Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 32

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 32 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 31

Kecemasan Axton yang Kentara

Di tempat lain, Thomas kaget melihat kemunculan Axton yang membuka pintu rumah dengan separuh wajah yang dipenuhi darah. Chloe terlihat memapahnya. Jemari lentik gadis itu berada di pinggang Axton, sementara satu tangan Axton merangkul lehernya.

“Tuan Ax, apa yang terjadi dengan Anda?”

“Mom, apa ia sudah tidur?” Bukannya menjawab, Axton malah bertanya hal lain. Nafasnya menggebu-gebu. Pandangannya tampak agak mengabur karena pening tapi ia tetap mencoba bertahan. Sikunya bertumpu di ganggang pintu.

“Nyonya Wella sudah terlelap satu jam yang lalu Tuan Ax.”

Axton tampak lega mendengar balasan Thomas.

Chloe yang berada di sampingnya, wajahnya tampak kesal bercampur cemas pada Axton.

“Seharusnya aku tidak perlu mendengarkanmu. Kau tidak akan bisa mengusirku dari mobilmu. Jalanmu saja pincang seperti ini. Seharusnya aku mengantarkanmu ke rumah sak—”

Axton memicing tajam pada Chloe membuat Chloe segera mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Berganti mendecih kemudian.

“Kau benar-benar keras kepala Axton,” gerutunya.

“Tuan Ax anda…” Kini Thomas terlihat khawatir akan kondisi Axton.

Axton lalu menoleh pada Thomas. Lagi-lagi mengatakan hal lain, “Thomas suruh Robert mengantarkan Chloe pulang,” titahnya.

Spontan Thomas mengangguk lagi. Tangannya bergegas mengeluarkan ponsel di saku dan mengirimkan sebuah pesan untuk Robert.

“Saya sudah memberitahunya Tuan Ax. Robert akan segera kemari.”

Sedangkan Chloe terperangah, “Apa?” Ia sadar bahwa Axton sedang mengusirnya. Terlebih saat Axton tidak lagi bertopang padanya. Bahkan lelaki itu menyingkirkan jemari Chloe pada pinggangnya. Berjalan tertatih-tatih melewatinya.

Lantas Chloe memanggil dengan muka merah padam akibat sebal, “Axton!”

Sesaat Axton berhenti. Melirik ke belakang, sadar bahwa Chloe sedang berjalan cepat ke arahnya. Gadis itu lalu menelusupkan jemarinya tergesa-gesa ke lengan Axton.

“Aku tidak akan pulang. Aku perlu memastikan bahwa kau—”

“Nona Chloe mari saya antarkan anda pulang.”

Ucapan Chloe tersendat karena Robert seketika telah muncul di dekatnya, membungkuk hormat dan Chloe yang melihatnya menatap sengit. “Aku tidak akan pulang denganmu!”

Robert melirik Axton dan mendapati sebuah signal dari sorot mata Axton. Ia mengangguk patuh, dan detik berikutnya Chloe memekik lalu memprotes, “Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!”

“Saya akan mengantar anda dengan selamat Nona Chloe,” ujar Robert tanpa emosi dengan tubuh Chloe yang berada di pundaknya. Kepala gadis itu terbalik.

Chloe tercengang, ia lalu mengangkat kepala, menoleh berang pada Axton. “Suruh bodyguardmu untuk menurunkanku Axton!”

Dengan daya tubuh yang terasa melemah, Axton masih bisa menyunggingkan senyum miring. Itu membuat muka Chloe meradang apalagi mendengar balasan Axton. “Seperti katanya, ia akan mengantarkanmu dengan selamat Chloe.”

“Saya permisi Tuan Ax.” Robert lalu menundukkan kepalanya sekilas, sebelum berjalan tegap sambil membopong Chloe yang menjerit kesal pada Axton, “Axton!!!”

Namun tidak lama gadis itu telah hilang dari pandangannya. Dan perkara jeritan itu, tidak akan ada yang mendengarnya karena setiap ruangan di rumah ini telah dirancang kedap suara.

Dan kini hanya tersisa Axton dan Thomas saja.

“Saya akan mengambilkan kotak obat untuk anda Tuan Ax.”

