Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 20

Kilasan Mimpi

Axton melihat tubuh gadis itu yang pasrah, tenggelam lebih dalam. Ia berusaha menahan nafas dan berenang lebih cepat. Lalu saat ia hendak menjangkau Milly, tangan Axton segera meraih dada gadis itu hingga agak menekan payudara Milly yang kenyal karena bagian atas tubuh gadis itu tidak terlindung apapun. Membawanya menuju permukaan laut kemudian.

Setelah berhasil, Axton langsung mengambil oksigen sebanyak-banyaknya ketika berada di permukaan laut yang luas. Diliriknya Milly yang lemas dan telah pingsan.

“Aku menyelamatkanmu karena aku belum menginginkan kematianmu jalang,” desis Axton di antara riak-riak lautan yang ombaknya sangat kecil. Nafasnya tampak tersengal-sengal lelah.

Lalu Thomas yang mendapati Axton lantas berseru, “Tuan Ax!” Ia sontak merasa lega. Kapal mereka sedari tadi telah dihentikan untuk sesaat.

Di tengah lautan itu Axton mendongak karena Thomas melemparkan tali untuk mereka. Berenang ke sana sambil menyeret tubuh Milly, Axton meraih tali itu.
Lalu detik berikutnya tubuh Milly telah terbaring di lantai kapal. Diselimuti kemeja Axton.

Sementara Axton bertelanjang dada, menekan dada Milly berulang kali. “Sial,” desisnya, tetesan air dari rambutnya mengenai wajah Milly saat memompa.

“Tuan Ax…” panggil Thomas merasa usaha Axton sepertinya sia-sia. Milly mungkin sudah merenggang nyawa. “Kurasa kita harus memakamkannya segera.”

“Aku tidak tahu bahwa kau telah menikahi gadis ini, Tuan Ax,” gumam Maddie pelan.

Tapi Axton tidak mengindahkannya. Ia berhenti sejenak dengan kedua tangan berada di sisi kepala Milly. Menatap wajah damai gadis itu sedetik sebelum kemudian meraih wajahnya, memberikan nafas buatan.

“Tuan Ax, anda sudah berulang kali melakukan hal ini. Saya rasa gadis ini memang…”

Thomas tidak jadi menyambung kata-katanya lagi karena melihat Milly terbatuk-batuk dengan air yang keluar dari mulut. Matanya membulat kaget menyadari fakta itu. Gadis yang pernah merontokkan rambutnya ternyata masih hidup.

Itu membuat Axton menjauhkan kepalanya. Sementara Milly mengerang lemah. Matanya masih kabur melihat sekitar. Kedua lengannya terasa sakit dan Axton menyadari darah itu terus merembes, menembus kemeja miliknya yang melindungi tubuh gadis itu.

“Thomas, apa kau membawa kotak obat?” Axton mengangkat kepala, nafasnya terdengar kacau menatap Thomas yang dibalas oleh anggukan oleh Thomas.

“Saya selalu menyediakannya Tuan Ax.”

“Ambilkan untukku.”

Thomas menggangguk, lalu menghilang, sesuai dengan keinginan Axton, ia bergegas mencari kotak obat, sementara Axton telah menyangga kepala Milly yang tampak tidak berdaya dengan lengannya, tapi tatapannya menyorot tajam pada Milly.

“Aku hanya tidak ingin kehilangan omset berharga untuk bisnisku,” desis Axton.

“Aku menolongmu untuk kepentinganku. Jadi kau tidak perlu besar kepala.”

“Aku sungguh tidak mengerti denganmu Tuan Ax.” Maddie menggeleng pelan.

“Ada beberapa hal di dunia ini yang tidak harus dimengerti Maddie.” Axton menengadah menatap Maddie. Wanita itu seketika tertawa renyah.

“Oke. Terserah padamu Tuan Ax. Apapun rencanamu terhadap gadis ini, kau tahu,” jeda. Maddie mengedipkan mata dan tersenyum licik.

“Kau selalu bisa mengandalkanku.”

Sementara Milly cuma bisa menampilkan raut pedih ketika mendengar semua itu. Air mata perlahan menetes di sudut matanya. Ia benar-benar lemas. Tidak memiliki tenaga untuk saat ini. Bahkan ia merutuki sosok yang menyelamatkannya.

