Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 36- BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 35

Dua Garis Merah

Dua minggu kemudian, Wella menanti dengan bahagia di pintu kamar mandi. Kemudian saat pintu itu terbuka, senyum sumringah terpatri di bibir Wella, matanya berbinar-binar menatap Milly.

“Jadi bagaimana?” desak Wella tidak sabar, sementara Milly berdiri kaku dengan wajah pucat. Memar-memar di wajahnya mulai memudar, nyaris tidak lagi terlihat. Selain itu, rambut coklat panjangnya yang tergerai indah, membuat Wella tidak menyadari bekas benturan di pelipisnya.

Memaksakan senyum, Milly mengangsurkan test pack itu kepada Wella.

Thomas berdeham. Ia juga berada di sana, di dekat Wella dan kini sudut matanya ikut melirik test pack yang ada di tangan Wella.

“Kau… positif?” Wella membekap mulutnya usai menatap test pack itu, memberikan benda itu begitu saja pada Thomas. Setelahnya ia memekik girang, menjabat tangan Milly.

“Kau akan menjadi seorang Ibu dan aku akan menjadi seorang Nenek.”

Thomas yang memegang benda itu lantas menatap dua garis merah di sana. Ia menatap tidak enak pada Milly karena ia baru saja mengetahui kebenaran, dan rencananya ia akan ke rumah sakit untuk mengabarkan Axton.

“Thomas, berapa lama Aro akan menghabiskan waktu dengan pekerjaannya? Beritahu padanya untuk segera pulang. Istrinya sedang mengandung!”

Mendengar panggilan Wella untuk Axton, membuat mata Milly seketika memanas. Dadanya sesak. Bahkan kini ia merasa seperti ada duri-duri tajam yang menancap di relung hatinya. Segera ia membuang muka ke arah lain begitu menyadari Thomas menatapnya.

Entah dimana lelaki itu berada beberapa hari ini, Milly tidak peduli. Tangan mungilnya mengepal erat. Bibirnya bergetar.

Thomas sempat menangkap kepalan kecil yang terbentuk dari tangan Milly. Walau mengetahui hal itu, ia tetap berusaha berbicara setenang mungkin, “Selamat untuk anda Nona Milly. Tuan Ax pasti akan sangat senang.”

Senang? Ya, benar Axton pasti akan sangat senang karena ini yang diinginkan lelaki itu dari dulu. Menghancurkan hidup seorang Milly Kincaid, identitas gadis yang kini melekat pada dirinya.

Dan Milly telah memutuskan untuk mengubur segala kenangannya di masa lalu, bahwa Evelyn Blossom telah tiada. Sekarang, ia adalah Putri dari Clara Kincaid yang sangat membenci Axton Bardrolf.

Milly memejam dan membuang napas pendek.

Thomas lalu beralih merespon Wella dan hanya didengar sambil lalu oleh Milly. “Ada beberapa pekerjaan yang harus Tuan Ax urus di Las Vegas Nyonya, tapi saya akan memberitahunya.” Tentu saja, semua itu hanya kebohongan.

“Kau harus cepat-cepat mengabarinya Thomas,” ulang Wella tidak bisa menutupi rasa kegembiraan di wajahnya dan kini merangkul pundak Milly, mengusap lengannya. “Ia harus mendampingi istrinya.”

Thomas yang dari awal menyadari segala perbuatan Axton yang terbilang tidak pantas cuma menyunggingkan senyum seadanya. Senyuman yang sebenarnya mengandung kadar kegugupan.

Detik berikutnya, Thomas melihat Wella membawa Milly melewatinya. Memeluk hangat pinggang Milly layaknya seorang Ibu yang baik.

“Aro memang anak itu sangat gila kerja. Ia terkadang sangat nakal, susah diatur dan tidak jarang membuatku kesal. Tapi percayalah ia sebenarnya anak yang baik.”

“Dan waktu kecil aku sering memotretnya. Kau harus melihat kumpulan foto-foto masa kecilnya. Aku masih menyimpannya.”

