Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 23

Umpatan yang Sia-Sia

Axton mengikat kedua tangan Milly sekaligus di tiang ranjang dengan gesper lelaki itu. Masih bertelanjang dada dengan celana panjang, menindih tubuh Milly.

Gadis itu menjerit berusaha melepaskan ikatan itu disertai umpatan.

“Lepaskan aku!”

“Kau brengsek!”

Ia bahkan mulai menangis ketika Axton merobek sekali sentak kaos abu-abu lengan panjang itu. Hingga tubuh polos Milly yang memang tidak terlindung dalaman apapun kini terpampang sempurna.

Axton tidak merasa harus memperlakukan gadis itu dengan lembut. Mengingat sejalang apa Clara di masa lalu.
Ia lalu meraba tulang belikat leher gadis itu, turun pada salah satu payudaranya, perutnya. Dan semakin ke bawah…

Milly segera merapatkan kakinya waktu tangan Axton akan menyentuh area pribadinya.

“Kau terlalu cepat jika ingin mengirimku ke neraka.”

Axton kemudian memaksa membuka lebar kedua kaki gadis itu, menekuknya dan menahan sekuat tenaga. Sesaat lelaki itu mematut inti Milly yang memerah, merekah sebelum ia membenamkan kepalanya ke sana.

“Tidak. Jangan!” jeritan panik Milly berganti dengan desahan spontan, “…Ahh.”

Tubuh Milly pun menggeliat tidak tenang, kedua tangannya tampak ingin meremas sesuatu. Rasa nyeri di kedua lengannya seketika tertutup dengan gelenyar aneh. Kepala Milly menggeleng pelan, gusar. Air matanya mengalir deras di wajahnya, merasa hancur di tiap detik kala mendengar erangannya sendiri.

Itu terkesan menjijikan dan meruntuhkan harga dirinya sebagai wanita seakan-akan ia terlarut oleh kecupan panas Axton di bawah sana, berlanjut belaian lidah yang menari.
Lelaki itu bahkan makin menenggalamkan kepalanya pada area pribadinya, terlihat sangat suka mencecap, menjilat dan bermain-main dengan klitorisnya.

Lagi Milly tersentak dan tidak ada henti-hentinya mendesah, “Ahhh… hen… hentikan…”

Tidak lama kemudian ponsel Axton tiba-tiba berdering. Itu cukup mengusik kegiatan panasnya. Ia mengangkat kepalanya. Lantas merogoh sakunya, nafasnya memburu.

Nama Chloe terpampang di pada layar itu.
Gadis pirang sialan itu…

Mengangkat panggilan itu, Axton meloudspeaker, meletakkannya di sisi paha Milly. Kembali Axton mencumbu inti gadis itu dengan liar, membuka akses paling maksimal pada kaki Milly yang tertekuk secara kasar.

Itu membuat Milly merasa keram sekaligus nikmat. Lidah basah lelaki begitu lihai mengobrak-abrik di sana. Hingga berkali-kali lenguhan indah lolos dari bibir Milly,

“Ahh…”

Dan suara Chloe turut terdengar di sela permainan Axton pada ujung telpon. Nadanya penuh selidik bertanya. “Axton, suara siapa itu?”

Tapi tidak ada jawaban selain desahan keras Milly yang kembali mengisi. “Ahhh…. ti.. tidak…”

“Apa yang sedang kau lakukan Axton?!” suara Chloe terdengar marah karena tidak kunjung mendapat respon Axton.

Tangan Axton yang satu mulai naik, mengusap payudara Milly di antara aksi invasinya pada inti Milly. Meremasnya bahkan mencubit putingnya, berlama-lama bermain di sana.

Membuat kepala Milly tersentak, menengadah. Pandangannya tidak fokus. Ia melenguh, “Ugh…” disertai buliran air mata.

Lelaki itu sungguh brengsek.

Di seberang Chloe mukanya memerah, ia ternganga makin meradang menyadari satu hal. “Kau menyewa wanita jalang Axton?!”

“Hm…” gumam Axton sambil lalu, masih sibuk melumat bagian inti Milly.

“Axton,” teriak Chloe gemas.

