Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48Part 49Part 50
Part 51Part 52Part 53Part 54Part 55
Part 56Part 57Part 58TAMAT

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 12

Surat Kabar

Keesokan paginya Fernandez mengumpat, “Sial.” Ia memandang Axton yang tengah memegang koran—atau surat kabar—yang digulung. Ia tidak percaya bahwa ia akan ikut serta ke dalam rencana akal bulus Axton demi menyembunyikan Milly dari Elena.

“Ini akan berhasil. Percaya padaku.” Axton menepuk sekilas pundak Fernandez, sementara Fernandez mulai mengetuk pintu apartemen sederhana Elena.
“Elena. Ini aku.”

“Tidak. Aku tidak ingin melihatmu Andez!” balas Elena dari dalam apartemen. Membuat Fernandez menyandarkan dahinya di pintu. Terlihat mengerang frustasi.

“Kau membuat marah kekasihmu?”

Fernandez mengabaikan pertanyaan Axton. Ia kembali berkata dengan tenang kepada Elena dari balik pintu. “Jika kau tidak membuka, jangan salahkan aku kalau aku mendobrak pintumu.”

“Dan jika itu terjadi, jangan salahkan aku kalau aku memanggil security untuk membawamu Andez.”

Balasan telak Elena membuat Fernandez menghela nafas. “Berhenti mencurangiku Elena.”

“Kau yang mencurangiku Andez!” balas Elena lagi, terdengar kesal yang membuat Fernandez terdiam dan tersenyum.

“Tidak lama lagi ia akan membuka pintu itu,” yakin Fernandez mengatakan hal itu kepada Axton tanpa melepaskan tatapannya dari pintu dan benar saja pintu itu terbuka memunculkan wajah jengkel Elena yang tampak menggemaskan di mata Fernandez.

“Kau—” ucapan Elena tersendat saat menyadari Fernandez tidak datang sendiri. Ia menatap Axton. Mengerjap sejenak sebelum balik memandang Fernandez. Lalu tanpa ditanya, Fernandez menjawab kebingungan Elena.
“Axton Bardrolf. Temanku yang ingin kupertemukan dengan temanmu.” Kemudian dengan wajah datar Fernandez langsung masuk ke apartemen Elena tanpa disuruh. Sengaja menyenggol sedikit bahu Elena, juga meremas sekilas bokong gadis itu membuat Elena terhenyak seperskian detik dengan muka merah padam.

Sedangkan Axton tersenyum sopan. Lalu mengikuti Fernandez ketika dipersilahkan Elena. Setelah itu pintu apartemen itu tertutup.

***

Milly membuka kelopak matanya. Sinar mentari dan kicauan burung menandakan bahwa hari telah pagi. Ia serasa dejavu dan kembali bangkit. Menyandarkan punggung di ranjang. Kemudian dengan cepat mengecek tubuhnya yang terbungkus selimut.
Ia berpakaian lengkap, namun minim bahan. Sabrina biru langit dan rok mengembang berwarna biru tua. Tapi ia sadar tidak ada pakaian dalam satu pun yang dikenakannya.

Lalu sekarang ia dimana?

Pandangan Milly lantas mengedar ruangan itu. Nuasansa putih dan krim. Tempat ini terasa asing.

Menyadari perbedaan mencolok dari seluruh isi ruangan ini Milly menelan ludah kasar. Mungkinkah sekarang ia berada di salah satu kamar di rumah Axton? Dan sejak kapan lelaki itu membawanya?

Di detik ia teringat, di detik itu pula Milly merutuki kebodohannya.
Tentu saja, ia lagi-lagi pingsan dan kelelahan karena gaya bercinta Axton yang menyakitinya. Bahkan bagian intimnya kini terasa perih. Lebih perih dari sebelumnya. Lelaki itu tidak bisa mengontrol nafsu liar dan tidak memberi jeda di sela permainannya.

Tidak peduli akan kondisinya sedikit pun dan saat mengingat setiap detail tindakan bejat lelaki itu, membuat mata Milly berkaca-kaca. Tangan kecilnya terkepal, meremas selimut.
Ia sangat membenci Axton lebih dari apapun.

***

“Tidak. Ini tidak mungkin…” gumam Elena yang menunduk tidak percaya membaca berita di surat kabar pagi ini. Kembali ia mendekatkan surat kabar itu agar diteliti jelas oleh matanya.

Di sana tertera berita kematian seorang gadis yang teraniaya. Tidak berbusana dan diduga telah dinodai oleh segerombolan pria. Ditilik dari beberapa luka lebam, gadis itu juga sempat melawan namun sia-sia hingga berakhir mengenaskan.

Para pelaku masih belum jelas dan sedang diselidiki. Begitu pula dengan nama gadis itu yang juga masih belum diketahui secara pasti.