Saat Thomas baru melangkah beberapa langkah, Axton memanggil, “Thomas.” Hingga Thomas berbalik dan menatap Axton yang kini telah duduk dan menyangga kepala di sandaran sofa. Jas hitam diletakkan Axton di atas pahanya.

“Apa ia juga sudah tidur?”

“Maksud anda Nona Milly?”

Axton kini menatap Thomas dan ketika Thomas memberitahu bahwa gadis itu sejak tadi belum tiba, mata Axton langsung tertuju pada jam dinding yang berdetak di rumahnya, menunjukkan waktu pukul 12 malam. Ia mendesis, “Tidak mungkin.”

***

Milly membuka kelopak matanya perlahan. Rasa pening mendera kepalanya. Lemah, ia menoleh, meneliti seluruh ruangan di sekitar, walau pandangannya tidak begitu jelas, mengabur. Namun lambat laun, ia bisa melihat jelas pria tua yang mendekatinya dengan kekehan mesum.

“Kau sudah bangun, manis.”

Tangan pria itu meraba paha mulusnya di balik dress. Merangkak mendekatinya. Langsung sinyal bahaya berbunyi seperti menyadarkan Milly dalam sekejap. Hingga gadis itu menjerit kencang, “Menyingkir dariku. Jangan menyentuhku!”

Ia mendorong pria tua itu yang justru tertawa senang dan malah menindihnya. Membuat dada Milly terasa terhimpit. Ia menangis keras. “Tidak! Menyingkir!”

Pria tua itu mulai merobek sebagian dress Milly dengan lapar. Bunyi kain yang terkoyak itu terdengar nyaring di telinga Milly. Tangis Milly semakin dahsyat, memenuhi ruangan yang penerangannya remang-remang dengan nuansa serba merah dan hitam.

Sebisa mungkin Milly melakukan perlawanan. Mendorong tubuh pria itu, memukul, mencakar. Kakinya bahkan menendang. Tapi tamparan keras di wajah, membuat Milly tak berdaya sesaat.

Darah di pelipisnya telah mengering, namun darah segar yang lain kini merembes di hidung serta bibirnya, menambah rasa sakit di seluruh jiwa dan raganya. Air matanya meluruh.

Dan pria tua itu tertawa lagi, seolah tidak merasa bersalah telah menyakitinya.

“Andez benar-benar tahu selera wanita yang kusukai. Energik, seksi dan…” Pria tua itu menarik kasar scarf di leher Milly dan ia tersenyum nakal, melihat bekas cumbuan di sana.

“Liar.”

Pria tua itu mulai menenggelamkan kepala di leher Milly, mencumbu dengan paksa, membuat Milly menggeleng, meronta dan memukul lagi.

“Tidak! Aku bilang jangan menyentuhku!” Tangisnya lagi-lagi meraung.

Pria tua itu hanya terkekeh di sela cumbuannya di leher Milly. Kasar dan terburu-buru. “Tidak perlu munafik manis. Kau suka bercinta dengan banyak pria bukan?”

“Aku tidak heran kekasihmu membuangmu.”

Hati Milly menjadi hancur mendengar celaan itu. Tidak. Ia bukan gadis seperti itu.

Dan kini tangan pria itu mulai menarik lepas branya dengan kasar, menciptakan pekikan histeris Milly di antara tangisnya yang memilukan.

“Oh, dan kau juga punya bercak di sini rupanya. Sudah kuduga. Kekasihmu pasti begitu terluka melihat perbuatanmu, manis. Kau benar-benar nakal.”

“Jangan menyentuh—Le… le… pas!”

Pria tua itu kini mencekik leher Milly dengan tatapan lapar. Membuat pasokan udara Milly menipis dan suaranya jeritannya menjadi tertahan. Cairan bening berlinang di wajahnya, manik matanya tersirat luka yang begitu dalam.

Tangan mungil Milly memukul-mukul tangan pria tua itu yang melingkar kuat di leher.

Sementara tangan bebas pria itu menangkup tergesa-gesa payudara Milly yang terekpos dan tampak kencang. Memainkannya, meremas kuat sambil menyeringai.

