Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 30

Kebenaran yang Terkuak

Mata Milly tidak terpejam sedikitpun. Tapi kepalanya menggeleng pelan melihat mobil itu tidak lama lagi akan menabraknya. Lalu semua terjadi begitu cepat tanpa disadarinya.

Entah bagaimana tubuhnya telah terjatuh ke trotoar. Ia merintih kecil karena denyut nyeri di punggungnya. Tapi setelah itu wajahnya tampak shock. Bola matanya lurus terarah pada langit malam.

Meski begitu ia bisa merasakan tangan kekar kini terselip di belakang kepalanya seakan melindungi. Juga erangan disertai nafas yang berhembus di sekitar lehernya.

Sementara mobil itu tidak bertanggung jawab itu sudah berlalu dari mereka.

Dengan susah payah, Axton menoleh, melihat wajah Milly dari samping. Matanya terasa berkunang-kunang. Separuh wajahnya bersimbahkan darah. Luka pelipis itu kembali menganga. Semua karena kepalanya terbentur ulang. Cukup kuat di trotoar.

“Aku sudah katakan kepadamu untuk tidak kemana-mana,” desis Axton lemah.

Lelaki itu mengernyit, mencoba menahan rasa sakit di pergelangan kakinya yang mungkin saja tergilir, tidak menyadari tatapan kosong Milly di balik topeng. Seakan telah kehilangan separuh nyawa.

Rentetan kilasan gambar masa lalu itu muncul silih berganti di benak Milly. Sangat jelas. Menguak suatu kebenaran menyakitkan yang tidak diduganya.

Mulai dari kecelakaan di malam salju. Teriakan rintihan. Lalu sosok wanita yang menolongnya dan dikiranya adalah Ibu. Sampai bayangan rumah sakit.
Dan berakhir pada perubahan yang dilakukan pada wajahnya.

Sungguh, Milly begitu terpukul.

“Kau sangat peduli padanya, bahkan kau membahayakan dirimu karenanya,” gumam Fernandez datar pada Axton ketika muncul di sana.

Dan tidak lama kemudian Chloe menyusul. Gadis itu berseru panik, “Astaga Axton!” Ia buru-buru berlutut, memisahkan Axton dari Milly dan menyangga kepala lelaki itu dengan satu tangannya.

“Kau tidak seharusnya menyelamatkannya!” Chloe hendak menyeka sebagian darah di muka Axton tapi ditepis oleh Axton.

“Menjauh dariku Chloe.”

Chloe terhenyak.

“Apa kau gila?! Aku begitu peduli padamu Axton. Dan wanita itu,” Chloe menatap sengit pada Milly yang hanya membatu, tatapannya masih hampa.

“Ia bahkan hampir membuat keselamatanmu terancam Axton!”

Axton tidak ambil pusing dengan Chloe. Ia melirik Milly dan mendapati sebulir air mata mengalir di sudut mata itu. Dan Axton ingin tahu penyebabnya.

Karena ia tidak merasa sedang menyakiti gadis itu saat ini.

Apalagi hati Axton sekarang menjadi berkecamuk, tidak karuan. Benaknya belum bisa melupakan panggilan masa kecilnya yang tadi keluar dari bibir mungil gadis itu untuknya.

“Kau sebaiknya membawa Axton ke rumah sakit dan berhenti bertingkah drama di sini Chloe,” timbrung Fernandez memberi usul tiba-tiba. Hembusan angin sepoi-sepoi, menerbangkan sekilas rambut Fernandez.

Chloe berdecak sebal mendengar sindiran Fernandez. Sedang Axton menatap Fernandez dengan darah yang melumuri sebagian wajahnya, menolak dan mencoba tetap kuat,

“Itu tidak perlu Andez.”

“Dengarkan aku kali ini Axton. Kau perlu menyembuhkan dirimu. Karena kau sungguh terlihat tidak baik-baik saja sekarang,” balas Fernandez tegas, berhasil membungkam Axton sesaat.

“Pergilah bersama Chloe. Percaya padaku, aku akan menanganinya.” Fernandez melirik ke arah Milly yang mematung, terbaring di aspal dengan mata berkaca-kaca.

“Aku akan mengantarnya pulang ke rumahmu Axton.”

Detik berikutnya walau enggan, Axton menerima bantuan Chloe yang memapahnya. Ia merangkul pundak Chloe, membuat jarak mereka menipis. Itu sukses memicu kebahagiaan di hati Chloe. Lingkaran tangan Chloe di pinggang Axton, makin erat. Ia sengaja menunjukkan kemesraan secara nyata itu pada Milly lewat sorot matanya.