Lalu Axton perlahan menegakkan tubuhnya, berhenti sejenak dan meraih ponselnya, mematikan loudspeakser. Tapi satu tangannya masih meremas-remas satu payudara Milly.

“Hentikan… Kau… kau… Ah!”

Axton menarik puting Milly keras, kegiatan mengasyikkan hingga membuat ia tersenyum miring sebelum mendekatkan ponsel di telinganya.

Suara pekikan sontak Chloe terdengar di ujung telepon, “Jawab aku Axton!”

“Sayangnya wanita jalang yang kaumaksud itu adalah istriku Chloe.”

“Apa kau gila Axton?!” protes Chloe setengah menjerit di seberang.

“Kau akan bertemu dengannya di pesta nanti Chloe. Aku akan mengenalkanmu padanya.”

“Jangan main-main denganku Axton! Kau tahu jelas apa yang akan—” Chloe baru saja akan mengeluarkan ancamannya tapi Axton memotong,

“Sebaiknya kau tidak mengangguku sekarang Chloe. Aku sedang sibuk.”

Kali ini Axton berhenti bermain pada payudara Milly. Gadis itu tampak melemas.
Tangan Axton kemudian berpindah mengusap erotis inti Milly sebelum memasukkan jemarinya di sana. Lagi ia menonton raut tersiksa gadis itu kembali. Erangan itu lolos lagi.

“Tidak… Singkir… Ah!”

Axton menambah jemarinya. Peluh sudah membanjiri di sekitar pelipis Milly. Rambut coklat gadis itu menjadi sedikit lepek.

“Jangan menipuku Axton!”

“Aku sudah menikah Chloe.” Axton hanya fokus menaikkan tempo jemarinya semakin liar pada inti Milly.

“Tidak. Kau pikir aku akan percaya padamu?!”

“Jangan lupa dengan kata-katamu Chloe,” ungkit Axton pada Chloe .

Chloe bungkam dan tampak berang di seberang. Ia paham maksud kata-kata Axton. Sebab ia pernah berucap pada lelaki itu akan mundur jika Axton telah menikah dengan seseorang, walau saat itu Chloe sangat yakin bahwa ia yang akan mendampingi Axton di pelaminan.

Sebab Chloe sudah berusaha keras mengawasi dan tidak tanggung-tanggung memberi kecaman pada wanita manapun yang hendak menggoda atau mengagalkan rencananya mendapatkan Axton.

“Kau tidak bisa mencampakkan begitu saja Axton! Hubungan kita, aku sangat tahu jelas bahwa tidak ada wanita manapun yang bersamamu selain aku!” Chloe mencak-mencak di ujung telepon.

“Kau… kau hanya selalu bercinta denganku, Axton!” tandas Chloe dengan tegas.

“Aku hanya memberikanmu kepuasan Chloe.”

Bersamaan dengan kata-kata Axton itu, suara desahan keras Milly lagi-lagi bergema. Pandangan gadis itu kini tampak kehabisan tenaga memandang langit-langit kamar, matanya yang dibanjiri air mata hampir meredup.

Payudara Milly bergerak naik turun akibat deru nafas cepatnya. Itu membuat Axton gemas. Tapi kemudian Axton melirik cairan yang merembes keluar dari inti gadis itu.

Tidak mengijinkan gadis itu istirahat setelah mendapati orgasme lewat lidah dan jarinya, Axton lantas meloudspeaker ponselnya lagi, meletakkan benda pipih itu di dekat paha Milly ulang. Menunduk, membenamkan kepalanya di sana, kembali merangsang dengan menghisap cairan itu, menekan lidahnya lagi pada klitoris Milly.

“Tidak…” desah Milly serak. Bola matanya menjadi terbuka dan tertutup merasakan gelombang pusat gairah yang sedang diciptakan Axton lagi lewat keahlian lidahnya mencumbu.

Lemah kepala Milly menggeleng di antara deraian air matanya.

Sementara Chloe di ujung telepon sekarang tertawa keras. Ia berusaha meredam kekesalannya sejenak. Apalagi setelah beberapa kali mendengar lenguhan panjang wanita sialan yang bersama Axton.

