Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 15

Penghinaan

Ketika tiba di Seattle, Thomas yang berdiri tidak jauh dari helikopter untuk menyambut Axton tampak shock mendapati kondisi Milly yang sepertinya tidak lagi mengenakan gaun pengantin. Bahkan veil yang terkait di antara rambutnya telah lepas, entah dimana.

Gadis itu terduduk lunglai di dalam helikopter, menangis pilu. Jas hitam Axton menjadi selimut bagi tubuh mungilnya.

Peluh membanjiri di sekitar wajahnya. Rambutnya pun tampak berantakan.

Penampilan kacau itu membuat Thomas tidak perlu berpikir panjang tentang apa yang telah terjadi. Tanpa sadar, ia menelan ludah kasar. Lagi-lagi ia dihinggapi perasaan aneh, semacam sedikit mengiba.

“Apa Robert sudah menangani semuanya dengan baik Thomas?” Pertanyaan Axton menyadarkan Thomas dari lamunannya.

Axton telah turun dari helikopter dan posisinya menghadap Thomas. Nada bicaranya juga terdengar santai. Kedua tangannya berada di saku.

“Semua sudah seperti yang anda inginkan Tuan Ax. Robert telah melakukan tugasnya,” beritahu Thomas dan Axton melirik sekilas ke arah Milly yang terisak.

“Kalau begitu tugasmu sekarang menunggu diriku di gereja Thomas.”

Menyadari bahwa Thomas hanya mematung di tempat dengan pandangan tertuju pada Milly, Axton lantas membuyarkannya dengan suara tegas.”Thomas.”

“Ya Tuan Ax?” jawab Thomas agak kikuk.

Axton menggerakkan kepalanya isyarat agar Thomas menyingkir.

“Aku akan menyusulmu setelah aku mengatasi sedikit masalah di sini.”

Tersenyum singkat dan agak kaku Thomas pun menunduk pada Axton. Lagi ekor matanya melirik ke arah Milly yang tatapannya meredup dan tengah terisak. Sebelum ia melenggang sesuai dengan perintah Axton.

Ketika hanya tersisa ia dan Milly, Axton mendekati gadis itu. Angin malam meniup, menerbangkan samar beberapa rambut Axton. Dan selama sesaat ia beradu pandang dengan Milly yang menyorot dengki padanya.

“Bajingan,” umpat Milly lemah di saat Axton tengah menyingkirkan jas hitam itu dari tubuh Milly, lalu melepas sabuk pengaman helikopter.

Ia menatap Milly tanpa ekspresi, tapi sudut bibir lelaki itu terangkat. Sebelum tangan Axton menarik gadis itu keluar hingga tubuh Milly terjatuh dalam dekapannya.

Gadis itu masih saja terisak, tapi hati Axton serasa mati.

Malahan di detik selanjutnya Axton membenturkan tubuh Milly ke sisi helikopter. Membuat kepala Milly terasa pening. Hembusan angin yang menerpa, menghasilkan rasa mengigil di sekujur kulit Milly. Karena gaun pengantinnya tidak lagi bisa melindunginya.

Payudaranya terekspos sempurna. Dan satu-satunya penghalang yang melekat di tubuhnya hanyalah dalaman tipis yang menutupi daerah pribadinya.

Axton tidak tampak menyesali perbuatan biadabnya. Justru lelaki itu setengah berlutut tepat di depan daerah sensitifnya. Kedua tangan Axton menahan pinggul Milly kuat.

“Kau seharusnya tidak membuatku kesal Milly,” gumamnya meniup panas pada inti Milly di balik lapisan dalaman.

Seketika darah Milly serasa berdesir. Refleks tubuhnya agak menggelinjang. Dan sebelum ia sadar apa yang dilakukan Axton, kepala Milly menengadah dan mendesah bersamaan dengan derai air mata.

Lelaki itu baru saja melepas kain penghalang itu dan mengigit kecil bagian klitorisnya.

“Ti..da..k…”

ucap Milly putus-putus di antara desahan saat Axton kembali melakukan hal tidak senonoh pada tubuhnya. Lidah itu bergerak dengan lincah, menjilat dan membuat Milly kepayahan, hingga berkali-kali melenguh.

“Aku sedang membersihkanmu jalang,” gumam Axton tanpa nada di sela jilatannya. Matanya memandang wajah Milly yang mendamba dan terbakar panas gairah. Memerah, tampak menggoda.

Membersihkan katanya? Milly tidak bodoh. Orang awam pun bahkan tahu bahwa lelaki itu sedang merangsangnya.

“Kau sangat kotor hm…”

“Kau bahkan terus mengeluarkannya.” Tatapan Axton tidak lepas dari Milly.

Satu tangannya mulai mengangkat sebelah kaki gadis itu, membukanya lebih lebar, menaruhnya di atas pundaknya, sementara lidahnya terus bekerja, menikmati cairan inti Milly.

“Memalukan,” ejek Axton yang menyeringai di sela invasinya.

