Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 35 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 34

Trevor Miller

Fernandez menunggu di lorong rumah sakit, menanti Dokter keluar. Duduk dengan kedua tangan saling bertautan, sikunya bertumpu pada lutut. Kepalanya agak tertunduk.

Ingatannya terhempas pada insiden dimana Elena terkena tembakan. Sosok di rooftop itu, walau ia tidak dapat melihat jelas wajahnya, tapi simbol laba-laba yang tercetak di belakang jaket hitam yang dikenakan sosok itu terasa tidak asing bagi Fernandez.

Tidak salah lagi. Simbol itu memang merupakan identitas kelompok mafia Roger.

Seketika rahang Fernandez mengetat. “Roger…”

Namun begitu mendengar suara pintu terbuka, perhatian Fernandez teralihkan. Ia segera berdiri, matanya sekilas bergulir pada name tag di jas putih itu sebelum menatap Dokter tersebut.

“Jadi, Dokter Stacy bagaimana keadaannya?”

Dokter Stacy langsung memberitahu Fernandez, “Ia sedang kritis dan mengalami pendarahan hebat. Kami membutuhkan bantuan transfusi darah secepatnya, tapi stok darah yang dibutuhkan pasien sedang kosong.”

Tenggorokan Fernandez terasa kering dan dengan susah payah ia bertanya, “Apa golongan darahnya, Dok?”

“A.”

Kedua tangan Fernandez perlahan mengepal kuat. “Sayangnya… darah saya berbeda dengannya,” gumamnya pahit.

“Kerabat anda?”

“Satu pun tidak ada.”

Dokter itu lalu membuang napas. Menatap Fernandez seolah turut prihatin. “Kami akan berusaha mengupayakan yang terbaik untuk pasien,” ujarnya mencoba menenangkan.

***

“Aku ingin bertemu Andez.”

“Maaf…” cegat Molly, sekertaris Fernandez yang segera berdiri menghalangi Axton di depan pintu ruangan Fernandez.

“Kenapa? Kau ingin bilang bahwa Andez sedang tidak ingin ditemui lagi?” sela Axton dengan sorot mata menajam. Luka di pelipisnya tidak ia kebat.

Molly sempat terdiam, ekspresinya tampak gentar, namun ia keukeuh menjalankan amanat yang telah diberitahukan Fernandez.
Axton memang sempat menghubunginya, menanyakan keberadaan Fernandez lewat telepon, dan Molly tidak keberatan untuk menjelaskan ulang, tapi Axton lebih dulu mengumpatinya,

“Persetan!” Bahkan menggeser kasar tubuh Molly hingga agak terjungkal ke samping.

Sontak Molly terkejut dan kepanikan menghiasi wajahnya. “Pak Axton, Pak…” Buru-buru ia menyusul Axton yang sudah melesat dengan jalan yang belum sepenuhnya normal ke ruangan Fernandez.

Fernandez sedang berada di balik meja kerja. Kedua tangannya serentak memegang kepala. Namun begitu pintu terbuka tiba-tiba, Fernandez seketika merubah posisinya. Kepalanya yang tadi menunduk kini terangkat, matanya yang gusar dalam sekejap berubah dingin pada Axton. Tangannya melipat di atas meja.

“Axton, ada apa?” Kemudian mata Fernandez bergulir pada Molly yang langsung meneguk ludah, meremas kedua tangan gemetar.

“Maafkan saya, Pak. Tapi-”

“Kau boleh bisa kembali bekerja sekarang. Aku lupa mengatakan padamu bahwa Axton pengecualian.”

Wajah Molly yang tadi diwarnai ketakutan seketika berubah menjadi lega. Ia tersenyum singkat pada Fernandez dan meminta maaf pada Axton sebelum keluar dan menutup pintu.

“Jadi kau sudah membereskannya?” Fernandez membuka percakapan, beranjak dan mendekati Axton dan seketika Axton mencengkram kemeja birunya kasar.

“Aku tidak akan melakukannya Andez. Apa kau tahu bahwa gadis itu… ia…” Bola mata Axton terlihat begitu terpukul bahkan suaranya bergetar tidak sanggup melanjutkan.

Dengan suara terkontrol, Fernandez membantunya menyambung, “Kau ingin mengatakan padaku bahwa ia adalah Eve?”

Axton mengernyit, kerongkongannya terasa kering. “Kau sudah mengetahuinya?”

“Terlambat Axton. Aku sudah mengetahuinya dari dulu.”

“Apa maksudmu Andez?” desis Axton tajam, rahangnya seketika mengetat.

