Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 18

Kemenangan Kecil

Alunan musik panas mengalun mengisi ruangan itu, sedangkan Axton tengah duduk di sofa dengan satu tangan yang terentang di sandaran. Mengamati Milly yang berputar ragu-ragu, memegang tiang dansa. Jubah transparannya telah tergeletak di bawah, tidak jauh dari posisi Milly.

Maddie dan anak buahnya sudah berlalu hingga hanya Axton yang berada di tempat ini. Lelaki itu terlihat santai memegang gelas kaca berisi cairan sampanye, menenggaknya sesekali.

Ujung bibir Axton tertarik ke atas. Mulutnya berada di bibir gelas lekas ia jauhkan, tidak jadi meneguk lagi ketika menonton Milly mengalungkan kedua tangannya di tiang dansa dari belakang. Axton melirikkan matanya ke arah layar TV dimana Clara yang notebene adalah Ibu Milly itu memulai gerakan selanjutnya. Gerakan yang cukup menggundang hasrat para penonton.

Clara melepas branya, melempar ke arah penonton dan memamerkan senyum sensual. Sorakan riuh dari para pria mesum turut mengiringi aksinya meraba buah dada sendiri sebelum meluruhkan tubuh, sementara satu tangan memegang tiang dansa di belakang.

Ia kemudian melebarkan paha perlahan, menyorotkan pandangan menggoda sambil mengigit bibirnya yang langsung mendapat sambutan heboh para penonton.

Dan Axton mendapati Milly memejam kuat seperti enggan melakukannya. Kening gadis itu mengerut seolah tengah berpikir berat.

“Kau perlu bantuan?” tawar Axton.

Lantas kedua mata Milly terbuka. Walau tampak memanas, tatapan menusuk itu lebih menguasai, dilayangkan Milly ke arah Axton dan reaksi itu justru membuat Axton menyeringai. Seringai yang terasa memuakkan di mata Milly.

Cekalan Milly di tiang dansa di belakang makin mengerat seperti ingin meremukkan. Ia meluapkan gejolak kebenciannya di sana.

“Atau kau merasa sulit hm?” Axton meletakkan gelasnya ke meja, meraih remote TV lalu mempercepat rekaman di CCTV itu dan berhenti di satu tarian cukup erotis.

“Kalau begitu bagaimana dengan tarian itu? Kau pasti akan lebih mudah menirunya bukan?”

Milly spontan menoleh ke arah layar, memandang miris. Ia terpaksa menari untuk Axton karena lelaki itu lagi-lagi mendesaknya memilih. Dan sekarang lelaki itu makin ingin menyiksa batinnya, memperparahnya dengan tarian yang justru meruntuhkan harga dirinya.

Dan wanita di sana… lagi-lagi adalah Ibunya.

Tidak berbusana di hadapan pria gendut berkumis dan tampak tua yang duduk di kursi panggung. Ibunya mengangkang di atas pangkuannya. Melengkungkan punggung dengan bantuan tangan pria itu yang menumpu di belakang.

Kemudian Ibunya meremas satu payudara sendiri dan tidak sangka pria itu turut membantu meremas sebelah payudara Ibunya dengan tangannya yang bebas. Wajah mesum itu terkekeh, sementara respon Ibunya cuma tertawa di antara sorakan serta siulan hebat penonton.

“Ibumu di sana terlihat sangat ahli dalam melakukannya.”

Segera Milly menatap Axton yang ternyata sedang mengamati lamat-lamat bagian depan tubuhnya sebelum terpusat pada wajahnya.

“Kenapa… kenapa kau melakukan semua ini padaku? Ibuku telah tiada dan kau tidak seharusnya…”

“Kau lupa bahwa kau ingin melenyapkanku?” Axton memotong, tidak terpengaruh pada nada lirih gadis itu sedikit pun. Ia beranjak, menghampiri Milly.

Spontan Milly mendongak karena Axton mencengkram rahangnya, menatap dingin, memicu aura mencekam.

“Aku sangat menantikan sumpahmu. Tapi sebelum semua itu terjadi, aku akan lebih dulu membuat hidupmu menjadi sesuatu hal yang akan kau benci.”

Kepala Milly kemudian tersentak ke samping begitu Axton melepaskan cengkaramnya. Tulang pipi Milly terasa kebas. Ia lalu memalingkan wajah ke arah Axton yang sekarang malah duduk di meja, menepuk paha.

“Kemarilah.”

Kedua tangan Milly terkepal erat. Sudut matanya melirik getir tayangan tidak senonoh di layar. Ia tidak pernah menyangka bahwa selama ini Ibunya bekerja di tempat Axton. Dan lebih parahnya, mengapa Tuhan seolah memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk menjahatinya?

