Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 34 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 33

Lesatan Peluru Sniper

Axton sekarang berada di ruangan pribadi yang juga biasa menjadi tempat kerjanya. Punggungnya bersandar di kursi. Ia menghembuskan asap rokoknya sambil mengamati bingkai fotonya bersama Evelyn yang dipegangnya. Matanya memancarkan kegelisahan yang kental.

Dalam foto itu mereka kompak tertawa bahagia. Axton memeluk Evelyn dari belakang di halaman belakang rumah gadis itu.

Foto itu dulunya diam-diam dipotret oleh Fernandez yang kebetulan membawa kamera hingga Evelyn sukses merona dibuatnya. Dan saat itu Evelyn masih lugu. Usianya baru 17 tahun, sementara ia dan Fernandez berusia 21 tahun.

Rasanya sudah sangat lama mereka tidak pernah lagi bersendau gurau bersama. Ia, Evelyn dan Fernandez, Axton ingin momen-momen itu kembali hidup.

Tidak lama pintu ruang itu diketuk. Axton melihat Gloria masuk dan memberi laporan padanya, “Nona Milly, ia sudah tenang dan sekarang sudah beristirahat Tuan Ax.”

“Kalau begitu, kau juga bisa beristirahat sekarang Gloria.”

Gloria tersenyum seadanya dan pamit, “Selamat malam Tuan Ax.” Lalu suara pintu terdengar tertutup, menyisakan keheningan yang hampa di ruangan itu.
Sesaat Axton tampak berpikir sebelum mematikan rokoknya di asbak dan beranjak. Menyimpan bingkai foto itu ke dalam laci.

Detik berikutnya, Axton sudah berada di depan pintu kamar tempat Milly berada. Tanpa keraguan, ia membuka pintu itu. Masuk ke dalamnya. Lampu tidur berada di nakas, menyala remang-remang, membuat figur Axton terlihat menyeramkan di kegelapan malam.

Pistol ia keluarkan dari saku, digenggamnya di sisi tubuh. Dengan pelan Axton mendekatinya. Jalannya masih tertatih-tatih, tapi tidak menimbulkan keributan.

Saat tiba di dekat ranjang gadis itu, Axton bisa melihat wajah pulas Milly yang terlelap. Dengkuran halus. Memar dan kebiruan yang tidak begitu kentara tercetak di sekitar wajah. Namun kecantikan paras yang dimiliki gadis itu tidak juga memudar.

Sesaat Axton termenung.
Lalu suara-suara mulai bergema di kepalanya, silih berganti, merekam ulang setiap momen secara acak.

Kau tahu, kurasa aku sudah tepat melakukan ini. Karena kau takkan bisa berhadapan dengan gadis itu, Axton.

Rahang Axton mengeras. Pistol kemudian diacungkannya ke arah kepala Milly yang tampak belum sadar akan kedatangannya.
Aro… Mommy akan bertambah tua dan Mommy hanya ingin melihatmu menghabiskan waktu dengan baik bersama Chloe. Lalu kalian menghasilkan seorang cucu untuk Mommy.

Sepertinya Axton perlu mencari jalan lain untuk kebahagiaan Ibunya. Telunjuk Axton mulai bersiap menarik pelatuk.

“Aro…”

Dan gema suara terakhir membuat ia terhenti sejenak. Suara itu milik Milly yang berhasil memicu kebimbangan di hatinya saat di pesta.

Lekat, Axton memandang wajah yang kini tampak gelisah. Gadis itu mengernyit, sebulir air mata menetes di sudut matanya. Kemudian racauan pelan mulai keluar dari bibir mungil itu sukses menghantam dada Axton dengan keras, sesak dan menyakitkan.

“Aku… aku membencimu… Aro…”

Niat Axton ingin menembak seketika pupus. Ia sempat terkesiap sedetik. Namun kini tenggorokannya serasa tercekik, bahkan lidahnya terasa kelu.

“Aku membencimu… Aro…”

Dengan pelan pistol kembali tergantung di sisi tubuhnya, sementara satu tangannya mengepal erat. Melihat gadis itu mulai menangis tanpa suara dalam tidur, membuat hati Axton kini serasa teriris beribu pisau tajam. Begitu perih melukainya.

Lalu tiba-tiba kelopak mata Milly yang basah akan air mata terbuka, bersamaan dengan itu pintu berdebam pelan, menandakan bahwa seseorang sempat berada di kamarnya.