Detik berikutnya, ketenangan Fernandez telah runtuh, dan tanpa babibu, Fernandez langsung mendaratkan pukulan telak ke wajah Axton dengan emosi, membuat Axton terjerembap ke lantai. Ujung bibirnya robek, meneteskan darah.

“Berhenti berpura-pura di depanku Axton. Jika kau sudah tahu kebenarannya, artinya malam itu kau datang untuk menyuruh Roger membunuhku!” teriak Fernandez marah yang bergegas menghampiri, menarik kasar kerah kemejanya.

“Dan karena ulahmu, pagi ini Elena yang harus menanggungnya!!”

Lagi, Fernandez menonjok wajah Axton dengan sadis, membuat tubuh Axton terhempas ke lantai.

“Aku bersumpah akan membunuhmu Axton!!”

Fernandez lalu menerjang dan menduduki Axton, melayangkan pukulan demi pukulan ke wajah Axton dengan brutal hingga Axton kini tampak babak belur, bahkan darah terciprat dari mulutnya.

Namun Fernandez tidak juga jera. Ia terus mengamuk, menghantam wajah Axton sambil berteriak kalap, “Setelah itu aku membunuh Eve, Roger dan semua orang yang-”

Tiba-tiba Axton mendaratkan pukulan ke wajah Fernandez. Membuat Fernandez tersungkur ke lantai. Sekarang giliran Axton yang cekatan berada di atas tubuh Fernandez. Balas menonjok muka Fernandez dengan membabi buta hingga bonyok.

Ketika Axton berhenti dengan nafas menggebu-ngebu, Fernandez terbatuk-batuk.

“Kau menjebakku Andez!”

Axton meremas kuat kemeja Fernandez, memaksanya untuk setengah duduk.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan ini Andez?!” teriaknya di muka Fernandez yang dipenuhi lumuran darah.

“Kau ingin tahu alasannya?”

Axton mengeratkan cengkramannya di kemeja Fernandez.

“Karena aku membencimu brengsek!” murka Fernandez.

“Dan sekarang aku benar-benar akan membunuhmu!”

Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, Fernandez membenturkan kepalanya ke wajah Axton keras, membuat Axton mengerang, “Argh!” dan berguling ke samping, mengusap darah di hidungnya.

Sementara Fernandez bangkit dengan susah payah. Menghampiri Axton, meraih kerah kemeja temannya itu dan melemparkan tubuh Axton ke meja kaca kecil di ruangannya.

Meja itu sontak pecah berkeping-keping karena terhantam tubuh Axton, membuat sekujur tubuh Axton terasa sakit.

Fernandez melirik ke bawah pada pistol Axton yang menggelinding di dekat kakinya, terkeluar dari saku celana Axton begitu saja. Membungkuk, Fernandez mengambilnya. Dan …

DOR!!

Ia menembak Axton tepat di dada namun tidak mengenai jantung. Sontak Axton merintih keras, “Argh!” Memegang dadanya dan menatap seberapa banyak darah yang memenuhi tangannya.

Tidak akan ada yang mendengar perkelahian mereka juga segala hal mengerikan yang terjadi di ruangan itu. Fasilitas kedap suara yang awalnya digunakan Fernandez agar pembicaraan penting dengan kliennya terjaga, kini sangat berguna di situasi seperti ini.

“Mari kita lihat siapa yang akan memenangkan permainan ini Axton?” Dengan muka yang hancur dan penuh lebam, Fernandez membuang ludahnya yang bercampur darah ke lantai. Tangannya belum menurunkan pistol itu.

“Tapi sebelum itu, kau harus berdiri.”

Axton merasa dadanya begitu sakit, bahkan kini ia nyaris sulit bernapas. Wajahnya juga sama seperti Fernandez. Luka dan memar begitu banyak tercetak di sana.

Namun dari sekian banyak rasa sakit di fisiknya, keadaan hatinya yang jauh lebih parah. Ia tidak bisa mendeskripsikan sekacau apa kondisinya. Perlahan, Axton berusaha berdiri, mencoba menahan nyeri di sekujur tubuhnya, tapi naas seketika tubuhnya terhuyung ke samping sebelum tumbang ke lantai, menghasilkan bunyi dentuman yang keras.

“Come on Axton. Jika kau ingin merebut pistol ini dari tanganku, kau harus berdiri sekarang.”

Axton mendongak, menatap Fernandez dengan berapi-api. “Kau bisa menembakku sekarang… jika itu yang kau mau.”

Sesaat senyap.

Fernandez membuang napas. Lalu menurunkan pistolnya. “Sangat tidak menarik.” Ia kemudian menuju ke meja kerjanya. Membuka laci, mengambil sebuah digital voice recorder mini di sambil menatap dingin Axton.

