu.”

Dalam sekejap sentakan Roger terlepas dari rambut Milly membuat kepala gadis itu seketika terkulai otomatis. Rasa kebas akan jambakan itu masih tertinggal, namun Milly mengabaikannya.

Ketika derap langkah Roger mulai menjauh darinya, dengan derai air mata Milly segera melirik ke seluruh ruangan, mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk melepaskan borgol pada kedua tangannya yang terentang.

“Mereka sudah tiba, Bos.”

Roger menyeringai, mengeluarkan batang rokok, mengapitnya di bibir dan menyalakan api. Lalu berkata, “Urus mereka. Kalian sudah tahu apa yang harus dilakukan bukan?”

“Baik Bos. Sesuai dengan strategi Bos, kami sudah menyiapkan segalanya.”

“Jangan biarkan mereka hidup sedikit pun.” Roger kemudian menghembuskan asap rokok ke udara dengan angkuh. “Dan pastikan mereka tidak mengangguku kali ini, Robby.”

“Siap Bos. Saya akan mengatasinya dan Bos bisa bersenang-senang dengan wanita itu.”

“Aku suka ungkapanmu, Robby,” kekeh Roger dan mulai menoleh pada Milly akibat suara kegaduhan dari jatuhnya beberapa kardus. Terlihat wajah kacau gadis itu terkejut.

“Sepertinya kau sangat tidak sabar menantiku manis,” kata Roger dengan seringai nakal yang sekarang telah menutup panggilannya.

***

Di tempat yang sama, para anak buah Roger tidak berhenti menyerang, membuat Axton mau pun Thomas berusaha melawan balik. Hingga suara tembakan terus terdengar di segala penjuru ruangan itu dan sekarang mereka sukses terkepung. Banyak pistol yang teracung ke arah mereka.

“Tuan Ax, anda tidak apa?” tanya Thomas pada Axton yang berada di belakang punggungnya. Mereka sama-sama berkeringat. Gurat kelelahan juga tercetak jelas di wajah masing-masing. Satu tangan mereka kompak memegang pistol, penuh siaga.

“Aku tidak apa Thomas. Peluru, kau masih membawa cadangannya?” Axton balik bertanya dengan mata terpusat ke depan, penuh kewaspadaan pada kesepuluh anak buah Roger yang berada dalam setelan jas dan siap melesatkan peluru ke arah mereka.

“Tentu Tuan Ax. Dan saat ini saya merasa sedang menghadapi para zombie.”

“Kau terlalu banyak menonton walking dead Thomas.”

Salah satu anak buah Roger di depan Axton tersenyum penuh kemenangan. Ia juga tampak kepayahan. Namun tenaganya tidak sampai terkuras penuh. “Apa kalian punya kata-kata terakhir?” tanyanya hendak menarik pelatuk.

“Tidak. Tapi sepertinya kata-kata itu lebih tepat ditujukan untukmu.” Setelah mengatakan itu, langsung Axton membidik tepat di jantung anak buah Roger itu dan…

DOR!!

Cipratan darah itu terkena di pipi Axton, sementara anak buah Roger tumbang seketika. Darah mulai merembes membentuk genangan di sekitar tubuh itu. Pada detik yang sama tembakan mulai terdengar bersahutan.

DOR!!

DOR!!

DOR!!

Segera Axton menghindar sebisanya, berpencar dengan Thomas. Ia berlari, berguling ke depan dan lekas berlindung di balik sofa. Sejenak memegang dadanya karena bekas luka tembak dari Fernandez itu terasa agak nyeri, sedangkan Thomas bersembunyi di balik dinding yang arahnya berlawanan dari Axton.

“Sial,” umpat Axton saat menyadari lengannya terkena tembakan. Ia lalu melonggokkan sedikit kepalanya, mengintip penuh kewaspadaan tapi …

DOR!!

