Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 25 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 24

Batas Waktu

Axton menarik resletingnya. Perban putih masih menempeli sekitar pelipisnya, tapi rambutnya sudah semerawut. Ia memungut kemejanya di lantai dan melihat Milly dari pantulan di cermin.

Gadis itu terkulai lemas sambil menangis kecil di atas ranjang. Kedua pergelangan tangannya memerah bekas simpulan gesper yang dilepas Axton.

Selimut tergeletak di sampingnya, terlihat berantakan. Pun dengan seprei.

Tidak ada satu pun busana yang melekat di tubuh Milly. Murni polos, terlihat begitu kotor dan lengket. Jejak-jejak basah dan panas akibat cumbuan liar Axton tercetak jelas di beberapa bagian tubuh gadis itu, sementara di sekitar pangkal pahanya dipenuhi cairan milik lelaki itu yang berceceran.

Aroma percintaan terasa pekat menguar di sekitar, membuktikan seberapa dahsyat pergumulan panas yang dilakukan mereka di kamar ini.

“Apa aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa kau memiliki daya tarik sensual dari suaramu?” Milly menutup matanya rapat-rapat, tidak ingin mendengar apapun ucapan lelaki itu yang ia yakini akan melecehkannya.

Axton berbalik dan memakai kemejanya. Mengancing satu persatu sambil menatap Milly yang terisak.

“Kau bisa dengan mudah merangsang pria mana pun hanya dengan merintih.”

“Keparat!”

Axton tidak memedulikan umpatan itu, justru mendekati Milly. Perlahan membungkukkan setengah tubuhnya, meletakkan kedua tangannya di sisi kepala gadis itu.

“Bersihkan dirimu dalam satu jam dari sekarang. Jika aku kembali dan menemukanmu masih dalam keadaan seperti ini….” jeda. Bola mata abu-abu Axton memercikkan kilat nakal ketika bertemu dengan bola mata hijau Milly yang sembab tapi diliputi kilatan kebencian.

“Aku benar-benar akan menyetubuhimu seharian.”

Apa lelaki itu sedang mengancamnya?

Wajah Milly memerah, malu dan marah menjadi satu akan kalimat vulgar Axton. Tapi lelaki itu sudah berdiri tegak. Satu tangannya menyelip di saku.

“Ingat, satu jam dari sekarang,” ulangnya tegas.

Setelah itu terdengar bunyi pintu tertutup, pertanda Axton telah keluar.

Milly yang terisak lantas meraih bantal, melemparkannya ke arah pintu demi pelampiasan emosinya. Tapi karena tenaganya telah terkuras alhasil bantal itu justru tergeletak di lantai dekat kasurnya.

Lalu hening mengisi ruangan itu.

Perlahan Milly beranjak, meraih selimut untuk membungkus tubuh polosnya. Namun tiba-tiba, pintu kamar itu terbuka lagi. Otomatis Milly menoleh dan ia terkesiap melihat Axton.

Lelaki itu mendekatinya, memicu binar kegelisahan di wajah Milly. “Ini belum… satu…”

Kalimat itu terputus, berganti pekikan Milly. Lelaki itu melakukannya dengan cepat. Merengkuh tubuhnya erat sekaligus membuang selimut itu ke sembarang arah, lalu menyelami bola mata Milly.

“Itu hanya batas waktu yang kuberikan. Tapi kau rupanya belum juga membersihkan diri.”

“Apa kau gila? Kau bahkan belum semenit keluar!” protes Milly panik.

“Berhenti membela dirimu.”

“Kau keparat sialan!”

Kata-kata Milly sangat tepat mengumpati Axton karena lelaki itu sekarang malah mengangkat tubuh Milly bak karung beras. Melangkah santai menuju kamar mandi.

Memberontak, Milly memukul punggung Axton dengan tenaga yang tersisa. Kakinya turut menendang, mencoba melakukan perlawanan.

“Tidak. Turunkan aku!”

“Kau bedebah-Awh!” umpatan itu berubah menjadi rintihan kesakitan. Mata Milly memanas karena pelecehan Axton yang menampar keras bokongnya berlanjut meremasnya kuat.

Kemudian disusul kalimat vulgar lelaki itu,

“Bokong sialan, aku akan menghunjammu dengan keras.”

***

Milly menjerit serak di tengah guyuran air shower. Ia tidak bisa lagi merasakan sakit akan luka tembak di pergelangan tangannya. Karena gejolak gairah jauh lebih besar menguasai tubuhnya sekarang.

