Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 26 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 25

Sandiwara

“Sejauh ini, kondisi Nyonya Wella memang mulai membaik. Pastikan konsumsi obatnya rutin diberikan,” kata Dokter Matt kepada Axton setelah memeriksa kondisi Wella.

Axton telah selesai membersihkan diri dan sekarang ia duduk di samping ranjang Wella. Rambutnya agak basah. Kaos putih bertuliskan champion dan celana katun berwarna hitam—celana chino menjadi pakaian santai Axton.

Perban putih yang melingkari kepalanya pun telah diganti dengan yang baru. Plester tertempel di pipi kanannya. Tapi Dokter Matt tidak berani menanyakan perihal perban di kepala maupun plester di wajah Axton. Ia cuma menjalankan profesinya sesuai yang diinginkan Axton.

“Kemajuan ini sungguh luarbiasa. Karena terakhir kali, anda memanggil saya, kondisi mental Nyonya Wella sangat buruk dan saya tidak yakin Nyonya Wella bisa pulih dalam rentang waktu yang cepat.”

Axton melirik Wella yang tampak pulas dalam tidurnya sambil mendengar setiap kata-kata Dokter Matt. Sedang Thomas yang berada di dekat Axton turut menyimak.

“Jika terus seperti ini saya yakin Nyonya Wella akan kembali seperti sedia kala. Hanya saja, pastikan Nyonya Wella menjauhi hal-hal yang memicu depresinya. Karena itu menjadi sesuatu yang sensitif baginya.”

“Terimakasih, Dok,” ungkap Axton kepada Dokter Matt yang telah merapikan alat medisnya, menenteng tas siap untuk pamit.

Dokter Matt menggangguk dengan senyum ramah. “Kalau begitu, saya permisi.”

Axton pun berdiri. Mereka saling menjabat. Kemudian Thomas mulai mengantar Dokter Matt itu keluar.

Setelah itu Axton menoleh pada wajah damai Wella, ia terkejut waktu melihat mata Ibunya terbuka, pertanda Wella terbangun.

“Mom…”

“Berhenti memanggil Dokter itu. Mommy tidak sakit Aro. Lagi pula, kau pikir Mommy tidak dengar apa yang kalian bicarakan.”

“Maafkan aku Mom. Aku bisa pastikan Dokter itu tidak akan datang lagi,” balas Axton menenangkan sambil tersenyum lembut, kembali duduk di sisi ranjang.

“Kau serius?”

“Mm-hm.”

Wella kemudian mengernyit melihat plester di pipi Axton dan Axton menyadari arah mata Wella. Maka segera ia membuat alasan, “Pisau cukur tidak sengaja terkena wajahku ketika aku menggunakannya, Mom.”

Detik berikutnya Wella tiba-tiba merengkuh Axton. Sempat Axton terkejut sebelum balas memeluk dan mengusap punggung rapuh Wella.
Ia tidak menyangka bahwa sekarang ia bertambah dewasa dan Wella semakin rentan termakan usia.

Axton juga tidak lupa akan pesan-pesan Dokter Matt. Ia tidak tahu bagaimana reaksi Ibunya jika sampai mengetahuinya. Tentang ia yang menikahi putri wanita jalang itu demi membalaskan hal yang setimpal.

Akan tetapi paling tidak, Axton bisa menepati ucapannya terkait hal yang diinginkan Wella saat di halaman. Seorang cucu.

Lewat rencana itu pula, Axton bisa mendapat dua keuntungan sekaligus. Pertama, ia berhasil meluluhlantakkan secara total kehidupan gadis itu. Kedua, status Milly—untuk sementara—dapat membuat Chloe jera.

Maka satu-satunya hal yang perlu Axton lakukan sekarang hanyalah merahasiakan segala rencananya itu rapat-rapat dari Wella.

“Mom, aku ingin memberitahukanmu kabar bahagia.” Axton mengurai pelukannya.

“Kau punya hadiah untuk Mommy?” senyum Wella.

Axton memasang wajah keraguan sejenak. Meringis pada Wella. “Ini mungkin bisa jadi hadiah untukmu tapi tidak dalam waktu dekat Mom.”