Tembakan itu sukses membuat Axton kembali menyembunyikan tubuhnya, sedangkan televisi di depannya telah rusak dan retak karena dahsyatnya lesatan peluru yang menembus. Detik berikutnya, Axton menarik napas dalam sebelum bangkit dan mengarahkan pistolnya untuk menembak bertubi-tubi ke segala arah.

Anak buah Roger pun ikut membalas tembakannya. Hingga bunyi letusan peluru yang saling melayang di udara terdengar lantang. Tidak berhenti.

DOR!!

DOR!!

DOR!!

Di antara ketegangan itu, Thomas buru-buru mengisi cepat peluru ke pistolnya, sebelum mulai keluar dari persembunyian, dan ikut menembak untuk melumpuhkan anak buah Roger.

DOR!!

DOR!!

“Tuan Ax biarkan saya mengatasi mereka. Nona Eve, sebaiknya anda mencarinya!” seru Thomas pada Axton yang tengah berkelit dari gencarnya serangan tembakan.
Tanpa banyak bicara, Axton mempercayakan semuanya kepada Thomas dan ia mulai bergegas mencari Milly dan meninggalkan Thomas untuk sementara.

Dengan gusar ia menendang beberapa pintu yang ada di ruangan itu, mengacungkan pistol dengan mantap. Darah terus menetes dari lengannya, jatuh ke lantai setiap ia keluar usai memeriksa dan berpindah ke tempat lain untuk menemukan Milly.

Hingga wajah Axton berubah tegang sekaligus waspada begitu mendengar teriakan sayup-sayup Milly.

“Lepaskan aku!”

“Menyingkir dariku!”

Segera mata Axton tertuju pada salah satu pintu di pojok ruangan, di mana penerangan lampu remang-remang di lorongnya mulai meredup. Dengan cepat Axton menghampirinya dan benar saja, suara itu makin jelas di pendengarannya.

“Well, kita bertemu lagi manis,” kekeh Roger.

“Kau pria tua menjijikkan! Pergi dariku!” jerit Milly menangis.

Otomatis Axton langsung mendobraknya dengan kaki dan masuk ke dalam. Tapi ia tertegun saat menginjak sesuatu. Menggeser sedikit sepatunya, Axton memungut alat perekam yang ternyata kembali mengulang teriakan Milly seperti awal.2

“Lepaskan aku!”

“Menyingkir dariku!”

“Brengsek,” desisnya tajam.

Bertepatan ia membuang kasar benda itu, dari atas Robby-anak buah Roger yang paling diandalkan-yang sedari tadi bersembunyi di ventilasi ruang rahasia, langsung turun sambil mengayunkan kakinya menendang wajah Axton telak. Sontak Axton terhempas ke lantai. Pistol di tangannya pun terlepas begitu saja.

Wajahnya bahkan kini belepotan bubuk mesiu dan itu berasal dari sepatu Robby. Hidung Axton pun sepertinya patah dan darah itu tidak berhenti mengucur dari sana.
Sesaat Axton menyekanya sambil menatap sengit Robby yang sekarang berderap ke arahnya sambil mengeluarkan pisau lipat.

“Kekacauan telah berakhir. Selamat tinggal, Tuan Axton Bardrolf.”

***

Di detik Axton bangkit, di detik itu pula tanpa aba-aba anak buah Roger yang bertubuh kekar itu menerjangnya, mendorong tubuh Axton ke dinding. Menekan kuat lengan Axton yang terluka akibat tembakan, lalu hendak menusukkan pisau itu ke jantung Axton tapi dengan cekatan Axton menangkap pergelangan Robby.

Axton mengerang keras, “Arggh!” Sekuat tenaga ia mendorong ujung pisau itu menjauh. Berbanding terbalik dengan tindakan Robby yang justru memaksa ujung pisau itu menancap lebih cepat.

“Anda seharusnya menyerah saja Tuan Axton.” Robby menyeringai, sadar bahwa tenaga Axton nyaris terkikis.