***

Sementara itu, di rumahnya Roger duduk di sofa merah. Tangannya mencengkram kuat gelas berisi minuman wine hingga pecah. Ia tampak diliputi emosi membara. Tubuhnya setengah telanjang. Perban putih membalut beberapa bagian tubuhnya yang tadi sukses terluka karena tembakan.

Matanya berkilat penuh dendam. Giginya bergemelutuk, geram. “Lihat saja, aku akan membalas kalian berdua!”

Ia kemudian meraih dua busur kecil di mejanya, melemparkannya dengan kasar hingga mengenai foto Fernandez dan Axton.

“Fernandez Miller, kau harus membayar atas hilangnya para wanita seksiku. Kau telah membodohiku, brengsek!”

“Dan kau Axton Bardrolf, aku pastikan kau akan mati di tanganku! Lalu wanita manismu itu, tentu akan menjadi koleksi spektakulerku.”

Lalu Roger mulai tertawa lantang. Mukanya tampak mengerikan di kegelapan malam.

Setelahnya, ia melirik beberapa wanitanya yang masih tersisa. Berdiri di dekatnya tanpa busana. Ia mengeluarkan rokok di saku, memantik api untuk menyalakan. Sebelum menghisapnya dan memamerkan cengiran mesum di antara asap rokok yang berpendar.

“Aku tidak sabar menjinakkan wanita manismu, Axton.”

Tangan Roger memberi isyarat, memanggil salah satu di antara mereka. Wanita berambut hitam dan berkulit eksotis lantas mendekat ke arahnya. Melengokkan tubuhnya dengan sensual.

Ketika berada di hadapan Roger, langsung tangan Roger meraih pinggul wanita itu. Membuat wanita itu mengangkang di antara paha Roger, sementara kesepuluh jemari lentik wanita itu bertumpu di sandaran sofa.

Dan Roger mulai meremas satu payudara wanita itu tanpa ampun, mengemutnya dengan lapar.

Spontan wanita itu mendesah, “Uhm… Ahh…”

“Yeah, mendesahlah dengan lantang Baby.”

***

“Pergi Andez. Aku tidak mau melihatmu!” marah Elena pada Fernandez. Ia tidak sengaja memergoki Fernandez berbicara dengan Bosnya dan kenyataan bahwa lelaki itu adalah atasan dari Bosnya sekarang membuat Elena sangat jengkel.

Dan betapa bodohnya dirinya karena tidak menyadarinya. Terlebih hal itu sepertinya telah berlangsung cukup lama. Entah kapan lelaki itu melakukannya.

Kaki Elena begitu cepat berjalan di trotoar, melewati beberapa orang yang hilir mudik di sekelilingnya pagi ini. Ia bisa melihat pantulan Fernandez dari balik kaca beberapa toko yang dilaluinya. Lelaki itu berusaha mengejarnya di belakang.

“Elena!” seru Fernandez memanggil dan itu membuat Elena kali ini berlari sekencangnya.

Dan lagi-lagi Fernandez mengikutinya, turut berlari dan dengan sigap ia mencekal tangan Elena, menyentaknya untuk menghadap. Nafasnya sediki kacau. Begitu pula dengan Elena.

Satu tangan Fernandez menyelip di tengkuk Elena. Disusul sorot mata tenang yang sarat permohonan, “Dengarkan aku dulu Elena.”

Elena menepis tangan Fernandez. Walau jujur sentuhan lelaki itu sukses memadamkan letupan emosi di hatinya. “Jelaskan. Kenapa kau membeli tempat kerjaku, Andez?!” sentak Elena, tatapannya sengit mengunci mata Fernandez.

“Jadi begini caramu berhadapan dengan atasan dari Bosmu? Membentaknya?”

Elena langsung meninju keras dada Fernandez hingga lelaki itu merintih, “Aw… siapa yang mengajarimu bertingkah seperti preman Elena?” Sebelah mata Fernandez terpejam, bibirnya meringis dan ia melihat Elena kini memakinya.

“Fuck you!”

Fernandez tersenyum geli tapi detik berikutnya Elena justru melengos, meninggalkannya. Membuat Fernandez lekas mengejarnya kembali.

“Elena, hei!” Lagi Fernandez menarik tangan Elena, memutar tubuh gadis itu dalam sekali sentak yang sukses membuat Elena makin menempel padanya.

Fernandez mengunci pergerakannya dengan mengapit pinggangnya, sementara tangan Elena masih dicekalnya erat di sisi tubuh.

“Aku hanya bercanda padamu dan aku akan menjelaskannya.”

