Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 21

Ungkapan Janji

“Oh, astaga darimana anjing ini Gloria,” Wella tertawa merasakan jilatan anak anjing pada pipinya. Bulu anak anjing itu terasa lebat, indah dan lembut.

“Guk. Guk.” Anak anjing itu menjulurkan lidah, senang. Ekornya bergoyang ke kiri-ke kanan. Ia tadi melesat, melompat ke atas pangkuan Wella secara tiba-tiba.

“Sepertinya Dalton sangat menyukai Nyonya Wella.”

“Jadi namanya Dalton?” Wella tersenyum melihat anak anjing itu kemudian turun dan berputar-putar di kaki Gloria yang memang berdiri di sebelahnya. Ekor anak anjing itu bergoyang lincah seperti ingin bermain.

“Iya, Nyonya. Tuan Andez meminta tolong pada Tuan Ax untuk merawatnya. Karena Tuan Andez tidak menyukai anak anjing ini.”

“Andez?”

“Benar, Nyonya. Tuan Andez tiba-tiba datang ke rumah Tuan Ax hari itu dan membawa seekor anak anjing dalam box. Saat itu, kondisi anak anjing ini sungguh memrihatinkan. Terlihat tidak terurus. Dan sepertinya, anak anjing ini dibuang Nyonya. Tuan Andez mungkin tidak tega meninggalkannya.”

Gloria ikut memandang Dalton yang sekarang mendadak duduk manis di halaman. Lidahnya keluar lagi. Sesekali anak anjing itu melirik ke satu arah, tapi Wella dan Gloria tidak menyadarinya.

Tentang Axton yang berada beberapa meter di samping mereka dan memberikan isyarat anjing itu dari jauh untuk tenang agar tidak mengonggong manja.

Thomas yang berada di sebelah Axton tersenyum melihat Axton memberikan intruksi lewat tangannya pada Dalton yang mulai menguap sekilas.

“Thomas bisa kau beritahu Peter untuk membuatkanku satu makanan kesukaan Mom,” titah Axton. Kepalanya terlilit perban putih karena ulah Milly. Peter adalah koki yang selalu menyiapkan makanan di rumahnya.

Ia menatap Thomas sebentar sebelum fokus pada Wella yang duduk di kursi taman itu lagi.

Ibunya tampak memerhatikan petugas kebersihan rumah yang tengah memangkas rumput halaman di dekatnya. Sementara Gloria, pelayannya itu setia berdiri menjadi teman bicara Ibunya.

Axton terus menatap Wella dengan senyum bahagia yang terselip kerinduan mendalam dari posisinya berdiri.

“Aku ingin menyuapi Mom…”

Thomas yang berada di sebelah Axton pun lantas mengangguk. Senyum lega juga turut menghiasi wajahnya karena ia tahu Axton begitu menantikan hari ini. Hari dimana Wella berangsur pulih dan sepertinya akan membaik ke depannya.

Sepeninggalan Thomas, Axton melangkah mendekat. Bersamaan dengan derap langkahnya itu, samar suara Wella terdengar bertanya pada Gloria,

“Gloria, kau benar-benar telah memberitahu Aro bahwa aku ingin ia segera pulang?”

“Sudah Nyonya.”

“Kenapa anak itu lama sekali.”

“Tuan Ax mungkin sedang di perjalanan Nyonya.”

“Anak itu… masa-”

Wella sempat menoleh melihat sosok Axton tapi kalimatnya tersendat. Ia terperanjat ketika merasakan dua tangan Axton gesit menutupi penglihatannya secara tiba-tiba. Lalu disusul kepala Axton yang mendekat ke sisi wajahnya, berbisik seram,

“Tebak. Siapa aku?”

Wella sontak tergelak. Ia memukul pelan tangan itu, kode untuk menyingkirkan segera.

“Dasar. Kau pikir Mommy anak kecil apa.” Tapi Axton tidak melepaskan tangannya.

“Ayolah Mom. Tebak siapa aku,” rengek Axton bermanja ria dengan Wella. Kegiatan yang sudah lama tidak ia lakukan sejak Wella bersikap mengabaikannya, menjerit setiap melihatnya. Tapi tidak dengan hari ini.

Ibunya justru mencarinya kembali, suatu keajaiban yang hampir sulit Axton percayai, namun pada akhirnya terjadi. Entah bagaimana, Gloria memberi kabar bahagia itu padanya bahwa Ibunya mulai bersikap normal pagi ini.

