Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 22

Pembohong Kecil

Milly tergagap usai menutup paksa tirai itu, bersembunyi di baliknya. Degup jantungnya berdetak. Rasa kewaspadaan bercampur takut seketika menyeruak, membuat alarm bahaya di benaknya lantas muncul.

Tadi ia sempat terhipnotis menyaksikan interaksi Axton dengan wanita tua itu. Mereka sangat akrab. Bahkan Axton terlihat seperti anak baik-baik. Milly tidak menduga Axton bisa bersikap semanja itu. Benar-benar bertolak belakang dengan sifat jahatnya.

Lelaki kejam itu menjadi asing dalam sekejap.

Di sana pun Axton tampak sangat tulus, penuh perhatian saat menyuapi wanita tua itu, mengecup sayang punggung tangannya. Hingga tanpa sadar, hati Milly menjadi tersentuh, mengakibatkan bibirnya refleks melengkung ke atas, mengukir seulas senyum.

Tapi seketika senyum itu pupus waktu mata abu-abu tajam itu beradu dengan mata hijaunya selama beberapa detik.

Dan sekarang, Milly mengigit kukunya, gelisah. Menjauhi tirai, ia segera membongkar apapun di kamar ini untuk mencari perlindungan. Berlari ke arah lemari, menggeledah. Kosong. Menarik laci di sana. Lagi-lagi kosong.

Kemudian ia berjengit begitu mendengar suara pintu terbuka.

“Kau sudah bangun hm.”

Milly menoleh ke arah Axton. Kepala lelaki itu terbalut perban putih. Segera ia melangkah mundur tampak awas saat Axton merapatkan pintu, mendekatinya dengan aura intimidasi.

Axton tadi baru saja membaringkan Wella di kamar terlebih dahulu sebelum kemari.

“Aku melihatmu sedang mematai-mataiku di balik jendela.”

Milly terbata-bata. “Wanita itu… apa ia adalah Ibumu?” tanyanya memastikan.

“Kenapa? Merasa menyesal atas ucapanmu?”

Begitu Axton sampai di hadapan Milly, gadis itu telah tersudut ke dinding. Satu tangan Axton terhalang di samping kepala Milly.
Sementara Milly menunduk.

“Aku… aku…” Lidahnya terasa keluh.

“Jika kau mau kumaafkan, patuhi semua keinginanku.”

Spontan Milly mendongak dan matanya bertemu dengan mata tajam abu-abu Axton lagi. Bibir lelaki itu mengatup rapat, walau begitu samar sudut bibirnya tertarik.

“Kau sudah cukup pulih bukan?”

“Apa?”

“Karena sekarang aku butuh hiburan.”

“Hi-hiburan?” ulang Milly refleks dan begitu sadar, ia melotot pada Axton. Mendorong kasar tubuh lelaki itu menjauh, Milly setengah memekik, “Aku bukan hiburanmu brengsek!”

Nafas Milly mengebu-gebu akibat emosi. Mukanya memerah begitu melihat Axton melepas kancing kemeja satu per satu, menanggalkan kemudian. Otot-otot di tubuh lelaki itu terbentuk dengan pas, membuat tampilannya sangat maskulin dengan kulit agak gelap yang eksotis.

Ini adalah kali pertama Milly mendapati lelaki itu bertelanjang dada di hadapannya. Sebab Axton tidak pernah melepas pakaian atasnya, bahkan saat lelaki itu bercinta dengan tubuhnya secara paksa.

“Kau ingin aku yang menjemputmu atau kau yang datang menjemputku?”

“Tidak. Menjauh dariku!”

“Fine.”

Axton sontak melangkah mendekat. Milly segera menghindar, berlari ingin mengapai pintu keluar tapi Axton berhasil menangkap tubuhnya dari belakang, mengangkat paksa, membuat Milly memekik. Kemudian membantingnya di ranjang, menindihnya setelahnya.

“Jangan menyentuhku!”

Milly memukul, mencakar Axton sebisanya tapi seketika menjadi tersentak begitu kedua tangan Axton menaut jemarinya, erat. Nafas Milly terdengar kacau, reaksi alami dari pergulatan mereka. Begitu pula Axton.