Samar-samar cerita antusias Wella itu dapat didengar oleh Thomas hingga Thomas menatap prihatin punggung Milly dari jauh dan bergumam pahit, “Tuan Ax, anda sepertinya dalam masalah besar sekarang.”

***

Axton sedang duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Kondisinya sudah berangsur pulih. Namun bekas lebam di wajahnya belum sepenuhnya hilang. Di balik pakaian biru rumah sakit itu, ada perban putih yang terbalut di dadanya. Begitu pula dengan sebelah tangannya yang sempat tertusuk kaca.

Pintu rawatnya perlahan terbuka, memunculkan sosok Thomas. “Tuan Ax…”

Axton hanya menatap Thomas yang berjalan ke arahnya.

“Seminggu yang lalu, anda meminta saya untuk mendapatkan segala informasi tentang Nona Milly. Dan saya sudah menyelidikinya Tuan Ax.” Ia lalu memberikan beberapa berkas pada Axton yang langsung diambil oleh Axton.

Selama membaca, Axton berkali-kali menelan ludah. Sesekali tangannya memilah satu per satu berkas itu. Wajahnya pun menunjukkan gurat penyesalan yang kental.
Detik berikutnya, Axton menutup wajahnya dengan satu tangan, meletakkan berkas-berkas itu begitu saja di samping ranjangnya.

Sementara Thomas mulai berbicara hati-hati pada Axton.

“Saya ingat hari itu wanita yang dicintai Ayah anda datang dan menangis. Ia memberitahu pada Ayah anda bahwa Kakek anda telah menyewa beberapa orang untuk membunuh Putrinya. Dan saat itu Kakek anda sedang tidak ada di rumah dan Ibu anda sedang keluar bersama anda.”

“Ternyata, semua itu bukan kebohongan Tuan Ax. Nona Milly memang telah tiada. Dan gadis yang bersama anda…”

“Aku tahu Thomas,” potong Axton getir, lalu menatap Thomas dengan rasa bersalah yang begitu kentara di bola matanya.

“Ia adalah Eve.”

Seketika Thomas terlihat agak kaget, matanya tidak berkedip sedikit pun. “Jadi selama ini anda…”

“Andez sudah memberitahukan segalanya,” gumam Axton pedih. Kemudian Axton menjatuhkan pandangan ke bawah pada tangannya yang dikebat perban putih.

“Dan sekarang aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya, Thomas. Aku sudah menyakitinya.”

Lalu helaan napas berat lolos dari bibir Axton seperti ada beban yang menghimpit dadanya. Axton menggerakkan jari-jari tangannya yang dikebat.

“Andez, ia tahu tentang kematian Trevor yang sebenarnya. Ia adalah adiknya, Thomas.”

Thomas yang terlalu terkejut akan fakta itu spontan bersuara pelan, “Tuan Ax…” Ia mulai sedikit paham alasan perkelahian yang terjadi di antara Axton dan Fernandez. Thomas juga tahu akan masa lalu kelam yang dilalui Axton, bahkan seberapa terpukulnya Axton kecil kala itu.

“Aku benar-benar seorang monster Thomas.” Axton teringat akan makian lirih Milly yang pernah dilontarkan gadis itu untuknya.

“Aku menyesal…”

Mendengar kalimat pilu Axton, maka Thomas mencoba menghiburnya dengan perkataan yang sama, seperti dulu.

“Ini semua bukan sepenuhnya kesalahan anda, Tuan Ax. Di usia anda yang masih kecil, wajar anda melakukan kesalahan.”

Axton mendongak, menatap Thomas yang tersenyum tipis padanya.

“Dan anda juga sudah berkorban untuk sumber kebahagiaan Tuan Andez,” tambah Thomas.

Axton sadar maksud Thomas, maka sesaat ia melupakan kasus Milly dan menanyakan kondisi Fernandez yang di rawat di rumah sakit yang sama dengannya.