Setelah itu ia langsung menghisap kuat sambil mengamati lekat perubahan raut wajah Milly yang begitu gelisah dan sengsara. Kening gadis itu mengerut dan mulutnya refleks terbuka.

Lalu desahan panjang lolos dari bibir Milly. Air matanya turut merembes mengotori wajahnya. Milly merasa tubuhnya terasa lengket karena keringat dan ia sangat membenci mengetahui kenyataan bahwa Axton melakukan kebejatannya di arena terbuka pada tubuhnya.

Di atas atap, tempat landasan helikopter. Dimana Milly bisa melihat gedung-gedung dan kerlap-kerlip warna lampu yang menghiasi kota Seattle. Namun tidak lagi terasa indah bagi Milly, melainkan sebuah penghinaan.

“Kau bisa menganggap ini adalah cara aku melamarmu jalang. Dan desahanmu menunjukkan bahwa kau sangat senang menerima diriku.”

Sekarang Axton tidak lagi bermain di bawah sana, melainkan berdiri. Menunduk dan mengemut payudaranya yang mana terdapat bekas cairan kewanitaan yang tadi sengaja dioleskan lelaki itu pada tubuhnya. Kedua tangan Milly yang terborgol dikurung di atas kepala.

Wajah Milly yang melemas kembali dibuat melenguh oleh Axton.
Dan dalam hati Milly mengumpati bahwa Axton sangat brengsek.

***

“Kita sudah sampai Putri pemalas,” kata Axton menatap dingin Milly yang terisak dalam gendongannya. Tangan lelaki itu berada di antara paha dan punggung Milly.

Jas hitam milik Axton, terkancing rapat membungkus sempurna tubuh mungil Milly, walau jas itu tampak kebesaran dan longgar dikenakan gadis itu.

Axton lalu menurunkan Milly membuat gadis itu mencoba mencari keseimbangan. Kakinya masih seperti jeli dan panas lidah Axton itu masih melekat, terasa nyata di setiap jengkal tubuhnya.

Suasana malam di sekeliling mereka tampak sepi karena semua orang sudah berada di rumah masing-masing.

Axton menatap pintu gereja di hadapannya, kemudian ia mencekal kasar lengan Milly. Gadis itu sontak berusaha menghempaskan cengkraman Axton di antara sisa tenaganya.

“Lepaskan aku!”

“Setelah apa yang kulakukan padamu beberapa menit lalu, kau masih saja melawan hm.” Axton menoleh pada Milly, menyentaknya makin rapat. Kemudian mengancam, membuat Milly seketika terdiam akan kata-kata berunsur peringatan keras itu.

“Jangan memaksaku untuk melakukan hal yang lebih buruk lagi padamu.”

Mendapati kepatuhan terpaksa Milly, Axton kemudian membuka pintu gereja. Melangkah ke dalam sambil menyeret Milly, memaksa mengikuti langkahnya dan Robert—salah satu bodyguard Axton selain Thomas—tanpa disuruh mendorong pintu itu agar menutup.

Dan tidak jauh dari altar itu, tampak pria tua sedang berdiri bersama Thomas yang menodongkan sebuah pistol di pelipisnya.

“Hei Pak Tua. Bagaimana kabarmu?” sapa Axton santai di tengah ruangan, tidak sesuai dengan keadaan.

Pak Tua itu yang notabene merupakan seorang pendeta tampak tegang. Pistol ditekankan Thomas di pelipisnya makin ketat. Dan melihat sinar ketakutan di mata Marcus—nama Pak Tua itu—Axton memamerkan senyum manis.

“Kau terlihat sangat tegang Pak Tua.”

“Dan kau Thomas, tidak kusangka kau benar-benar tepat waktu,” puji Axton berdecak kagum kepada Thomas, masih bisa bersikap normal dengan situasi yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.

Thomas hanya diam tanpa membalas Axton. Ia merasa pujian Axton itu hanya bersifat pembicaraan satu arah dan tidak diwajibkan untuk memberi respon apapun.

Begitu ia bersitatap dengan Milly yang terisak, sekali lagi, hati Thomas dibuat serba salah. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun

Penampilan gadis bahkan tampak lusuh. Meringis sesekali karena cekalan Axton di lengannya. Terseok-seok menuju altar seiring langkah Axton.

Marcus yang rambutnya sudah memutih dan wajahnya dihiasi gurat-gurat keriput dengan suara rapuh, tampak rentan berkata kepada Axton di balik kaca mata tuanya,

“Kau memaksaku menikahimu dengan cara seperti ini Nak?”

“Kau akan membuatku berdosa di hadapan Tuhan.”

Begitu terarah pada Milly yang menangis tergugu, wajahnya terhenyak prihatin.

“Terlebih kau membuat gadis malang ini terjerat dalam pernikahan yang hanya diinginkan olehmu saja.”

“Apa yang sebenarnya kaupikirkan Nak?”

Axton memandang bosan Marcus yang menggeleng samar.