“Aku akan membantumu untuk lebih semangat melawanku Axton.”

***

Fernandez lalu memutarnya dan suara rekaman percakapan mulai terdengar.

“Bisakah aku menanyakan sesuatu pada Bibi?”

“Ya…” Suara wanita rentan itu tampak ragu namun Fernandez terkekeh ramah.

“Tenang saja. Ini bukan pertanyaan yang sulit. Dan lagi, aku di sini ingin membantu Milly. Kematian Ibunya, kurasa Bibi pasti mengerti maksudku.”

“Baiklah. Aku percaya padamu, Nak. Lagi pula, kau terlihat bukan orang jahat.”

Fernandez lagi-lagi terkekeh. “Tentu saja Bibi. Kekasihku berteman dekat dengan Milly dan ia ingin aku membantu.”

“Lalu apa yang ingin kau tanyakan Nak?”

“Beberapa bulan lalu, seluruh media dihebohkan dengan pemberitaan kecelakaan di mana seorang gadis bernama Evelyn Blossom dikabarkan menghilang. Jasadnya tidak ditemukan. Gadis itu adalah kekasih sahabatku Bibi. Dan Milly… benar-benar mengingatkanku dengan gadis itu. Ia memiliki bola mata dan masalah alergi udang yang sama dengannya.”

Sejenak hening.

“Bibi… kau tahu sesuatu?”

Kemudian suara rentan itu terdengar lagi, “Nak… aku akan membagi rahasia kecil denganmu. Tapi berjanjilah kau tidak akan mengatakannya pada siapapun. Kau harus melindungi… Milly. Karena aku tidak ingin ia mengalami hal buruk lagi.”

“Aku janji, Bibi.”

“Sebenarnya… ia memang adalah gadis yang kau maksud. Clara… ia begitu kehilangan Putrinya. Apalagi gadis itu waktu itu kehilangan sebagian memorinya. Ia bahkan tidak tahu siapa dirinya. Jadi… Clara membantunya menjalani hidup baru.”

“Clara melakukan operasi pada wajah gadis itu. Ia tidak ingin gadis itu mengingat kecelakaan mengerikan malam itu. Clara… percaya bahwa gadis itu dikirimkan Tuhan untuk bersamanya. Karena mereka memiliki kesamaan yaitu kehilangan orang terkasih. Kau pasti tahu, tidak ada yang tersisa dari kecelakaan itu. Orangtuanya…”

Lalu rekaman itu berhenti. Hanya sampai di situ.

Fernandez lantas melempar alat perekam kecil itu ke lantai hingga bergeser ke sisi tubuh Axton.

“Pagi itu, sebelum aku membawa Eve bertemu denganmu, aku sempat berbincang dengan Bibi Rachel.”

Sesaat tubuh Axton terasa mati rasa. Ia seketika diselimuti rasa bersalah yang sangat besar. Sementara Fernandez mendekatinya hingga sepatu pantofelnya berhenti di depan wajah Axton. Pistol tergantung di sisi tubuh Fernandez.

Perlahan kepala Axton mendongak, menatap menusuk ke arahnya dan Fernandez balas menatap tak kalah menusuknya.

“Elena dan Eve menunggu di mobilku. Aku berbohong pada mereka, mengatakan bahwa ponselku sepertinya tertinggal di rumah Bibi Rachel dan aku perlu mengambilnya sebentar.”

Setelah kalimat itu berakhir, Axton dengan gesit meraih pistol di tangan Fernandez, sempat Fernandez terkesiap namun detik berikutnya suara tembakan terdengar.

DOR!!

Axton menembaknya, membuat mulut Fernandez mengatup rapat, kakinya mundur beberapa langkah sebelum jatuh berlutut dan perlahan roboh ke samping. Tubuhnya berdentum di lantai bersebelahan dengan Axton.

Berguling agar telentang, Fernandez lalu meringis sesaat. Detik berikutnya, ia terkekeh usai mengusap darah yang merembes di perutnya. Menatap darahnya sendiri di tangan. Sebelum melihat Axton yang masih terbaring, juga terlentang di lantai bersama pistol dalam genggaman.

Nafas keduanya sama-sama terdengar putus-putus.

“Katakan padaku apa yang kaurasakan, Axton? Kau baru saja menembakku, teman terbaikmu.”

Axton hanya menatap langit-langit. Membiarkan rasa sakit itu menjalar di sekujur tubuhnya. Sesekali ringisan lolos dari bibirnya. Bahkan darahnya pun tidak berhenti mengalir, membuat bibirnya kini mulai memucat.

