Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 26

Suami Yang Buruk

Milly berusaha melangkah normal, walau denyut nyeri yang bercampur sensasi nikmat terasa di daerah intimnya. Ia melirik ke belakang. Tidak ada Axton. Tangannya berusaha meraba pada dinding di lorong. Begitu ia menemukan sebuah pintu, segera ia membukanya.

Masuk ke dalam. Pintu itu hendak ditutupnya, tapi Milly berjengit waktu kaki Axton menahannya. Tangan lelaki itu turut berpegang pada sisi pintu.

“Kau melanggar kesepakatan.”

“Persetan denganmu!” umpat Milly yang mulai menggila karena gelombang siksaan Axton lewat alat sialan itu. Ia berusaha keras mendorong pintu itu menutup dengan punggungnya, sementara tangannya bergerak cepat, hendak mengeluarkan vibrator dari area pribadinya.

“Akhh!” Tapi belum sempat ia mencabutnya, getaran itu makin dahsyat. Membuat kepala Milly menengadah dengan nafas putus-putus.

Di luar Axton mendobrak paksa dan berhasil. Milly terjungkal di lantai dan menatap waspada pada Axton yang terlihat geram. Lelaki itu mengunci pintunya.

Mata Milly mengedar ke sekitar. Ia tercengang melihat luasnya ruangan minimalis itu.

Di dekatnya terdapat sofa putih dengan meja kaca kecil. Dua rak buku putih besar berjejer di dinding bercat hitam sebelah kanan. Di sudut ruangan terdapat meja kerja lengkap dengan kursinya. Berkas dan dokumen serta laptop tampak tertata di atas meja itu.

Dan Milly tidak perlu menebak ruangan apa ini. Melihat semua itu sudah menjelaskan bahwa ini adalah ruangan pribadi lelaki itu.

“Kau tahu bukan karena kegagalanmu maka aku tidak bisa menjamin nyawa Bibi kesayanganmu.”

Pandangan Milly segera beralih pada Axton. “Aku sudah turuti apa yang kauinginkan. Aku memainkan peran yang kauminta!”

“Tapi kau hampir membuat Ibuku curiga.”

“Itu semua karena benda sialanmu!”

“Kau sepertinya sangat senang membela diri hm.”

“Aku tidak sedang membela diri. Itu kenyataannya!”

Axton segera menarik tangan Milly, memaksa berdiri dan menjepit tubuh gadis itu di antara rak buku. Tubrukan itu mengakibatkan beberapa buku di rak menjadi berjatuhan di samping mereka karena punggung Milly yang bersandar kasar.

Lalu dalam satu kali sentak, kaki Axton memaksa kaki Milly terbuka, membuat Milly yang tadi meringis menjadi terkesiap. Tangan Axton segera menyelinap ke dalam sana, sementara satu tangannya berpegang pada sisi rak buku.

“Kau tidak seharusnya menyalahkan benda ini. Benda ini justru membantuku. Semacam pencegahan agar kau tidak bermain curang denganku. Dengan begitu, kau tidak akan bisa mengeluarkan kata-kata yang tidak perlu di depan Ibuku.”

Axton sengaja makin menekan vibrator yang bergetar itu pada tubuh Milly, membuat gadis itu tambah sengsara dalam sensasi gairah.

“Ahh!” Kepala Milly tersentak ke belakang.

“Matikan. Matikan alat laknat itu!”

Tapi Axton cuma menatap intens wajah Milly yang merah padam, bahkan bola mata gadis itu mulai hilang fokus.

Tidak tahan lagi, kedua tangan Milly lantas mencengkram tangan sialan Axton yang memainkan vibrator itu di daerah sensitifnya. Ia ingin mengeluarkannya. Tapi Axton justru menyentaknya lebih dalam.

“Ahh…” spontan Milly mendesah lagi.

“Kau tahu, wajah meranamu sekarang, aku suka melihatnya.”

Milly menggeleng, tubuhnya menggeliat. Lagi-lagi kepalanya tersentak ke belakang dampak dari rangsangan dahsyat vibrator itu. Matanya Milly terbuka dan tertutup, seperti akan mencapai puncak hanya dengan bantuan benda itu.

Dan Axton yang menonton mimik merana gadis itu, malah bertanya santai, “Jadi kau lebih suka dipuaskan oleh benda ini atau milikku?”

“Matikan. Aku bilang matikan alat itu!”

Tiba-tiba getaran itu berhenti tepat di saat Milly hampir mencapai pusaran kenikmatan. Axton segera mencabut vibrator itu, melirik benda yang telah berlumuran lendir itu dan terlihat lengket. Dan itu dihasilkan oleh reaksi alamiah tubuh Milly.

Sedang Milly yang merona tampak lega. Meski begitu bola matanya sedetik memercikkan kekecewaan, sebelum sedetik kemudian memanas ketika memandang Axton.

“Aku terima pilihanmu.”

“Apa maksudmu?”

“Buka sweatermu.” Axton meletakkan vibrator kotor itu di atas rak buku yang kosong lalu menatap Milly tapi detik berikutnya tangan gadis itu sudah melayang di pipinya.

Menampar dengan keras hingga kepala Axton tertolak ke samping, membuat rambut Axton menutupi area mata.

