Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 29

Chloe dan Kawan-Kawan

“Lepaskan aku!” berontak Milly, mencoba melepaskan diri dari dua gadis yang tidak ia kenal dan mencengkram kedua pergelangan tangannya, tapi sepertinya juga berada di pesta. Karena mereka menggenakan topeng dengan model dan warna berbeda.

Yang satu berwarna emas, yang satu berwarna kuning. Senada dengan dress mereka yang minim dan terbuka. Anting dan kalung mahal nan berkilau turut menghiasi tubuh mereka, makin memperkuat kesan berkelas.

Dan saat ini ia berada di halaman, cukup jauh dari keramaian.

“Apa kau tidak bisa diam?!” hardik si gadis berdress kuning. Sok memasang wajah galak. Rambutnya berwarna coklat sebahu dan dicurly.

“Lagipula kita tidak sedang ingin menyakitimu!”

Kemudian si gadis berdress emas dengan rambut hitam tergerai sepanjang dada itu memanggil seseorang dengan tenang, “Chloe. Kau bisa keluar sekarang.”

Tidak lama, Chloe muncul dari balik pohon.

“Axton tidak melihat kami,” lapor si gadis berdress emas itu menambahkan.

Si gadis berdress kuning lalu menyambung dengan gerutuan tidak sabaran, “Dan sebaiknya kau segera menyelesaikan ini jika kau tidak ingin ketahuan olehnya.”

Sementara Milly menampilkan raut terkejut. “Kau…”

Gadis itu adalah gadis yang tadi sempat menghinanya.
Bahkan kini Milly bisa mengetahui jelas seperti apa rupa gadis itu. Rambut pirang. Dan make up yang terpoles di wajah itu terkesan berani. Karena wajah gadis itu tidak lagi disembunyikan oleh topeng.

Tidak hanya itu, ternyata Milly baru ingat gadis itu pernah tidak sengaja dilihatnya di kantor Axton. Perjumpaan pertama yang menodai matanya sekaligus membuatnya merasa terjebak di situasi yang salah.

“Kaget melihatku?” Chloe menatap tidak suka pada Milly.
Milly sadar bahwa gadis itu memegang pisau di tangan kanannya. Sontak radar peringatan di kepala Milly pun menyala. Dan begitu gadis itu mendekatinya Milly segera melontarkan pertanyaan was-was. “Ma-mau apa kau?”

“Tentu saja melihat wajahmu.” Chloe mengusap-usap ujung pisau di tangannya, tanpa menatap Milly.

“Karena aku sangat merindukanmu Eve.”

Bola mata Milly berpendar gelisah. Jantungnya berdebar-debar.
Mereka semua salah orang. Itu pikir Milly.

Lantas ia meronta pada cekalan yang dicengkram oleh kedua karib Chloe. “Tidak! Tunggu. Kau salah orang! Aku bukan-”

“Berhenti melawan!” tegur si gadis berdress kuning memotong. Ia pun makin kuat mencengkram pergelangan tangan Milly.

“Jika tidak, pisau itu bisa melukaimu!”

Sorot mata Chloe memercikkan kekesalan pada Milly, ia berkata tegas, “Aku tidak salah orang. Kau jelas-jelas bersama Axton hari ini.”

Chloe lalu mulai mengarahkan pisau itu ke sisi wajah Milly untuk memutuskan tali topeng gadis itu. Karena ia tidak sudi melepasnya dengan tangannya.

Namun naas, sebelum hal itu terjadi Milly yang merasa terancam, dengan cepat menginjak masing-masing kaki karib Chloe. Tindakan spontan yang ia lakukan begitu saja. Hingga cekalan itu terlepas.

“Ouch, shit!”

“Wanita sialan!”

“Kau berani-” jeritan Chloe terputus karena ia didorong kasar oleh Milly, mengakibatkan tubuhnya terjengkal ke halaman. Memekik kesakitan sejenak, Chloe kemudian berteriak emosi.

“Tangkap dia!”

Detik selanjutnya, Chloe dan kedua karibnya mengejar Milly sebisanya dengan raut kesal.

Derap langkah saling beradu di halaman itu. Milly menoleh ke belakang. Bisa ia lihat ekspresi Chloe dan dua karibnya itu memerah emosi layaknya gunung yang akan meletuskan larva panas.

Buru-buru Milly melepas highheels di kakinya agar lebih mudah dalam berlari.
“Kau berhenti di sana!” Chloe setengah menjerit dengan wajah murka.

Namun Milly tidak menggubrisnya dan melanjutkan aksi berlarinya. Topeng silver itu masih setia melindungi sebagian wajahnya.

Tapi tidak disangka-sangka sebuah mobil melaju di tengah jalanan sepi ketika Milly berhenti sejenak untuk mengambil nafas di sana. Suara klakson itu membuat kepala Milly menoleh.

Chloe dan dua karibnya segera merem mendadak beberapa meter dari posisi Milly berdiri.

Jika Chloe tersenyum puas dengan wajah angkuhnya, maka lain halnya dengan dua karibnya yang menampilkan mimik terkejut bercampur panik ketika menyaksikan detik-detik mobil itu akan menabrak Milly.

Melihat cahaya lampu mobil yang dihidupkan pengemudi demi peringatan menyingkir, tidak juga membuat tubuh Milly bergeser. Ia seketika menjadi kaku. Namun bola matanya membesar.

