Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 16

Sumpah Pernikahan

Berkali-kali Marcus membuang nafas. Ia menutup matanya sejenak. Ketika terbuka ia menatap Axton yang ternyata sedang menatapnya.

Dan bunyi pelatuk selalu bersiap ditarik Thomas untuk menembak isi kepala Marcus tanpa tedeng aling-aling. Tidak merasa ragu barang secuil pun, membuat Marcus menyerah.

“Baiklah.”

Detik berikutnya Marcus mulai mengutarakan hal yang biasa ia lakukan untuk memastikan keyakinan sepasang suami istri kala mengikat sebuah janji di pernikahan. Pria tua itu menatap Axton yang terarah lurus memandang Milly karena gadis itu menunduk, terus meneteskan air mata.

“Axton Bardrolf, bersediakah kau menerima wanita ini sebagai istrimu? Menjaganya dalam keadaan sakit maupun sehat, serta dalam keadaan susah maupun senang sampai mau memisahkan?”

Pertanyaan Marcus itu dijawab Axton dengan santai tanpa beban. Tatapannya terus mengunci bola mata Milly. “Ya. Aku menerima jalang ini.”

Milly memandang tak percaya kepada Axton. Cairan bening terus membasahi pipinya. Hatinya terasa sesak dan perih mendengar panggilan hina yang entah berapa kali diucapkan Axton padanya.

Namun ini terasa jauh lebih buruk, menghancurkannya sampai ke dasar karena Axton mencemoohnya di depan altar, di hadapan salib besar, juga di hadapan Tuhan. Seakan-akan harga dirinya begitu rendah, tidak ada nilainya.

Seketika harapan Milly tentang pernikahan indah yang bahagia juga penuh cinta dan selalu diimpikannya menjadi hancur, pecah berkeping-keping bersamaan dengan suara Marcus yang berkumandang, bertanya terkait hal serupa padanya.

“Milly Kincaid, bersediakah kau menerima pria ini sebagai suamimu? Menjaganya dalam keadaan sakit maupun sehat, serta dalam keadaan susah maupun senang sampai mau memisahkan?”

Milly perlahan menoleh. Bibirnya bergetar dan hendak menyuarakan penolakan, Axton segera menyela dengan cepat tanpa melepaskan pandangannya dari gadis itu,

“Tidak perlu menunggu jawabannya Pak Tua. Ia sudah menerima lamaranku tadi. Kau bisa melewati bagian ini.”

Milly menggeleng penuh permohonan pada Marcus, dan dibalas Marcus dengan sorot pedih seakan meminta maaf. Ia juga terdesak dan nyawanya hampir berada di ambang maut jika tidak menurut.

Kemudian membuang nafas pendek, ia melanjutkan, “Jika itu yang kau inginkan Nak, aku akan pindah ke tahap selanjutnya.”

“Kalian dipersilahkan untuk saling menukar cincin.” Marcus mengikuti kemauan Axton. Pria tua itu berdiri di antara Axton dan Milly dengan Thomas yang berkali-kali menekan pistol di pelipisnya.

“Robert…” panggil Axton.

Robert yang paham lekas membuka borgol di tangan Milly. Rasa nyeri dan kebas langsung dirasakan kedua pergelangan tangan Milly.

Sementara Axton mulai merogoh sekotak beludru di kantongnya. Membukanya, mengambil cincin berkilau itu lalu menarik tangan Milly, namun gadis itu enggan. “Tidak…”

Lantas Axton menyentaknya dan memaksa menyematkan cincin itu di jari manis Milly. Setelah itu, ia mendongak, menatap gadis itu tepat di mata. “Sekarang giliranmu.”

“Pasangkan cincin ini di jariku atau Bibi yang sangat kau sayangi akan bernasib sama seperti Ibumu.”

Milly menatap Axton nanar. Air mata tidak henti-hentinya menodai wajahnya. Ia tidak menyangka ada manusia picik seperti Axton di dunia ini. Mengancam, mendesak orang pada sebuah pilihan demi kepentingannya.