“Aku akui, kau sukses membuatku kesal Axton. Tapi kau tahu jelas bahwa selama Ibumu sakit hanya aku yang biasa menjadi teman bicara Ibumu. Dan satu-satunya wanita yang ditahu Ibumu sedang menjalin hubungan denganmu hanya diriku, Axton.”

“Hanya diriku,” tekan Chloe di ujung telepon dengan senyum penuh kemenangan. Lalu Chloe melanjutkan lagi,

“Jadi sepertinya siapapun wanita jalang yang bersamamu, itu—”

“Aku bisa mengatasi masalah itu Chloe,” sela Axton kemudian, menjilat sisa cairan Milly pada bibirnya.

“Dan sekarang aku sedang berusaha membuat istriku hamil.”

“Berhenti membuat lelucon denganku Axton!” Wajah Chloe diliputi kemarahan kental di seberang.

“Axton—” Panggilan itu segera diputuskan Axton sepihak.

Dengan cepat lelaki itu merangkak naik, meletakkan ponsel di nakas dan gumamam disertai gelengan putus asa Milly menjadi satu-satunya hal yang memuaskan bagi Axton,

“Tidak. Aku tidak sudi memiliki anak denganmu.”

“Kau ternyata masih bisa fokus mendengar percakapanku hm,” kata Axton parau.

Jarak muka mereka telah terkikis. Mata Axton menggelap menelusuri setiap inci wajah memerah Milly yang terbakar gairah. Air mata gadis itu belum reda, tapi tidak sederas awal.

Menunduk, Axton lantas melahap payudara Milly yang sejak tadi memicu nafsunya, menyedotnya keras. Meninggalkan bunyi cecap basah diiringi desahan seksi Milly yang mengalun lagi. Tangan bebas Axton basah oleh cairan Milly mulai meremas sekilas sebelah payudara gadis itu sebelum bersiap melakukan penyatuan.

Ketika merasakan Axton hendak melesakkan miliknya, Milly langsung mengerang gelisah, “Tidak…”

Namun tidak butuh waktu lama, milik Axton berhasil menembus. Kali ini tidak ada pengaman yang menghalangi. Spontan kepala Milly tersentak, menengadah memandang langit-langit kamar. Mulutnya terbuka, mengernyit.

“Sayangnya aku memang membutuhkan rahim sialanmu.” Terpaan nafas hangat Axton terasa nyata di dekat telinga Milly.

Setelah itu Axton mulai menggerakkan pinggulnya, memompa dari pelan yang lambat laun menjadi cepat, hingga ranjang itu berdecit. Satu tangan Axton bertumpu pada kedua pergelangan Milly yang terikat gesper, sementara satunya sibuk meremas kencang payudara Milly.

Milly mengerang. Bara gairah seketika merambat di sekujur tubuhnya. Ia semakin berkeringat. Rasa lengket dan kotor pun terasa pekat. Belum lagi, gesekan kulit mereka yang saling bersentuhan, menambah sensasi liar. Axton terus menusukkan miliknya lebih dalam, merasa sangat bebas, terutama rasa nikmat itu jauh lebih besar dirasakannya sekarang.

“Kau harus memberikanku keturunan.”

“Hentikan. Aku tidak mau!” raung Milly di sisa tenaga kecilnya sambil menitikkan air mata.

“Kau menyuruhku berhenti tapi tubuhmu justru bereaksi sebaliknya.” Axton yang berpeluh lantas menyunggingkan senyum sinis di antara aksinya mengagahi tubuh Milly.

Menyentak kuat hingga beberapa menit kemudian, Milly mulai melenguh panjang karena mencapai puncak gairah. Tubuhnya bergetar di bawah kuasa Axton.

Tidak lama Axton menyusul, mengerang puas akan pelepasannya. Tubuhnya jatuh, menempel pada Milly. Kepalanya terbenam di lekukan leher gadis itu, terengah-engah. Sementara Milly menangis tersedu-sedu waktu merasakan cairan Axton berhasil menyembur di dalam tubuhnya, terasa hangat.

“Kau cukup melahirkannya.”

“Tidak…” racau Milly dalam tangis. Ia tidak ingin mengandung anak lelaki itu.

“Aku tidak sabar menantikan hari itu. Hari kehancuranmu yang ­sesungguhnya Milly Kincaid.”

***

Bersambung