Jauh lebih baik jika ia menuju kematian daripada harus mengalami siksaan lelaki itu lagi.

Apalagi kepala Milly sekarang terasa sakit. Kilasan ganjal yang tadi sempat merangsek benaknya, terkesan samar. Tapi suasana mengerikan yang diwarnai pertumpahan darah dan tangisan anak laki-laki serta anak perempuan itu… terasa nyata, terus tergiang, seperti… tidak asing baginya.

Suara-suara itu begitu jelas. Masih merasuk dan mengusik pikirannya.
Saking tidak sanggup akan gema suara itu, mata Milly terpejam.

“Jika kau berpikir semudah itu mati dariku, kau salah besar,” gumam Axton dingin waktu Milly menutup mata, seakan bisa menebak isi benak gadis itu yang sempat tercetus di kepala beberapa detik lalu.

“Kau akan tetap hidup selama aku menginginkanmu menderita.”

***

“Eve…” Raymond memeluk Evelyn yang menangis. Ia segera menggendong Putrinya yang terisak dan baru berusia 6 tahun.

“Daddy. Eve… Eve… itu…” Putrinya menunjuk ke arah kondisi mengenaskan dimana Trevor bersimbahkan darah di rumput dan Axton yang terduduk di sana sedang menangis, tampak terpukul.

Wella yang melihat itu segera berlari menuju Axton. Menarik Putranya itu berdiri dan bertanya.

“Apa yang terjadi Aro? Katakan pada Mommy, sayang.” Wella membelai rambut Axton, tapi anak itu hanya terus mengucurkan air mata dan pandangannya terasa hampa.

“Oh, Aro. Ssstt. Mommy ada di sini sayang.” Wella langsung membawa Axton ke dalam dekapannya. Memeluk erat tubuh kecil Putranya itu, sementara Otis yang muncul segera menatap Axton sejenak sebelum terpaku mendapati sosok Trevor yang matanya membelalak tanpa nyawa.

“Demi Tuhan. Trevor!” Otis berlari dan segera ia memangku anak itu di pahanya. Wajahnya anak itu memucat. Detak jantungnya pun telah berhenti.

“Apa yang kalian mainkan Aro? Katakan pada Daddy kenapa semuanya menjadi seperti ini?” desak Otis heboh, kepalanya terangkat menatap Axton, seolah meminta penjelasan, sementara Trevor yang telah kehilangan nyawa itu kini telah dibopongnya.

Scott selaku Ayah Wella tiba-tiba muncul dan bergabung. Ia mendekati Axton, memungut pistol miliknya, menarik sedikit pelatuknya dan mengarahkannya ke udara hingga terdengar suara yang memekakkan.

DOR!!

Sontak Raymond segera menutup kuping Evelyn, sementara Wella juga melakukan hal serupa terhadap Axton. Tubuh Putranya itu tampak gemetar dalam pelukan Wella. Pucat pasi.

“Daddy, apa yang Daddy lakukan?!” jerit Wella.

“Daddy hanya mengetes pistol ini Wella.”

Wella melotot mendengar jawaban santai Ayahnya yang tampak tenang. Tapi Ayahnya itu terpusat pada Otis, menatapnya lekat.

“Kau tidak seharusnya terlalu menekan Aro, Otis,” ucap Scott dengan suara beratnya kepada Otis. Sebelum pandangannya tertuju pada Axton, tersenyum simpul. Tangannya terangkat, mengusap puncak kepala anak itu.

“Aro, tidak masalah. Semua akan baik-baik saja. Kau hanya cukup katakan darimana kau dapat pistol ini pada Granpa?”

Axton menelan ludahnya dan ia melirik Evelyn di ujung sana. Sontak Evelyn menjadi ketakutan dan Scott pun mengikuti arah pandang Axton.

“Otis lebih baik kau segera membawa Trevor ke rumah sakit untuk ditangani lebih lanjut. Dan kau Wella, temani Otis. Bawa Aro bersamamu,” perintah Scott pada Otis maupun Wella.

“Raymond…” Scott mendekati Raymond yang tampak menegang. Sementara Wella telah menggendong Axton dan Otis yang telah membopong Trevor lantas buru-buru meninggalkan Raymond dan Evelyn di tempat kejadian saking paniknya.