“Aku juga tidak percaya. Tapi berita pagi itu membuat aku segera mendatangi Axton,” terang Fernandez. Ia duduk berseberangan dengan Elena. Lalu melirik Axton yang duduk di sebelahnya, sedang menyandarkan punggung di sofa terlihat santai memandang Elena.

“Aku tidak begitu mengenal temanmu itu Elena. Tapi ketika Andez menghubungiku, aku memang kemarin menunggunya. Tapi ia tidak datang hingga malam aku hendak pulang.”

“Apa?” Elena mendongak, menurunkankan koran itu dan segera memandang Fernandez.

“Mana mungkin. Kau dan aku jelas-jelas mengantarnya hari itu Andez.”

Mata Elena memanas dan begitu setetes bulir air mata membasahi pipinya, buru-buru ia menyekanya. Fernandez menghembuskan nafas dan memandang prihatin pada Elena.

“Kemarilah. Aku tahu kau butuh pelukan.”

“Tidak…” tolak Elena yang kemudian membekap mulutnya, menjatuhkan koran itu ke lantai. Fernandez lantas beranjak. Berpindah duduk di sebelah Elena. Meraih tubuh rapuh Elena, membenankam kepala gadis itu di dadanya, lalu mengusapnya lembut.

“Itu bukan Milly, Andez….” lirihnya terisak kecil

“Aku tahu kau tidak bisa menerimanya dengan mudah Elena. Tapi foto di koran itu memang menunjukkan bahwa itu adalah pakaian Milly yang kemarin. Kau dan aku mengantarnya bukan?”

Ketika mengatakan itu tatapan Fernandez tertuju pada Axton karena temannya itu mulai menguap dan memunculkan muka yang tampak bosan. Ditambah sikap Axton setelahnya yang justru sibuk memandang langit-langit apartemen Elena, terlihat kurang kerjaan.

“Sssttt… tenangkan dirimu Elena,” hibur Fernandez, mengecup lembut rambut Elena. Menghirup aroma rambut itu yang terasa nyaman di indera penciumannya.

“Axton berjanji akan membantu kita untuk menyelidik jasad itu dan kita akan tahu kebenarannya.”

Tersadar akan kode keras Fernandez lewat tekanan suara lelaki itu, lantas sukses mengalihkan tatapan Axton sepenuhnya pada Fernandez. Temannya itu memberi pelototan padanya dan dihadiahi oleh Axton dengan satu kedipan, walau begitu mukanya minim ekspresi.

Spontan Fernandez merasa jijik dan ingin muntah tapi tidak ia lakukan.

Kemudian Axton secepat kilat bersikap seakan turut berduka ketika Elena mengurai pelukannya dengan Fernandez. Gadis itu lantas menatap Axton dengan mata sembab.

“Aku turut sedih atas apa yang menimpa temanmu Elena.”

Axton memasang raut murung palsu terkait isu koran yang dikarangnya untuk ditunjukkan pada Elena. Isu yang pernah menjadi taktik licik Clara untuk membuat kebencian Ayahnya semakin dalam pada Ibunya. Dan sekarang, Ibunya merasa sakit karena Ayahnya. Rencana busuk wanita jalang itu berhasil memporak-porandakan keutuhan keluarganya.

“Aku merasa terlibat dalam kasus ini. Temanmu mengalami hari yang sial karena ingin menemuiku.”

“Tidak. Ini semua bukan salahmu Axton,” balas Elena serak berusaha membuat Axton merasa lebih baik dan tidak merasa terpuruk dalam rasa bersalah.

“Kau pasti sangat kehilangan temanmu Elena. Lewat kejadian ini juga aku akan lebih berwaspada. Preman-preman itu aku pastikan tidak akan ada lagi di sekitar kantorku.”
Elena termenung dengan muka sedih.

“Dan seperti kata Andez. Aku akan mengurus masalah ini. Kita akan tahu hasil autopsinya.”

Elena kembali menatap Axton haru. “Terimakasih Axton,” ujarnya tulus.

“Mm-hm.” Kemudian Axton pura-pura menunduk dan menarik nafas lelah.

Ia mencoba mengungkit, “Aku minta maaf karena tidak bisa menemukan pembunuh Ibu temanmu yang kemungkinan besar masih berkeliaran. Karena…”

Elena tahu maksud dari perkataan Axton, maka ia segera menyela. “Tidak. Tidak masalah Axton. Aku mengerti…”

Tentu, Axton tidak akan bisa menemukan satu petunjuk jika Milly telah tiada. Lelaki itu tidak mengetahui wajah Ibu Milly juga ciri-cirinya. Dan bila hanya bergantung pada sebuah nama itu akan mustahil. Mengingat ada banyak nama serupa yang digunakan oleh warga di Los Angeles.
Elena bisa memakluminya.

“Sekali lagi, terimakasih Axton.”

Axton mengangkat kepalanya, menarik dua ujung bibirnya membentuk seulas senyum kecil.

***

bersambung