Kemudian membalikkan badan dan diikuti Axton, membelakangi Milly.

Sebelum meninggalkan Fernandez dengan Milly, sekali lagi Axton menoleh ke belakang pada Milly di mana sekarang Fernandez setengah berlutut di sisi tubuh gadis itu.

“Ia akan baik-baik saja bersama Andez. Kau tidak perlu mencemaskannya. Pikirkan dirimu Axton. Aku tidak ingin kau-”

“Apa kau tidak bisa diam?”

Ucapan sengit Axton yang memotong, membuat Chloe kesal. Lelaki itu menatap padanya, memberi peringatan keras sekaligus kentara tidak suka.

“Kau seharusnya berterima kasih padaku, Axton.”

“Setelah ini, menyingkir dari hidupku Chloe.” Axton malah berkata lain hingga muka Chloe merah padam, meradang. Tapi tetap tertatih-tatih mengotong tubuh Axton sebisanya. Masuk ke mobil lelaki itu dengan Chloe yang duduk di setir kemudi.

Axton menyandarkan kepalanya di jendela mobil, terus menatap ke arah Milly dan Fernandez di sana saat Chloe menyalakan mesin mobil. Dengan mata memanas, Chloe melirik Axton.

“Eve, sepertinya gadis itu memang telah kembali. Kau memang akan selalu bodoh demi dirinya Axton.” Nada kesal Chloe terdengar jelas namun bercampur rasa getir.
Axton membisu, tidak membalas. Ketika mobil miliknya yang dikendarai Chloe melewati Milly dan Fernandez, Axton memejamkan matanya.

Walau bukti itu belum ada, tapi jika kebenarannya demikian, Axton tidak tahu bagaimana ia harus menghadapi gadis itu setelahnya. Karena ia tahu… gadis itu telah membenci dirinya sejak hari pertama ia memperlakukannya.

Sementara Fernandez yang sadar akan kepergian Chloe dan Axton sepenuhnya, mulai menatap beberapa orang di sekitar mereka yang membatu sesaat.

Fernandez tahu mereka telah menyaksikan tindakan berani Axton yang berakhir dengan rembesan darah. Itu terlihat dari ekspresi mereka. Pucat, shock, juga tegang semua menjadi satu.

“Kami tidak apa. Kalian bisa menikmati kembali acara. Maaf sebelumnya.” Fernandez berkata pada orang-orang itu sebelum menatap Milly.

“Sampai kapan kau akan tidur di sana?”

Nada tajam dalam suara Fernandez membuat Milly menatap Fernandez yang sedang mencopot topeng hitamnya, menyimpannya di saku celana.

“Aku tahu, hanya Axton yang terluka di sini. Karena ia begitu melindungimu tadi. Jadi kurasa, kau bisa berdiri sendiri tanpa bantuanku.”

***

Fernandez menyetir mobilnya. Pandangannya terfokus di jalanan.

Satu hal yang Axton tidak sadari bahwa ucapannya tadi hanya tipu belaka. Karena ia tidak akan mengantar Milly ke rumah Axton, melainkan ke suatu tempat yang akan mengakhiri permainannya.

Ingatan akan masa lalu itu sangat lekat di benaknya. Ia tidak akan pernah bisa lupa tentang segalanya. Tentang malam di mana ia mengetahui kebenaran itu, tapi tidak bisa melakukan apapun karena masih begitu kecil untuk membalas.

Bahkan saat itu usianya baru menginjak 10 tahun.

“Dengar Eve. Sssttt. Kau tidak boleh mengatakan kebenaran itu. Kau harus melindungi Aro.”

Mendengar itu langkah Fernandez di lorong rumah sakit terhenti. Ia bersembunyi di balik dinding putih rumah sakit. Walau begitu ia tetap mengintip dengan hati-hati.

Raymond mengusap rambut anaknya dengan mata berpendar cemas. Ia berjongkok pada Evelyn di depan pintu kamar mandi, jauh dari orang-orang yang berlalu lalang panik di rumah sakit

Evelyn menutup kupingnya, menggeleng. Merasa takut karena bunyi tembakan itu seperti alarm di dalam otaknya, terus terekam tidak mau berhenti. “Aro. Aro menembaknya Daddy. Aro membunuh Daddy,” tangisnya kecil.

“Eve, lihat Daddy!” sentak Raymond menangkup wajah Putrinya itu hingga mata Evelyn yang tadi terpejam terbuka, walau bulir air mata terus merembes di bawahnya.

“Aro tidak membunuh Eve. Aro, anak itu juga trauma. Jadi kau harus melindungi yang hidup Eve.”