“Berhenti mempermainkanku!” amuk Milly dengan nafas terengah-engah. Lalu setetes air mata mengalir di pipinya, dan buru-buru Milly menghapusnya.

Axton hanya diam ketika Milly menyenggolnya, mendorong untuk menyingkir. Berjalan meninggalkannya kemudian. Tapi harus terhenti tiga langkah saat dua kata yang diucapkan Axton terasa mencekam.

“Nyawa Bibimu.”

Milly segera membalikkan badan. Menatap Axton dengan amarah, walau begitu genangan air mata terkumpul di pelupuk matanya. “Aku sudah menyakinkan Ibumu!”

Axton mengusap pipinya balas menatap Milly. “Kau yang buat keputusan itu.”

Wajah Milly perlahan melunak. Tapi kedua tangannya mengepal erat. “Kumohon jangan sakiti Bibiku.”

Axton menghampiri Milly mengikis jarak di antara mereka. Perlahan bibirnya tertarik ke atas.
Gadis itu sungguh bodoh. Ia tidak akan pernah menyakiti wanita tua rentan itu.

Namun dengan sengaja Axton berkedok mengeluarkan ponsel, mendekatkannya ke telinga dengan mata yang beradu tatap dengan Milly. Kemudian pura-pura bicara dengan seseorang, padahal tidak ada panggilan yang tersambung, “Halo, Thomas. Aku punya tugas baru—”

Dan itu berhasil memancing Milly hingga gadis itu mengintrupsi, “Hentikan. Aku akan melakukannya!”

Axton segera menurunkan ponselnya. Mengulum senyum, alisnya terangkat dan ia mulai menunggu.

Dengan gemetar Milly membuka sweaternya sesuai kemauan Axton. Hingga kini tubuh polosnya lagi-lagi terpampang sempurna di depan Axton. Karena tidak ada dalaman apapun yang melindunginya di balik sweater.

Ponsel dengan sigap disimpan Axton ke saku. Sedang Milly tampak tidak nyaman berdiri. Kedua tangannya berusaha melindungi bagian depan dan bawah tubuhnya.
Tapi dalam sekejap ia telah berada dalam dekapan Axton. Sweater yang tadi digenggamnya pun dibuang Axton begitu saja.

“Kau tidak perlu menutupinya. Aku sudah sering melihatnya,” bisik Axton rendah, sebelah tangannya menyentuh pipi gadis itu.

“Dan berhenti bertingkah seolah aku suami yang buruk untukmu.”

“Kau memang suami yang buruk.”

Axton tidak bereaksi selama sesaat. Namun detik berikutnya tubuh Milly segera diputarnya, memunggunginya. Nafas Milly seketika tertahan. Ia memejam dan mengigit bibirnya karena jemari Axton mulai menggesek kewanitaannya dengan sensual.

“Suami yang buruk tidak akan bisa membuat istrinya mencapai orgasme berkali-kali.”

“Kalau begitu kau seharusnya mengijinkanku istirahat sekarang.”

“Dan membiarkanmu lari dari tugas seorang istri?”

“Ugh!”

Kepala Milly tertolak ke belakang karena satu jari Axton mulai masuk ke dalam daerah pribadinya, sementara bibir Axton memberi kecupan singkat di pipi Milly.
Mata Milly berkaca-kaca. Merasa buruk dengan dirinya sendiri. Tapi ia tidak ingin membiarkan Axton lebih jauh membuatnya tampak seperti wanita murahan.

Sudah cukup.

Walau tubuhnya selalu bereaksi pada setiap sentuhan lelaki itu dan sering mengkhianatinya, tidak untuk kali ini. Milly tidak akan membiarkan lelaki itu merasa di atas langit sekarang.

Ia berusaha keras mengatup rapat bibirnya ketika jemari Axton bergerak di bawah sana, bermain dengan menggila. Milly keukeuh untuk tidak mengeluarkan suara menjijikan itu lagi.

Axton yang menyadari itu tersenyum tipis.

“Jangan melawannya. Itu akan menyiksamu sendiri.”

Kemudian lelaki itu menjulurkan lidahnya ke telinga Milly, menggelitik di sana merangsang sebelum mengulumnya, sementara tangan bebasnya turut bekerja meremas payudara Milly secara bergantian, memelintir putingnya.

Lalu pada akhirnya Milly mendesah nikmat. “Ahh…”

Tapi detik berikutnya Milly segera membekap mulutnya. Menoleh sengit dengan muka tersipu pada Axton yang balas menatapnya dengan penuh kemenangan.

“Masih mengatakan bahwa aku suami yang buruk?”

“Kau memang suami yang buruk!”

“Well, katakan itu jika aku tidak berhasil membuatmu memberikanku seorang buah hati.”

“Aku tidak akan mengandung ataupun melahirkan anak itu. Aku akan mengugurkannya!”

Tapi ancaman Milly tidak mempan buat Axton.

Lelaki itu makin mendekap erat tubuh Milly dari belakang, menelusuri rahang gadis itu dengan hidung, menyentak jarinya di dalam kewanitaan Milly, memainkan lebih gila dan membalas rendah,

“Aku pastikan kau akan melahirkannya dalam keadaan sehat,” bersamaan dengan itu desahan serak lolos dari bibir Milly.

Milly merutuki tubuhnya. Karena kenyataannya, lelaki itu berhasil menelanjangi harga dirinya lagi.

***

bersambung…