Hati Milly terasa berlubang. Sangat besar. Rasa kecewa dan sedih saling berpadu karena ia tidak pernah mengira bahwa… pekerjaan Ibunya seburuk itu.

“Kau tuli?”

Milly bergeming sesaat. Ia lalu menyeka kasar sebulir air mata yang mengalir di wajahnya. Lalu ragu-ragu ia berjalan pada Axton, sementara lelaki itu menatapnya kelam. Sangat kelam. Tapi terasa begitu intens seperti terselip sejuta makna tidak kentara di dalamnya.

Saat kaki telanjang Milly bersentuhan dengan sepatu pantofel Axton, langsung Axton merengkuh pinggangnya membuat Milly tersentak ke depan. Bersamaan itu pula, tangan Axton yang lain bergerak cepat mengangkat tubuh mungil itu hingga mengangkang.

Spontan Milly memekik kecil, meremas kemeja Axton secara refleks diikuti deru nafas yang berubah cepat akibat terkejut.

Tapi Axton tidak menggubris cengkraman Milly pada kemejanya. Tangannya segera melepas simpul tali bra Milly hingga buah dada gadis itu terpampang sepenuhnya. Meraba punggungnya dengan gerakan sensual.

Milly seketika merasa seperti tersengat. Bulu kuduknya meremang. Namun ia langsung membuang muka ke arah lain dengan wajah memerah. Perasaan malu dan hina itu kembali menyeruak, berbaur menjadi satu.

Beruntung matanya tidak sengaja melihat asbak kaca yang terletak di meja, berada dekat jangkauannya. Sontak secercah harapan itu hadir. Ia akan membalas lelaki itu.
Pada detik tekad itu akan terlaksana, di detik itu Axton justru menarik rambutnya. Sontak mulut Milly refleks mengerang pelan, “Akh!”

“Mulailah menari jalang,” gumamnya.

Mata Milly berkaca-kaca menahan sakitnya jambakan Axton. Tangannya yang tadi terlepas dari kemeja Axton dan hendak menggapai asbak itu menjadi menjauh. Punggungnya agak melengkung ke belakang. Lalu lidah Axton mulai menjilati payudaranya.

Milly spontan mengigit bibirnya menahan desahan. Untuk beberapa saat ia kehilangan fokus. Namun pada detik selanjutnya, tangannya telah terayun, menampar keras Axton. Cekalan lelaki itu yang menyiksa rambutnya sontak terlepas.

“Kau bajingan, kau pantas mendapatkannya!” amuk Milly berani, deru nafasnya menjadi cepat sarat emosi setelahnya.

Axton mengusap pipinya. Kemudian menatap Milly dengan senyuman yang perlahan mengukir di sudut bibirnya. Senyuman yang terasa berbahaya.

“Kau sangat mengesalkan,” desis Axton.

Milly terkekeh sinis, membuat Axton mengulum senyum dengan sorot mata berkilat. Tapi Milly tidak merasa gentar sedikit pun karena asbak kaca itu kini berhasil dipegangnya.

“Tersenyumlah sepuasmu karena kau sebentar lagi akan menuju mautmu bajingan!”

Sebelum Axton dapat mencerna kata-kata Milly dengan baik, asbak telah dibenturkan Milly pada kepalanya. Alhasil lelaki itu mengerang kesakitan, “Argghh!”

Bahkan tubuh Axton mendadak roboh ke lantai. Kepingan pecahan asbak berserakan di sekitarnya, menunjukkan tingkat kekuatan asbak itu membentur kepalanya.

Buru-buru Milly menjauh. Ia segera membalikkan badan, mengabaikan ringisan dan rintihan keras Axton. Berlari kecil, Milly cepat-cepat memungut jubah transparannya, mengumpalnya kemudian guna menutup bagian atas tubuhnya.

Setelah itu, ia bergegas keluar dari ruangan sialan di kapal ini.

Axton yang melihat itu lewat ekor matanya, perlahan bangkit. Menekan darah yang merembes di pelipisnya. Pening terasa merambat kepalanya. Ditatapnya sesaat lumuran darah di tangannya.

Ia mendesis kesal. “Gadis sialan.”

Lalu dengan sempoyongan, ia lekas menyusul. Tapi kakinya terhenti sedetik waktu memandang almari kaca panjangan yang berisi beragam pistol. Lantas Axton mengambil salah satunya, mengecek jumlah peluru sejenak sebelum melanjutkan derap kakinya.

Bersambung