Dan ketika ia berhasil mengabulkan harapan Wella lewat Milly, ia akan mengarang sesuatu hal—seperti meninggal atau apapun—kepada Ibunya terkait perpisahannya dengan gadis itu demi menutupi segalanya.

Axton bisa mengatur sedemikian rupa, menyusunnya dengan rapi, tanpa cela. Namun tetap akan menciptakan bekas kehancuran pada hidup gadis itu.

“Apa itu Aro?”

Axton tersenyum melihat raut penasaran Wella. “Berjanjilah bahwa kau tidak akan memukuliku Mom hanya karena aku terlambat memberitahukan kabar bahagia ini padamu.”

“Kau ingin membuat Mommy mati penasaran?”

Axton tertawa renyah merespon ucapan Wella. Kembali ia merengkuh tubuh Ibunya dengan sayang.

“No, Mom. Aku hanya ingin bilang bahwa aku telah menikahi seseorang,” bisik Axton santai.

Wella terhenyak. Ia menjauhkan tubuh Axton cepat. Mengamati bola mata Axton, barangkali Putranya itu sedang membuat lelucon.

“Dan ia tinggal bersama kita Mom.”

Wella mencari kebohongan di wajah Axton tapi hanya keseriusan yang ia dapati di wajah Axton.

“Ia sedang istirahat karena baru tiba satu jam yang lalu dari Seattle. Di sana ia mengunjungi makam kedua orangtuanya, Mom,” karang Axton.

Padahal sekarang Milly sedang didandani oleh Gloria sesuai arahan Axton. Berpakaian rapi demi melaksanakan skenario singkat yang sudah direncanakan Axton dari awal sebelum Wella bangun.

Ia akan mempertemukan Milly dengan Ibunya. Guna meyakinkan sekaligus memperkecil rasa curiga Wella akan setiap fakta yang ia beberkan.

Mereka akan bersandiwara sebagai sepasang insan yang saling jatuh cinta.

Beruntung, ancaman akan nyawa Rachel Leigh—wanita tua yang disayangi gadis itu meski tidak memiliki hubungan darah—selalu membuat Milly tidak berkutik dan berakhir menurutinya.

“Ia hanya mempunyai diriku di dunia ini, Mom.”

“Kau serius Aro? Tunggu, maksud Mommy, bagaimana bisa? Dan, kapan? Lalu… Chloe…”

Pertanyaan beruntun Wella itu langsung dijawab Axton dengan erangan, “Mom.”

Axton memandang Wella yang tampak bingung. Ia membuang nafas. “Kumohon jangan mengungkit Chloe, Mom. Istriku biasa akan mendiamkanku seharian.”

Wella berkedip beberapa detik.

“Ia sedikit pencemburu. Dan lagi, Chloe dan aku tidak pernah serius untuk terikat pada pernikahan Mom.”

“Apa?”

“Aku tahu ini pasti terasa aneh untukmu Mom. Tapi… aku dan istriku… kami sungguhan saling melengkapi.”

***

Wella menatap gadis di hadapannya. Bola mata hijau itu terlihat sayu dan sembab. Rambut cokelat dicepol asal. Dan beberapa helai anak rambut tampak menjuntai di sekitar wajah. Juga sweater berwarna merah membalut tubuh gadis itu, menutupi hingga leher dan panjangnya di atas lutut.

Dan semua yang dikenakan Milly itu telah diatur oleh pelayan Axton sesuai selera lelaki itu.

Axton duduk di sebelahnya, mengapit mesra pinggang Milly.

“Ia bernama Milly, Mom. Dan kami…” menggantung kalimatnya sejenak, Axton memberikan tatapan hangat pada Milly, “kami akhirnya memutuskan untuk bersama.”

Lelaki itu benar-benar aktor yang handal. Sandiwaranya begitu sempurna.

Milly memberikan lirikan tajam pada Axton karena getaran benda sialan yang dimasukkan lelaki itu di daerah sensitifnya saat di kamar, sebelum membawanya duduk di depan Wella.

Walau tidak melihat langsung, tapi Milly tahu Axton memainkan alat kontrol itu di dalam saku celana. Sengaja menyiksanya.

“Ya..” Spontan Milly membuka suara. Memupuskan gurat ketidakyakinan Wella seketika. “Aku… aku jatuh cinta pada Putramu.” Suara itu begitu halus, nyaris seperti bisikan dan sedikit bergetar.

