Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 27

Evelyn Blossom

Axton menatap spion mobilnya dari kursi kemudi. Ia telah mematikan mesin mobilnya, memarkir di sebuah rumah megah bergaya minimalis. Perban yang melilit pelipisnya telah dibukanya. Jika dari jauh tidak akan ada yang sadar mengenai luka di kepalanya.

Apalagi Axton sengaja menata rambut sedemikian rupa untuk menutupinya. Topeng silver menyamarkan sebagian area matanya.
Tapi untuk luka cakar di pipinya, tidak demikian. Karena itu cukup mencolok, maka plester itu tetap menempel di sana.

Beberapa orang berseliwiran, bersenda gurau sebelum masuk ke pintu rumah itu. Mereka semua memakai pakaian formal serta menggenakan beragam topeng untuk menutupi separuh wajah, menyesuaikan tema pada acara malam ini.

Pesta topeng.

Sebuah acara salah satu rekan bisnis Axton yang merayakan pencapaian perusahaan karena telah berhasil meraih target goals. Bahkan melebihi ekspetasi.
Axton memakai kemeja putih dilapis jas hitam yang tidak terkancing. Ia kemudian keluar dari mobil, mengitari sisi pintunya, dimana Milly berada, lalu membukanya.

“Kau tampak berkelas dan terlihat seperti gadis baik-baik dengan dandanan seperti ini.”

Axton menelusuri penampilan Milly dari atas sampai bawah. Gadis itu menggenakan dress mengembang sebatas lutut, berlengan panjang. Scarf di leher dengan simpul pita menyamping. Semuanya serba berwarna putih. Kecuali, topeng yang menutupi area mata, itu berwarna silver serupa dengan miliknya.

Sederhana tapi tetap elegan.
Polesan make up Milly pun natural. Gloria mendandaninya sesuai permintaan Axton.

Milly yang sejak tadi hanya menatap ke depan, menoleh pada Axton dengan rasa benci membuncah di dada. “Aku memang gadis baik-baik dan kau… kau telah merusakku!”

“Itu sepertinya tidak cocok diucapkan olehmu.”

Milly kemudian ditarik Axton keluar, membuat gadis itu memekik, kehilangan keseimbangan dan berakhir menubruk dada bidang Axton karena rengkuhan erat lelaki itu.

“Terlebih ketika diucapkan oleh gadis yang telah menikah.”

Lalu Axton membopong tubuh Milly tanpa permisi. Lagi-lagi gadis itu terpekik kaget. “Kau-”

“Kau bahkan selalu mendesah dan mencapai orgasme lebih cepat dibanding aku,” potong Axton dengan kalimat telak. Ia memandang Milly dengan seringai. “Sangat keras dan berisik.”

Milly tidak jadi mengeluarkan suara. Tatapannya tampak berapi-api menghunus Axton. Giginya bergemelutuk. Dan wajahnya merona karena ia sadar betul maksud di balik kata-kata Axton.

Lelaki itu sedang mengungkit tentang reaksi alami tubuhnya akibat dimainkan terus-menerus oleh Axton dengan sesuka hati.

Detik berikutnya, Milly membuang pandangan ke arah lain. Tapi kemudian berjengit waktu mendengar tendangan pintu mobil yang ditutup oleh Axton.

“Khusus malam ini, kau akan kuperlakukan seperti ratu.”

***

Ketika tiba di ruangan luas dimana acara meriah sedang berlangsung, Axton mendapati Chloe yang ditahunya diundang juga. Gadis itu sekarang menghampiri mereka dengan gaun biru panjang yang terbuka. Sangat serasi dengan warna kulitnya.

Gaun itu mengekspos belahan dada dan punggungnya. Juga modelnya sengaja dirobekkan untuk menampakkan kaki jenjangnya hingga sebatas paha. Tidak lupa topeng warna senada menyamarkan sebagian wajahnya.

Milly mengerjap-ngejap, agak terpana melihat pemandangan sekelilingnya. Segerombolan orang tampak mengobrol. Beberapa lainnya menenggak minuman. Alunan musik yang cukup romantis bersenandung dan semua sepertinya adalah orang-orang dari kalangan atas.

Itu terlihat dari cara berpakaian mereka, juga benda-benda bermerek yang digunakan. Semua tampak mewah dan bernilai tinggi.