“Aku tidak butuh persetujuanmu. Lagipula, sekarang aku adalah suamimu.”

Milly meringis akan luka tembak di kedua lengannya. Apalagi tekanan tautan jemari Axton turut memengaruhi.

“Jadi aku berhak melakukan apapun pada tubuh sialanmu,” bisik Axton panas di telinga Milly.

Bulu kuduk Milly meremang. Nafasnya pun seketika tertahan beberapa detik.

Axton lalu mengigit sensual cuping telinganya. Bereaksi, Milly segera memalingkan muka hingga hidung Axton mengenai pipinya. Nafas hangat lelaki menerpa di sana, terasa menggelitik kulit halus Milly.

“Kau seharusnya belajar banyak dari Ibumu dalam hal memuaskan pria.”

“Aku bukan gadis seperti itu!”

Axton terdiam sesaat. Tatapannya sulit diartikan, tertuju pada wajah Milly yang menyamping. Jarak wajah mereka begitu dekat.

“Kau tidak bisa menyalahkanku atas apa yang dilakukan oleh Ibuku pada keluargamu. Aku sungguh tidak mengetahui apapun. Hidupku, aku ingin hidupku kembali.”

Kemudian tanpa sengaja ekor mata Milly bergulir pada sebuah pulpen emas di kantong celana Axton, tampak menyembul.

Jika ia bisa mengambil benda itu, ia akan menusukkannya pada mata bajingan itu. Satu tusukan dan Milly tidak peduli apa yang akan dialami lelaki itu setelahnya.
Ia hanya butuh melakukan perlindungan untuk dirinya dari lelaki bejat semacam Axton.

“Kau sedang memohon?”

“Ya,” lirih Milly kini memandang Axton. Ia berharap lelaki itu melepaskan tautan jemari mereka.

Axton tertawa rendah penuh cemoohan. “Bagaimana dengan sumpahmu yang ingin memusnahkanku?”

“Aku… aku tidak akan melakukannya.”

“Kau pikir aku akan percaya padamu?”

“Aku akan menjauh dari kehidupanmu.” Milly mencoba bernegosiasi pelan.

“Kau bisa menjalani hari bahagiamu bersama Ibumu.”

Axton memicingkan matanya. Ia bungkam dan hanya mendengarkan. Tapi tautannya di jemari Milly mulai merenggang dan Milly menyadari hal itu.

“Lagi pula, wanita tua di taman itu…” Milly meneruskan bujukan halusnya. Perlahan ia memaksa mengukir senyuman.

“Kau beruntung memilikinya. Kau setidaknya masih memiliki satu pelindung di hidupmu. Tapi tidak denganku. Kau telah melenyapkan satu-satunya sosok yang menjadi sandaranku dan aku… aku akan memaafkanmu.”

Kali ini Axton melepas tautannya, membuat Milly merasa lega. Tapi lelaki itu masih tetap mengurungnya di bawah. “Kau mengajakku berdamai?”

Milly mengangguk pelan walau agak kaku. Kedua tangannya perlahan ia turunkan ke sisi tubuh, Axton mengawasi pergerakan Milly.

“Aku serius ingin berdamai denganmu.”

Axton menaikkan pandangan, tidak lagi memerhatikan kedua tangan Milly. Ia pura-pura menimbang sebelum kemudian menyunggingkan senyum kecil pada Milly.

“Kau cukup pintar berakting hm?”

“Apa?”

“Kau pikir aku tidak tahu isi kepalamu?” Axton melirik pada jemari Milly yang berhasil mengapai ujung pulpen yang menyembul pada celananya.

Milly lekas mengambil pulpen itu dan hendak menusukkannya pada mata Axton disertai jeritan emosi, “Pergi kau ke neraka!”

Axton dengan sigap menahan kuat. “Pembohong kecil,” desisnya. Menyentak kemudian. Alhasil pulpen itu tergelincir. Milly shock dan merasa agak gentar. Satu-satunya harapannya kini sirna.

“Tidak…”

Bersambung