Kemudian Axton tersentak ketika ujung pisau itu nyaris menembus kulit di balik kemeja putihnya. Dengan keadaan terjepit seperti ini, tanpa banyak pikir Axton menggerakkan lututnya, menghantamkan telak ke perut Robby.

Alhasil anak buah Roger itu seketika mengerang, “Arggh!” dan terjerempab ke lantai. Namun pisau lipat masih digenggamnya erat di tangan.

Dengan gesit Axton mendekatinya. Mencengkram jas anak buah Roger itu, menariknya berdiri lalu membenturkannya keras ke dinding. “Katakan padaku dimana ia brengsek?!” desisnya tajam dengan sorot mata berapi-api.

Naas, pisau lipat yang sempat dilupakan Axton tiba-tiba tertancap di perutnya dalam. Robby tersenyum puas melihat darah merembes banyak, mengotori kemeja putih Axton.2

“Anda seharusnya tidak hidup Tuan Axton.”

Axton sontak mundur beberapa langkah. Sambil memegangi pisau lipat yang berhasil menusuk perutnya itu, ia mengigit lidahnya, menahan rintihan kesakitan.

“Aku tidak akan mati dengan mudah sialan,” desisnya tertahan, napasnya berubah menjadi putus-putus.

Bola mata Robby agak terkejut melihat Axton mencabut pisau lipat itu, melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian bibir Robby menyunggingkan senyum sinis.

“Sepertinya saya kurang berusaha keras membunuh anda.”

Robby spontan melirik pistol Axton yang tergeletak di lantai. Begitupula dengan Axton yang tengah menekan kucuran darah di perut. Hanya hitungan detik, mereka telah berlomba untuk menjangkaunya, namun Axton kalah cepat.

Robby berhasil meraih pistol itu, bahkan sekarang melingkarkan lengannya ke leher Axton kuat seolah mencekik, membuat oksigen Axton serasa menipis.

“Kali ini anda akan benar-benar mati Tuan Axton.” Pistol ditodongkan Robby di pelipis Axton.

Lumuran darah di telapaknya yang tidak dikebat, membuat tangan Axton terasa licin hingga ia kesulitan menyingkirkan belitan lengan Robby di lehernya. Rahangnya mengetat, sementara matanya mulai mengabur. Darah dari perut dan lengannya terus keluar, mengurangi separuh tenaganya. Hingga di antara kesadaran yang hampir menipis itu, perkataan Thomas tiba-tiba tergiang di kepalanya.

Bukan hanya itu, anda mungkin akan kehilangan keluarga kecil anda, Tuan Ax.

Detik itu Axton seperti mendapat kekuatan kembali, dan ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa, menghantam siku tangannya ke dada Robby kuat.

Sontak Robby mengaduh keras, “Arghh!” Sedikit membungkuk menjauhi Axton, dan Axton langsung menetralkan deru napasnya. Sebelum melayangkan kakinya, menendang telak sisi wajah Robby hingga Robby tersungkur dan pistol itu tergelincir.

Buru-buru Robby menggapai pistol itu kembali. Dengan tubuh telentang, ia segera mengacungkan pistol ke arah Axton. “Saya akui, anda lawan yang cukup sulit, Tuan Axton. Tapi anda tidak akan menang melawan saya,” ujarnya sinis dengan sudut bibir yang meneteskan darah.

Setelah itu Robby langsung menarik pelatuk. Naas tidak ada satu pun peluru yang keluar. Sekali lagi, ia mencoba namun sia-sia.

Melihat itu, giliran Axton yang mengumbar senyum sinis di antara rasa sakit di sekujur tubuhnya. Ia sendiri tidak sadar jika peluru pistol itu telah habis. Bahkan ia tidak menyangka bahwa sejak tadi mereka hanya memperebutkan pistol isinya kosong.