“Lingkarkan satu tanganmu di leherku.”

Kata-kata Axton itu sukses membuyarkan lamunan Milly. Ia menatap tajam Axton. “Aku tidak mau.”

“Jangan membuatku kesal.”

“Kau bilang aku adalah ratu malam ini bukan?”

“Dan ratu seharusnya mendengarkan raja bukan?”

“Kau tidak cocok menjadi raja.”

“Nyawa Bibimu.”

“Kau…” desis Milly tampak terjepit situasi dan terpaksa ia segera menuruti kemauan Axton.

Chloe hampir sampai di hadapan Axton dan ia terbelalak waktu melihat Axton tersenyum saat memandang gadis dalam gendongannya mengalungkan kedua tangannya ke leher. Apa mereka sengaja ingin menunjukkan kemesraan itu?

“Axton…” Chloe tampak menahan kesal begitu tiba di depan Axton. Lelaki itu tadi menunduk, kini mengangkat kepala.

“Hai Chloe,” sapa Axton santai.

Itu makin membuat kepala Chloe seperti mau meledak. Ia ingin mencak-mencak di tempat tapi ia urungkan. Bahkan dibanding bertanya tentang plester di pipi Axton, Chloe lebih memilih menyapa Milly yang tampak terkejut melihatnya.

“Apa kau tidak bisa berdiri sendiri?” sinisnya. Sebuah sapaan yang jauh dari kata hangat.

“Ia memang sedikit manja denganku Chloe.”

Milly melotot mendengar ucapan penuh kebohongan Axton. Sedang Chloe, kekesalannya mulai keluar.

“Jangan membohongiku Axton. Katakan berapa kau membayar wanita ini hah?!”

“Aku tahu ia adalah wanita jalang yang kau sewa bukan?!” jerit Chloe membuat perhatian tertuju ke arah mereka semua. Nafas gadis itu terengah-engah setelahnya akibat emosi.

“Dan kau…” Chloe menunjuk Milly, mukanya merah padam emosi.

“Aku memang mendengar desahan sialanmu. Kau sangat murahan menjual tubuhmu demi mendapatkan uang.”

Kemudian Chloe hendak mencakar dan melepas topeng silver di wajah Milly sambil mengamuk hebat,

“Kemari kau jalang sialan. Aku akan memberi pelajaran untukmu!” Tapi sebelum itu terjadi Axton segera mengintrupsi aksinya dengan kalimat peringatan bernada tajam.

“Jauhkan tanganmu darinya Chloe.”

Chloe lantas menatap Axton. Menurunkan tangannya sebal, ia mendecih kemudian.

Beberapa orang di sekitar mereka menjadi tampak tertarik menonton pertikaian sepasang kekasih di tempat itu. Lewat lirik-lirikan mata berlanjut bisik-bisik entah apa terdengar di dekat mereka.

Sementara Milly matanya mulai berair. Belum cukup perbuatan brengsek Axton, sekarang gadis itu memperlakukannya dengan buruk, mempermalukan dan tega menghancurkan harga dirinya di depan khalayak.

Walau harga dirinya sejujurnya tidak lagi utuh. Tapi tetap saja, rasanya sakit mendengar hinaan itu. Karena faktanya, Axton telah memperlakukannya dirinya demikian walau ia tidak ingin.

“Sekarang kau bertingkah melindungi jalang ini setelah puas memakainya?” ejek Chloe yang mulai tertawa sinis.

“Ia istriku.”

Milly cukup terkejut dengan ungkapan itu. Seakan Axton tengah membelanya. Lantas ia menatap Axton. Tapi lelaki itu masih beradu tatap dengan Chloe.

“Kau pikir aku akan memercayaimu Axton?”

“Kau bisa lihat cincin di jemariku dan jemarinya.”

Setelah itu Chloe benar-benar melakukannya. Ia melarikan pandangannya sesuai kata-kata Axton. Dan wajahnya seakan ditampar telak. Cincin perak berkilau tersemat di jemari gadis itu dan jemari Axton. Sangat serasi dan tampak dibuat khusus.

Menaikkan pandangan pada Axton, mata Chloe memanas namun berpendar kesal. Terlebih mendengar kalimat Axton selanjutnya, “Aku dan ia telah menikah di hadapan Tuhan.”