Evelyn terdiam, tidak mengerti maksud Raymond. Bibirnya merengut terisak.

“Ini demi kebaikan semuanya Eve. Demi kebaikan kita bersama.” Lalu Raymond memeluk tubuh kecil Evelyn sangat erat. Mengusap rambutnya.

“Dengarkan Daddy. Kau harus melupakan semuanya. Dan jangan pernah katakan bahwa Aro adalah pelakunya.”

“Tapi Daddy Aro memang yang menembak Trevor.”

“Eve!” tegur Raymond panik dan menguraikan pelukannya. Menghapus jejak air mata di pipi tembem Putrinya yang terlihat menggemaskan itu.

“Kau masih ingin melihat Daddy dan Mommy bukan?”

Evelyn mengangguk kencang. “Tentu saja Daddy, ” balasnya serak. Air matanya telah berhenti tapi matanya masih tampak memerah.

“Jadi ikuti apa kata Daddy Eve. Kau mau kan?”

Dengan mata yang bergerak gelisah, Evelyn melirik sekitar. Fernandez segera bersembunyi sambil mengepal tangannya agar tidak dilihat.

Suasana tampak lenggang dan hanya ada ia dan ayahnya. Sesaat kepala Evelyn tertunduk untuk menghapus ingusnya. Sebelum ia menatap lagi Ayahnya yang tersenyum hangat padanya. Lalu kepalanya mengangguk.

Lagi Fernandez mengintai dengan kewaspadaan.

“Jadi Daddy, Eve harus apa?”

Raymond tampak bernafas lega. Ia mengecup kening Putrinya itu lama. “Katakan bahwa kau melihat Trevor menembak dirinya sendiri Eve.”

“Tapi Daddy…”

“Kau sudah janji pada Daddy, sayang?” Lagi Raymond menangkup wajah Evelyn dan menatap sedih. “Ini tidak akan jadi masalah yang besar Eve. Kau sedang berbohong untuk kebaikan semua. Ingat dengan apa yang pernah Daddy ajarkan padamu?”

Tanpa tahu apapun, Evelyn yang polos menganggukkan kepala dan melakukan sesuai yang Ayahnya katakan. Dan Fernandez yang melihat itu cuma bisa memendam segalanya. Bahkan ia bertekad untuk membalas semua perbuatan mereka terhadap Kakaknya.

***

Kuku jemari Fernandez mengerat pada setir kemudi di saat ia sedang mengendarai mobil itu, membelokkannya kemudian.
Suasana keheningan mencekam di dalam mobil itu.

Ia mengambil handsfree bluetooh, memasang di telinga. Lalu menghubungi seseorang. Ketika tersambung, hingar bingar musik langsung menyambut pendengaran Fernandez. Disusul desahan seksi seorang wanita.

“Sepertinya kau sedang bersenang-senang di sana Roger.” Itu adalah sapaan pembuka Fernandez yang disambut Roger dengan tawa di seberang.

“Ada apa kau menghubungiku?”

Pria berkepala botak itu sedang bersandar santai di sofa sambil meremas payudara wanita di pangkuannya. Dua wanita yang tidak berbusana juga tampak di sisi kanan dan kirinya, menggodanya. Satunya mengelus dada Roger di balik kaos, satunya bermain dengan kalung rantai Roger.

“Kebetulan, aku punya seorang wanita yang menarik dan bisa melayanimu malam ini.”

“Oh kau menjualnya padaku?” Roger mengangkat sebelah alis. Muka mesumnya menunjukkan ketertarikan. Ia mengusap bokong sintal wanita di pangkuannya.

“Kemari seksi,” gumam Roger pada wanita di pangkuannya dan wanita itu menurut. Mengarahkan pusat dirinya di depan wajah Roger yang terlihat lapar. Lidah Roger segera menjilat di sana membuat wanita itu meremas sandaran sofa sambil menengadah kepala dan mendesah erotis.

Fernandez tersenyum miring mendengar apa yang dilakukan Roger di seberang. Ia mengabaikannya dan berbicara lagi sambil melirik Milly di sebelahnya,

“Tidak. Aku memberikannya padamu. Kau bisa melakukan apapun padanya. Lagi pula, kekasih wanita itu sudah bosan dengannya dan menyuruhku untuk mengatasinya.”

Milly yang tadi tampak merenung kini terkejut. Ia menatap nanar ke arah Fernandez, seperti tidak menduga.Topeng pun tidak lagi melekat di wajahnya.
Tapi Fernandez bertingkah tidak peduli, meneruskan percakapannya.