“Andez… sekarang bagaimana keadaannya?”

Terakhir yang Axton ingat Fernandez terlihat begitu pasrah dengan keadaaannya ketika mereka sama-sama terbaring di atas brankar, didorong oleh para tim medis di antara kepadatan aktifitas di rumah sakit.

“Tadi saya baru saja mengantar makanan untuk Tuan Andez. Ia sedang berbicara dengan kekasihnya lewat ponsel Robert. Tuan Andez terlihat sudah cukup pulih, bahkan tidak berhenti tersenyum seperti anak remaja yang jatuh cinta.”

Jawaban Thomas sukses membuat bibir Axton mengukir senyum miring walau samar. “Sepertinya ia belum memberitahu kekasihnya itu bahwa ia juga berada di rumah sakit yang sama dengannya,” gumam Axton.

“Tuan Ax…” panggil Thomas dan Axton menatapnya lagi. Lalu Thomas mulai bertutur panjang lebar, sekedar bercerita dan mengenang pribadi Scott.

“Kakek anda memang orang yang kejam. Tapi ia akan menjadi sosok yang hangat bila bersama anda dan Nyonya Wella. Saya bisa melihat bahwa Kakek anda menyayangi anda dan Nyonya Wella. Bahkan sekali pun anda dan Nyonya Wella melakukan kesalahan, ia akan membelanya. Terkadang saya juga tidak mengerti dengan pola pikir Kakek anda dalam melindungi seseorang. Caranya terasa salah, menurut saya.”

“Tapi satu hal yang saya tahu, kebahagiaan anda dan Nyonya Wella adalah yang terpenting baginya. Itulah sebabnya, Kakek anda rela melakukan apa saja demi anda dan Nyonya Wella. Meski itu harus mengorbankan atau menghancurkan hidup orang lain.”

Axton terdiam sesaat, seperti merenung. Detik berikutnya, ia lagi-lagi menatap Thomas dengan sorot mata yang sulit diartikan.

“Thomas apa kau tidak merasa terlalu banyak berbicara denganku?” Nada dingin dari suara Axton tidak membuat Thomas merasa takut, melainkan ia tersenyum sambil berkata sopan, “Maafkan saya Tuan Ax.”

Walau tidak begitu kentara, Thomas bisa melihat ujung bibir Axton terangkat membentuk seulas senyum. Thomas kemudian mengeluarkan sesuatu di sakunya dan Axton mengernyit saat Thomas menyerahkan benda itu padanya.

“Selamat Tuan Ax, sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ayah.”

***

Axton seketika terpaku pada garis di test pack itu. Sontak rasa bahagia membuncah di hatinya, tapi di sisi lain ia kembali merasa sesak. Binar gembira di bola matanya dalam sekejap memudar, digantikan dengan tatapan kosong bercampur miris.

“Thomas… apa yang harus kulakukan? Aku sudah memperlakukannya dengan buruk.”

“Sepertinya anda harus berusaha keras memperbaikinya Tuan Ax. Walau semua tidak mudah dan mungkin Nona Eve kini telah membenci anda. Tapi paling tidak, ada sisa kenangan baik yang melekat di benak Nona Eve tentang anda.”

“Aku meragukan hal itu Thomas.”

“Anda bisa mulai dengan meminta maaf dengan tulus Tuan Ax.”

“Menurutmu… Eve, ia akan memaafkanku?” Wajah Axton terlihat tidak yakin menatap Thomas.

Dan satu-satunya yang dilakukan Thomas adalah berkata jujur, “Anda memang telah membuat kesalahan yang besar Tuan Ax,” bahkan Thomas tidak menyembunyikan nada getir dalam suaranya.

“Tapi Nona Eve tetaplan Nona Eve. Ia adalah gadis berhati lembut yang pernah saya kenal. Walau saya tidak yakin, tapi anda perlu mencoba memperjuangkannya kembali. Hanya itu saran terbaik dari saya Tuan Ax.”