“Kau bahkan memborgol gadis ini.”

Axton melirikkan mata ke arah Thomas dan dengan sigap Thomas menangkap kode tersirat itu. Lantas pelatuk pistol itu mulai perlahan ditarik Thomas, membuat Marcus seketika terdiam, menegang dengan muka pucat.

“Oh, Lord,” gumam Marcus yang refleks memejamkan mata sejenak.

Axton mengangkat tangan, isyarat Thomas berhenti. Lantas Marcus menarik nafas pelan, lalu kembali memandang Axton.

“Sekarang kau bisa mulai Pak Tua.”

Marcus berkata pada Axton dengan wajah tidak menyangka, juga rasa pilu saat mendengar tangisan lemah gadis itu.

“Kau benar-benar tidak menghargai Tuhan. Apa yang kau lakukan pada gaunnya? Apa kau menyakiti gadis ini Nak?”

Tapi pertanyaan Marcus hanya dijawab Axton dengan sorot mata tanpa ekspresi. Walau begitu satu tangannya mengepal kuat.

“Kautahu, ini semua tidak benar Nak.”

“Kau tidak seharusnya mencampuri hal yang di luar dari profesimu Pak Tua.”

“Kau sudah keterlaluan Nak…”

“Kalau begitu, kau juga sangat keterlaluan Pak Tua. Kau menikahkan Ibuku dan Ayahku padahal kau tahu bahwa Ayahku tidak mencintai Ibuku.”

Ucapan Axton itu terdengar tajam dan menusuk, membuat Marcus sukses tercengang. “Nak itu—”

“Kakek mengancammu?” sela Axton dingin.

Marcus lantas menutup matanya lelah. Ketika terbuka ia mendapati Milly mengucurkan air mata seperti meminta tolong. Apalagi gadis itu kemudian menangkup tangan yang terlilit borgol, meminta lirih,

“Aku tidak mencintainya. Kau tidak boleh menggelar pernikahan ini di hadapan Tuhan.”

Marcus menelan salivanya kasihan. Tapi Axton justru meraih wajah Milly membuat gadis itu meringis kesakitan akibat cengkraman Axton pada tulang pipinya.

“Siapa yang mengijinkanmu bicara hm?” tanya Axton tenang tapi menakutkan.

“Nak hentikan…” Marcus hendak melepaskan cengkraman Axton di pipi Milly tapi Axton lebih dulu melepasnya secara kasar. Membuat wajah Milly tertolak ke belakang.

“Dan sekarang aku sedang mengulangi apa yang dilakukan Kakek kepadamu, Pak Tua,” tukas Axton dingin kepada Marcus.

“Seperti Ayahku yang menghancurkan hidup Ibuku lewat pernikahan. Maka aku juga akan melakukan hal yang sama terhadap putri wanita jalang ini.”

“Apa katamu Nak?”

Axton tertawa parau. “Kau tahu jelas bahwa Ayahku mencintai wanita jalang itu bukan?”

Marcus membeku. Wajahnya juga memucat, shock seketika.
Sementara Milly terkejut mendengar penuturan Axton. Ia menatap lelaki kejam di sampingnya. Wajah Axton tampak mengeras.

“Apa maksudmu?” tanyanya di sela isakan lirih. Tapi pertanyaan Milly diabaikan Axton.

Kembali ia melanjutkan ucapannya kepada Marcus.

“Kau tidak seharusnya menyembunyikan hal itu dari Ibuku, Pak Tua. Jika tidak, Ibuku tidak akan mengalami keterpurukan seperti sekarang.”

Marcus masih bungkam. Ia akui memang ia salah telah menikahkan Otis dan Wella.

Ya, ia dulunya adalah sahabat karib Otis dan Clara. Ia tahu jelas kisah percintaan Otis. Tapi sejak Otis putus dengan Clara, karibnya itu mulai berubah. Lalu tiba-tiba ia tidak sengaja bertemu dengan Otis di sebuah supermarket mini dan mulai memperkenalkan Wella.

Dan perlahan Marcus mulai mengetahui semuanya. Namun ia menjadi terdesak sebab Wella ingin dirinya yang menikahi mereka. Terlebih jika ia membantah, Ayah Wella akan melakukan sesuatu yang membuat nyawanya melayang.

Tentu ancaman itu tidak diketahui Wella. Karena Ayah Wella terlalu pintar menyembunyikan segalanya.

“Dan aku sengaja datang jauh-jauh untuk memilihmu agar kau mensakralkan pernikahan kami, Pak Tua.”

“Demi Tuhan, kau tidak bisa melakukan hal ini pada gadis ini, Nak.” Marcus akhirnya buka suara setelah terdiam lama. Ia berusaha mengubah pikiran Axton dan mencoba menceramahinya lagi.

“Kau tahu Nak, dendam itu tidak akan pernah—”

“Tidak perlu banyak bicara. Kau hanya perlu menjalankan tugasmu Pak Tua,” potong Axton geram.

***

bersambung…