Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34

Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Cerita Sex Dewasa Akhir Permainan Part 9

Kejutan Pahit

“Anda Milly Kincaid?” tanya Thomas yang berjaga di pintu ruang kerja Axton.

Milly yang tampak ling lung akibat tidak terbiasa dengan luasnya setiap area di gedung ini lantas menatap Thomas. Ia tadi diperintahkan untuk menuju ke lantai ini. Tepatnya lantai 30. Semburat senyum tipis dipamerkannya.

“Kau teman Andez?”

Thomas berdeham ketika meneliti penampilan Milly dari atas sampai bawah secara terang-terangan. Gadis itu mengenakan dress peach tanpa lengan namun panjangnya melewati lutut. Juga sepatu converse. Padanan yang cukup aneh. Terlebih masker bunga-bunga yang menutupi sebagian wajah gadis itu.

“Saya bukan teman Tuan Andez.”

“Lalu?”

“Anda tidak perlu tahu siapa saya. Mari saya antarkan anda bertemu dengan Tuan Ax. Karena Tuan Ax sudah menunggu anda sejak tadi.”

“Terimakasih. Jadi Tuan Ax adalah teman Tuan Andez?” tanyanya pada Thomas ketika Thomas membuka pintu dan mempersiapkannya untuk melangkah ke dalam.

Namun alih-alih pertanyaan itu terjawab, Thomas justru membatu di tempat. Begitu pula dengan Milly. Jika muka Milly sudah memerah seperti kepiting rebus, maka lain halnya dengan Thomas yang masih tampak tegap dan tenang, walau ia merasa tidak nyaman.

“Axton…” desah Chloe dengan wajah merah padam terbakar gairah.

“Hentikan…”

“Ini yang kau mau bukan?” Axton dengan tatapan tanpa minat, masih sibuk memainkan jemarinya di inti Chloe, bergerak dengan tempo cepat.

“T-tuan Ax,” dehem canggung Thomas, mengintrupsi aksi mereka. Axton lantas menoleh, melepaskan cekalan di kedua tangan Chloe yang dikurungnya di atas dan pada detik yang sama sebuah tamparan tak ayal mendarat di pipinya. Cukup nyaring.

Chloe baru saja menamparnya demi menjaga martabatnya. Itu membuat pipi Axton terasa kebas.

Milly spontan menutup mata sejenak. Begitupula dengan Thomas.

Wajah Chloe memanas dan tampak kesal. “Dasar menyebalkan!” makinya pada Axton.

Axton menggerakkan rahangnya, mengusap pipinya itu dengan satu tangannya yang bersih. Kemudian mengeluarkan sapu tangan di kantongnya, melap sisa cairan Chloe di jemarinya.
Sedangkan Chloe, buru-buru merapikan pakaiannya. Lalu berlalu melewati Milly dan Thomas.

Tapi sebelum itu ia berhenti dan memandang galak ke arah Thomas dengan nafas cepat akibat emosi.

“Thomas ingatkan kepada Tuanmu untuk tidak melakukan hal itu padaku. Kau harus mengajarkan Tuanmu untuk bersikap lebih baik lagi!” kilahnya kesal.

Lalu Chloe menoleh ke arah Axton yang tidak menampilkan ekspresi apapun. Menghentakkan kakinya sebelum membanting kencang pintu kerja Axton.

“Kau boleh keluar Thomas.”

Thomas mengangguk walau agak kikuk tapi Axton tampak tidak peduli. Sekarang fokus Axton tertuju pada Milly. Gadis itu tampak tidak nyaman berdiri di sana.

“Duduklah,” ujar Axton kepada Milly ketika terdengar pintu tertutup.

Milly lantas mengikuti Axton yang telah merapikan kancing kemejanya kembali. Lalu bersamaan saat Axton duduk, meletakkan jasnya ke sandaran sofa, Milly pun mendaratkan bokongnya di sofa nyaman itu.

