Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 33 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 32

Sebuah Peringatan Keras

Milly merangkak dengan susah payah di lantai hitam sambil menangis dengan tubuh gemetar. Wajahnya terlihat kacau balau karena linangan air mata. Rambutnya berantakan.

Ia baru saja bergelut dengan Rogert sebagai perlindungan diri. Menghantam kepala pria itu dengan lampu nakas dan berlanjut menendang kejantanannya keras.

Dan karena itu Roger marah besar hingga menembaki kakinya. Kini darah mengalir cukup banyak dari betis Milly. Hingga meninggalkan jejak di lantai setiap kali gadis itu memaksa menyeret tubuhnya demi meloloskan diri.

Di belakangnya Roger yang juga tersungkur di lantai perlahan bangkit. Erangan kesakitannya telah tidak terdengar lagi. Berganti dengan tawa puas.

“Kau tidak bisa pergi begitu saja, manis.”

Dan sekali lagi Roger membidik pada kaki Milly yang lain, menarik pelatuknya lalu…

DOR!!

Suara tembakan itu begitu nyaring disusul jeritan kesakitan Milly. Mulutnya terbuka. Tangannya yang hampir menggapai kenop pintu merosot ke lantai.

Roger pun menghampiri dengan langkah sempoyongan. Wajahnya diselimuti nafsu yang luar biasa. Lalu ia menjambak kasar rambut Milly membuat kepala gadis itu tertarik ke samping.

“Ahh,” ringis Milly di antara isakan.

“Kemari. Kau perlu mendapat hukuman dariku, manis,” desisnya terdengar mengerikan di telinga Milly.

“Tidak! Pergi dariku. Kau pria tua menjijikan!” raungnya menangis, tangannya berusaha melepaskan jambakan Roger.

Pria tua itu terkekeh jahat, lalu menyentak wajah Milly lewat tarikan rambut, membuat Milly mendongak dengan raut menahan sakit. Tarikan itu terasa menarik kulit kepalanya.

“Kujamin setelah ini kau tidak akan merasa jijik denganku, manis.”

Binar mata Milly begitu ketakutan, sementara wajah Roger terlihat tidak sabaran, membuka resleting celananya dengan tergesa-gesa, bersiap mengeluarkan kejantanannya, tapi suara kericuhan yang terdengar di luar seketika menghentikan kegiatan Roger.

Sejenak ia menunda niatnya dan menghempaskan Milly hingga terjerembap di lantai. Ditariknya resletingnya kembali.

Lalu tiba-tiba pintunya terdobrak, sontak Roger tersentak dan menoleh. Axton tersengal-sengal, berdiri di sana, kepalanya dikebat perban putih. Pistol teracung di udara, mengarah tepat ke Roger.

“Apa yang kaulakukan padanya Roger?” desis Axton geram begitu mendapati Milly tidak dalam kondisi yang baik. Gadis itu menangis, merangkak perlahan menjauhi Roger.

Bahkan dress putih itu koyak, tidak berbentuk. Hingga separuh punggungnya terekspos jelas. Dan Axton sadar bahwa bagian atas tubuh gadis itu tidak lagi terlindungi oleh dress.

Ketika mengetahui peluru tertancap pada dua kaki gadis itu, Axton segera menoleh pada Roger lagi. “Kau menembaknya?”

Jika mata Axton berkilat nyalang, maka wajah Roger tampak murka. Karena kini koleksi wanita-wanita yang belum dijinakknya terlihat berlarian histeris di luar, sementara beberapa bodyguardnya tampak tergeletak, terluka dan bersimbahkan darah akibat ditembak oleh Axton. Mereka semua merintih. Pemandangan itu tidak luput dari pandangan Roger.

“Kau, apa yang salah denganmu Axton?! Kau mengacaukan rumahku dan membuat para wanita hiburanku kabur?! Kau bahkan menembak bodyguardku!”

DOR!!

DOR!!

Kini giliran Roger mengaduh, “Arrgghh!” Ia spontan mundur selangkah, memegang lengannya yang tertancap oleh dua peluru yang dilesatkan Axton, membuat darah segarnya mulai keluar.

“Sial, sekarang kau menembakku?!” umpat Roger keras.

“Hanya peringatan untukmu karena kau telah menyentuh milikku Roger.”

“Dan soal bodyguardmu, aku terpaksa menembaknya karena mereka berusaha mencegahku untuk menemuimu hanya karena kau sedang tidak ingin diganggu.”

Tiba-tiba Roger tertawa sebelum membuang ludah dan menatap Axton penuh ejekan.

“Wanita itu, Andez memberikannya cuma-cuma padaku. Aku-lah pemilik resminya dan jika kau mau, kita bisa saling berbagi Axton. Aku tidak keberatan dengan hal itu.”

“Tapi…” Kini Roger melirik Milly dengan tatapan ingin memangsa. Gadis itu gigih berjuang menyeret tubuhnya dengan sisa tenaga yang dimiliki.