Lagi, Axton membuang napas, gusar. Detik berikutnya, ia menjangkau ponsel hitamnya di nakas, mematut foto Evelyn yang dijadikannya wallpaper sejenak. Menimbang-nimbang, sebelum akhirnya ia menekan nomor rumah.

Bersamaan dengan ponsel itu menempel di telinga Axton, ponsel Thomas berdering. Lantas, Thomas mengangkatnya, dan suara Gloria yang menangis ketakutan langsung menyapanya,

“Thomas, Nyonya Wella… Nyonya Wella…

“Ada apa dengan Nyonya Wella Gloria?” tanya Thomas yang mulai merasa gelisah.

Lekas Axton menjauhkan ponsel dan mengernyit begitu mendengar nama Wella disebut Thomas. Bahkan kini keduanya saling tatap.

Di seberang Gloria terus menangis, suaranya yang berbisik seperti tidak ingin ketahuan seseorang.

“Mereka… mereka ada di sini, Thomas. Penyusup… dan Nyonya Wella… Nyonya Wella…,” bahkan Thomas bisa merasakan nada gemetar dalam suara Gloria seakan ketakutan.

“Tenangkan dirimu Gloria dan bicara yang jelas!” Secara tidak sadar wajah Thomas ikut tersulut panik dan detik itu Axton merampas ponsel Thomas untuk berbicara,

“Gloria ada apa?”

“Nyonya Wella… ia dibunuh Tuan Ax. Dan saya… saya tidak sempat menolongnya.” Lalu terdengar suara pintu terdobrak disusul kekehan jahat.2

“Di sini kau rupanya bersembunyi heh.”

Axton tahu itu adalah suara Roger. Dan sekarang Axton dapat mendengar tangis memohon Gloria di seberang, “Tidak, Tuan. Jangan… kumohon, jangan.”

“Well, jika kau memiliki keseksian mungkin aku akan mempertimbangkannya. Tapi… sayang sekali.” Lalu detik itu juga suara tembakan terdengar memekakkan karena dilesatkan beberapa kali.

DOR!!

DOR!!

DOR!!

Jeritan Gloria terdengar ngilu di telinga Axton. Tapi lambat laun semua itu mulai menghilang. Seketika wajah Axton memucat. Tangannya yang mencengkram ponsel seketika mengerat.

“Gloria. Gloria, jawab aku!” teriaknya memanggil.

Namun naas yang menyambutnya justru suara tawa Roger.

“Apa aku mengejutkanmu Axton? Oh, dan aku terpaksa mewakili pelayanmu itu. Kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk menjawab panggilanmu sekarang.”

Mata Axton seketika berapi-api. Tangannya yang dikebat mengepal kuat, bahkan rasa sakit tidak lagi dipedulikan Axton. Giginya bergemelutuk. Terlebih saat Axton mendengar teriakan Milly seolah sedang berontak.

Tentu, Axton tidak lupa bahwa gadis itu kini sedang mengandung darah dagingnya.

“Lepaskan aku!”

Dan di seberang, Roger lagi-lagi tertawa seolah sangat puas.

“Kau memang perlu kujinakkan segera mungkin, manis.”

Perkataan Roger itu sukses menyulut emosi Axton.

“Jika kau berani menyentuhnya sedikit saja, aku akan membunuhmu Roger,” geram Axton.

Namun bukan gentar, Roger justru tertawa makin keras. Setelahnya ia menyeringai mesum, menelusuri penampilan Milly dari atas sampai bawah yang kini kedua tangannya sedang ditahan oleh bodyguardnya.

“Kalau begitu datang dan temui aku Axton. Dan mari kita lihat apa kau bisa merebut wanita manismu itu lagi dariku?” Usai mengatakan itu untuk kesekian kalinya Roger tertawa, lalu sambungan terputus.

Sementara wajah Axton kini mulai mengeras. Ponsel dalam genggamannya dicengkramnya lebih erat dari sebelumnya seperti akan meremukkan.