Lalu….

***

Di sisi lain, Axton dan Fernandez berpencar mencari Milly. Mulai dari di dalam ruangan, mengitari seluruh tamu hingga mereka bertemu kembali di halaman. Saling berhadapan.
Fernandez berkacak pinggang sementara Axton menyugar rambutnya frustrasi. Topeng silver telah lepas dari wajahnya dan diremasnya di tangan. Sedangkan topeng hitam Fernandez masih bertahan.

“Aku tidak menemukannya,” beritahu Fernandez pada Axton. Ia berusaha tenang walau hatinya merasa kesal. Karena tekadnya menuntaskan segalanya hari ini tergantung dari seberapa cepat usahanya menemukan Milly.

Sejak Fernandez tahu Axton hampir mendekati kebenaran tentang kekasihnya itu, ia telah bersumpah untuk melenyapkan gadis itu dengan tangannya sendiri.

Itulah sebabnya ia tidak membagi kronologis hilangnya Milly tadi kepada Axton. Apalagi malam ini, Elena kebetulan tidak bisa menemaninya. Jadi Fernandez tidak perlu mencemaskan dampak dari tindakannya.

Dan setelah itu semua berakhir. Ia bisa menghentikan segala sandiwaranya di depan Axton.

“Apa mungkin ia bersembunyi di suatu tempat?” gumam Fernandez celingak-celinguk sekitar.

“Entahlah Andez. Aku juga tidak menemukannya.”

“Lalu kau mau melakukan apa sekarang?” Fernandez menatap Axton yang kini memunggunginya. Ia yakin wajah temannya itu juga tampak kesal. Itu terbukti dari luapan emosi yang disalurkan Axton dengan meninju keras pohon di depan mereka.

“Aku tidak tahu Andez. Aku tidak bisa berpikir.” Tangan Axton masih menancap di batang pohon itu tapi kepalanya tertunduk.

Tidak lama keheningan menyerebak sebelum suara tenang Fernandez memecah, “Jika kau takut melenyapkannya, aku bisa melakukannya untukmu Axton.”

Axton berbalik dan menatap Fernandez. “Aku bisa mengatasinya sendiri Andez.”

Lalu tiba-tiba Fernandez menyerang Axton. Ia mencengkram kerah kemeja Axton.

“Aku meragukan hal itu. Kau tidak akan bisa mengatasinya Axton. Sadarlah Axton, gadis itu bukan Eve!”

Bola mata Axton membesar, agak terkejut melihat kemarahan Fernandez. Setelah itu tubuhnya agak terdorong ke belakang karena Fernandez menghempaskannya.
Fernandez mengusap mulutnya, membuang nafas setelahnya.

“Aku hanya tidak suka kau menyamakan Eve dengan gadis itu,” kilahnya.

“Kau tampak emosional Andez.”

“Aku hanya merasa ada sesuatu yang salah denganmu, Axton. Kau tampak seperti orang yang sedang jatuh cinta pada gadis itu. Tatapanmu menunjukkan demikian.” Kali ini wajah Fernandez telah normal. Ekspresinya terlihat datar namun pandangannya menyorot dingin pada Axton.

“Chloe menceritakan semuanya dengan emosi padaku. Ia lakukan itu secara spontan karena ia pikir aku mengetahui sesuatu tentang gadis yang kau sebut sebagai Eve.”

Axton hanya menyimak ucapan Fernandez.

“Dan jika kau pikir aku mencemaskan Elena karena rencana sialanmu yang melibatku, kau salah. Ini lebih dari itu. Semua tidak sesederhana itu Axton.” Sorot dingin Fernandez berubah dalam sekejap menjadi serius.

“Kau dan Eve adalah sahabatku. Aku hanya tidak ingin jika suatu hari Eve hadir di hidupmu kembali, kalian hanya bertemu untuk saling mengucapkan perpisahan. Dan itu semua hanya karena Milly telah mengubahmu.”

Axton menatap Fernandez dengan sorot tidak terbaca. “Kau tahu jelas itu tidak mungkin Andez.”

Fernandez lalu memutuskan kontak mata mereka. Dan pada saat ia melihat ke arah lain, ia tidak sengaja mendapati sosok Milly di tengah jalan hampir akan tertabrak mobil.

Jaraknya cukup jauh dari mereka.

Dan sepertinya tipis untuk menjangkau gadis itu jika dihitung dari kecepatan laju mobil tersebut. Bahkan di sana gadis itu tampak gemetaran.

Melihat tatapan Fernandez terfokus pada satu titik, membuat Axton segera mengikuti arah pandang Fernandez.

Bersamaan dengan itu Fernandez membalas, “Kalau begitu buktikan padaku Axton.” Ia melirik Axton.

Kedua tangan Axton lantas mengepal kuat. Rahangnya mengatup rapat. Ia sadar makna di balik kalimat Fernandez. Dan ia juga sadar apa yang akan terjadi dengan Milly sebentar lagi.

Hanya satu detik, Axton pun mengumpat, “Sial!”

Pada akhirnya ia membuang topeng silver di tangannya. Memutuskan berlari kencang demi menyelamatkan gadis itu sebisanya.

Melihat itu, Fernandez terkejut. Ia berteriak di belakang, memanggil, “Axton!”

***

Bersambung