“Dan satu lagi, pastikan kau melenyapkannya setelahnya Roger.”

“Menarik. Coba kulihat seperti apa wanita yang kau maksud. Jika aku menyukainya, aku tidak bisa menjamin akan melenyapkannya. Kau tahu, ia bisa menambah koleksi wanitaku.”

Roger terkekeh mesum. Ponsel masih menempel telinga, sementara dua jarinya kini mengobrak-abrik pusat diri wanita di depan wajahnya dengan lihai hingga suara desahan sensual wanita itu mengisi di antara percakapan mereka.

“Kau bisa menemuiku di tempat biasa Andez.”

Lalu tiba-tiba Roger mengerang, “Oh yeah. Baby.” Karena salah satu wanita tanpa busana yang menemaninya kini memijat kejantanannya usai membuka resletingnya. Mengulumnya kemudian. Mata Roger terpejam, kepalanya terkulai nikmat.

“Tidak Roger. Kau harus melenyapkannya setelahnya. Berjanjilah padaku.”

Lagi Roger terkekeh. “Kalau begitu, aku akan membuat ia merasakan kenikmatan sampai ia mati.” Lalu ia mendorong pelan wanita di depannya setelah puas bermain. Tangannya yang kotor kini menjambak wanita di bawah yang melumat kejantanannya, memaksa menyodoknya makin dalam.

“Terserah padamu.”

“Aku sungguh tidak sabar dengan wanita itu.”

“Tidak lama lagi aku akan sampai ke tempatmu Roger.”

“Baiklah.” Setelah itu Roger mengerang puas di seberang setelah sambungan diputuskan oleh Fernandez.

Milly menggeleng dengan wajah getir pada Fernandez. “Andez… kau…”

Dingin Fernandez balas menatapnya. “Apapun yang kau pikirkan, itu semua benar. Aku memang terlibat selama ini. Karena Axton adalah temanku. Jadi sudah sepantasnya aku membantunya.”

“Kau tidak akan melakukan ini padaku.”

“Kenapa tidak? Dari awal itu yang diinginkan Axton. Kau berada di tempat yang pantas. Tempat yang akan membuat hidupmu hancur.” Mata Fernandez kini menyorot tajam, lalu ia tersenyum manis.

“Dan kau akan dilenyapkan setelahnya. Itu satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk menghentikan penderitaanmu.”

Bertepatan dengan selesainya kalimat terakhir Fernandez itu, detik itu Milly segera bertindak, menubruk Fernandez, berusaha merebut setir mobil itu, membuat mobil tersebut sempat oleng namun Fernandez berhasil mengendalikannya lagi. Mendorong kasar tubuh Milly hingga terbentur keras ke jendela.

Darah itu mengalir di pelipis Milly dan seketika pening sekaligus nyeri itu dirasakannya. Dengan susah payah Milly menatap Fernandez.

“Hentikan mobilnya Andez,” mohonnya lemah.

“Aku… aku bukan Milly.”

Setelahnya Milly terisak dalam tangis, sementara Fernandez napasnya berhembus kacau karena perlawanan yang sempat dilakukan Milly. Tangannya terus menyetir.

“Jadi kau sudah mengingatnya?”

“Selama ini… kau mengetahuinya?”

Fernandez menoleh sekilas pada bola mata Milly yang menyiratkan kepedihan. “Aku sudah lama mengetahuinya sebelum aku membawamu pada Axton.”

“Apa?” Suara Milly bergetar dan ia tampak terpukul.

“Lagi pula gadis bernama Milly itu telah tiada. Kau hanya meminjam identitasnya saja. Karena aku tahu jelas bahwa kau adalah kekasih yang begitu dicintai Axton.”

“Evelyn Blossom,” Fernandez sengaja menyebutkan nama itu dengan nada misterius.

Milly shock berat mendengar kebenaran dari Fernandez. Ia terus menitikkan air mata. Dan Fernandez kembali menguak segala hal yang menyakitkan untuk Milly.

“Kurasa aku tidak perlu bersandiwara di depanmu, Eve. Karena aku sesungguhnya tidak pernah menjadi teman Axton. Aku adalah orang pertama di dunia ini yang menginginkan ia menderita dan hancur. Hal yang sama juga berlaku untukmu. Hanya saja sedikit berbeda.”

“Bahkan aku sudah menantikan hal ini sejak lama. Tapi hari itu, kau selamat. Seorang pelacur rupanya menolongmu dan merawatmu dengan baik. Sayangnya, pelacur itu telah mati.”

Milly terperangah dengan linangan air mata yang terus mengalir.

