Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 28

Kebimbangan Axton

Axton memijat pangkal hidungnya. Ia menggeleng. Sepertinya ia sudah tidak waras. Gelas kosong yang berisi wine langsung ditandaskannya dan diletakkannya ke meja. Topeng silver masih melekat di area matanya.

Pun sama dengan Milly yang duduk di hadapannya. Dan di balik topeng itu, ia terpekur menatap piring berisi steak daging, masih utuh dan belum tersentuh. Sebuah kalimat Axton yang terasa familiar di telinganya tadi, terus bergaung di benaknya. Ia tidak lagi merona, melainkan tengah berpikir keras.

“Kehilanganmu adalah sesuatu hal yang tidak aku inginkan di dunia ini.”

Di tengah keramaian ruangan itu Milly seperti mendengar suara-suara lain tanpa sadar. Muncul begitu saja tanpa dimintanya.

“Tidak apa bagaimana sih? Kakimu jadi berdarah. Aku akan menghajar anak lelaki itu. Ia tidak seharusnya menyerempetmu.”

“Kau mau apa? Berkelahi? Kau berjanji padaku untuk tidak membuat keonaran lagi. Lagipula luka seperti ini tidak akan membahayakanku.”

“Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Itu saja. Karena kehilanganmu adalah sesuatu hal yang tidak aku inginkan di dunia ini.”

Tersentak, Milly mengerjap. Ia menoleh ke sekeliling di mana para tamu semua tampak menikmati hidangan. Entah mengapa suasana hati Milly mendadak menjadi sendu. Suara itu begitu nyata. Tapi ia tidak tahu siapa lelaki yang berbicara seperti itu padanya.

Dan begitu setetes air mata lagi meluruh di pipinya, ia menyekanya. Memandangnya sesaat. Air mata ini terasa berbeda dan dihasilkan dari suasana hatinya yang tidak jelas.

Mengangkat kepala, ia memandang Axton yang rupanya balik mengamatinya.

Nama gadis yang disebutkan Axton bukan kebetulan. Nama gadis itu mirip dengan anak perempuan itu. Anak perempuan yang pernah hadir pada peristiwa samar dalam alam bawah sadarnya tanpa alasan.

Walau Milly tidak yakin akan dugaannya tentang sosok gadis itu. Tapi hal itu berhasil memancing rasa penasarannya.

“Aku benci dengan bola matamu,” gumam Axton pelan.

“Kenapa? Karena bola mataku mengingatkanmu dengan Eve?” ceplos Milly gamang.

Axton menatap Milly dengan pandangan yang sulit diartikan. “Apa sekarang kau bertingkah sebagai istri yang cemburu padaku?”

“Aku tidak sedang cemburu. Aku serius bertanya padamu.”

“Kenapa aku harus memberitahumu?”

“Dan apa aku salah menanyakan hal itu padamu?” sanggah Milly balik.

“Kau benar-benar bertingkah sebagai istri pencemburu,” tanggap Axton singkat.

“Aku sudah bilang aku tidak cemburu.”

“Kalau begitu, kau tidak seharusnya mencari tahu apapun tentangku.” Axton lantas beranjak dan Milly mendongak.

“Selesaikan makanmu dan jangan coba kabur dariku.”

Setelah itu Axton melenggang, meninggalkan Milly yang membeku. Dengan pelan, kepala Milly memutar ke belakang. Mengamati punggung kokoh Axton dari jauh.
Suara tangisan anak laki-laki yang pernah merasuk di pikirannya beberapa waktu lalu masih bisa Milly bayangkan gema suaranya.

Dan di antara bunyi halus dentingan alat makan dan obrolan ringan orang-orang di sekeliling mereka, Milly berbisik, “Apa mungkin kau adalah anak laki-laki menyedihkan itu?”

Kemudian ia menyebut nama anak laki-laki yang pernah muncul di bawah alam sadarnya. Anak laki-laki yang bahkan tidak bisa ia lihat jelas wajahnya. “Aro…”
Tiba-tiba langkah Axton berhenti.

Jantung Milly bertalu-talu saat Axton berbalik dan balas menatapnya.
Lelaki itu mendekat dan menghampirinya kembali.

Tanpa memutuskan kontak mata mereka, Axton meraih ponselnya di meja yang sempat tertinggal. “Kau dilarang kemana-mana,” peringatnya.7

***

“Thomas, aku ingin kau menyelidiki semua hal tentang Milly Kincaid. Termasuk riwayat hidupnya,” pinta Axton di ujung telepon. Ia memerhatikan Milly beberapa meter dari posisi berdirinya.

Mulai dari gadis itu mengambil gelas berisi air putih di meja, meneguk pelan sampai sesekali menoleh ke kanan dan ke kiri di tengah ruangan.

“Jangan ada satu pun yang kau lewatkan Thomas.”

Di seberang Thomas cukup heran akan perintah dadakan Axton itu, tapi ia tetap mematuhinya. “Sesuai keinginan anda, saya akan melaksanakannya Tuan Ax.”

“Kabari aku secepatnya jika kau sudah mendapatkannya Thomas.”

Setelah itu sambungan diputuskan Axton. Ia meyimpan ponsel di saku dan kembali memandang Milly dari jarak jauh. Wajahnya tampak tenang, namun hatinya dilanda sebersit keresahan.

Karena panggilan nama kecilnya sempat didengarnya keluar dari mulut Milly. Panggilan yang selama ini hanya disebutkan oleh dua wanita berarti dalam hidupnya.6
Dan tanpa disadari Axton, Fernandez berada di belakangnya sejak tadi. Mendengar seluruh pembicaraannya.