“Biarkan wanita itu memuaskanku terlebih dulu. Karena aku yang pertama menemukannya!”

Setelahnya dengan kalap Roger menggapai pergelangan kaki Milly dengan tangannya yang dipenuhi darah, menarik kasar gadis itu.

“Tidak!!” Spontan tangis Milly pecah.

Axton segera bertindak, menarik pelatuk ke arah Roger. Lalu suara tembakan itu kembali terdengar.

DOR!!

Sontak Roger mengerang keras, “Arrgghh!” sebelum roboh ke lantai, menciptakan bunyi gedebuk yang nyaring. Axton lalu berjalan tertatih-tatih menuju Roger.

Sementara Roger memegang bahunya, darah merembes cukup banyak di sana, berteriak berang pada Axton. “Brengsek!” Namun dalam hitungan detik bola mata Roger seketika terkejut waktu pistol ditodongkan Axton penuh ancaman di depan wajahnya.

“Aku tidak ingin berbagi apapun denganmu,” gumam Axton dingin, dominan mengerikan pada Roger yang terkapar di lantai. Pantulan cahaya bulan dari jendela membuat siluet bayangannya terasa mencekam.

“Ia adalah milikku Roger. Dan jangan pernah menyentuhnya.”

Roger bergeming sesaat.
Detik berikutnya Axton berbalik menghampiri Milly yang menangis sesegukan dengan posisi tengkurap. Tampak shock, dan gemetar.

Derap sepatu Axton yang beradu di lantai, terdengar seperti kesusahan berjalan itu ditangkap oleh Milly. Lelaki itu meringis saat mencoba berlutut dengan satu kaki terlipat, sementara tangannya bertumpu di lutut dan memegang pistol. Kepala Milly spontan menoleh. Sorot terluka, kecewa, dan benci berbaur jadi satu menghunus Axton.

Wajah gadis itu terlihat tidak karuan. Lumuran darah bercampur dengan air mata. Membuat Axton sempat terdiam. Jantungnya berdebar-debar dalam arti yang negatif. Rasa resah dan cemas menyelimuti batinnya begitu kuat. Namun ia tidak menunjukkannya secara gamblang.

Roger yang melihat Axton mendadak tertawa kencang. Tawa yang terselubung sesuatu yang jahat.

“Katakan padaku berapa harganya? Aku memang biasa menjual para wanitaku di Clubmu dan bertransaksi dengan Maddie. Tapi kali ini aku ingin membeli wanita manis itu. Ia terlihat jauh lebih segar dibanding—”

DOR!!

Axton lagi-lagi menembak Roger tanpa melepaskan pandangannya dari Milly.
Suara erangan penderitaan Roger kembali terdengar, “Arrgghh!” Peluru itu kini bersarang di betisnya dan darah Roger bertambah mengucur.

“Aku tidak menjualnya. Kau sebaiknya mencari wanita lain, Roger,” desis Axton yang melirik Roger sekilas.

“Keparat Axton!” maki Roger murka.

Namun Axton sudah fokus pada Milly yang masih terisak. Kelopak mata gadis itu tertutup rapat. Bahkan tubuhnya tampak gemetar.
Axton sadar bahwa gadis itu mungkin takut akan suara tembakan. Atau mungkin takut pada apa yang menimpanya hari ini.

Dengan hati-hati Axton menyimpan pistolnya di saku, lalu melepas jasnya. Membalik tubuh Milly hingga terlentang. Mengibarkan jasnya di atas tubuh gadis itu. Sebelum kedua tangannya, ia selipkan di antara paha dan punggung Milly untuk menggendong gadis itu.

Sesekali pula Axton mendesis menahan sakit karena kakinya yang terkilir belum diatasi.

“Jika kau takut, kau bisa melingkarkan tanganmu di leherku,” ujar Axton tiba-tiba.

Mata Milly perlahan terbuka. Ia sadar bahwa Axton sedang membopongnya. Isakannya belum mereda. Hanya satu detik ia beradu tatap dengan Axton. Namun di detik selanjutnya, ia tidak ingin memandang lelaki itu.

Axton tidak mempermasalahkannya. Tapi dengan sengaja ia menaikkan sedikit gendongannya, membuat tubuh Milly makin tertubruk di dada bidangnya. Otomatis darah di muka Milly mengotori kemeja putihnya.

“Baiklah. Terserah padamu.”

Kemudian terpincang-pincang, Axton berjalan keluar melewati beberapa bodyguard Roger yang terbaring mengerang. Tidak ada yang mati, hanya sekedar terluka.

Sedang Roger yang ditinggalkan Axton lantas berseru emosi, “Kau sudah salah besar mencari masalah denganku Axton—sial, argghh!” Refleks Roger merintih kesakitan kembali, menekan luka di bahunya.

***

Bersambung