Muka Elena merona tapi ia tetap memasang wajah galak pada Fernandez. “Lepas Andez!” desis Elena berusaha menghempaskan cengkraman Fernandez pada tangannya namun lelaki itu justru menariknya hingga jarak wajah mereka menipis bahkan nyaris berciuman.

Pandangan Fernandez jatuh pada bibir Elena yang terbuka, napas halus gadis itu berhembus, tampak menggodanya.

“Tapi berikan aku satu ciuman,” bisik Fernandez menyeringai.

Bola mata Elena sontak membulat. Ia segera melirik ke sekitar dan menyadari bahwa mereka sukses menjadi tontonan orang-orang yang berseliweran. Beberapa menggeleng, beberapa lainnya terdengar tertawa geli.

“Andez, berhenti menjadi pria menyebalkan! Ini bukan saatnya untuk-”

“Jika kau malu, biar aku saja yang melakukannya,” potong Fernandez.

“And-” Mulut Elena langsung dibungkam oleh Fernandez dengan ciuman. Cengkramannya di tangan Elena terlepas, berganti menelusup di belakang rambut gadis itu dan memperdalam lumatannya. Fernandez terlihat sangat mendambakan bibir Elena. Bahkan ia tidak peduli pada pandangan orang-orang yang sekilas melihat mereka.

Hingga saat merasa Elena hampir kehabisan oksigen, Fernandez mengurai pagutannya. Nafas keduanya terengah-engah. Dahi mereka saling menyentuh.

“Aku hanya melindungimu. Itu saja Elena. Jika aku Bos dari atasanmu, tidak akan ada yang berani menyakitimu.” Mata Fernandez menggelap menatap tepat di mata Elena.

Pipi Elena menghangat karena rasa bibir lelaki itu masih tertinggal. “Kau salah. Aku menjadi tidak nyaman bekerja jika kau adalah Bos dari atasanku.”

“Kenapa?”

Elena menjauhkan kepalanya dari Fernandez, sementara Fernandez memilih mengamati setiap inci wajah Elena. Satu tangannya belum lepas melingkari pinggang Elena.

“Pantas saja selama ini semua orang memperlakukanku dengan baik. Semua itu ternyata karena kau. Mereka tidak berani…” Elena berhenti sesaat, mengernyit melihat titik merah aneh yang bergerak di kemeja biru Fernandez, berada tepat di dada lelaki itu.

“Elena…” panggil Fernandez yang mengerutkan kening heran saat menyadari pandangan Elena tampak mencari sesuatu. Menengok ke kanan dan ke kiri.

Dan saat Elena menengadah, raut gadis itu spontan terkejut menemukan remaja laki-laki bersembunyi di atas rooftop sebuah gedung. Bertindak seperti sniper.
Anak itu menggenakan jaket hitam bertudung, masker senada menutupi sebagian wajahnya dan sedang menargetkan Fernandez.

“Andez awas!” jerit Elena tiba-tiba.

Belum sempat Fernandez menemukan alasan kepanikan Elena, gadis itu telah mendorongnya hingga terjungkal di trotoar.

Peluru itu melesat cepat dan mengenai belakang punggung Elena. Menghasilkan jeritan kesakitan yang nyaring sebelum Elena akhirnya terjatuh di trotoar. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu langsung heboh, histeris dan mulai berlari berhamburan. Bingung, kalut, takut semua berbaur jadi satu, begitu dominan menguasai sekeliling.

Di antara kericuhan itu, Fernandez membatu sedetik, sebelum bangkit. Bergegas meraih tubuh Elena yang tergeletak dan memeluknya.

Raut muka Fernandez tampak cemas. Ia berusaha menekan darah di punggung Elena hingga tangannya penuh dengan darah Elena.

“Elena… kau akan baik-baik saja. Bernapaslah dengan pelan.”

Elena mengikuti intruksi Fernandez. Ia bernapas sebisanya dengan raut kesakitan. Matanya lemah menatap Fernandez yang kini berusaha membaringkan tubuhnya dengan hati-hati.

Buru-buru Fernandez membuka pintu mobil, lalu ia mulai mengangkat tubuh Elena. “Bertahanlah Elena…” mohonnya yang mulai panik.

Dibaringkannya tubuh Elena di jok belakang mobil dengan posisi menyamping. Bertepatan pintu dibantingnya, Fernandez tidak sengaja menangkap sosok seseorang yang berlari di rooftop sebuah gedung.

Mata Fernandez menatap nyalang. Ia yakin orang itu adalah pelakunya.

***

Bersambung