“Kurasa kau tahu siapa yang membunuhnya bukan?” Fernandez tersenyum miring, tatapannya terus fokus ke depan.

“Axton dari dulu tidak pernah berubah. Ia selalu kurang menggunakan pikirannya dalam bertindak.”

“Dan karena kelemahan bodohnya itu, ia merengut seseorang yang berarti di hidupku.” Mata Fernandez tanpa sadar memanas. Setir dipegangnya kuat dan ia mulai menepikan mobil karena telah sampai di tempat tujuan.

Mesin mobil dimatikannya. Fernandez melirik rumah megah satu-satunya yang tampak di luar jendela. Terdapat beberapa bodyguard, berdiri di depan pagar. Suasana pun tampak sepi bahkan pencahayaan di sekeliling hanya diterangi temaram lampu taman.

“Trevor Miller. Kau tentu tahu siapa ia bukan?”

Dengan deraian air mata, Milly bisa melihat sebersit sorot kehilangan di mata Fernandez yang kini menatapnya.

“Kau…”

“Ya, aku adalah adiknya. Dan kita pernah bertemu sekali di pemakaman. Tapi kau dan Axton sepertinya telah melupakan segalanya hingga tidak lagi mengenaliku. Aku adalah anak laki-laki pemalu yang bersembunyi di balik punggung Ibuku hari itu. Anak laki-laki yang memakai kacamata hitam dan topi hitam kebesaran milik Kakakku.”

“Andez…”

“Kau membuat Kakakku dikenang dalam kematian bodoh. Ibuku begitu terpukul dengan kenyataan yang kau bagikan. Ia merasa gagal mendidik Kakakku. Walau sebulan kemudian, semua tampak baik-baik saja, tapi kami semua merasa kehilangannya. Dan aku satu-satunya orang yang merasa tersiksa karena aku tahu seperti apa kenyataan sesungguhnya.”

“Setahun kemudian, Ibu dan Ayahku memutuskan pindah ke Chicago. Menjual rumah kami dan segala kenangan di dalamnya. Tapi aku tetap bertahan di sini, tinggal bersama Kakek dan Nenekku hingga mereka tutup usia.”

Fernandez lalu membunyikan klakson mobil dan melihat dua bodyguard bertubuh kekar dan penuh tato di leher mulai menghampiri mobilnya.

Dan sebelum bodyguard itu tiba, Fernandez menatap Milly kembali yang kini memegang kepala frustrasi dalam tangis. Darah segar terlihat menetes di sekitar pelipis Milly akibat benturan tadi.

“Kematianmu akan membayar segalanya. Itu sepadan dengan apa yang kau perbuat pada Kakakku. Dan lagi, Axton akan merasakan kehilangan yang besar seperti yang keluargaku rasakan.”

“Kau adalah pion yang paling tepat untukku mengakhiri permainanku, Eve.”

Milly mendongak menatap Fernandez. Ia tidak tahu lagi siapa dirinya sekarang. Tangisnya begitu memilukan. Dan bersamaan dengan itu, pintu mobil Fernandez terbuka.

Milly menoleh dan ia menjerit karena dua bodyguard itu memaksanya keluar. “Lepaskan aku!!”

Sementara Fernandez mengabaikannya. Membuang napas pendek dan bergumam pada Milly tanpa menatap gadis itu. “Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita. Selamat tinggal, Eve.”

“Andez!!” teriak Milly saat pintu Fernandez tertutup.

“Andez!!! Kumohon!” tangis Milly yang mulai diseret pergi secara paksa. Ia melompat berusaha melepaskan cengkraman di kedua tangannya.

Fernandez lantas melajukan mobilnya, meninggalkan.

Sama seperti beberapa bulan lalu, ia berusaha menegaskan pada dirinya bahwa pertemanannya selama ini dengan Evelyn Blossom tidak menyisakan apapun di hatinya. Ia tidak peduli pada gadis yang selama ini telah ia anggap sebagai adik perempuannya itu.

Tidak. Ia sama sekali tidak peduli.

Sambil menyetir, Fernandez melirik spion. Bisa ia lihat Milly menangis histeris dan mulutnya dibekap dengan kain hingga pingsan.

Jangkung Fernandez bergerak akibat ludah yang ditelannya.

Sama seperti beberapa bulan lalu juga, perasaan cemas yang kini ia rasakan akan Evelyn Blossom, hanya pertanda bahwa gadis itu masih hidup.
Dan perasaan cemas seperti ini hanya akan hilang bila gadis itu berhasil dilenyapkannya.

Itu yang diyakini oleh Fernandez.

***

Bersambung