“Putrimu sangat cantik. Siapa namanya?” Scott bertanya sambil mengusap puncak kepala Evelyn dan tersenyum ramah. Evelyn spontan mengerjap menatap Scott dengan polos.

“Saya… saya akan lakukan apapun,” kata Raymond seolah paham dari sorot mata Scott yang melembut tapi tersirat makna yang dalam di dalamnya.

“Kau tahu, Raymond. Putrimu harus melindungi cucuku. Ia tidak boleh mengungkap kebenaran itu atau… kau tahu apa yang akan terjadi dengannya,” bisiknya halus di telinga Raymond agar tidak didengar oleh Evelyn, tapi tetap tersirat mengancam.

“Baik. Cucu anda akan baik-baik saja.”

“Kuharap kau bisa diajak bekerja sama Raymond.” Scott menepuk pundak Raymond akrab dengan senyum menggembang. Sekilas ia melirik bola mata polos Evelyn yang berurai air mata. Tangan Scott terjulur hendak mengusap air mata Evelyn tapi Raymond mundur.

“Saya akan ke rumah sakit sekarang untuk mengurus segalanya. Semoga anda selalu sehat, Tuan Scott.” Raymond menunduk sekilas dan berlalu cepat sambil menggendong Evelyn. Dan Evelyn hanya menatap lugu lambaian tangan Scott ke arahnya, dimana wajahnya pria tua itu terlihat rentan.

Mata Milly sontak terbuka lebar. Berpendar cemas. Tenggorokannya bergerak menelan ludah kasar. Entah mimpi apa yang baru saja ia alami. Potongan-potongan peristiwa itu tidak jelas dan buram. Tapi tidak dengan suara-suara itu yang justru terdengar jelas.

Kejadian itu seperti terhubung dengan kilasan ganjal yang sebelum ini pernah menghantui pikirannya saat ia pingsan di dalam laut. Namun tetap saja, keanehan beruntun yang kini terjadi pada dirinya tidak dimengerti oleh Milly.

Hingga beberapa saat, nafas Milly menjadi memburu, sebelum pikirannya akhirnya terhempas ke satu hal. Matanya mengerjap dan pandangannya mulai mengendar ke setiap sudut ruangan.

Ia tadinya berada di kapal, tapi sekarang…

Ia terbaring di sebuah kamar dengan perpaduan nuansa yang tidak asing.

Ia telah kembali di Los Angeles dan berada di rumah Axton lagi.

Suara tawa wanita mendadak terdengar. Itu mencuri perhatian Milly hingga ia melangkah turun. Meringis akan nyeri di kedua lengannya. Walau tidak separah sebelumnya. Karena peluru itu sepertinya tidak lagi tertancap di tubuhnya.

Perban di kedua lengannya terasa nyata dibalik kaos berlengan panjang abu-abu dan terbuat dari wol tipis yang saat ini dikenanya dengan panjangnya hanya sebatas paha.

Kemudian sambil memegang kepalanya yang terasa berat, ia menggeser sedikit tirai di yang tertutup, mengintip di balik jendela.

Tampak di halaman luas itu, seorang wanita tua duduk di kursi taman sedang bersenda gurau bersama seekor anak anjing golden retriever yang menjilati wajahnya dengan lincah ditemani seorang pelayan.

Siapa sebenarnya wanita tua itu?

Untuk beberapa saat Milly cuma memerhatikan segala yang dilihatnya itu di balik jendela dalam keheningan. Axton juga tampak berada di sana dengan posisi tidak jauh dari wanita tua itu. Wajah lelaki itu bahkan tampak bersinar mengamati wanita tua itu.

Tatapan lelaki itu seperti terselip kerinduan yang begitu dalam. Tatapan yang hanya bisa ditunjukkan seorang anak kepada Ibunya.
Mungkinkah… wanita itu memang benar Ibunya?

Menyadari hal itu, Milly seketika meremas tirai. Ia serasa tertampar karena teringat ucapan sembarangannya yang menuduh Axton di helikopter waktu itu.
Menelan salivanya, sekali lagi Milly mengamati dengan jeli wanita tua itu. Namun ia menemukan keganjalan. Wajah mereka… tidak mirip.

***

bersambung