Axton terus menghantam kuat miliknya dari belakang, membenturkan buah dada Milly dengan keras ke kaca shower.

“Ahh…” lenguh Milly menengadah.

Tangannya refleks menjambak rambut Axton ketika lelaki itu menarik pinggulnya menjauhi kaca shower hanya untuk menghujam lebih keras. Lagi-lagi dari belakang.

“Hentikan… bedebah!” desah Milly keras.

Di antara aksi bercinta itu, pancaran air shower terus mengguyur sekujur tubuh polos mereka. Tapi tidak bisa menutupi sensasi panas yang menjalar ketika kulit mereka saling bergesekan.

Axton tidak mengeluarkan suara. Ia begitu menikmati setiap hentakan liarnya di dalam tubuh gadis itu. Satu tangannya meremas kuat payudara Milly, sedang tangannya yang lain mengusap kewanitaannya.

“Berhenti… berhenti memperlakukanku seperti ini!” tangis Milly tersiksa oleh gempuran Axton yang bertubi-tubi dan terasa meremukkan tubuhnya.

Apalagi tangan lelaki tidak henti-hentinya menggerayangi tubuhnya, membuat Milly merasa sangat hina.

“Kau memang pantas diperlakukan seperti ini. Seperti Ibumu.”

“Sudah kukatakan aku bukan gadis seperti itu!”

Axton tidak membalas, justru menggerung dan membenamkannya kepalanya di lekukan leher Milly, terus fokus memompa dengan brutal dan liar. Membuat Milly agak kesulitan mengikuti ritmenya.

Dua jari Axton kini juga turut bermain di bawah sana, mengusap-usapnya kasar, sengaja menambah gelombang kenikmatan secara beruntun.

Dan lelaki itu berhasil karena Milly nyaris gila sekarang.

“Aku bukan pemuas nafsumu brengsek!” jerit Milly terdengar mengutuki Axton.

Ia ingin menyingkirkan tangan Axton di bawah sana, tapi terlambat. Kepalanya refleks mendongak, melenguh panjang karena berhasil mencapai klimaksnya.

Nafas Milly terengah-engah. Mukanya merah padam. Tubuhnya bergetar di bawah pancuran air shower dan Axton hanya berhenti sesaat. Hidung lelaki itu menyentuh leher Milly, menelusuri, menghirup aroma kulit gadis itu, mencumbunya kemudian hingga menuju telinga.

Walau ia merasakan kaki Milly seperti jeli, bahwa gadis itu mulai kehabisan tenaga, tusukan demi tusukan kembali gencar dilakukan Axton dari belakang.

“Cukup. Hentikan!” jerit Milly lagi menyadari bahwa Axton tidak mengijinkannya istirahat.

“Dibanding berhenti kau terlihat sangat menikmatinya.”

“Ahhh…” desah Milly secara spontan karena Axton kini menangkup payudaranya, melintir putingnya dengan kasar.

“Sekarang terlihat sangat jelas. Desahanmu membuktikannya.”

“Itu karena tangan sialanmu brengsek!”

“Aku anggap itu sebagai pujian.”

Detik berikutnya, Axton membalik tubuh Milly dengan cepat, menghimpitnya ke kaca shower hingga punggung gadis itu terbentur di sana. Kembali Axton memompa maju mundur dengan bernafsu, sesekali mengecup basah pipi Milly.

Guyuran air shower menjadi saksi percintaan panas mereka. Kedua kaki Milly dipaksa Axton melingkar di pinggangnya.

Mata Milly berair dan ia cuma bisa memejam kuat, merasakan ritme cepat Axton yang menggagahi tubuhnya dengan semena-mena. Kerja otaknya mulai tumpul karena hunjaman Axton yang berulang-ulang. Kasar, tapi menimbulkan sensasi terbakar yang mempengaruhi tubuhnya.

“Kumohon… hentikan!”

“Kau ingin aku lebih keras melakukannya?”

“Tidak!”

Tapi sialnya Axton benar-benar melakukannya. Lelaki itu sengaja mengeluarkan lalu memasukkan miliknya hanya untuk menghujam lebih dahsyat. Hingga Milly menengadah, tersentak dan mendesah lantang.

“Ahhh… cukup!”

“Lagi?”

“Tidak. Bajingan!” Milly menumpahkan emosinya dengan mencakar punggung Axton, membuat lelaki itu meringis.