Axton lalu menurunkan pandangan, sadar sedari tadi Milly mengamatinya dalam diam. Tatapan Axton datar tapi tersimpan banyak makna terpusat pada gadis itu.

“Ia menangis bahagia saat pendeta mensahkan kami. Sangat bahagia. Dan aku menikmati setiap momen bersamanya dengan penuh cinta dan kasih sayang.”

Bohong. Semua itu bohong. Justru sebaliknya, Milly menangis karena tidak bahagia. Lelaki itu cuma membeberkan pengakuan mengharukan palsu di depan khalayak.

Lamat-lamat Axton menyelami bola mata hijau Milly yang tampak memanas. Dalam sekejap Axton menjadi terhanyut dan seketika wajah Milly perlahan berubah dalam pandangannya menjadi Evelyn. Terjadi begitu saja tanpa bisa dikendalikannya.

Hingga mulut Axton bersuara lagi, pelan dan lembut.

“Ia satu-satunya wanita yang berhasil membuat jantungku berdetak hanya untuknya. Ia adalah potongan puzzle yang akan melengkapi sebagian hidupku. Aku menyukai senyum, tawa… dan segala hal yang ada pada dirinya.”

“Ohh…” dengung haru kompak di sekitar, tersentuh dengan kata-kata romantis Axton. Beberapa menggeleng geli namun ada yang menutup mulut ikut merasakan curahan perasaan terdalam yang terselip dalam kalimat Axton.

Milly menggeleng tidak percaya mendengar seluruh pengakuan Axton, tapi lelaki itu terus mengucap dusta yang tidak disadari Milly nyata adalah isi hati Axton.
Nyata untuk kekasih yang sampai detik ini masih dalam pencariannya.

“Awalnya aku tidak tahu perasaan apa yang kurasakan padanya. Tapi seiring waktu aku mulai sadar, bahwa kehadirannya selalu mampu membuatku lebih baik. Bahkan aku tidak pernah bisa membayangkan akan seperti apa hariku jika ia tidak ada bersamaku.”

“Apa?” Chloe bergeming, kedua tangannya mengepal.

Tatapan Axton belum lepas dari Milly yang berada dalam gendongannya dan masih berilusi sebagai Evelyn. Mereka saling beradu pandang di balik topeng.

“Kehilanganmu adalah sesuatu hal yang tidak pernah aku inginkan di dunia ini.”

Milly seketika membatu mendengar kalimat itu. Ia seperti pernah mendengarnya. Tapi entah dimana.

“Hidupku akan terasa kosong tanpamu. Karena…” Axton menggantung kalimatnya. Lalu perlahan ia mendaratkan satu kecupan lembut di kening Milly, penuh perasaan.

Itu membuat Milly kaget dan setetes air mata itu jatuh di pipinya, bersamaan dengan bisikan halus Axton yang meneruskan, “aku telah jatuh cinta padamu.”

Langsung semua orang makin terlarut pada adegan romantis yang secara live sedang terjadi di depan mata mereka. Tepukan tangan dan sorak-sorai tanpa sadar terdengar mengelilingi mereka.

Dan Chloe tampak terpekur menatap Axton. Ia susah payah membuka suara, “Axton. Kau terdengar seperti-”

“Aku sudah menemukannya, Chloe.” Axton belum memutuskan kontak matanya dengan Milly yang lagi-lagi masih dikiranya adalah Evelyn saat mengatakan hal itu. Gadis itu merona dan bola mata hijau itu membulat penuh.

Chloe menatap Axton dengan kesal untuk sedetik. Tapi detik berikutnya ia sukses menelan ludah, mematung di tempat akan fakta yang Axton beberkan.

“Eve. Ia benar-benar berada bersamaku sekarang.”

Dengan sekuat tenaga Chloe memaksa suaranya untuk keluar, terdengar seperti bisikan sambil lalu,

“Evelyn Blossom?”

Tapi Axton sudah berjalan melewati Chloe yang mulutnya terbuka sedikit, tampak masih terkejut. Ia kemudian berbalik, menatap punggung tegap Axton dan sosok gadis yang berada dalam gendongan Axton.

Gadis itu…

Sial. Rupanya ia telah kembali.

***

Bersambung