Dan kata Gloria juga, Chloe adalah orang terakhir yang berkunjung sebelum kewarasan Ibunya mulai tampak. Menyadari fakta itu, Axton ingin sekali mengingkarinya. Tentang Chloe yang nyatanya terlibat dalam proses pemulihan Ibunya. Bahkan cerita apa saja yang diperbincangkan gadis itu terhadap Ibunya pun, Axton tidak tahu.

“Kau ini masih tidak berubah hm,” gerutu Wella dengan nada canda.

“Mommy sudah melihatmu.”

Axton lantas menurunkan kedua tangannya, tertawa. Ia kemudian setengah berlutut di hadapan Wella. Menggenggam kedua tangan Ibunya.

“Kau merindukanku Mom hm?”

Dalton mendadak mengonggong. “Guk. Guk.”

Axton menoleh dan mengusap kepala anjing itu.

“Bermainlah ke tempat lain Dalton.”

Tapi Dalton justru menerjang Axton hingga anak anjing itu berada dalam gendongan Axton, menjilat sebagian wajah Axton dengan semangat.

“Hmm.” Axton menjauhkan kepalanya dari Dalton karena merasa geli dan dibalas Dalton dengan gonggongan bujukan, “Guk. Guk.”

Lidah anak anjing itu lagi-lagi terjulur dengan mata berbinar. Nafasnya berderu cepat penuh energi.

“Tidak untuk hari ini Dalton. Aku sedang tidak ada waktu untuk bermain denganmu.”

Kemudian anak anjing itu diturunkan Axton dan Dalton pun lantas patuh. Anak anjing itu pergi ke arah lain, tidak lagi mengusik Axton.

Setelah itu Axton berpusat pada Wella lagi.

Dan Wella yang tadinya tersenyum melihat interaksi Axton dengan Dalton lantas memicing menyaksikan perban putih yang melingkar di pelipis Putranya itu.

“Apa yang terjadi denganmu Aro?” Wella mengusap rambut Axton pelan.

Sementara Axton, matanya tertutup rapat. Sudah sangat lama hal ini ia inginkan. Belaian lembut Wella terasa menyejukkan hatinya yang beku.
Ketika mata Axton terbuka dan menemukan wajah sebal Wella, senyum tipis terbit menghiasi wajah Axton. Apalagi kalimat lanjutan Wella, “Kau berkelahi?”

“Aku mengalami insiden kecil ketika bekerja Mom,” dusta Axton.

Wella membuang nafas. “Kau menjadi penggila kerja dan sepertinya melupakan Mommy hm? Bahkan pagi ini Mommy tidak melihatmu dan itu membuat rumah terasa sangat berbeda.”

“Tuan Ax.” Thomas tiba-tiba muncul, membawakan sepiring berisi salmon benedict. Axton lantas mendongak ke arah Thomas.

“Ini makanan kesukaan Nyonya Wella.”

“Terimakasih Thomas.” Axton lalu mengambil piring itu dan Thomas segera pamit, meninggalkan Axton.

Kemudian fokus Axton tertuju pada Wella. Ia pun menjawab pertanyaan Ibunya yang sempat terlontar beberapa detik lalu.

“Aku tidak pernah melupakanmu Mom. Hanya sedikit menjalani rutinitas orang dewasa dan itu sangat melelahkan,” erangnya, membuat Wella lagi-lagi tertawa mendapati mimik kekanak-kanakan Axton.

“Jadi sekarang buka mulutmu Mom. Pesawat mau terbang. Aaaa…”

“Aro!” Wella tidak henti-hentinya tertawa dan memukul gemas pundak Axton tapi setelahnya mulutnya terbuka dan Axton berhasil menyuapkan secuil Salmon Benedict itu.

Wella mengunyahnya sambil tersenyum. Axton tersenyum lebar meletakkan piring itu di halaman, memegang kedua tangan Ibunya, mengecupnya dengan sayang.
Ketika berhasil menelan, Wella berbicara, mengisi keheningan di antara mereka,

“Kau lihat gelang yang ada di pergelangan Mommy. Chloe memberikannya pada Mommy. Sangat indah bukan?”

Axton melepaskan genggaman tangan Wella. Menatap gelang emas itu yang melingkar di pergelangan tangan Wella yang baru ia sadari sekarang.