***

Tanpa bicara apa-apa, Axton bergegas masuk ke dalam rumah. Sekujur tubuhnya belum sepenuhnya membaik. Terutama pada luka tembak yang menganga di dadanya yang telah mendapat penanganan medis. Tapi Axton mengabaikan hal itu.

Bahkan seragam pasien kini tidak lagi dikenakannya, melainkan kemeja putih yang dibiarkan keluar serta celana hitam. Di belakangnya Thomas mengikuti, seirama dengan langkahnya.

Namun langkah Axton seketika berhenti saat menyadari pemandangan di depannya terasa begitu mengerikan.

Suasana tragis terasa pekat melingkupi di sekitar. Beberapa pelayan dan bodyguardnya tergeletak di lantai. Kondisinya tidak lagi bernyawa, tampak kocar-kacir di setiap sudut rumah yang isinya telah berantakan. Cipratan dan lumuran darah dimana-mana. Begitu pun dengan pecahan vase bunga, meja kaca, guci yang tersebar di lantai.

Dan saat pandangannya jatuh ke bawah, tubuh Axton seketika membeku. Sosok Wella terbujur lemas di depan kakinya dan dikelilingi oleh kumbangan darah.

“Mom…” panggilnya lirih. Ia sungguh menyesal karena terlambat mencegah segalanya.

Axton segera berlutut dengan satu kaki terlipat di sisi tubuh Wella. Memastikan denyut nadi di tangan Ibunya dan masih berharap, “Mom… please…,” tapi nihil.
Wajah pucat Wella kenyataannya tidak lagi memiliki napas kehidupan. Jantung itu tidak lagi berdetak hingga sesaat Axton kehilangan tenaga.

Hal itu tidak luput dari pandangan Thomas. Ia juga sempat tertegun menyadari tragedi di sekeliling, juga sosok Wella yang kini telah tiada. “Tuan Ax…” Rasa prihatin turut menyelimuti hati Thomas.

“Saya turut berduka cita.”

Axton menelan saliva dengan susah payah. Matanya memerah, namun air mata tidak sampai melesak keluar. “Thomas… katakan padaku, apa Tuhan sedang menghukumku?”
Setelahnya Axton menunduk, bersamaan dengan itu satu tangannya ia larikan untuk meremas rambutnya frustrasi. Wajahnya tampak kacau.

“Selama ini, aku berusaha menjaga Mom. Melakukan apapun untuknya. Untuk kebahagiaannya. Tapi pada akhirnya…” jeda. Axton melirik nanar kondisi Wella. Mata Ibunya tampak membulat penuh, seolah shock. Mulutnya terbuka, dan ada bekas air mata yang terlihat di pipinya. Peluru tampak menembus dalam kepalanya, membuat darah tidak berhenti merembes.

“Semuanya terasa sia-sia, Thomas,” gumam Axton getir, melanjutkan kalimatnya. Lalu tangannya perlahan bergerak menutup mata Ibunya agar tampak tidur dalam kedamaian.

Thomas cuma menatap punggung Axton yang sekarang terlihat rapuh. Ada sebersit rasa tak tega yang terpancar di bola matanya kala mendapati kematian mengenaskan Wella.

“Tuan Ax, saya mengerti bahwa apa yang menimpa anda hari ini… adalah sesuatu yang berat,” lirih Thomas.

“Tapi, anda hanya perlu mengikhlaskannya dan mendoakan yang terbaik untuk Nyonya Wella.”

Axton diam tapi ekor matanya melirik ke arah Thomas yang masih berbicara di belakangnya.

“Dan… saat ini anda perlu meredam kesedihan anda karena Nona Eve, ia membutuhkan anda sekarang. Jika tidak…” Thomas menggantung kalimatnya sejenak, terlihat berat mengatakan.

Tapi Axton menyambungnya, “Aku akan kehilangannya lagi…”

“Bukan hanya itu, anda mungkin akan kehilangan keluarga kecil anda, Tuan Ax.”

***

Bersambung