Axton melemparkan senyum tipis pada Milly dengan tampang tak berdosa yang disambut Milly dengan membuang muka.

Di depan mereka, Wella mengira gelagat Milly itu sedang tersipu hingga ia tidak kuasa menyunggingkan senyum geli.

“Itu bagus. Mengetahui kau mencintai Putraku, aku sangat senang mendengarnya.” Nada bicara Wella terdengar rapuh. Persis dengan gurat wajahnya. Tapi paras wanita tua itu masih tetap cantik.

Kedua tangan Milly saling meremas di atas paha, sesekali ia mengigit bibirnya, tapi ia mencoba untuk memfokuskan pandangan pada Wella. Memaksakan senyum terbit di antara getaran yang makin menggila yang ditimbulkan benda sialan itu, di bawah sana.

“Dan tentang ketiadaan orangtuamu, kau bisa menganggapku sebagai Ibumu, memanggilku Mommy seperti Putraku. Kau tidak lagi sendirian. ”

“Mom.”

Wella menyadari maksud dibalik bisikan pelan Axton. Ia pikir Axton tidak ingin mengungkitnya. Itu terlihat dari cara Putranya menatap Milly. Seperti menyiratkan makna lain. Dan Wella menafsirkan itu sebagai bentuk kekhawatiran Axton. Karena topik ini bisa jadi sensitif bagi gadis itu.

“Maafkan Mommy. Mommy hanya ingin istrimu merasa nyaman dengan Mommy. Karena sekarang ia menjadi bagian keluarga kita.”

Kemudian Wella menatap penuh prihatin sekaligus kepedulian yang begitu kentara pada Milly, sebelum kembali menatap Axton.

“Lagipula Mommy hanya tidak ingin ia memendam kesedihannya. Ia bisa membaginya dengan Mommy jika ia mau.”

Tiba-tiba airmata samar menggenang di pelupuk mata Milly ketika mendengar kata-kata tulus Wella. Ia ingin menguak segala perbuatan tidak bermoral Axton dan segala ancaman lelaki itu.

Tapi tidak bisa.

Desakan getaran di bawah sana, makin liar dan sukses mencuri konsentrasinya. Membuat Milly tidak yakin bisa bertahan lagi.

Sementara Axton tersenyum pada Ibunya. Dalam hati ia meragukan hal itu. Membagi kesedihan bukan hal yang baik untuk pasien yang memiliki riwayat depresi dan sedang berada pada tahap pemulihan.

“Sepertinya Mom menyukaimu.”

Axton mengecup puncak kepala Milly. Ia berbisik sarat intimidasi kemudian di antara rambut gadis itu tanpa diketahui Wella, “Katakan sesuatu yang menenangkannya,” dan menjauhkan kepalanya.

Wella mulai mengernyit, merasa aneh dengan ekspresi Milly.

Tapi Milly menatap Wella dan tersenyum lebar. Senyum yang sejujurnya dipaksakan. “Tidak. Aku… aku tidak apa,” responnya terbata-bata.

“Sungguh?” Keraguan Wella semakin nyata.

Milly menjawab dengan anggukan cepat.

“Jadi kau bisa ceritakan awal pertemuanmu dengan Putraku?” Wella menyipitkan mata, menelusuri ujung kepala hingga kaki Milly yang bergerak tidak nyaman.

“Ini sangat memalukan Mom,” dehem Axton yang sadar aksi pengamatan Wella pada Milly.

Tidak hanya itu, sepertinya Ibunya juga mulai mencurigai dirinya. Karena tatapan Wella seakan sedang menghakiminya sekarang.

Shit.

Axton merasa kesal dengan Milly. Karena gadis itu tidak berhasil mengikuti apa yang telah disuruhnya dari awal untuk tidak menimbulkan tanda tanya pada Ibunya. Maka dalam sekali pencet, ia menaikkan getaran vibrator itu pada tingkat paling maksimal.

Itu jelas sukses meruntuhkan pertahanan Milly, spontan menunduk dan berseru, “Akh!” Ia juga tidak sadar refleks merapat pada Axton hingga kepalanya terkulai di dada lelaki itu, terengah-engah dengan jemari yang mencengkram ujung kaos Axton.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Wella yang seketika cemas dan curiga pada Axton.