“Chloe mengatakan juga pada Mommy bahwa selama ini kalian sudah sangat jauh. Om Albert juga sudah mengetahui hubungan kalian.”

Axton mendongak menatap Wella yang berbinar. “Jadi kapan kau akan melamarnya?”

Bagai tersambar petir, tubuh Axton menjadi kaku. Senyum tipis ia paksa terbitkan di bibirnya. “Mom… aku…”

“Aro… Mommy akan bertambah tua dan Mommy hanya ingin melihatmu menghabiskan waktu dengan baik bersama Chloe. Lalu kalian menghasilkan seorang cucu untuk Mommy.” Wella menangkup wajah Axton, melanjutkan dengan senyum sumringah.

“Mommy sangat senang ketika tahu bahwa kau bisa menjalani hidup kembali setelah kepergian Eve sayang.”

Dalam hati Axton mengumpati Chloe.

Gadis itu tidak sepenuhnya ingin menolong kesembuhan Ibunya, melainkan hanya memanfaatkan kondisi Ibunya semata. Menjadikan Ibunya sebagai sarana untuk menjebaknya lewat obrolan sialan yang entah sudah berapa kali dilakukan Chloe kepada Ibunya.

Obrolan yang berisi segala kebohongan.

Karena kenyataannya, hubungan mereka tidak seperti itu. Dan lagi, Axton tidak pernah bercinta dengan gadis itu. Ia hanya melakukan aktifitas foreplay pada tubuh gadis itu.

Sementara Albert, lelaki itu bahkan tidak tahu kelakuan liar putrinya. Dan Axton rasanya ingin mencekik leher gadis pirang itu sekarang.

Menurunkan tangkupan Ibunya, Axton memasang senyum simpul. Dan di detik ia mencoba membuang pandangan ke arah lain sejenak, di detik itu ia mendapati sosok Milly berdiri di jendela salah satu kamar kosong di rumahnya, mengamatinya.

Lekat pandangannya mengunci bola mata hijau itu, sebelum tirai ditutup paksa oleh gadis itu.
Kemudian suara Wella menembus telinganya lagi, terdengar menggantung. “Dan…”

Axton segera mengalihkan pandangan pada Ibunya lagi. Ia mendapati pandangan Wella tertuju pada rumput-rumput yang masih setia dipangkas seorang petugas di dekat mereka. Terlihat hampa.

“Mommy tidak ingin kisahmu berakhir seperti Mommy. Chloe sangat mencintaimu, tanpa… kepalsuan. Kau… tidak akan pernah dikecewakan olehnya… Aro…”

Lalu tanpa sadar buliran air mata mengalir dari mata Wella. Setelahnya Wella menggelengkan kepala pelan dan Axton lekas menangkup wajah Wella. “Mom… lihat aku…”

“Kau tidak boleh seperti Mommy Aro…” racau Wella mulai menangis.

“Mom!” sentak Axton saat Wella menjadi agak tidak terkendali.

Itu terlihat dari Ibunya yang mulai menggeleng kuat, membuat Axton seketika makin kuat menangkup wajah Wella, mengarahkan kepadanya. Binar kebahagiaan Ibunya pun seketika berganti dengan binar ketakutan.

“Aku… aku akan memberikan apa yang kauinginkan Mom…”

“Tidak akan ada kesalahan yang sama lagi.”

Setelah itu Axton membawa Ibunya ke dalam dekapan erat. Berbisik, “Jadi tetaplah bertahan untukku Mom. Jangan kambuh lagi…”

Bisa Axton rasakan tangan Ibunya gemetar balas memeluknya. Lalu lambat laun, nafas teratur Ibunya terdengar dan kedua tangan Ibunya melemas, tubuhnya lunglai.

Axton mengurai pelukan, menatap sejenak Ibunya yang mendadak tertidur.

“Gloria,” panggil Axton pada pelayan itu yang sejak tadi berdiri memerhatikan interaksi Axton dan Wella dengan senyum terkulum, tapi kini berubah menjadi sedikit cemas.

“Ya Tuan Ax?”

“Apa Mom sudah tahu tentang Dad?”

“Nyonya Wella tidak menanyakan tentang Tuan Otis kepada saya Tuan Ax.”

“Jika nanti Mom mencarinya, tolong katakan jika Dad telah tiada. Ia mengidap stroke dan aku sangat sedih kehilangannya di pemakaman.”

“Baik Tuan Ax.”

***

Bersambung