Namun detik selanjutnya desahan lantang Milly lagi-lagi bergema karena Axton mengulanginya lagi dan ini lebih keras dari sebelumnya. Membuat Milly bisa mendengar jelas suara sentakan dan penyatuan tubuh mereka.

Milik Axton begitu dalam menusuknya, membuat bagian intimnya terasa perih. Namun juga nikmat. Gempuran lelaki itu bahkan terasa menuntut dan brutal.
Milly bergerak gelisah di bawah kuasa Axton. Bahkan mulut gadis itu terbuka dan tertutup. Wajahnya memerah dan tampak letih.

“Cukup… Ku-Hmmmph!” Axton langsung membungkam mulut Milly. Bibir Axton terasa dingin di bibir Milly. Menempel kuat, melumat dengan bernafsu tinggi.

Mata Milly yang redup melebar. Ia mencoba meronta tapi Axton dengan sengaja mengigit bibirnya, melukai hingga sedikit berdarah, lalu mencecap rasa asin itu. Memasukkan lidahnya, menginvasi rongga mulut gadis itu.

Air liur sampai menetes di sudut bibir Milly. Gadis itu mengerang waktu ciuman Axton semakin dalam. Kepala lelaki itu sampai bergerak miring, terlihat dikuasai oleh hasrat gairah membara.

Dan sebentar lagi Axton merasa ia akan mencapai gelombang kenikmatan itu. Maka ia segera melepas pagutannya, mengerang nikmat. Cairan itu menyembur ke dalam, meluber hangat dan sebagian tumpah mengotori sekitar pangkal Milly lagi.

Tidak lama Milly juga menggelinjang. Gadis itu lagi-lagi mencapai orgasmenya. Tubuh Milly lunglai dan matanya sayu. Namun nafasnya memburu. Sama dengan Axton.
Tapi Axton tidak berniat melepas penyatuan mereka. Belum. Ia belum selesai. Ia harus terus melakukannya agar gadis itu bisa menghasilkannya-memberikan apa yang ia inginkan.

Rambut Axton basah, berantakan dan luka pelipisnya terlihat jelas karena perban telah dilepaskannya sejak ia menjajakkan kaki di kamar mandi. Manik matanya mengamati bibir Milly yang bengkak, merekah dan menggoda untuk dicicipi.

Axton mengusap sensual bibir Milly dengan jempolnya. Ia hendak menciumnya lagi, tapi Milly segera mencakar pipinya kuat dengan kuku tajamnya, menciptakan goresan luka yang sukses membuat Axton merintih kesakitan.

“Aku… aku membencimu keparat!”

Naas, setelah umpatan itu Axton melanjutkan permainannya. Sontak Milly menjerit. Kepalanya terbentur kaca shower karena hunjaman keras Axton yang sangat dalam. Lelaki itu seperti mencurahkan segala emosinya lewat hentakan demi hentakan itu.

Lingkaran kaki Milly di pinggang Axton pun spontan mengerat.

Axton kemudian mendekatkan wajahnya, menempel keningnya pada kening Milly. Deru nafasnya berhembus kasar dan bola matanya memerhatikan pergerakan mulut Milly yang kini mendesah kencang.

Axton makin terangsang. Dan tanpa diduga Milly, lelaki itu meraih wajahnya dan mencoba mencium lagi dan kali ini berhasil. Lelaki itu mengulum rakus bibirnya, merengut seluruh oksigen yang Milly punya.

Dan karena gairah luar biasa yang diciptakan Axton sistem kerja otak Milly menjadi tidak berfungsi. Hingga kedua tangannya secara spontan melingkar di leher Axton, meremas kuat rambut lelaki itu. Mata Milly tertutup rapat, tapi sudut matanya meneteskan air mata.

Axton tersenyum puas saat sadar Milly pasrah dan membalas ciumannya.

Di antara pagutan itu, pinggul Axton terus memompa membabi buta, menyentak hingga menghasilkan gelenyar panas memabukkan yang merambat di kulit mereka karena terus bersentuhan dengan keras dan kasar.

Sementara air shower terus mengguyur mereka dengan deras.

Dan untuk kesekian kalinya Milly mengalami orgasme yang melelahkan.
Begitu pula dengan Axton, ia terlihat sangat puas ketika berhasil menyemprotkan benihnya ke dalam rahim gadis itu, entah berapa banyak.14

***

bersambung…