“Sama seperti kau menembaknya. Trevor Miller.” Fernandez kemudian ikut menatap langit-langit.

“Ia adalah Kakakku. Dan kau sangat bodoh karena tidak menyadariku Axton.”

Dengan indera penglihatan yang tidak begitu jelas, Axton melirik sekilas Fernandez yang sama sekaratnya dengannya, namun mereka sama-sama bertahan.

“Aku memang bodoh karena tidak menyadarimu. Dan sekarang, aku kembali mengulangi kebodohan itu lagi.”

Fernandez lalu menoleh pada Axton. Keduanya sama-sama merasa nyeri saat bernapas. Sesekali mereka juga kompak meringis.

Axton pun balas menatap Fernandez dengan sorot tidak terbaca. “Kupikir hari itu, kau dan keluargamu tidak lagi tinggal di sini.”

“Aku memilih menetap.”

Perlahan Axton kembali meluruskan pandangannya ke atas, memandang langit-langit ulang. Lalu tiba-tiba bercerita lemah pada Fernandez.

“Kakekku, ia mengajariku bahwa cara meredakan rasa sakit adalah dengan menghentikan sumber rasa sakit itu.”

“Dan ia lakukan itu pada Nenekku di rumah sakit. Usai menangisinya, ia membuat denyut jantung Nenekku berhenti hari itu.”

“Dan kau berpikir hal itu dapat menolong Kakakku juga?”

“Aku juga kehilangannya, Andez. Dan aku menyesal…”

Setelahnya, Axton melirik Fernandez lagi yang sekarang murni memejamkan mata dengan kening mengerut, masih bertahan pada rasa sakit peluru yang bersarang di perut juga nyeri di beberapa bagian tubuh akibat pertarungan mereka.

“Jika kau menyesal, kau seharusnya rutin berkunjung menemuinya. Kau bahkan seolah melupakannya.”

“Aku hanya tidak berani menemuinya.”

Mata Fernandez seketika terbuka. Ia balas melirik Axton sesaat sebelum detik berikutnya, memilih memandang ke atas, pada langit-langit untuk kesekian kalinya. Kemudian tiba-tiba Fernandez bersuara di sisa tenaganya, seolah sedang berbagi cerita juga.

“Elena, ia sedang kritis sekarang. Ia mengalami pendarahan. Dan stok darah untuknya sedang tidak ada di rumah sakit.”

“Golongan darah apa yang dibutuhkannya?”

“A…”

Tersenyum tipis, Axton membalas dengan nafas satu-satu, “Aku bisa membantunya.” Dan Fernandez paham kata-kata Axton hingga seketika ia menatap Axton lagi. Sorot matanya juga melemah.

Sesaat hening.

Hingga panggilan Fernandez memecah, “Hei, Axton,” tapi kali ini ia tidak menatap Axton karena bola matanya mulai sayup-sayup, hampir menutup. Bahkan darah sudah membanjiri kemejanya sampai ke lantai.

Sementara Axton matanya juga mulai meredup, tapi tetap memaksa memfokuskan pandangan kepada Fernandez. Dan ketika mendengar kata-kata Fernandez yang diucapkan dengan susah payah disertai rintihan kecil sesekali, bibir Axton yang robek mulai tertarik ke atas, membentuk seulas senyum miring.

“Kau harus menemui Kakakku. Karena kurasa sepertinya, aku juga akan menyusulnya. Dan kau harus rutin mengunjungi makam kami.”

“Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Andez. Kau tidak akan pernah menyusul Trevor.”

Begitu mendengar bunyi benda bergeser Fernandez mencoba melihat walau samar-samar. Axton sedang berusaha menggapai ponsel hitam yang tergeletak di lantai. Jemarinya menggerakkan posisi ponsel itu agar bisa terseret untuk dijangkau.

Sesekali suara ringisan Axton terdengar.

Walau tidak berdaya, Fernandez mendengus kecil melihat usaha Axton. “Aku tidak yakin benda itu masih berfungsi.”

“Lemparanmu tidak akan merusak ponselku, Andez.” Saat mengatakan itu ponsel telah berhasil diambil Axton dan layarnya masih menyala. Hanya mengalami keretakan.

“Lagi pula, tenagamu tadi masih kurang,” tambah Axton mencemooh Fernandez.

Fernandez yang mulai pasrah menutup mata, mengerang, “Kau tidak berniat memanggil wanita lemot itu bukan?”

“Well, tidak ada pilihan lain, Andez.” Sambil sesekali merintih, Axton mulai menempelkan ponsel itu ke telinga dan melanjutkan,

“Saat ini, hanya sekretarismu itu yang jaraknya berada sangat dekat kita.”

***

Bersambung