Sinar kebencian kuat terpancar jelas di mata Milly, menembus netra Axton.

“Kau pria kejam…” desisnya mengumpat lemah.

Lalu detik berikutnya, Milly sudah menuruti Axton. Gadis itu pada akhirnya mendorong cincin, membuat benda kecil itu melingkar di jemari Axton.

Setelah itu Milly memejamkan matanya penuh penyesalan serta kesedihan. Cairan bening itu tiada hentinya mengalir di wajahnya saat sadar bahwa dirinya telah menyelesaikan acara tukar cincin pada pernikahan paksa yang dilakukan lelaki itu kepada dirinya.

Bukan karena merasa bahagia, melainkan sebaliknya. Ia merasa hancur.
Pistol seketika diturunkan Thomas dari Marcus, membuat lelaki itu lantas bernafas lega, walau di satu sisi ia merasa bersalah pada Milly.

Apalagi sekarang bahu gadis itu berguncang hebat akibat menangis di hari pernikahan yang sejujurnya menurut Marcus jauh dari kata resmi. Tapi mereka sedang berdiri di tempat sakral. Dan ini merupakan kefatalan bagi Marcus.

“Lanjutkan Pak Tua,” titah Axton lagi menghempaskan Marcus ke realita.

Setelah itu Marcus berkata bahwa mereka boleh saling mencium satu sama lain. Di detik itu juga Axton langsung meraih tengkuk Mily dan mencium gadis itu.
Milly yang tadi menangis, terkesiap. Bola matanya sontak membulat penuh. Ia meronta, berusaha melepaskan diri tapi lengan besar Axton segera melingkar di pinggang makin merapatkan tubuh mereka.

Ciuman itu terasa liar, panas dan bernafsu. Sangat tidak pantas dilakukan di hadapan altar suci bagi Milly. Axton seperti menyelipkan beragam emosi negatif di dalamnya.
Dan di antara ciumana buas itu, Marcus memalingkan wajah, menatap Thomas.

“Kau sudah puas Thomas?” gumam Marcus pahit.

Thomas hanya diam dengan wajah tenang, walau dalam hati ia mengalami pergumulan keras. Tapi sekali lagi, tidak ada yang bisa dilakukan Thomas.

“Kau tahu bahwa aku selalu menjadi pengecut dan kau kembali membuatku mengulangi kesalahan yang sama pada Tuan yang berbeda.”

***

Milly terduduk di lantai dan menangis. Pakaiannya belum berganti. Jas hitam lelaki itu masih melekat di tubuhnya. Dan sekarang ia berada di rumah Axton di Seattle. Entah berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh lelaki itu sebenarnya hingga memiliki rumah dimana-mana, Milly tidak peduli.

Ia hanya ingin terbebas dari Axton.

Bahkan tadi ia sempat menampar Axton, membalas perbuatan lelaki itu yang sudah sangat keterlaluan memperlakukan dirinya, namun tetap itu tidak sebanding dengan semua perbuatan biadab lelaki itu selama ini. Dan mengikatnya dalam janji suci pernikahan secara paksa adalah yang terburuk dari segalanya.

Apa sebenarnya yang direncanakan lelaki itu?

Saat mata Milly berserobok dengan cincin pernikahannya di jari manis. Ia segera melepasnya kasar, membuangnya ke sembarang arah. Perlahan cincin itu pun menggelinding hingga menyentuh sudut almari yang posisinya tidak jauh dari jangkauannya.

Kilauan cincin itu sama sekali tidak membuat ia merasa senang, Milly justru menangis sesegukan. Ia ingin menolak kenyataan yang telah terjadi.
Ia tidak pernah ingin menjadi istri dari Axton Bardrolf, lelaki bejat yang telah merenggut nyawa Ibunya juga menodainya dengan sangat buruk.

***

bersambung