Mereka saling berhadapan untuk beberapa detik sebelum Axton berdiri. “Sebentar.” Menuju ruangan rahasia yang terbuka otomatis di dinding, menampakkan sebuah kamar di sana.

Selama sesaat Milly menunggu.
Dan tanpa sepengetahuan gadis itu, Axton tengah mengirim pesan kepada Thomas lewat ponselnya.

Lalu detik berikutnya, ketika Axton datang dan membawa sebotol alkohol juga dua gelas, bola mata Milly melotot sempurna. Lelaki itu meletakkan gelas dan botol itu di meja. Kemudian duduk dan kali ini berada di sebelahnya. Mulai menuangkan cairan itu dan memberikannya kepada Milly.

“Terimakasih. Tapi aku tidak minum,” tolak Milly halus.

“Kau tahu, menolak minuman itu sangat tidak sopan.”

Ucapan pedas Axton itu sukses membuat Milly merasa serba salah. Ia lantas menerimanya, memegang gelas itu sejenak. Lelaki ini…

Bagaimana bisa ia bertingkah tidak terjadi apapun setelah peristiwa tidak senonoh yang dilakukannya beberapa detik lalu?

Jujur sekarang perasaan Milly mendadak tidak tenang. Ia membuang nafas sejenak, mencoba mengumpulkan ketenangan kembali lalu berkata, “Um… kurasa—”

“Kita belum berkenalan bukan?” Axton menyela usai menandaskan minumannya di gelas. Menambahnya lagi kemudian menatap Milly.

“Aku Axton Bardrolf.”

Senyum kaku terbit di bibir Milly di balik maskernya ketika Axton mengedikkan kepala, memintanya untuk segera menyesap minuman di tangannya. Aura lelaki itu begitu dominan juga terasa menyeramkan, membuat Milly otomatis patuh. Membalikkan tubuhnya sejenak, menurunkan maskernya lalu mulai mencicipi.

Setelah itu menaikkan maskernya ulang, matanya terpejam akibat rasa pahit minuman itu. “Aku Milly Kincaid,” ujarnya kemudian.

Axton menarik sudut bibirnya. “Kau mencari pembunuh Ibumu bukan?”

“Ya.” Tiba-tiba Milly berdiri dan menatap Axton dengan perasaan sungkan.

“Tapi aku minta maaf padamu. Kurasa aku tidak memerlukan bantuanmu. Terimakasih sebelumnya.”

Milly menunduk sekilas kepada Axton. Lalu berjalan cepat menuju pintu tapi pintu itu terkunci. Ia menoleh pada Axton dan kaget waktu sadar lelaki itu sudah tidak ada di sana. Menghilang seperti hantu. Namun tiba-tiba sebuah suara mengejutkannya.

“Kau mencariku?”

Tidak hanya itu saja. Ia sempat memekik sebab Axton meraih pinggangnya, memutarnya kemudian untuk menghadap. Lelaki itu menyorot tajam.

Dengan kasar Milly menelan ludah. “Pintumu tidak bisa terbuka.”

“Itu karena aku menyuruh Thomas untuk menguncinya.”

“Apa?”

“Kau adalah tamuku dan aku tidak ingin ada yang menganggu kita.”

“Tapi aku bukan orang penting,” kilah Milly terkekeh santai di balik masker, mencoba mencairkan suasana yang terasa horor di sekitarnya.

“Kau memang bukan orang penting. Tapi kau adalah anak dari wanita jalang itu.”

Perkataan Axton itu seketika membuat Milly membisu, tampak shock. Ia menatap Axton dan ada binar kelicikan di sorot mata itu, membuat Milly seketika menepis tangan lelaki itu di pinggangnya. Bergerak mundur dengan mata memanas. Lidahnya terasa kelu waktu ia menyuarakan isi kepalanya, menebak,

“Apa kau—”

“Ya.” Axton menyela, tersenyum miring mendekati Milly dengan pelan.

“Aku orangnya. Kau sudah menemukanku.”

***

Bersambung