Dengan segera, Axton menutupinya. “You’re okay?” Ia mengenggam tangan mungil Milly yang meremas ujung kaosnya, mengusapnya.

“Ar-”

“Mom sepertinya istriku tidak dalam kondisi yang baik untuk saat ini. Jadi kurasa aku perlu mengantarkannya-”

“Tidak.”

Jika Axton menginterupsi kalimat Wella tadi, kini giliran Milly yang menginterupsi kalimatnya dengan cepat.
Gadis itu segera beranjak dan pamit pada Wella.

“Aku… aku hanya perlu ke kamar mandi.”

Mata Milly sempat beradu tatap dengan Axton sedetik. Walau tidak ada sorot ekspresi pada bola mata lelaki itu, tapi Milly sadar akan aura negatif yang tersembunyi di baliknya. Aura yang berbahaya dan membuat Milly perlu waspada setelah ini.

“Mom, kurasa aku perlu mengecek keadaan istriku. Sepertinya ada yang salah dengannya. Dan lagi, ia belum hafal seluk beluk rumah ini.” Axton menatap lurus sosok Milly yang berderap cepat meninggalkannya di sofa ruang keluarga.

Wella yang tadi sempat memerhatikan langkah Milly sadar bahwa arah gadis itu memang bukan menuju pada kamar mandi melainkan dapur di rumah ini, kini menatap Axton.

Tapi Axton sudah berdiri terlihat hendak menyusul Milly.

Wella mendongak. “Aro, kau tidak menyembunyikan sesuatu hal pada Mommy kan?”

Langkah Axton terhenti karena Wella menahan tangannya.

Untuk sedetik Axton diam sebelum membalas tatapan sendu Wella. Ia memberikan senyum tipis. “Tidak Mom.”

“Tapi-”

“Jika ini tentang awal pertemuanku dengan Milly, maka aku akan memberitahumu Mom,” putus Axton langsung, sesekali matanya menatap ke arah hilangnya sosok Milly di ujung ruangan.

“Sederhana saja. Pertemuan pertama kali kami terjadi saat ia meminta pekerjaan denganku. Lalu… semua terjadi begitu saja, Mom. Kami… kami saling jatuh cinta.”

Wella melepaskan tangannya yang menahan Axton.

“Jangan khawatirkan apapun Mom. Kami sudah memutuskan untuk menjadi teman hidup dan menua bersama.” Kemudian Axton mengecup kening Ibunya sekilas dan berbisik,

“Dan kami sedang berusaha menambah anggota baru di rumah ini.”

Wella sempat terkejut dengan ungkapan Axton. Tapi tidak lama. Ia sudah tidak kuasa menyembunyikan rasa bahagianya lalu tertawa kecil.

“Kalau begitu, kau sebaiknya menemani istrimu Aro.”

Detik berikutnya Axton telah melenggang dan Wella hanya mengamati punggung tegak Axton yang perlahan lenyap, menyusul Milly di ujung ruangan.

“Thomas, kau dengar itu?”

Thomas yang baru datang, menginjakkan kaki di rumah ini sambil menenteng sebuah paper bag, mengerutkan kening akan pertanyaan Wella yang terselip nada girang.

“Tidak lama lagi akan ada tangisan bayi di rumah ini.” Wella menatap Thomas dengan kegembiraan yang belum pudar.

“Ya Nyonya Wella?” Thomas tampak agak linglung di dekat ambang pintu rumah.

“Aro sedang berusaha dengan istrinya dan mencari tahunya saat ini Thomas.”

Thomas cukup kaget dengan apa yang dikatakan Wella mencoba menetralkan ekspresinya dan membalas seadanya dengan senyum canggung. “Saya turut senang mendengarnya Nyonya Wella.”

“Dan apa itu Thomas?” tunjuk Wella baru menyadari paperbag yang dibawa Thomas.

“Ini adalah pesanan Tuan Ax untuk istrinya. Sebuah dress baru untuk menghadiri acara pesta Nyonya.”

“Pesta?”

“Ya, pesta kolega Tuan Ax, Nyonya.”

***

Bersambung