Lelaki itu menggenakan kemeja hitam dilapisi jas abu-abu. Topeng hitam menyamarkan sebagian wajahnya.

“Sepertinya aku telah melewatkan sesuatu di sini,” celetuk Fernandez yang tiba-tiba muncul di sebelah Axton sambil memegang segelas wine.

Axton lantas menoleh sekilas, “Kau mengagetkanku, sialan,” responnya pendek.

Fernandez menatap ke depan. Pada sebuah meja, di mana Milly tampak kikuk duduk sendirian di sana. Tetap mengontrol diri, sekali pun ia sadar bahwa Axton mulai mencurigai perihal identitas Milly.

“Chloe tampak sangat kesal hari ini. Gadis itu menghadangku seperti banteng ketika datang.” Fernandez tidak berbasa-basi sedikitpun. Langsung mengungkapkan apa yang memang ingin ia katakan.

“Ia mengatakan padaku bahwa kau telah menikah. Dan kau membawa istrimu di hadapannya. Tapi aku satu-satunya orang yang tahu benar siapa gadis yang bersamamu sekarang.”

“Ini tidak akan berlangsung lama.”

“Jadi itu sebuah kebenaran yang harus kupercayai atau sebuah kebohongan baru yang kau karang?”

“Aku hanya ingin gadis pirang itu menjauhi hidupku Andez.”

“Aku mengerti jika itu semacam taktikmu. Tapi aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kau pikirkan.” Fernandez meneguk minumannya sekilas.

“Aku telah membantumu untuk segala rencanamu terhadap gadis itu. Tapi sepertinya kau tampak kacau hari ini.”

Menatap Axton dengan sorot tidak terbaca, Fernandez melanjutkan,”Kau bahkan menganggap gadis itu adalah Eve.”

“Kurasa mungkin ini karena hantaman asbak,” gumam Axton.

“Hantaman asbak?” Fernandez mengernyit dan ia sadar plester di pipi Axton.

“Apa plester itu juga termasuk?”

Axton menatap Fernandez. “Aku tidak ingin membahasnya Andez. Itu sangat mengesalkan.”

Fernandez mengedikkan bahu dengan mimik tanpa ekspresi. “Baiklah. Aku tidak akan membahasnya. Tapi kau perlu ingat satu hal Axton. Milly bukanlah Eve.”

Axton kembali memandang Milly. Dan Fernandez mengikuti arah pandangnya.

Evelyn sekarang terlihat berbeda. Mencolok dan tampak tidak nyaman di antara para tamu yang hadir di pesta ini. Beberapa bulan tidak mengetahui identitas aslinya, rupanya dapat juga mengubah segala hal yang berhubungan dengan kehidupan gadis itu.

Padahal dulu gadis itu sering berada di pesta-pesta yang jauh lebih megah dari ini.

“Jika kau tidak segera menyingkirkan gadis itu, Eve mungkin akan kecewa padamu saat ia tahu kau telah menikahi gadis lain. Kau percaya Eve masih hidup bukan?”

Axton tahu pertanyaan Fernandez itu bersifat retoris dan temannya itu kembali berbicara, “Melihatmu tidak menyerah menyuruh Thomas untuk menemukannya, membuatku juga memercayai hal itu. Eve, ia pasti menunggumu untuk ditemukan.”

“Sama seperti permainan petak umpet yang pernah kita mainkan ketika masih remaja. Kau selalu menemukannya Axton.” Nada bicara Fernandez selalu sama. Datar dan tidak berirama.

“Dan sekalipun saat ini tidak ada jejak apapun yang bisa menuntunmu padanya, tapi aku yakin suatu hari kau akan tetap menemukannya.” Lalu Fernandez menepuk sekilas bahu Axton. Tepukan akrab namun memiliki makna lain yang tidak disadari oleh Axton.

Setelahnya Fernandez langsung menandaskan wine itu sekaligus dan Axton hanya memerhatikannya.

Sejujurnya, Fernandez tidak sedang dalam kondisi ingin menguatkan Axton. Justru sebaliknya, ia sedang terbakar emosi. Karena sepertinya misi balas dendamnya akan kandas jika Axton mengetahui kebenarannya.

Bahwa gadis yang dicarinya selama ini berada di sisinya.
Dan sebelum fakta itu terkuak, Fernandez perlu melakukan sesuatu.

Beberapa menit kemudian, seluruh lampu di ruangan itu tiba-tiba padam. Hingga memicu kehebohan dari para tamu yang hadir. Keresahan terasa pekat menyelimuti di sekeliling.

Namun suara MC di atas panggung, mencoba menenangkan kericuhan suara-suara di ruangan yang saling bergaung. “Tolong semua tenang. Walau ada sedikit masalah di sini tapi semua ini akan segera dibereskan. Tidak perlu panik.”

Dan memang benar. Hanya sebentar saja, lampu kembali menyala. Tapi sukses membuat Axton mengumpat, “Sial,” karena tempat yang diduduki Milly telah kosong.
Entah kemana perginya gadis itu.

Tapi Fernandez sempat melihat sosok Milly lenyap diseret paksa dua gadis keluar ruangan dan ia tidak memberitahu hal itu pada Axton, justru sebaliknya berkata, “Kurasa ia memanfaatkan situasi ini untuk kabur darimu.”

***

bersambung…