Tiba-tiba sebuah peluru melesat di antara mereka, menembus jendela, mengakibatkan kaca itu pecah berkeping-keping, membuat Axton dan Robby lekas menoleh ke satu arah.

“Andez…” Axton agak terkejut, meski sesekali meringis. Satu tangannya memegang perutnya yang bersimbahkan darah.

Sedangkan Robby tersentak karena Fernandez menendang pistol di tangannya. Berlanjut menginjak dadanya kuat, membuat Robby mengerang kesakitan, “Arrghh!”

“Biar aku yang mengurusnya.” Fernandez tidak menatap Axton, melainkan fokus pada Robby. Tatapannya dingin dan berbahaya. Pistol bahkan dengan sigap ditodongkannya ke arah Robby penuh ancaman.

“Kenapa kau bisa berada di sini?” Napas Axton terasa nyeri saat menanyakan hal itu pada Fernandez.

“Aku datang bersama Robert. Dan aku tidak sengaja masuk ke ruang CCTV.” Fernandez menatap Axton dengan raut wajah tak acuh.

“Aku di sini bukan untuk membantumu. Aku hanya ingin memberi pelajaran untuk Roger karena ia melukai Elena.”

Axton berusaha menegakkan tubuhnya, dan pada detik yang sama Fernandez merogoh pistol cadangan yang diselipkannya di saku celana belakang, lalu melemparkannya kepada Axton.

Spontan dengan cepat Axton menangkapnya menggunakan tangannya yang bebas. Ketika ia menatap senjata itu, tanpa sadar Axton tersenyum miring karena ucapan Fernandez selanjutnya, “Siapa tahu kau membutuhkannya. Sekali lagi, aku tidak sedang membantumu.”

Axton lantas menatap Fernandez, alisnya terangkat sebelah. Di sela rintihannya, ia pun membalas, “Terserah padamu. Aku juga takkan mengucapkan kata-kata menjijikan atas kedatanganmu.”

Sudut bibir Fernandez perlahan tertarik ke atas mendengar nada tak acuh dalam suara Axton. Kembali ia berkata, “Dan satu lagi, tadi aku cukup bosan jadi aku memeriksa rekaman CCTV satu jam lalu. Eve, ia dan bajingan itu…” jeda. Fernandez menggerakan bola matanya ke arah ventilasi yang terbuka di atas mereka, “berada di sana.”

Axton mengikuti arah pandang Fernandez di mana ventilasi itu merupakan tempat kemunculan Robby awalnya. Setelahnya ia kembali menatap Fernandez.

“Kau benar-benar teman yang buruk.”

Fernandez mengedikkan bahunya masa bodoh, tapi ia menyadari perubahan wajah Axton yang mulai memucat. Hingga dengan sengaja, ia memasang raut wajah puas, mengejek kemudian,

“Jika kau mati, aku adalah orang pertama yang akan merasa bahagia.”

Axton tertawa rendah, mengabaikan rasa sakitnya. Lalu balas mencemooh, “Sayang sekali Andez, tapi hal itu tidak akan pernah terjadi.”

Detik berikutnya Axton telah melompat ke ventilasi yang terbuka itu. Selama beberapa saat ia menumpukan kedua tangannya di sana, bernapas nyeri.

Sesekali Axton mengigit lidahnya untuk meredam rasa sakit dari luka yang menganga pada beberapa bagian tubuhnya. Matanya sempat terpejam sedetik sebelum menggerakkan tubuhnya lagi untuk memanjat sekuat tenaga.

Fernandez yang melihat itu, spontan mengepalkan satu tangannya yang bebas. Ketika Axton telah lenyap dari pandangannya, ia bergumam pelan, “Kuharap kau bisa bertahan sedikit lagi, Axton.”

Sementara di atas sana, Axton tengah merangkak dengan susah payah di antara pasokan udara yang amat minim. Ia berjuang keras mengikuti lorong sempit pada ventilasi tersebut.

***

Bersambung