“Sekali pun, kau sudah sering dipakai. Tapi aku suka punyamu, manis. Ini nikmat sekali. Dan…” Kini lidah pria itu beserta liur yang menetes mengotori puting Milly akibat jilatan kecilnya.

“Rasanya lebih lezat dibanding wanita-wanita koleksiku.”

***

Hingar-bingar musik menghentak di sekeliling, menimbulkan suasana bising. Para pengunjung tampak menikmati bergoyang di antara cahaya kerlap-kerlip lampu warna-warni Club yang memutar.

“Berikan aku segelas lagi,” kata Fernandez saat sudah menandaskan segelas vodka. Ia duduk dengan siku bertumpu di meja bartender.

“Hari yang buruk hm?” ucap sang bartender sambil memberikan kembali segelas vodka untuknya.

Fernandez yang wajahnya memerah karena mabuk terkekeh. Ia kemudian menggeleng. “Ini justru hari yang baik untukku. Dan aku sedang merayakan kemenanganku.”

“Kalau begitu selamat untukmu.”

Fernandez lantas meraih gelas berisi vodka itu, mengangkatnya sambil tersenyum pada bartender, sebelum menghabiskannya dalam satu kali teguk. Ia memejam sekilas, membiarkan rasa pahit itu menjalar di kerongkongannya.

Tidak lama ponsel Fernandez berdering, lantas Fernandez merogohnya. Mengangkat kemudian tanpa melihat nama sang penelpon.

“Dimana kau Andez?” desak penelpon di seberang dan sangat dikenal Fernandez.

Fernandez menyeringai, turun dari kursi bar. Menjauh dari keramaian, walau begitu hebohnya musik Club yang menghentak masih terdengar samar-samar di dekatnya.

“Kau tidak mengantarnya. Kau membawanya kemana Andez?” Lagi Axton mencecar di seberang.

“Jika yang kau maksud gadis yang kau kira Eve itu, aku sudah membereskannya.”

“Apa maksudmu Andez?” Suara Axton kini terdengar sedikit cemas. Itu membuat Fernandez membuang napas pendek.

“Kau memang jatuh cinta padanya Axton.”

“Sudah kukatakan padamu bahwa aku—”

“Kalau begitu kau tidak perlu cemas jika kukatakan bahwa sekarang gadis itu sedang memuaskan para pria dan besok mungkin ia telah bunuh diri sesuai harapanmu,” sela Fernandez langsung dan sukses menciptakan keheningan sesaat di seberang.

Kemudian, Axton kembali mengulang pertanyaan yang sama, “Andez… dimana ia?”

“Kenapa? Kau ingin menjemputnya?” Fernandez membalas dengan nada dingin seperti es.

Lagi-lagi senyap.

“Kau tahu, kurasa aku sudah tepat melakukan ini. Karena kau takkan bisa berhadapan dengan gadis itu, Axton.”

“Andez…”

“Bersumpah padaku, jika aku memberitahumu…” Fernandez menggantung kalimatnya. Melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya, lalu melanjutkan, ”

Kau akan memusnahkannya. Buktikan padaku bahwa kau bisa menuntaskan rencana balas dendammu pada gadis itu.”

“Kau seharusnya tidak perlu terlibat lebih jauh dalam masalahku Andez.”

“Jika kau tidak bisa, kau memang jatuh cinta padanya.”

Tidak ada balasan di seberang.

“Kau akan melakukannya atau tidak, Axton?” tanya Fernandez yang kini mulai mengeratkan genggamannya pada ponsel. Kepalanya terasa berat akibat minuman berakohol tinggi yang ia minum tadi.

Dan bersamaan dengan Axton yang akhirnya mengatakan akan melakukannya, bibir Fernandez tertarik ke atas. Lalu sengaja ia bertanya lagi, “Dengan cara apa kau akan melenyapkannya?”

“Aku akan menembaknya dan mengirimkan foto jasadnya padamu Andez.”

“Ia bersama Roger,” beritahu Fernandez pada Axton.

“Apa?” Sepertinya Axton tampak terkejut di seberang tapi Fernandez tidak peduli.

“Jangan lupa sumpahmu Axton,” lagi Fernandez mengingatkan sebelum memutuskan panggilan.

***

Bersambung…